
Kembali terulang… sepuluh pengendali angin Kekaisaran
Rajawali Agung melambaikan kedua tangan mereka….
“Wush..”
“wush..”
Dua puluh tentara elit itu melompat dan melayang…. terbang cepat dalam hembusan angin yang dikendalikan sepuluh penyihir pengendali angin. Terlihat tombak berkepala dua pedang-bermata dua ditangan mereka berputar memainkan tarian maut.
“trang-trang-trang”
“Arrgghhhh…”
Dua puluhan tentara elit itu tidak sia-sia diberi nama ‘Elit”. Selain keahlian mereka didalam tingkat kultivasi yang tinggi, ketrampilan mereka sebagai seorang attacker atau penyerang amatlah mengerikan. Pasukan Kavaleri musuh itu sebagian kocar-kacir di buat dua puluh elit tersebut.
Sementara itu sebagian pasukan kavaleri musuh berkuda terbang itu tetap maju mendekati kapal roh.
“Aktifkan array..!!” teriak Liao Quon.
Beberapa tentara Kekaisaran Rajawali Agung berlari untuk mengaktifkan tombol array pelindung yang merupakan fasilitas kapal roh itu.
“wush-wush-wush”
Seribu Blue Manna dilemparkan kedalam sebuah piala yang terletak ditengah tulisan simbol-simbol array di geladak kapal. Sekonyong-konyong kapal itu terselubungi oleh cahaya putih. Cahaya putih itu adalah array yang menyelubungi kapal roh sehingga keseluruhan kapal tampak mengenakan semacam selimut pelindung yang membungkus kapal roh hingga radius 20 meter jaraknya dari badan kapal.
“buk-buk-buk..!!”
“aduh…”
Demikian bunyi Pasukan Kavaleri kuda terbang musuh yang menabrak array pelindung yang kokoh menutupi seluruh kapal Kekaisaran Rajawali Agung. Beberapa diantara meteka bahkan terjatuh ke tanah dalam teriakan melolong ketakutan.
“Panah…!!” komando Liao Quon
Ratusan anak panah terbang langsung ditembak kan dari arah kapal dan menghantam pasukan lawan. Pasukan Kavaleri itu amat terperanjat. Array jenis apa yang dipakai kapal ini? Mereka terlindung sekaligus dengan leluasa dapat menembak dari dalam array.
Salah satu tentara yang sepertinya pemimpin Kavaleri Kuda Terbang itu meneriak kan aba -aba....
“Jebol array itu…” komando pemimpin pasukan kavaleri kuda terbang.
Serentak pasukan kavaleri kuda terbang itu secara bersamaan- dalam irama teratur berusaha membobol tembok array menggunakan tombak.
“Tang-tang-tang” bunyi tumbukan ratusan tombak bertalu-talu, berusaha untuk menjebol tembok array.
>>>
Tiga ahli Kekaisaran Rajawali Agung yaitu Ju Lianyi, Zhang Junda dan Hua Shen bergerak dengan cepat dan menghalangi lima Samurai atau Bushi itu. Kelima Samurai tampak telah meng-acungkan Pedang Panjang, secara bersamaan mereka menebas kedepan.
“Duaar….”
Ledakan yang ditimbulkan energi pedang lima Samurai itu membuat tiga ahli dari Kekaisaran Rajawali Agung terbang menjauh dan melompat guna menghindar ledakan itu. Manakala tiga praktisi Kekaisaran Rajawali Agung menghindar ledakan itu, mereka merasakan tamparan angin tipis melintas.
“Wush-wush…” dua sosok Samurai terbang melintasi mereka dan dalam Gerakan cepat mengancam, keduanya terbang cepat menuju kapal roh.
__ADS_1
Ju Lianyi menjadi panik,
“Halangi dua samurai itu” Ju Lianyi terbang cepat dan membuat Gerakan menebas ke arah salah satu Samurai yang melintas.
“Suittt…” suara cicitan pedang menbas punggung Samurai itu.
Hua Shen terbang mengikuti Ju Lianyi. Pedang ditangan Hua Shen membuat Gerakan segel dan sebuah sinar berbentuk Bunga Lanhua (anggrek) yang terkandung kekuatan ahli SAINT Level tiga menyergap punggung salah satu Samurai.
“Trang – trang… !!”
Ju Lianyi dan Hua Shen terkejut Ketika dua bilah pedang Panjang menepis serangan mereka.
Tampak dua orang Samurai lainnya melayang dari atas langit menghalangi Langkah terbang Ju Lianyi dan Hua Shan. Ju Lian buru-buru melirik kebelakang dan mendapati, Zhang Junda tampak telah mulai bertarung hidup mati melawan seorang Samurai yang tersisa di belakang mereka …
Dalam suara bernada keji, suara sengau terdengar dari balik topeng dan seragam mengerikan yang dikenakan dua Samurai itu…..
“Mahluk rendah… berani-beraninya kamu berdua membokong”
“Kami adalah lawan kalian…”
Dua Samurai itu lantas melompat dan menerkam Ju Lianyi dan Hua Shen dengan sabetan pedang Panjang khas negri Timur.
“Tsing-tsing”
“Duar…”
Penampakan langit diatas lautan Embun Timur berkilauan dalam cahaya pedang yang tampak beterbangan kian kemari dalam Gerakan indah namun membawa hawa membunuh yang kental. Jika saja ada yang dapat melewati lautan dibawah tempat pertempuran enam orang dilangit, mereka akan mengira terjadi Guntur dan kilat di langit cerah tanpa mendung itu. Padahal itu adalah pertempuran hidup mati diantara enam ahli SAINT diangkasa lautan Embun Timur.
>>>>>>
“Celaka… dua orang itu lolos” desis Liao Quon.
“Lindungi Pangeran ketujuh” perintahnya dengan panik kearah pasukan penyergap yang tersisa. Dia sadar, dua Samurai itu memiliki kultivasi diatas SAINT Bumi Level satu seperti level yang dia kuasai. Akan tetap Liao Quon telah bertekad dengan nyawa akan menghalangi mereka mencelakai pangeran.
“Duar… “ bunyi ledakan Ketika dua Samurai musuh itu merobek dinding array. Kekuatan dinding array memang hebat. Akan tetapi apalah kekuatan array itu jika dibandingkan kekuatan dua ahli SAINT level tiga dan empat.
“Pangeran… dapatkah aku menggunakan Tombak Permata Merah Peringkat Immortal milik kekaisaran??” tanya Liao Quon dengan terburu-buru kepada Pangeran Ketujuh.
“Boleh… anda dapat menggunakan tombak itu” jawab Ju Qing dengan gugup….
“Akan tetapi, bukankah tombak ber- tatahkan Mestika Merah itu disimpan di Gudang milik kekaisaran jauh disana??? Bagaimana anda dapat menggunakannya???” pekik Ju Qing dengan panik. Mata nya melirik array arah mana dua Samurai itu berada, mulai terlihat sobek.
“Sepanjang anda mengijinkan maka aku akan menggunakan Tombak Pusaka itu” suara Laio Quon terdengar mantap.
“Dengar perintah !!! Anda dapat menggunakan Tombak Immortal itu guna melindungi aku, Pangeran ke Tujuh Ju Qin dari serangan musuh” titah Pangeran ke tujuh.
Dengan wajah gembira Liao Quon menarik sebuah tiang bendera diantara pajangan 10 bendera kekaisaran. Ketika Liao Quon memegang tiang bendera tersebut, tampak bubuk kayu yang hancur jatuh ke lantai menyisakan penampakan asli dari tiang bendera.
Pangeran terperangah melihat kejadian itu “Sepertinya Kaisar telah meminta secara khusus Liao Quon untuk melindungiku” perasaan hangat menjalar di hatinya.
Sebuah tombak hitam kelam berkepala permata merah menyala di pegang Liao Quon. Liao Quon terlihat mengerikan Ketika memegang tombak tersebut.
“Dengan mengenakan senjata Pusaka Tombak Immortal seperti ini, bahkan SAINT level 4 bahkan harus berpikir dua kali untuk melawan ku” Liao quon terlihat percaya diri.
__ADS_1
Liao Quon melompat terbang dan dengan gerakan mengancam, tombak immortal itu menusuk ke salah satu Samurai yang tampak terlebih dahulu masuk ke dalam array.
“Matii…!!!” angin serangan dengan kekuatan berkali-kali lebih dahsyat dari kekuatan SAINT level satu dikeluarkan Tombak Immortal itu dan mengunci leher Samurai.
Samurai bersenjata Pedang Panjang itu terkejut Ketika merasakan angin serangan dahsyat, dia memutar pedang Panjang menangkis serangan tombak.
“Trang….” Tangan samurai itu serasa kesemutan ketika pedang panjangnya membentur Tombak ditangan Liao Quon.
***
Sementara kawannya dihalangi Liao Quon Ketika memasuki array menuju kapal, salah satu Samurai melesat dengan cepat kearah kapal roh. Dengan ringan dan suara yang sama sekali tidak terdengar Samurai itu menjejak kan kakinya nya di geladak kapal sambil tertawa seram kearah Pangeran Ju Qin.
“Hahahaha…” suaranya terdengar sumbang penuh ejekan.
“Suiiit…” suara tombak yang di kerahkan oleh lima tentara mengancam dada samurai itu. masih dengan nada mengejek, dia mendengus….
“Semut… berani banyak tingkah di hadapanku…”
Pedang Panjang ditangan kanannya menepis lima serangan trombak.
“Kraakk..!!!” pedang panjang mengiris putus lima tombak penghadang menyerupai se- bilah pisau roti membelah mentega.
“Duk-duk-duk” tangan kirinya melepaskan serangan telapak tangan yang beruntun menghantam dada lima tentara kekaisaran.
“hoek..” ketiga tentara itu mengeluarkan seteguk darah. Dada mereka terasa sakit, dan pandangan mata menjadi kabur. Ketiganya langsung pingsan.
Samurai bertopeng itu kini terlihat melompat dan cengkeraman tangan kirinya mengunci ketat kearah Pangeran Ju Qin. Tangan kanannya terlihat sibuk memainkan gerakan pedang untuk menepis semua serangan tombak dan pedang yang di kerahkan puluhan tentara kerajaan.
“Krak… buk-buk-buk… aduh” jeritan dan bunyi senjata patah memenuhi pendengaran semua orang yang berada di geladak kapal roh itu.
>>>>>>
“Hahaha…” Sima Yong tertawa geli melihat Ronin tua itu terkejut dengan Teknik Pedang kelas tinggi yang dia tampilkan.
“Rasanya cukup sudah kamu menyaksikan Teknik pedang kelas atas ini. Aku tak memiliki banyak waktu”.
“Baiklah jika kamu dapat selamat dari satu serangan pedang ku ini… aku akan berbelas kasihan dengan membiarkanmu pergi” kata Sima Yong. Pedang Bianfu, sebuah Pedang Immortal milik Sima Yong terlihat diam mengancam dari atas kepala Sima Yong.
Ronin tua itu memperlihatkan wajah tersinggung. Anak muda di hadapannya ini amat sombong menurut dia. Bisa-bisanya anak ingusan itu memberi ultimatum seperti itu kepada dia. Dia adalah salah satu Datuk para petarung di Negri Matahari Timur. Hari ini dia sangat terhina habis-habisan oleh bocah yang usianya belum lagi 25 tahun itu.
“Bocah Sombong…!!! Tidak melihat tingginya gunung dan dalamnya lautan dihadapanmu. Baik, jika aku tidak dapat membunuh mu dalam tiga serangan, maka aku akan balik ke Timur dan tidak akan pernah menampakkan wajahku barang secuil dihadapan kalian praktisi dunia tengah” ronin tua itu amat jatuh dalam angkara murka.
Ronin itu, sepertinya menghimpun semua kekuatan energi supranatural yang dia serap dari langit dan bumi. Itu adalah sebuah Teknik mengumpulkan energi yang lantas dilepaskan untuk membantu serangan pedang panjangnya. Di negri mana dia berasal, energi supranatural ini di kenal dengan sebutan Reiki.
“Haiiiiiittttt” dalam teriak penambah semangat pedang Panjang di tangannya di tebaskan dengan suara bergemuruh kearah Sima Yong yang terlihat melayang dibawa angin.
“Suiiittt..!!” suara cicitan pedang Panjang diikuti gemuruh energi supranatural yang dia kumpulkan menebas dengan ganas kearah Sima Yong. Salah sedikit saja, nyawa adalah taruhannya didalam pertempuran itu.
*Bersambung*
Untuk membuat author lebih semangat dan tetap berkreasi melanjutkan novel ini, jangan lupa di like, sekedar komen dan vote.
Terlebih tolong favoritkan novel ini karena Noveltoon akan menilai untuk menjadi pemasukan Author berdasarkan jumlah Favorit, komen dan like … yang tentunya juga menyemangati,author. Apresiasi yang readers berikan akan menyemangati autor untuk terus berkarya di Noveltoon ini.
__ADS_1