
Pegunungan Khar Amitan adalah satu pegunungan bersalju yang terletak di bagian Barat Kawasan Utara yang luas itu. Hamparan pegunungan berbaris itu sebenarnya terdiri dari sepuluh gunung yang saling berjejeran satu sama lain, dengan masing-masing ketinggian yang berbeda-beda.
Salah gunung yang memiliki puncak paling tinggi itulah yang sebenarnya bernama Gunung Khar Amitan. Pegunungan itu sendiri memiliki kisah menyeramkan yang beredar dikalangan para praktisi bela diri "Sekali anda menginjakkan kaki di Khar Aminta, itu berarti anda telah mengucapkan salam perpisahan dengan kehidupan".
Mendengar kisah menyeramkan itu berarti bahwa, di pegunungan itu selalu saja terjadi hal-hal menyeramkan yang membuat orang-orang Dunia Sungai Telaga menganggap Khar Amitan adalah tempat yang keramat.
Namun sebagian lainnya mempercayai bahwa Khar Amitan hanyalah sebuah tempat terselubung bagi kaum pelarian, kaum buronan dan penjahat-penjahat kelas dunia, yang di buru oleh Sekte, Klan bahkan Kekaisaran di berbagai wilayah Benua Penyaringan Dewa.
Di pagi yang cerah itu, satu sosok tubuh manusia yang mengenakan pakaian serba kelabu, terlihat berlari sangat cepat, meluncur diatas lapis demi lapis salju yang menyelubungi Pegunungan Khar Amitan. Meskipun terlihat seperti berlari dengan pesat seperti itu, namun sesungguhnya sosok berjubah kelabu itu tidak menyisakan jejak kaki sama sekali diatas hamparan salju yang dia lewati.
Memang, di seluruh area pegunungan itu diberlakukan pelarangan terbang, dimana sebuah array tak terlihat sengaja di pasang, sehingga barang siapapun yang ingin mengunjungi Pegunungan Khar Amitan, wajib melakukan perjalanan dengan berjalan atau berlari di sepanjang kaki gunung bersaju, hingga mencapai puncaknya.
Si jubah kelabu yang adalah Sima Yong itu, sebelumnya setelah lama berputar-putar di langit wilayah utara dan membuat pusing para pengejarnya, lantas menutup semua aura menggunakan jimat, lalu dia bergerak kearah bagian Barat Wilayah Utara sini, ke Pegunungan Khar Amitan.
"Aku menduga-duga di puncak tertinggi itulah pintu masuk menuju Neraka Dunia tersedia.
Telah tiga puncak aku datangi, namun tak jua terdapat jejak apa-apa? Semoga kali ini tidak akan salah lagi" dia lantas mengemposkan nafasnya kuat-kuat, dan membuat gerakan Teknik Terbang Diatas Rumput nya itu semakin kencang melontarkan dirinya bagaikan kapas yang di tiup angin.
Tidak berapa lama kemudian, Sima Yong telah berada di puncak Gunung Khar Amitan. Sima Yong mengagumi pemandangan puncak Khar Amitan, sambil memikirkan bagaimana cara menemukan pintu masuk ke Neraka Dunia. Sementara itu pemandangan diatas puncak ituhanya tampak hamparan kabut tipis menyelimuti puncak, sampai-sampai menyembuntikan bagian kaki dirinya.
Lalu samar-sama dia mendengar dua orang yang sedang saling berbicara.
"Sebutkan nama dan apa tujuan anda memasuki Neraka Dunia !" sebuah suara yang terdengar begitu angker, membuat Sima Yong tersadar dari lamunan dan bergegas menuju ke arah mana suara itu berasal.
Ketika tiba di bagian mana suara itu berasal, dia dapat melihat ternyata yang bersuara tadi itu adalah pria tua usia sekitar tujuh puluh tahun, sementara berdiri di sebuah tepian jurang yang tak kentara dasarnya karena tertutup kabut.
Tubuh pria itu begitu tinggi langsing, dengan perawakan yang terlihat sangat sehat seperti anak muda berusia dua puluh lima tahun saja. Sima Yong tidak dapat menerka kultivasi orang tua itu dengan pasti. Namun dia yakin jika usia orang itu bukanlah tujuh puluh tahun seperti yang terlihat.
"Aku menduga paling tidak usia orang itu sekitar dua ratus tahun.
Perlengkapan tempur orang itu terdiri dari perangkat roh kelas DAO" batin Sima Yong sambil terkagum-kagum.
Sementara itu, didepan orang itu, berdiri seorang lainnya yang terlihat telah menyamarkan penampilannya dengan mengenakan topi dou peng.
"Aku yang rendah ini bernama Ge Kuo. Aku jauh-jauh datang dari Wilayah Barat benua ini, untuk berkultivasi di Neraka Dunia ini"
__ADS_1
Sima Yong langsung menduga Ge Kuo ini adalah buronan atau seorang penjahat yang mencoba menyembunyikan diri di Neraka Dunia. Namun meskipun semua orang tahu bahwa Neraka Dunia itu adalah tempat pelarian kaum buronan, nyata bahwa penghuni tempat itu tidak suka jika Neraka Dunia disebut sebagai tempat persembunyian atau tempat berlindung.
"Tempat untuk berkultivasi? Licik sekali Ge Kuo ini, mengarang cerita seolah-olah akan berkultivasi di Neraka Dunia. Bukankah tempat ini sangat miskin Hawa Qi yang sangat tidak cocok untuk berkultivasi?" Sima Yong tertawa didalam hati.
Suara pria penjaga terdengar ketika dia membaca sesuatu dari buku tebal yang melayang di hadapannya.
"Ge Kuo, kejahatan telah membunuh satu klan Bintang sembilan, menjadi buronan dengan harga 50.000 Manna Biru!
Baik, kamu dapat memasuki Neraka Dunia. Silahkan pilih pintu mana yang akan kamu masuki !"
Tegas terdengar suara pria tua penjaga pintu masuk ke Neraka Dunia, yang seketika memunculkan tiga buah jembatan dari kehampaan di tepi jurang berkabut itu.
Ge Kuo terlihat kebingungan dan ragu-ragu. Sepertinya dia ingin mengajukan pertanyaan, akan tetapi pria penjaga itu kelihatan berpura-pura sibuk dengan membalik-balikkan lembaran buku di hadapannya.
"ehem... Tuan" Ge Kuo mengeluarkan suara, berusaha menarik perhatian penjaga itu.
Dengan wajah datar pria tua penjaga itu balas bertanya,
"Kenapa? Kamu tidak tahu caranya untuk memasuki Neraka Dunia? Bukankah sudah seharusnya kamu mencari inforasi sebelum datang ketempat ini?" suaranya terdengar mengejek yang lantas membuat Ge Kuo itu menjadi serba salah.
Ge Kuo lantas membungkuk, menjura dan mengajukan pertanyaan dengan sopan,
"Mohon kiranya tuan memberi petunjuk cara memasuki Neraka Dunia ini"
Melihat sikap hormat penuh penjilatan dari Ge Kuo, pria tua itu menjadi sedikit longgar dalam berkata-kata. Namun masih dalam nada yang terdengar setengah mencibir dia berkata,
"Tiga jembatan di tepi jurang itu yang akan mengarahkan kamu menuju ke bagian mana di Neraka Dunia.
Jembatan pertama akan membawa kamu menuju ke tempat yang di sebut Neraka ketiga. Neraka ke tiga adalah tempat pemukiman pelarian dengan kemampuan biasa-biasa saja.
Jembatan kedua menuju ke Neraka kelima, tempat pelarian dan buronan peringkat menengah. Sedangkan jembatan terakhir sebelah sana, akan membawa kamu ke Neraka Kesembilan yaitu tempat elit di Neraka Dunia.
Hanya para ahli peringkat tinggi yang dapat lolos melewati pintu jembatan Neraka kesembilan" pria tua itu lantas menatap tajam kearah Ge Kuo yang kini terdiam.
"Silahkan memilih pintu mana yang kamu rasa dapat kamu lewati sesuai kultivasimu.
__ADS_1
Satu pesanku, ketika kamu telah memilih, maka kamu tidak akan memiliki kesempatan kedua untuk memasuki Neraka Dunia" pria tua itu tersenyum dingin, sementara Ge Kuo merasakan jantungnya berdetak kencang mendengar syarat memasuki Neraka Dunia.
"Hanya ada satu kesempatan, dan jka tidak berhasil maka kematianlah jalan keluarnya" degup jantung Ge Kuo semakin bertalu-talu.
Ketika Ge Kuo masih terdiam dalam keraguan, untuk memilih pintu yang mana akan dia masuki, suara pria tua itu terdengar mendesaknya,
"Apakah kamu telah menentukan pilihan? Mohon mempercepat pemilihan kamu, lima orang lainnya telah berderet dibelakang menunggu anda"
"Tua bangka ini tidak memberi sedikit kelowongan buatku untuk berpikir. Kapan-kapan ketika aku telah didalam Neraka Dunia itu, akan kucari dia dan kubunuh diam-diam" darah Ge Kuo mendidih karena perlakuan tidak sopan dari pria tua penjaga pintu itu.
"Neraka kesembilan ! Ya aku memilih memasuki neraka kesembilan" teriak Ge Kuo setengah kesal.
"Baik. Kamu telah menentukan pilihan melewati pintu neraka kesembilan.
Maka kamu dapat pergi ke jembatan paling ujung sana untuk memasuki tempat pilihan kamu"
Ge Kuo bergegas menuju jembatan ilusi yang di sebut pintu neraka kesembilan itu sambil berdebar-debar. Orang-orang lainpun saat ini langsung fokus ke arah mana Ge Kuo akan melintas.
Saat itu Ge Kuo baru saja membuat langkah ketiga di jembatan ilusi itu, tatkala sebuah petir raksasa berkelebat menyambar dia dan memberikan sengatan listrik berkekuatan sekurang-kurangnya 60 juta jin.
Semua mata melotot memperhatikan ketika Ge Kuo meronta di atas jembatan ilusi, yang dalam waktu dua kedipan mata tubuhnya telah menjadi hangus, menyusul jeritan pilu menyayat hati. Tubuh hangus Ge Kuo seketika dan dia jatuh bebas ke kedalaman jurang-tatkala jembatan ilusi yang membentang itu lenyap.
Beberapa orang yang berderet mengantri giliran untuk memasuki Neraka Dunia menjadi jeri seketika. Bagaimana tidak? Ge Kuo itu adalah praktisi yang memiliki Kultivasi setidaknya di Alam Melintas SAGE level tiga. Namun hanya dalam beberapa tarikan nafas, dia langsung tewas tatkala berusaha melintasi jembatan penghubung ke Neraka Dunia kesembilan.
Terdengar suara penuh ejekan dari pria tua penjaga pintu itu,
"huh sudah kuduga. Orang itu tak lebih dari kantong nasi belaka. Gaya setinggi langit, namun mati hanya dalam dua tarikan nafas.
Berikut nya ! Silahkan maju" teriak orang itu.
Deretan orang yang sedang mengantri giliran memasuki Neraka Dunia, menjadi terdiam.
*Bersambung*
Untuk membuat author lebih semangat dan tetap berkreasi melanjutkan novel ini, jangan lupa di-like, sekedar komen dan vote.
__ADS_1
Terlebih tolong favoritkan novel ini karena Noveltoon akan menilai untuk menjadi pemasukan Author berdasarkan jumlah Favorit, komen dan like … yang tentunya juga menyemangati author. Apresiasi yang readers berikan akan menyemangati autor untuk terus berkarya di Noveltoon ini.