Kisah Dewa Pedang Utara

Kisah Dewa Pedang Utara
Di Pintu Gerbang Barat


__ADS_3

Kota Tepian Barat adalah Kota terbesar dan termegah yang berada di Wilayah Barat Benua Penyaringan Dewa. Konon kabarnya, saking besar dan luas Kota Tepian Barat ini, sampai-sampai kabar berita mengatakan bahwa di Kota ini terdapat banyak sekali misteri dan rahasia-rahasia yang tidak di ketahui orang banyak.


Kota Tepian Barat ini di kelilingi benteng yang besar, mengelilingi kota yang terlihat bagai kota tak berujung. Untuk memasuki Kota Tepian Barat, terdapat 4 pintu gerbang, masing-masing gerbang utara, selatan, barat dan timur yang dapat dilewati pelintas.


Orang-orang bercerita bahwa di wilayah bagian barat kota ini, sering terjadi kejadian-kejadian aneh berbau gaib dan mistis, dimana mereka sering melihat mahluk-mahluk aneh seolah-olah bukan berasal dari dunia ini. Namun tak seorang pun dapat membuktikan kalau bagian barat kota itu, di huni oleh kaum penyihir seperti desas-desus yang terdengar santer.


Sima Yong memilih untuk menginap di salah satu penginapan bernama Losmen Dewa Arak yang merupakan tempat menginap dan juga memiliki restoran dengan hidangan arak tua, yang tak dapat di tolak kaum penikmat minuman air kata-kata itu.


Bukan karena wilayah barat kota memiliki kejadian-kejadian gaib yang membuat Sima Yong tertarik lalu memilih menginap di Losmen Dewa Arak, melainkan dengar-dengar kabar nya kalau Ketua Sekte Super yaitu Sekte Para Bintang Yuan Ban Bao, amat gemar mengunjungi Rumah Bordil Pavilliun Dewi Kenangan, dan menginap semalaman dengan seorang gadis penghibur yang menjadi primadona di sana.


***


Sekte Para Bintang adalah salah satu Sekte Super yang di takuti di wilayah barat. Sekte ini memiliki banyak cabang, yang katanya mencapai 100 cabang, dengan ketua-ketua cabang yang rata-rata berkultivasi tinggi.


Dengan 100 cabang serta kemampuan tinggi ahli-ahli di dalamnya, jarang sekali ketika Sekte itu menginginkan sesuatu, akan menjadi gagal ketika mereka menjalankan tugasnya perintah master sekte.


Dengan membawahi 100 cabang seperti itu, yang mana masing-masing kepala cabang memiliki kultivasi diatas ranah SAINT, maka dapat lah di perkirakan setinggi apa kultivasi Yuan Ban Bao sebagai Master sekte mebawahi sekain banyak orang.


Sima Yong memperoleh informasi itu, ketika dia baru saja tiba di Kota Tepian Barat lalu duduk makan-makan di Rumah Makan Losmen Dewa Arak. Orang-orang di kota itu cenderung tertutup memberi informasi kepada orang asing yang baru mereka temui.


Namun Sima Yong tahu.. Di dunia ini meskipun ada banyak barang yang sulit di cari tahu kebenarannya namun dia tahu kalau uang dapat membeli banyak barang yang dikira tidak dapat di beli.


Setelah menyodorkan sekantung kecil manna biru yang berisi tidak kurang dari 25 manna biru peringkat tinggi, tak lama kemudian pelayan yang sejak awal-awal menutup mulut nya, kini bernyanyi dengan keras menceritakan kebiasaan Yuan Ban Bao yang gemar bermain perempuan, serta jam-jam dia biasa meninggalkan rumah bordil itu.


Sima Yong hanya menatap diam tanpa ekspresi namun mencatat dalam hati semua petunjuk dari pelayan itu.


***


Hari itu Sima Yong sengaja mandi berlama-lama, dia membersihkan diri sebaik mungkin, lalu mengenakan pakaian tunik besar berwarna putih menggantikan jubah kelabunya yang telah compang-camping di cabik Chuluu pada malam yang dingin itu.


Disisir rambut basahnya dengan rapih, lalu di buat gelungan tinggi dan mengenakan pita hitam polos panjang dengan warna sesuai tunik hitam tana corak, berkerah tinggi itu.

__ADS_1


Dia mengikat pinggangnya dengan sabuk sutra hitam, yang membuat penampilannya semakin angker.


Sambil bernyanyi-nyanyi kecil, dia memasukkan kakinya kedalam kaus kaki hitam dan sepatu boot hitam. Bahkan kenyataannya pakaian dalamnya pun berwarna hitam hari ini.


Sima Yong berjalan pelan-pelan keluar dari Losmen Dewa Arak, lalu berjalan menyusuri jalan raya di Kota Tepian Barat. Saat itu matahari mulai naik, dan angin musim dingin dari utara berhembus memberi perasaan sejuk, cenderung dingin. Mungkin tak lama lagi akan mendung, lalu hujan.


Kota Tepian Barat ini sangat rapih dan teratur menurut Sima Yong. Gedung-gedung terlihat indah dan bersih, bahkan toko-toko dengan emperan kotor sebagaimana dia temui di kota-kota lain, benar-benar tidak terlihat disini. Semuanya serba rapih di tempat ini.


Ketika angin musim gugur bertiup semakin keras, yang tampak membawa terbang daun-daun dari tanaman yang berguguran, saat itu da melihat satu sosok anak muda yang dia kenal rupanya.


Anak muda itu berwajah tampan, dengan pedang yang tersampir di pinggang, tengah berbicara serius dengan seorang pria tua. Lalu mereka bergegas memasuki salah satu restoran dan hilang dari pandangan.


Anak muda itu adalah sosok yang dia kenal dengan baik. Ju Kai, itulah pemuda yang dia lihat - yang pernah menjadi pangeran agung di Dataran Tengah sana.


"Sekarang belum saat mu. akan tetapi kamu sudah termasuk di dalam daftar karma yang harus selesaikan di Benua Penyaringan Dewa ini.


Karma memenangkan peperangan melawan kekaisaran telah selesai, dan karma membantu suku Wu Yi telah terbayar lunas.


Lalu sekarang aku akan membunuh Master-master Sekte Super yang pernah memburuku,


Baru saja sore menjelang, ketika Sima Yong terlihat berdiri diam-diam bagai patung, di pintu Gerbang Barat Kota Tepian Barat ini. Dengan mengenakan pakaian serba hitam seperti malam yang kelam, diiringi hembusan angin utara yang membawa daun-daun kuning berguguran membuat dia terlihat terlalu misterius.


Namun tak seorang pun yang berpaling dan mencoba mengamati sosok nya. Pengalaman mengajarkan, sebaiknya kamu tidak mencampuri urusan-urusan orang yang misterius, atau kamu akan kena masaalah.


Sejak kemarin, jauh-jauh hari dia telah membayar satu orang pengemis, untuk menunggu Yuan Ban Bao keluar dari rumah bordil Pavilliun Dewi Kenangan, lalu akan memberikan Master sekte Para Bintang itu satu surat kecil. Itu adalah satu surat tantangan.


******


Hari semakin sore matahari mulai bergerak menuju gelap dimana langit berwarna antara jingga dan biru kelabu. Ketika itu Yuan Ban Bao baru saja selesai dengan acara senang-senang semalam suntuk nya di rumah bordil itu. Dia melangkah menuruni tangga-tangga, ketika itu seorang pengemis menghampiri dan memberikan surat kecil kepadanya tanpa kata, lalu berlari pergi.


Yuan Ban Bao mengerutkan keningnya ketika membaca isi surat itu. Dia tidak kenal dengan tulisan maupun nama yang tertera di situ "Refiner Kelabu". Itu adalah satu surat tantangan duel. Akan tetapi dia tidak takut.

__ADS_1


Pikirnya, "Siapakah orang di kota ini yang berani menyenggol aku, Yua Ban Bao seorang master Sekte Super, yang memiliki kultivasi sangat tinggi sepertiku?"


Yah benar... Semua dapat di hitung dengan satu tangan saja, semua ahli-ahli di Barat sini yang memiliki kultivasi Kuasi Alam Melintas Immortal. Jadi Yuan Ban Bao sama sekali tidak takut dengan tantangan itu.


"Ahli Kuasi Alam Melintas Immortal pun bahkan mungkin tidak terlalu banyak jika di kumpul dari seluruh wilayah Benua Penyaringan Dewa ini. Orang ini tidak dapat bersikap macam-macam dengan ku" Dia terlalu percaya diri, sampai menjadintidak waspada.


Dari jauh, di bawah Gerbang Barat Yuan Ban Bao melihat satu pemuda yang tidak dia kenali, berdiri kaku, sekaku patung, yang berpakaian serba hitam seperti orang akan menghadiri acara berkabung.


Ketika akhirnya Yuan Ban Bao tiba tepat di bawah pintu Gerbang Barat itu, angin utara ketika itu berhembus semakin kencang membawa banyak daun-daun kuning beterbangan. Lalu sekelompok burung gagak tiba-tiba berkaok-kaok, terbang berpencar seperti mencium tanda bahaya.


Kata Yuan Ban Bao dengan arogan,


"Kamu kah yang mengundangku untuk menantang ku disini?"


"Kamu kah yang bernama Yuan Ban Bao?" si baju hitam balik bertanya.


Yuan Ban Bao seketika naik pitam. Ketika itu perasaan sebagai ahli pedang memberi isyarat bahaya.


Lalu tanpa di minta Yuan Ban Bao langsung menebas melakukan gerakan teknik pedang pamungkas yang pernah dia pelajari. Teknik Pedang Membelah Matahari langsung di lepaskan sebanyak sepuluh gerakan tebasan ke arah si baju hitam. Itu adalah pukulan yang mematikan, seorang ahli Alam Melintas Immortal.


Akan tetapi sayang sekali. Dimata pemuda berbaju sekelam malam itu, teknik Yuan Ban Bao ini terlihat memiliki celah. Celah yang menjadi peluang bagi dia untuk membunuh Yuan Ban Bao. Tapi semua terlambat. Yuan Ban Bao terlalu angkuh dan percaya diri.


Seketika si baju hitam langsung membuat gerakan tusukan kokoh, menembus celah itu, itu pun semua dilakukan dalam kecepatan yang sangat tidak terduga. Dia menusuk dengan tepat hanya dengan sekali gerakan yang sangat percaya diri, penuh kekuatan tanpa cela yang langsung menembus tenggorokan Yuan Ban Bao.


Mata Yuan Ban Bao melotot, tak dapat berkata-kata ketika nyawanya melayang.


"Kamu terlalu banyak membuang hawa murnimu dengan bermain banyak perempuan. Hawa murnimu buyar sulit di himpun, lalu kepandaian pedang mu pun menjadi cacat, penuh celah yang terlalu mudah di tembus" kata si baju putih dingin.


Pedang di tarik, lalu darah berhamburan tetes demi tetes, jatuh menodai daun-daun kering kuning. Si baju hitam menghapus noda darah di ujung pedang hitamnya, lalu angin utara musin gugur berhembus lebih kencang lagi, membawa terbang daun-daun kuning bernoda darah.


Ketika daun-daun itu kembali terjatuh ke tanah, bayangan si baju hitam telah hilang dari bawah Gerbang Barat, ikut menghilang bersama hembusan angin musim gugur.

__ADS_1


*Bersambung*


   Halo semua. Terima kasih sudah membaca dan menyukai Novel ini.  Dan untuk membuat author lebih semangat lagi, selalu berikan like ya. Jangan lupa favoritkan dan rekomendasikan novel ini kepada yang lain... Terima kasih dan semangat membaca...


__ADS_2