
Matahari mulai bersinar dengan kehangatannya, warna kuning nya merambat menghangatkan dataran rendah di kaki Pegunungan Pembunuh, merata dan menjalar hingga ke sulur-sulur cabang-cabang kering di Hutan Kematian, berkilauan seperti cahaya emas.
Pria berjubah abu-abu itu bersandar malas pada sebatang pohon kering, menyaksikan pertarungan hidup dan mati antara satu perempuan tua bongkok, melawan pria kepala borak yang mengenakan jubah macan tutul. Pria itu bersikap acuh tak acuh, terkadang menguap dengan malas manakala perempuan bongkok dengan licik melepaskan puluhan jarum beracun yang keluar dari gelang tersembunyi di dalam lengan bajunya.
Bahkan ia tetap bersikap malas menonton pertunjukan seru antar ahli itu, ketika si botak macan tutul berhasil menusuk kearah pinggang perempuan bongkok. Lalu botak berbaju macan tutul itu tertawa-tawa dengan keras, dia sampai-sampai kehilangan kewaspadaan dan bubuk berwarna putih di hamburkan perempuan bongkok sebelum menghembuskan napas terakhir.
Sima Yong mengawasi dari batang pohon, ketika Vanug pria botak itu melotot kearah dengan ekspresi seperti orang tercekik.
"A-ai-airrr" kata Vanug
Dengan mimik tanpa ekspresi Sima Yong meletakkan satu kendi air dingin yang ia ambil dari cincinnya. Dengan santai ia menaruh buyung itu tepat di kaki nya dan mengawasi Vanug yang semakin tercekik akibat racun yang di tebar Nyonya Hua. Katanya..
"Datanglah dan ambil sendiri air ini. Bukankah kalian berdua sama-sama ahli racun? Aku pikir dengan jabatan tinggi anda di dalam Serikat Musafir Bayangan itu, anada pasti memiliki kemampuan bertahan dari racun, dan merayap sampai di kendi ini"
Anak muda itu tidak terlalu merasa berkepentingan untuk membantu Vanug. Dari pembicaraan antara Vanug dan Nyonya Hua sebelumnya, ia menyimpulkan kalau dua kelompok Suku Jinzhi ini bukanlah golongan yang ramah dan baik-baik.
"Salah satu bukti nyata adalah Nyonya Hua itu dengan mudah menurunkan tangan racunnya kepada lima ahli Sekte Black Dragon, dan berniat menjebloskanku kedalam perangkapnya dan menjadi kambing hitam.
Vanug ini pun tidak lebih baik dari Nyonya Hua itu. Dua-duanya sama-sama serakah dan berniat saling membunuh tanpa butuh alasan apapun.
Membiarkan orang-orang bengis seperti ini mati, setidaknya akan membuat dunia sedikit lebih damai" batin Sima Yong.
Ia berjalan pelan, melangkahi jasad Vanug yang baru saja menghembuskan napas terakhirnya - yang telah terbang menuju Raja Neraka (mati). Ia mengorek-ngorek jasad Nyonya Hua, mengambil cincin spasialnya.
Setelah Sima Yong menghapus segel darah yang di letakkan Nyonya Hua di cincinnya, ia memeriksa isi dalam cincin itu.
"Bahan-bahan herbal dan ratusan bahan beracun lainnya.." gumam nya dalam hati..
__ADS_1
Beberapa saat kemudian, wajah anak muda itu berubah cerah.
"Ini dia benda misterius yang menjadi perebutan dua kubu ini" kata Sima Yong gembira. Ia membuka sobekan kulit tua, yang diatasnya ada torehan lukisan berbentuk peta.
Ia meneliti lukisan diatas potongan kulit tua itu.
"Peta?
Apakah ini yang akan menjadi petunjuk keberadaan Ras Bangau Putih Berkaki satu yng mereka perbincangkan? Hm.. meskipun hanya berupa sobekan, setidak nya ini telah membuat banyak orang rela mati untuk memiliki peta ini" Sima Yong menyimpan potongan sobekan peta tersebut setelah menguras habis isi cincin Nyonya Hua.
Kepalanya kini berpaling kepada Vanug..
"Jika si botak ini begitu kekeh untuk memperoleh sobekan peta di perempuan bongkok ini, apakah dia memiliki sisa sobekan peta petunjuk? Mari kita lihat !"
Sima Yong lantas menjarah cincin tata ruang pria botak berjubah macan tutul itu.
"Dia cukup kaya.. " Sima Yong melempar semua alat pembayaran Energi Stone kedalam cincinnya. Jumlahnya ada lebih dari 200.000 Energi Stone Tengah jumlahnya.
Tak lama kemudian setelah menguras habis isi cincin si botak, anak muda kita ini menemukan apa yang ia cari..
"Sobekan peta kulit ! Aku beruntung.. ini adalah pecahan dari peta yang dua orang ini perebutkan !"
Ia lalu mencoba menggabungkan dua sobekan peta kulit itu dengan hati berbunga-bunga..
"Apa ? masih kurang 1 pecahan lagi?"
Wajah Sima Yong seketika berubah drastis. Pada awalnya ia merasa menjadi manusia paling beruntung di dunia ini, namun harapan indah itu lenyap di campakkan kenyataan kalau pecahan sobekan peta itu terdiri dari tiga bagian.
Namun sebagai sosok yan telah berpengalaman di Jiang Hu Sungai Telaga ini, Sima Yong buru-buru membuang rasa kecewa dari wajahnya..
__ADS_1
"Jika aku secara beruntung menemukan dua pecahan peta petunjuk keberadaan Ras Bangau Putih Kaki Satu, itu tidak akan menutup kemungkinanan kalau aku akan menjumpai keberuntungan lainnya... aku tidak boleh menjadi kecil hati" hiburnya didalam hati. Ia lalu memutuskan untuk pergi ke daerah tempat tinggal Suku Jinzhi..
"Mungkin di desa orang Suku Jinzhi nanti aku akan mendapat petunjuk lain tentang sisa peta Bangau Putih Kaki Satu !" semangat kembali tumbuh di hati Sima Yong. Dia memang membutuhkan informasi keberadaan keberadaan Ras Bangau Putih - sehubungan dengan keberadaan Reilkui peninggalan ahli ras itu ribuan tahun yang lalu. Relikui itu adalah adalah rangkaian tiket perjalanannya untuk menembus ranah Immortal.
Sima Yong baru saja selesai dengan rencana nya untuk memasuki wilayah Suku Jinzhi, ketika tiba-tiba pohon-pohon kering di Hutan Kematian bergetar hebat. Suara siulan yang mengandung kekuatan dahsyat terdengar membahana.
Suiiitt !
"Seorang Ahli SAINT? Di tengah hutan ini pun terdapat ahli peringkat itu?
Orang-orang di Suku Jinzhi ini diam-diam menyimpan banyak sekali ahli-ahli peringkat tinggi" batin Sima Yong sambil mengerutkan keningnya. Tubuhnya lantas berubah menjadi bayangan, menghilang dan bersembunyi di dalam domain yang ia ciptakan sendiri.
Lima tarikan napas berlalu, dan satu sosok pria tua muncul seperti angin. Wajahnya terlihat berwibawa. Pakaiannya serba hitam dan di hiasi jalinan tali temali berbagai warna seperti merah, putih, kuning, hijau dan biru - melingkari pinggang nya.
Dia mengenakan penutup kepada, juga dari rangkaian kain tenun hitam dengan jalinan tali-temali warna-warni. Sosok pria tua itu terlihat kaget manakala melihat enak sosok jasad manusia, diam tak bernyawa.
Dia memeriksa satu persatu jasad-jasad itu dan menggumam,
"Semua mati karena pertempuran diantara mereka sendiri"
Pria tua itu menghela napas dalam-dalam lalu kembali berkata..
"Keserakahan pada akhirnya membuat dua kelompok ini, mati tanpa memperoleh apa-apa"
Setelah dia berkata demikian, pria tua itu mencari-cari cincin spasial Nyonya Hua dan Vanug. Wajah tuanya berubah menjadi tidak sedap dilihat..
"Seseorang telah terlebih dahulu mengambil semua isi cincin orang-orang ini" suara pria tua itu pelan tapi mengandung hawa amarah.
"Aku yakin siapapun dia, sosok itu tidak akan pergi jauh dengan cepat. Dia tak akan lolos dari tanganku !" Sosok pria itu menghilang dan muncul di ketinggian, bergerak cepat lalu menghilang.
__ADS_1
Bersambung
Halo semua. Terima kasih sudah membaca dan menyukai Novel ini. Dan untuk membuat author lebih semangat lagi, selalu berikan like ya. Jangan lupa favoritkan dan rekomendasikan novel ini kepada yang lain... Terima kasih dan semangat membaca. <3