
Tiga sosok tubuh lantas berlari cepat mendekati Sima Yong, menubruk dan kemudian mereka saling berpelukan.
"Niyadi.."
"Hattauda"
"Tan Yuwen"
Sima Yong terharu ketika dua kawannya dua ras judade dan satu ras manusia memeluknya hangat penuh rasa persahabatan. Rasanya seperti sangat lama sekali mereka tidak ketemu. Tentu saja hal ini membuat emosi diantara mereka meluap.
"Lihatlah kalian.." kata Sima Yong sambil menepuk-nepuk tiga kawannya.
"Kalian terlihat hebat. Apakah pengalaman kalian di Timur dan Barat sana telah membuat dua pria ini menjadi terlihat bertambah matang kultivasinya?" kata Sima Yong memuji.
Lalu dia menatap gadis besar itu..
"Niryadi.. kultivasi anda pun tidak kalah pesat meningkat dibanding pertemuan kita terakhir !"
Akan tetapi pujian Sima Yong itu bukannya membuat mereka bangga justru membuat tiga kawannya tersipu malu. Kenyataan memang menunjukkan kalau kultivasi Sima Yong lah yang tertinggi. Kuasi Alam Melintas Immortal !
Dengan wajah memerah karena jengah, Niryadi berkata.
"Saudara Yong tidak usah terlalu memuji. Yang ada malahan kami bertiga ini merasa sangat malu jika di sejajarkan dengan anda.
Ye Bing Qing dan saudara Atid telah bercerita banyak tentang peperangan kalian di Wiayah Tengah sana" kata Niryadi tak dapat menyembunyikan kecemburuannya. Menurut pendapatnya perjalanan mereka - Barat, Utara, Timur dan Tengah amatlah luar biasa. Tidak membosankan seperti dia yang menjadi hanya penunggu Kota Selatan.
Ye Bing Qing bersama Atid hanya tersenyum-senyum saja dari arah tangga. Mereka membiarkan empat kawan mereka saling melepas rindu.
Memang kenyataannya pengalaman Niryadi - ketika undian di lepmar antar lima kawanan itu, dia hanya memperoleh tiket undian hanya stay atau tinggal di wilayah selatan. Tentu saja dia menjadi sangat cemburu dengan pengalaman-pengalaman yang di ceritakan Tang Yuwen dan Hattauda. Petualangan menantang dengan kisah heroik, pertempuran dan petualangan mereka di Timur dan Barat.
Ditambah lagi setelah kedatangan Ye Bing Qing bersama Atid Ananada. Kisah-kisah mempesona dan kejadian-kejadian mistis di Kota Tua Utara yang di tuturkan gadis Elf itu tentang kisah-kisah perang di Bukit Pelahap Wilayah, Padang Bidadari Wilayah Tengah sana membuat Niryadi dan dua kawannya terdiam dalam rasa pesona.
"Dengan pengalaman yang demikian banyak, kultivasi kamu pun telah menerobos di ranah SAINT" kata Niryadi tak mampu menutupi rasa cemburu menatap Ye Bing Qing pada waktu itu.
******
"Sudahlah.. mari kita makan dulu. Selepas ini baru kita saling bertukar cerita dan pengalaman" kata Sima Yong membujuk. Dia tahu, Ye Bing Qing kini terlihat menonjol, jauh diatas mereka bertiga.
Enam orang itu lantas duduk di meja makan dan mulai membuka kisah masing-masing. Hattauda meriwayatkan pengalamannya di daerah Barat, dan Tang Yuwen mengisahkan petualangannya di Timur. Niryadi hanya diam dan merasa agak minder.
"Aku melihat wajahm hampir jatuh ke tanah Niryadi, tak usah risau. Akan ada kejutan untuk kalian nanti" bujuk anak muda itu.
__ADS_1
Sima Yong diam-diam menilai perkembangan kawan-kawannya itu. Hattauda berada di ranah Alam Pencerahan Suci 8 . Demikian juga Tang Yuwen. Ahli panah itu berkultivasi di ranah yang sama dengan Hattauda Alam Pencerahn Suci 8. Sementara Niryadi masih memulai di peringkat awal Alam Pencerahan Suci.
"Perkembangan kultivasi mereka demikian lambat. Sumber daya yang berkualitas rendah dan minimnya pengalaman tempur melawan ahli-ahli peringkat tinggi - memng sulit di temui di Selatan penyebabnya.
Aku tak heran kalau Ye Bing Qing melambung pesat meninggalkan tiga kawan ini" batin Sima Yong.
Namun dia tidak mengutarakan pendapatnya. Mereka melanjutkan makan-makan dengan gembira.
Setelah mereka selesai dengan santap bersama itu, Sima Yong berkata memecah kesunyian.
"Dalam beberapa waktu ke depan, aku bersama Atid akan melintasi ruang dan waktu untuk pergi ke Benua Silver kami.." Hening...
Niryadi, Hattauda, Tang Yuwen terlihat seperti terkejut. Dan dengan wajah tidak puas Niryadi - gadis judade yang selalu blak-blakan itu bertanya.
"Demikian cepatnya meninggalkan kami. Padahal aku masih ingin meminta petunjuk beberapa teknik kultivasi" wajahnya agak kecewa.
"Saudara Yong, tidak bisakah kamu menunda keberangkatan kalian?" lanjutnya.
Seperti mendapat angin, dua kawan lainnya lantas mengemukakan pendapat,
"Benar... apakah kami di ijinkan untuk pergi bersama kamu? Kami pikir, pengalaman baru di Benua Silver mungkin akan menambah pengalaman dan membuka wawasan kami" kata Hattaudha mendesak. Ini adalah permintaan yang sulit di tentang.
Dengan tertawa Sima Yong berkata.
"Begini..
Aku akan pergi bersama Atid ke Benua Silver untuk suatu urusan. Jika kalian memang ingin suatu petualangan menantang, sekalian mempertajam keahlian kalian, aku pikir Ye Bing Qing dapat membawa kalian berkelana ke Wilayah Utara.
Dengar... di utara sana aku bahkan memiliki Domain bangunandan dungeon sendiri - seperti kepunyaan sekte-sekte kuno. Well kelak akan ku dirikan semacam sekte pedang di sana. Ikutlah Bing Qing melihat-lihat" lalu dia merogoh sesuatu dari cincin tata ruang.
"Pil ini akan membantu kalain untuk cepat melakukan penerobosan kultivasi. Konsumsi pil-pil ini lalu kalian berlatih teknik-teknik pedang dan teknik serangan berlandakan kecepatan. Ada satu satu dungeon dalam domain pedang ku, tempat praktisi berlatih teknik kecepatan pedang" Sima Yong.
Buru-buru dia memberikan masing-masing tiga orang itu Pil Pencerahan Nirwana tingkat delapan dan Pil Pembentukan Tubuh (Bodhistva), dengan harapan tidak ada yang membantah.
Beruntung dia melihat wajah tiga kawan itu berubah menjadi gembira. Bayangan akan wajah murung karena di tolak untuk berkelana di Benua Silver sirna sudah...
"Perjalanan ke Wilayah Tengah tidak kalah menantangnya. Bahkan berlatih di dungeon pedang Saudara Yong, adalah kesempatan yang tak dapat di gantikan dengan apapun" jelas Ye Bing Qing untuk tersenyum.
"Sepakat !" jawab tiga orang itu gembira.
"Kalau begitu, ayo kita makan !" teriak Hattauda gembira.
__ADS_1
"Daftarkan aku didalam Sekte pedang anda Saudara Yong. Aku akan menjadi praktisi pertama dari Selatan yang menyatakan diri bergabung dengan sekte anda" kata Tang Yuwen sambil meneguk secawan arak.
"Aku juga !"
"Aku juga !" kata Hattauda dan Nieyadi berbarengan.
"Kalau begitu mari kita bersulang" ajak Ye Bing Qing. Dia mengangkat cawan berisi air kata-kata itu tinggi-tinggi (air kata-kata adalah arak).
"Bersulang !"
"Cheers !"
Kegembiraan di meja makan Paviliun Musim Panas Selatan. Suara-suara keras sukacita terdengar dari lantai dua restoran yang di sewa full oleh Sima Yong. Soal pembayaran? Apalah itu Manna Biru yang menjadi alat pembayaran. Sima Yong memiliki warisan yang seakan tidak habis-habisnya dari Raja Kelelawar dan Neraka Dunia.
******
Di perbatasan Gurun Terkutuk Benua SIlver
Rembulan terlihat seperti cincin yang bersinar, malu-malu mengintip dari balik awan gelap yang menyelimuti seluruh dataran. Waktu baru saja memasuki kentongan kedua - belum terlalu larut, tapi juga tidak terlalu dini.
Para tentara dari Kekaisaran Haiyang Timur bersama dengan gerombolan Kultivator menduduki Benteng Pertahanan selama dua minggu ini. Rupa-rupa nya, di dalam pasukan besar itu, diam-diam terdapat banyak ahli-ahli beladiri peringka tinggi dan ahli-ahli kekuatan jiwa atau Magus penyihir.
Prajurit-prajurit dan petinggi-petinggi pasukan belum lagi tidur, semua duduk di depan api unggun yang berpendar menari-nari seperti ular bercahaya.
Tiba-tiba...
Suara petikan musik berirama menyayat hati terdengar sayup-sayup. Kedengaran terlalu jauh, sehingga tidak seketika membuat semua orang menjadi tertarik untuk memalingkan pandangan.
Akan tetapi pelan dan pasti, kian kesini suara petikan Kecapi atau Guzheng atau Zhitter (sitar) terdengar semakin keras. Irama nya adalah satu irama kepedihan, membuat siapapun yang mendengar nya serasa teringat akan kampung halaman yang jauh. Efeknya pada beberapa orang malahan, irama ini membawa emosi kesedihan dan hti menjadi gundah karna mengingat orang-orang terkasih yang telah lama pergi.
"Tutup telinga kalian !" teriak seorang pria yang mengenakan pakaian serba putih. Dia adalah seorang Magus, penyihir yang pada perang sebelumnya dia mengendalikan cuaca untuk merusak benteng pertahanan.
Akan tetapi sayang amat di sayang. Peringatan Magus itu terlalu lambat. Ada banyak sekali tentara yang telah terjatuh terguling-guling, meraung dan menangis dalam kepedihan.
Magus itu sendiri kini telah menjadi pucat wajahnya. Suara Sitar itu menembus hingga ke benaknya, berusaha menerobos deperti sengatan semut menggigit tubuh. Dia tengah berusaha mengendalikan diri dari serangan musik tersebut.
Angin bertiup kencang, ketika suara Sitar berhenti. Dari arah awan hitam tampak dua sosok tubuh melayang turun. Kedua sosok itu mendaratkan kakinya dan berdiri diata menara kayu tinggi, yang tidak hancur di rusak petir. Sosok mereka terlihat begitu agung, jubah dan pakaian berkibar di tiup angin. diam tidak goyang sama sekali.
*Bersambung*
Halo semua. Terima kasih sudah membaca dan menyukai Novel ini. Dan untuk membuat author lebih semangat lagi, selalu berikan like ya. Jangan lupa favoritkan dan rekomendasikan novel ini kepada yang lain... Terima kasih dan semangat membaca...
__ADS_1