Kisah Dewa Pedang Utara

Kisah Dewa Pedang Utara
Sebuah Artefak Qilin Kecil


__ADS_3

Sima Yong mengerahkan kekuatan jiwa yang dia miliki untuk menarik dua fragment Artefak yang kini telah menggumpal tiada bentukan sama sekali..


"Beruntung sekali, kemampuanku didalam kekuatan jiwa telah mencapai Master Dao Level dua. Jika saja aku masih di peringkat Master Jiwa SAINT, aku tidak yakin akan dapat memperbaiki dua artefak yang telah menggumpal seperti saat ini"


Memang benar sekali, sama halnya ketika menempa benda untuk senjata fisik seperti pedang, tombak dan lain sebagainya. Kekuatan Qi yang dibutuhkan seorang penempa Blacksmith guna membentuk senjata sesuai yang diingin dalam waktu yang cepat namun tetap indah-hal ini tentunya harus didukung juga dengan teknik penempaan yang baik.


Didaam menempa menempa benda yang bersifat magic atau benda roh seperti ini, Kekuatan Jiwa seorang refiner amatlah diperlukan-selain juga keahliannya menggunakan teknik canggih dalam menyuling.


Sima Yong yang telah memperoleh pengajaran teknik menyuling benda roh dari Master Huang Chi dari Sekte Hui Tianshi (Malaikat Kelabu) di hutan Tianshi beberapa waktu lalu, membuat anak muda ini dengan penuh percaya diri menyatukan dua gumpalan fragment yang tidak berbentuk itu.


Beruntung seakli kemampuan Jiwa sebagai Master Jiwa Dao yang tinggi itu membuat dia tidak membutuhkan waktu yang terlalu lama (kira-kira dua bakaran hio), dan sima Yong mulai merasakan terjadi kontak jiwa antara dirinya dengan roh yang berada didalam dua artefak itu.


"Bangun dan dengar perintahku" kata Sima Yong menggunakan benaknya. Selepas mengeluarkan perintah, dia merasakan jikalau roh dalam artefak tak berbentuk itu menunjukkan respons.


"Siapa kamu? Berani-beraninya memerintah aku yang telah puluhan ribu tahun berdiam didalam benda ini?" suara jijik terdengar memenuhi benaknya.


Dia langsung tahu, suara dibenaknya yang terdengar pling keras, pasti asalnya dari roh yang berkekuatan paling tinggi. Tebakannya adalah artefak yang paling besar, yaitu artefak Qilin cacat yang tidak memiliki kaki, yang telah mamarahinya melalui benak.


Di lain pihak, sebuah suara lemah juga terdengar dan itu pasti asalnya dari penggalan artefak yang merupakan hadiah dari Sekte Rahasia di Kota Kuno Utara. Saking lemahnya... suara roh di artefak kecil itu tertutupi suara artefak yang cacat.


"Kamu mau mencoba menantangku?" bentak Sima Yong.


Sebuah api berwarna kebiruan yang terbentuk dari kekuatan jiwa (sihir) membakar dua artefak itu. Suara jeritan yang menggiriskan hati terdengar, tatkala api sihir itu mulai membakar keduanya. Bukan hanya fisik yangterbaka, melainkan juga roh didaamnya ikut terbakar oleh api sihir.


"Sepertinya aku harus menghancurkan roh kamu, lalu menggantinya dengan roh kecil yang tertindas itu. Meskipun dia masih berupa roh kecil, aku yakin dengan memangsa roh kamu maka dia akan menjadi kuat, meskipun tidak sekuat kamu yang telah ribuan tahun ini"


"Dan lagi, anak kecil itu tidak pembangkang seperti kamu" dengan wajah licik Sima Yong mengancam.


"Jangaan..." pekik roh artefak cacat.


"A-aku akan mengikuti keinginanmu, asalkan jangan melenyapkan ku" suara roh artefak cacat mulai terdengar ketakutan.


setelah merasa puas karena telah menakut-nakuti rohyang tua itu, Sima Yong lantas memberi instruksi,


"Kalau begitu, kamu dapat membantu aku yang akan menyatukan dua roh kamu. aku akan mengubah kalian berdua menjadi artefak baru berwujud Qilin yang sempurna. Apakah kamu paham?" tegas suara anak muda itu.


"Ya-ya-ya... kamu dapat menyatukan kamu akan tetapi jangan mematikan roh ku sendiri" kata artefak cacat itu.


"Psssttttt...." sebuah api kembali terpancar dari tangan Sima Yong ketika dia membentuk api sihir yang membakar dua artefak.


Kini, tidak ada lagi perlawanan dari dua roh artefak itu.


"Sekarang waktunya menyuling" desis Sima Yong.

__ADS_1


Saat itu jiwa nya melesat keluar dari tubuh fisiknya dalam bentuk dua tangan yang besar-yang kemudian berulang kali menghantam menggunakan kekuatan jiwa DAO ke arah dua bongkah artefak.


"Proses pembentukan !" perintah Sima Yong dalam suara yang terdengar seperti berbisik.


******


Hingga satu hari, dan dua malam dia tidak tidur sama sekali. Ketika itu dia amat fokus melakukan penyulingan untuk membentuk artefak baru berwujud Qilin.


Akhirnya...


Sebuah patung Qilin kecil seukuran buah kelapa tampak berdiri di hadapan Sima Yong.


Meskipun artefak itu merupakan bentukan yang baru dan sempurna (Patung Qilin baru), akan tetapi karena bahan-bahannya berasal dari artefak kuno maka Qilin yang telah selesai di suling itu tetap terkesan tua dan membawa aura kuno.


Bahkan setelah dua roh didalamnya bahkan telah menyatu, efeknya semakin menambah angker penampilan Qilin yang kini tidak lagi cacat itu.


Sima Yong memandang puas akan hasil penyulingannya terhadap benda roh itu.


"Mungkin sudah waktunya aku memanggil Patriak Xie Sying" Dia baru saja berniat akan memencet token yang diberikan Patriak Xie, lalu sebuah suara terdengar di benaknya.


Tiba-tiba...


"Kakak.. bawa aku bersama mu" Sima Yong mengerutkan dahinya. Suara itu terdengar merengek seperti anak kecil.


"Siapa kamu? dan mengapa kamu menyapaku?" Sima Yong tidak serta-merta menjadi kaget ketika mendengar suara yang berbicara di benaknya. Dia terlalu terbiasa berhubungan dengan hal-hal semacam itu.


Artefak itu seperti menahan tangannya dan tidak mau melepaskan Sima Yong. Padahal kenyataan adalah artefak kecil itu hanyadiam, namun Sima Yong merasakan kekuatan tak terlihat memegang tangannya, tak mau lepas.


"Mengapa kamu tidak mau melepaskan tanganku? tolong lepaskan. Aku tidak ingin di tuduh sebagai seseorang yang mengambil kamu secara diam-diam oleh orang-orang Suku Wu Yi" kata Sima Yong.


Dia berusaha melepaskan benda kecil itu berulang kali, akan tetapi Qilin kecil itu tidak tetap mau melepaskan dirinya.


Hingga siang menjelang, tatkala Patriak Xie Sying membuka kembali Portal Domain itu, Qilin kecil itu masih tetap terlihat seperti semula. Qilin itu memegang tangan Sima Yong dalam posisi tak terlihat.


Sambil tertawa tatkala melihat kejadian itu, Patriak Xie Sying berkata,


"Tuan Muda Yong, anda tidak perlu kuatir. Semua benda roh atau artefak di dalam ruang penyimpanan ini berhak untuk memilih siapa yang akan menjadi tuannya. Kami hanya bertugas menyimpan dan merawat benda-benda purbakala ini".


"Kami tidak dapat menahan mereka, manakala mereka menemukan seseorang yang cocok untuk menjadi tuan mereka. Ketika kami berusaha menghalangi mereka, pada akhinya benda itu pergi sendiri dan menemui pilihannya yang telah dia temui sebelumnya"


"Anak kecil ini sepertinya sangat menyukai anda. Biarkan dia mengikuti anda, Tuan muda Yong"


Demikian penjelasan Patriak Xie Sying yang lantas membuat Sima Yong merasa lega.

__ADS_1


Sima Yong lalu memasukkan Qilin kecil itu kedalam saku di bajunya. Qilin itu bergerak-gerak pelan, memancarkan kekuatan roh yng memenuhi benaknya dan terdengar suara "Terima kasih kakak".


>>>>>>


Sima Yong lantas menunjukkan artefak Qilin yang berhasil dia satukan dan menjadi sebuah artefak baru kepada Patriak Xie.


Bola mata Patriak Xie membelalak dalam ekspresi antara tidak percaya, kagum dan bersyukur. Saking terharunya Patriak Xie, bola matanya menjadi berkaca-kaca. Dalam suara penuh haru Patriak Xie berkata,


"*Anak muda... Tn Yong maksudku. Artefak Qilin ini tak pernah kusangka akan kembali menjadi sempurna setelah sekian ratus tahun. Artefak ini adalah benda peninggalan turun-temurun Suku Wu Yi yang puluhan ribu tahun yang lalu".


"Artefak ini selalu di gunakan sebagai alat penyembahan Suku Wu Yi, namun sayang sekali dia menjadi cacat ketika terjadi perang antara Suku Wu Yi kami melawan bangsa Bar-bar*"


"Aku tidak tahu harus mengungkapkan rasa terima kasihku dengan cara seperti apa" Kata Patriak Xie.


Dengan mantap Sima Yong berkata,


"Patriak Xie tidak perlu memikirkan terlalu dalam tentang hal ini. Aku menolong anda dengan tulus, tanpa memiliki niat apapun" dia lalu membungkuk memberi hormat.


"Tidak berani-tidak berani. Seharusnya akulah yang membungkuk memberi hormat kepada anda Tn muda Yong" Patriak Xie balas membungkuk memberi hormat.


Di tangannya dia menyodorkan sebuah benda kecil yang berukuran sejempol jari orang dewasa.


"Apa ini Patriak?" tanya Sima Yong heran ketika melihat Patriak Xie menyerahkan sebuah artefak Qilin kecil lainnya yang seukuran Qilin sebelumnya yang dia masukkan ke saku.


"Ini adalah artefak Qilin lainnya, yang merupakan teman atau pasangan Qilin di saku anda. Qilin kecil ini dahulu sekali, ketika aku pertama kali memasuki domain ini, dia memilihku"


"Kini melihat Qilin pasangannya telah memilih anda dan berniat keluar dari domain ini, aku berpikir. Alangkah baiknya jika mereka berdua di satukan dengan satu pemilik. Terimalah pemberianku, Qilin yang telah menemaniku sejak awal aku terpilih menjadi patriak Suku Wu Yi"


Sima Yong seketika menjadi tidak enak hati. Dia diberikan hadiah, sebuah artefak yang telah menemani Patriak Xie Syie itu melewati berbagai perang, hingga sampai ke titik ini. Apakah tidak berlebihan jika dia langsung menerima pemberian orang itu? Sima Yong bimbang.


Akan tetapi, benda di kantong baju nya bergerak-gerak dan menarik-narik bajunya. Suara kecil memenuhi benak Sima Yong "Kakak... ambil dia. Dia ingin ikut bersama-sama dengan ku melayani anda"


Melihat Sima Yong dalam sikap ragu-ragu, tanpa diminta secara tiba-tiba sebuah kekuatan roh mencuat dari saku bajunya, lantas kekuatan itu merenggut Qilin kecil di tangan Patriak Xie. Lalu Qilin kecil itu menghlang di dalam saku Sima Yong, bertemu dengan pasangan nya.


Sima Yong di buat melongo, wajah nya menjadi merah karena malu. Namun dia patut merasa lega hati karena Patriak Xie malahan tertawa terbahak-bahak.


Saking merasa lucu, Patriak Xie sampai mengeluarkan air mata dan berkata,


"Tn muda Yong dapat melihat sendiri bukan? Kedua artefak itu telah memilih anda sebagi tuan yang baru. Anda tidak mungkin dapat menolak lagi"


Wajah Patriak Xie terlihat bercahaya dalam rasa gembira. Akhirnya dia bisa memberikan hadiah berupa artefak kepada Sima Yong atas kebaikannya memperbaiki Artefak yang menjadi alalt sesembahan Suku Wu Yi mereka.


*Bersambung*

__ADS_1


Untuk membuat author lebih semangat dan tetap berkreasi melanjutkan novel ini, jangan lupa di-like, sekedar komen dan vote.


   Terlebih tolong favoritkan novel ini karena Noveltoon akan menilai untuk menjadi pemasukan Author berdasarkan jumlah Favorit, komen dan like … yang tentunya juga menyemangati author. Apresiasi yang readers berikan akan menyemangati autor untuk terus berkarya di Noveltoon ini.


__ADS_2