Kisah Dewa Pedang Utara

Kisah Dewa Pedang Utara
Berangkat !


__ADS_3

"Apa yang dilakukan orang-orang itu?"


"Tidakkah kalian melihat? Itu adalah tiga mahluk Sihir telah menampakkan diri dalam rupa manusia, semuanya tidak terlihat takut-takut dengan Kaum Elf" bisik seorang tentara.


Seseorang yang memiliki pengetahuan menambahkan keterangan itu,


"Masing-masing dari mereka adalah wanita jelmaan Rubah putih berekor sembilan, wanita jelmaan Siluman ular hijau dan pria jelmaan Siluman Singa berkepala tiga" salah satu tentara dari divisi sihir menjelaskan dengan bergidik.


"Bahkan nyanyian-nyanyian mereka terasa sangat memabokkan membuat lupa diri. Suara mereka seperti magnet yang membuat siapapun yang mendengar, kepingin mendekat dan memuja mereka"


Buru-buru seratus tentara penjaga lapangan menghalau orang yang ramai menonton itu karena penonton semakin berani berusaha mendekat dengan penasaran .


"Pergi ! Jangan terlalu mendekat, mundur jika kalian tidak kepingin terbuai dalam lautan mimpi selamanya" teriak tentara-tentara penjaga.


Mereka melihat jumlah penonton kian lama kian banyak membanjiri Lapangan Hutan Pelahap, dan semakin berani mencoba-coba mendekat panggung.


Sementara itu di bagian tenda berlapis array, Pangeran Ju Qin larut dalam takjub,


"Tak kusangka kemampuan penyihir-penyihir Elf itu mampu membius mahluk-mahluk sihir legendaris.


Mereka semua terlihat mendekat tanpa ragu. Semua menelan dan menghirup tumpahan aura sihir Elf seperti asupan makanan saja"


Dengan suara yang mengandung kecemburuan karena dilarang mengikuti upacara Kaum Elf itu, Atid menjelaskan..


"Konon mahluk-mahluk sihir selalu mendambakan aura-aura sihir yang di lepaskan oleh Kaum Elf. Itulah sebabnya rata-rata mahluk sihir mudah dipengaruhi dan mau mengikuti perintah kebanyakan Elf.


Mereka selalu dijanjikan untuk di beri asupan aura sihir sebagai imbalan pengabdian kepada Elf.


Sayang sekali ditempatku berasal, seni melakukan sihir seperti ini telah lama pudar..." kata Atid dengan mata menerawang jauh.


Sementara itu di kaki Pohon Ek itu keadaan ritual semakin instens dan ramai saja.


Pada waktu itu jam telah menunjukkan tengah malam. Ketika angin bertiup dengan bunyi seperti bisikan-bisikan misterius, kumpulan Elf itu terdengar menyanyikan lagu secara serempak dan kompak.

__ADS_1


Demikian kentalnya aura sihir yang di pancarkan dalam paduan suara Elf sampai-sampai mereka terlihat seperti orang tengah menyanyi dalam kebisuan.


Sima Yong dan Ye Bing Qing juga membuka mulut lebar-lebar, meneriakkan mantra sihir kuno yang tidak terdengar. Namun efeknya bagi para penonton di kejauhan sana adalah perasaan gembira aneh, namun membuat bulu tengkuk meremang seram.


Beberapa tentara itu, yang lemah kultivasinya, saat ini telah roboh ditanah tak sadarkan diri. Beberapa yang lainnya terlihat mulai menari-nari seperti orang kesurupan..


"Sudah kubilang agar jangan menonton, masih saja keras kepala orang-orang ini" kata salah satu prajurit bersungut-sungut. Mereka kaun tentara itu, semuanya telah menggunakan penyumpal kuping seperti anjuran Tuan Yong, sehingga efek membius itu tidak terlalu keras menekan.


Tengah semua orang sibuk dengan keadaan yang semakin kacau dan suara yang membius itu, samar-sama terdengar bunyi gemersik dedaunan membelah malam. Makin lama semakin keras bunyi nya, arahnya dari dalam hutan.


"Apakah terjadi angin taufan yang membuat pohon-pohon seperti tubuh?"


"Tidak.. Lihat disana" teriak seseorang dengan ngeri.


Dari gelapnya malam di Hutan Pelahap, terlihat sepasang mata lebar berkedip-kedip. Lalu sosok potongan pohon besar dan kuno terlihat berjalan pelan-pelan keluar dari kedelaman hutan, berjalan kearah mana kaki pohon Ek tempat panggung berdiri.


Para penonton langsung tercekat,


"Monster pohon?" seseorang dengan bergidik menyebutkan penampakan pohon besar yang terlihat berjalan menuju kumpulan Elf.


Suara gemersik dedaunan itu masih terdengar tidak berhenti. Suaranya makin lama juga semakin keras. Lalu muncul lagi Ent kedua, Ent ketiga, keempat dan kelima semuanya berjumlah lima Ent.


Mahluk pohon kuno itu telihat demikian tinggi, kira-kira 30 depa (40 meter). Kulit nya terlihat demikian tua dan keras. Jika tidak memperhatikan baik-baik, ada terlihat dua bola mata yang meruncing sayup di bagian batangnya.


Lima Ent itu kemudian berkumpul di kaki Pohon Ek, menghirup dengan rakus semua aura sihir yang di muntahkan Kaum Elf dari puij-pujian mereka.


Kaum Elf sendiri tidak lantas menghentikan semua upacara sihir itu setelah kemunculan Ent. Tidak akan mereka berhenti bernyanyi-nyanyi sebelum kaum Troll muncul pada panggilan berikutnya.


Lama setelah kaum Ent terlihat tunduk dan dibawah kendali Kaum Elf, kemudian terdengar suara keras lainnya dari kedalaman hutan. Disusul guncangan tanah di bentur sesuatu yang berat seperti keadaan gempa bumi saja.


Orang-orang lantas saling berpandangan dalam rasa ngeri dan panik. Aura sihir yang jahat menindas terpancar dari mahluk yang akan muncul kali terakhir ini.


Penonton kini menatap tidak berkedip mata sedikitpun, ketika dari bayang-bayang hutan Pelahap muncul lagi satu sosok raksasa jelek lain. Aura jahatnya kentara sekali, demikian mana mahluk itu terlihat serakah mengkonsumsi aroma sihir Elf.

__ADS_1


Mahluk jelek itu juga duduk dekat-dekat di panggung Pohon Ek, mengabaikan mahluk lainnya. Dia mengambil tempat paling dekat dengan Kaum Elf, agar semua asupan sihir yang dikeluarkan di ambilnya terlebih dahulu, dan menyisakan ampas itu untuk mahluk sihir lainnya.


"Troll.. Itu troll" penonton mulai sibuk berbicara.


"Mahluk jelek itu memiliki kulit yang demikian tebal. Tak akan ada senjata manusia atau ahli ras manapun yang mampu menmbus kulit tebal itu"


"Tapi senjata sihir akan dengan mudah menembus kulit baja mahluk itu" bantah penonton yang lain.


"Kita akan berperang melawan mahluk ras manusia bukan? Kita tidak berperang melawan penyihir! Itulah gunanya mereka membawa mahluk-mahluk sihir didalam peperangan ini" jawab penonton yang lain.


Pada akhirnya ketika upacara Kaum Elf itu selesai di subuh menjelang matahari akan muncul, ada dua Troll yang berhasil di panggil dan di jinakkan Kaum Elf. Jumlah itu belum termasuk Lima Ent yang juga bersedia membantu Kaum Elf dalam peperangan.


******


Pagi harinya Sima Yong menemui Pangeran Ju Qin dan mengatakan semua mahluk sihir telah siap untuk mengikuti Kaum Elf di dalam peperangan.


"Anda telah dapat mengeluarkan instruksi agar pasukan kita bergerak maju menuju Kekaisaran Rajawali Agung. Akan memakan waktu panjang jika kita tidak segera berangkat sejak hari ini.


Troll dan Ent akan mengikuti membayangi Tentara Kaum Pembebas dari belakang. Mereka harus tidak terlihat karena kami akan memberikan kejutan bagi Pasukan Rajawali Agung"


Hari itu juga Panglima-panglima perang mengumpulkan semua tentara di Lapangan Hutan Pelahap.


"Siang ini kita akan bergerak menuju ke perbatasan dekat Kekaisaran Rajawali Timur. Sebaiknya kalian semua membereskan tenda-tenda dan perlengkapan perang. Persiapan dimulai !"


Lalu Kapal-kapal roh berjumlah seratus kapal mulai mengangkut pasukan tentara itu, bergantian menuju jalanan panjang menuju tempat terdekat dengan Kota Angsa Emas, salah satu kota kepunyaan Kekaisaran Rajawali Agung.


Kapal roh itu demikian sibuk bergerak bolak-balik, sampai sepuluh ribu tentara Kaum Pembebas dipindahkan ke jalanan datar, tempat jalanan umum.


Dari jalanan datar itu, semua pasukan bergerak pelan-pelan, sebagian berjalan kaki untuk Pasukan Infanteri dan yang lain menggunakan kuda untuk Pasukan Kavaleri.


Sebulan perjalanan, pada akhirnya pasukan itu mendirikan tenda permanen, di sebuah lapangan luas berumput hijau yang jaraknya sekitar Lima Puluh Lie dari Kota Angsa Emas.


*Bersambung*

__ADS_1


   Halo semua. Terima kasih sudah membaca dan menyukai Novel ini.  Dan untuk membuat author lebih semangat lagi, selalu berikan like ya. Jangan lupa favoritkan dan rekomendasikan novel ini kepada yang lain... Terima kasih dan semangat membaca...


__ADS_2