
Pada waktu memasuki minggu ke tiga setelah kepergiannya, pada waktu itu adalah musim dingin, telah turun hujan salju lebat selama dua hari berturut-turut, hingga Kota Azalea, ibukota Kekaisaran Great Ying itu terlihat seperti bermandikan air perak, bercahaya berkilau, indah dipandang.
Meirenyu duduk menahan amarah tatkala mendengar cerita Tuan Yan Bai mengenai sebab-musabab hingga Balai Harta mereka mengalami kebakaran, dan sehingga sebagian bangunan rampung itu habis di lalap api.
Sementara kejadian itu, Lin Hong, Yu Long dan dua Pelindung Putih dan Ungu itu tengah berkultivasi di Menara Organisasi Istana Bianfu, dan hingga saat ini mereka belum membuka pintu kamar mereka, masih terbenam di dalam meditasi.
Tentu saja dengan mengkonsumsi pil yang diberikan Meirenyu dulu, mereka harus menerobos ke tingkat kultivasi yang lebih tinggi agar kedepannya tugas organisasi menjadi lebih lancar jika anggota organisasi memiliki kepandaian yang tinggi.
Dengan melihat keadaan Tuan Yan Bai yang sedemikian tertekan dilanda rasa bersalah, Meirenyu buru-buru mengatakan hal yang membuat Tuan Yan Bai merasa lega.
"Tak perlu anda berduka Tn Yan Bai. Master kami Master Yong tidak akan marah. Justru aku ingin menambah biaya perbaikan dan renovasi Balai Harta ini"
Meirenyu lantas mengeluarkan sejumlah Manna Biru dari cincin tata ruangnya. Sementara itu Tuan Yan Bai serasa tercekik lehernya ketika melihat jumlah Manna Biru itu bahkan dua kali lipat jumlahnya dibanding jumlah sebelumnya yaitu 20.000 Manna Biru.
"Setidaknya ini bernilai 200.000.000 Batu Energi !" Tn Yan Bai, dia tidak sanggup berkata-kata lagi.
"Aku ingin pembangunan renovasi Balai Harta kali ini jauh lebih mentereng dari renovasi sebelumnya" kata Meirenyu yang di sambut dengan kata-kata..
"Pasti. Kali ini Balai Harta kami bahkan akan jauh lebih mewah dari sebelum-sebelumnya. Bahkan ku pastikan akan menjadi Gedung Harta dan Pelelangan yang termewah di seluruh kawasan Utara sini" jawab Tn. Yan Bai dengan mata berkilat.
******
Di sebuah ruangan di Organisasi yang di sebut Menara Suar, tiga sosok manusia yaitu Kong Ping Kepala Perwakilan Menara Suar, Wei Durui dan Hui Chunying terlihat tengah duduk mengelilingi perapian, bersenang-senang menenggak air kata-kata.
(air kata-kata yang di maksud disini adalah Arak sebagaimana kata kiasan yang sering di gunakan di novel silat mandarin kuno. Autor akan menggunakan beberapa kiasan kuno seperti ini, namun juga akan autor jelaskan maksud dari kata tersebut).
Tiga orang itu tengah minum arak putih sambil duduk berhadap-hadapan di hari ketika belum lagi menunjukkan waktu tengah hari, selagi salju turun. Mereka bertiga telah berulang kali menenggak minum arak putih tersebut dan berbicara dengan suara keras-keras.
Yang mana pembicaraan itu terkadang di selipin gelak tawa tatkala mentertawakan kesuksesan, secara mudah Wei Durui dan Hui Chunying menyulut si jago merah dan merata tanahkan Balai Harta yang sesungguhnya tinggal menunggu hari untuk beroperasi kembali.
Lagi, menemani diskusi diantara tiga petinggi Organisasi Menara Suar itu, terkadang terlihat pelayan perempuan cantik keluar dari ruang dalam, dengan tangannya memegang nampan yang di atas nya terdapat masakan daging sapi serta ayam mengepul-ngepul berasap pertanda baru keluar dari kuali.
Di iringi gelak tawa rasa gembira dan pengaruh arak itu, tangan-tangan nakal tiga petinggi Menara Suar itu selalu tak lupa untuk meraba-raba pinggang ramping perempuan-perempuan pelayan yang wajahnya terlihat risih, namun berusaha mati-matian untuk tidak mengeluarkan kata-kata makian.
"Kejayaan hanya untuk Menara Suar Kami di semua Kawasan Utara sini" sengau suara Kong Ping terdengar ketika dia mengajak dua petinggi lainnya untuk bersulang atas kesuksesan mereka..
******
Tanpa terasa tiga kali purnama telah berlalu di Kota Azalea, diaman dengan biaya yang jauh lebih besar, dan tenaga kerja yang sangat banya di pakai untuk membangun ulang Balai Harta, kini percepatan pembangunan Balai Harta Baru telah rampung, menunggu peresmian dan hari operasinya.
__ADS_1
Saban hari hampir semua orang di Kota Azalea lalu-lalang di depan Balai Harta itu untuk mengamat-amati. Lalu diam-diam menyebar berita dari mulut ke mulut bahwa Balai Harta Baru, di danai oleh seseorang yang memiliki modal sangat besar, sehingga musibah beberapa waktu lalu sama sekali tidak akan membuat Balai Harta menjadi jatuh bangkrut.
Bahkan berita yang lebih terbaru mengatakan bahwa dalam beberapa minggu ke depan, Balai Harta Baru ini akan mengadakan pembukaan resmi dengan mengadakan Acara Lelang Akbar dengan menampilkan barang-barang unik yang belum pernah terlihat di utara sini, bahkan mungkin di seluruh Wilayah Benua Silver.
Undangan telah di sebarkan ke berbagai Sekte dan Klan Papan atas Kekasiaran Great Ying, bahkan juga hingga ke beberapa Kerajaan kecil di dekat Kekaisaran Geat Ying, sehingga kehebohan terjadi karena menurut perkiraan orang-orang, bahwa arena lelang Balai Harta Baru ini dapat menampung hingga 5000 pengunjung.
"Jelas saja lah dengan kondisi bangunan yang memiliki ketinggian hingga empat lantai itu, tentus saja memampukan Balai Harta Baru itu memiliki banyak balkon untuk ruang VIP, selain lantai dasar bagi ribuan pengunjung" demikian diskusi diantara penonton yang setiap hari bersliweran di jalanan untuk melakukan tindakan mencari tahu perkembangan terbaru "Balai Harta Baru".
Kong Ping, We Durui an Hui Chunying tampak berjalan secara terburu-buru di jalan depan Balai Harta Baru dalam balutan busana yang menyamarkan penampilan mereka, tidak mau kalah informasi dengan berusaha menyelidiki progress Balai Harta Baru.
"Malam ini kalian sudah harus mengambil tindakan ulang" kata Kong Ping sambil merapatkan tudung di kepalanya. Dia amat marah melihat pasca di luluh lantakkan, kini Gedung Balai Harta Baru terlihat bahkan jauh lebih menterang di banding sebelum-sebelumnya.
"Aku sudah tidak sabar untuk melihat kobaran si jago merah melalap bangunan ini" Kong Ping melirik jijik kearah bangunan Balai Harta Baru itu.
******
Malam tidak turun hujan salju di Kota Azalea. Ketika itu dua bayangan hitam yang berusaha menyamarkan wajah mereka didalam tudung, terbang ringan dari atap bubungan rumah-rumah penduduk Kota Azalea.
Bunyi kentongan kedua baru saja di ketuk oleh petugas malam ketika dua sosok itu terlihat melayang keatas bubungan Balai Harta Baru.
"Jadi ini kah orang-orang yang di masa lalu membakar habis bangunan Balai Harta kami?"
"Demikian berani kalian berniat mengulangi kejadian yang sama untuk mencelakai Balai Harta kami" suara dingin itu beruntun memenuhi kuping mereka.
Dua sosok bertudung hitam yang adalah Wei Durui dan Hui Chunying itu merasakan semua bulu tengkuk mereka tegak berdiri tatkala suara menyeramkan itu begitu dekat di kuping masing-masing.
"Siapa kamu" kedua nya berbalik dan mundur dua langkah di landa rasa ngeri.
Tampak di hadapan mereka seorang pria berbusana sastrawan dengan pakaian yang melambai-lambai di tiup angin.
Namun alangkah anehnya, meskipun pakaian sastrawan itu terlihat berkibar-kibar, namun tak terdengar suara sedikitpun yang di timbulkan suara kibaran jubah dia..
"Orang ini memiliki ilmu yang sangat tinggi" desis Wei Durui.
"Kedatangannya pun, sama sekali tidak terdengar, auranya pun sama sekali tidak terbaca"
Lalu didalam kode yang hanya di pahami keduanya, dua cahaya pedang berkelebat ganas dan langsung mengancam untuk memutuskan batang leher sastrawan itu.
__ADS_1
"Suiiittt"
Wei Durui dan Hui Chunying hanya dapat mengeluarkan keluhan pelan ketika mereka merasakan dua tangan yang memegang pedang itu menjadi kaku. Tidak hanya sampai disitu, bahkan tubuh mereka kini terdiam masih dalam gerakan akan menebas leher si sastrawan.
"Mati aku" bisik Wei Durui ketakutan
Sastrawan itu tertawa pelan yang menyerupai suara iblis perempuan dan berjalan mendekati mereka berdua.
"Aku hanya membutuhkan satu jawaban dari kalian. Kedipkan mata jika yang kukatakan benar, maka aku akan mengampuni kamu"
Sastrawan itu mengeluarkan sebuah kipas yang ketika di kembangkan "Tsingg", ternyata benda menyerupai kipas itu adalah rangkaian pisau tipis bermata tajam, yang terlihat berkilauan di timpa rembulan.
Mata kipas yang tajam itu di letakkan dengan halus tepat di nadi batang leher Wei Durui, yang menurut si satrawan berjiwa lemah sehingga mudah di ancam dan di intimidasi.
Lalu si satrawan sekali lagi bertanya,
"Apakah kalian merupakan suruhan Menara Suar?" dia langsung dapat menebak semua itu ulah Menara Suar, karena tindakan-tindakan tercela seperti ini, umumnya tidak akan lari jauh dari pekerjaan para pesaing utama di bisnis serupa.
Mata Hui Chunying membelalak melirik Wen Durui, seolah-olah ingin mengatakan bahwa jangan percaya kata-kata si sastrawan. Akan tetapi Wei Durui yang berjiwa lemah itu, dengan cepat mengedipkan mata pertanda membenarkan kata-kata si sastrawan.
"Matilah kita" bisik Hui Chunying sambil menutup kedua matanya.
"Bagus... akan akan menyelamatkan kamu berdua dari siksa rasa sakit berlebihan sebelum mati" dingin suara sastrawan itu terdengar, lalu di susul dengan rengekan halus, kepala Wen Durui jatuh menggelinding diatas bubungan Balai Harta.
Hui Chunyui tidak pernah lagi membuka matanya sejak dia memejamkan mata pertanda putus asa. Kepalanya juga jatuh menggelinding diatas bubungan Balai Harta Baru.
******
Keesokan harinya, tatkala pelayan di Menara Suar melakukan kegiatan bersih-bersih di aula mereka, pria muda itu lantas jatuh pingsan dia menemukan kepala Wen Durui di gantung terpisah dari tubuhnya.
Demikian juga hal nya dengan pelayan yang bertugas membuka gerbang pintu Menara Suar. Pria itu berteriak berkaok-kaok hingga menimbulkan keributan. Hui Chunyui tergantung di pintu gerbang Menara Suar dimana kepalanya terpisah dari anggota badannya.
Seluruh Kota Azalea di landa kehebohan, terlebih lagi di Menara Suar itu. Tidak ada yang berani datang berbelanja di Menara Suar, karena kebiasaan orang-orang adalah tempat yang terjadi pembantaian seperti itu adalah kesialan adanya.
*Bersambung*
Untuk membuat author lebih semangat dan tetap berkreasi melanjutkan novel ini, jangan lupa di-like, sekedar komen dan vote.
Terlebih tolong favoritkan novel ini karena Noveltoon akan menilai untuk menjadi pemasukan Author berdasarkan jumlah Favorit, komen dan like … yang tentunya juga menyemangati author. Apresiasi yang readers berikan akan menyemangati autor untuk terus berkarya di Noveltoon ini.
__ADS_1