
Pedang di tangan perempuan berbaju ringkas itu mengeluarkan hawa murni yang terlihat bergelombang dalam cahaya berwarna jingga,
"Wush !" dalam sekali terjangan saja tusukan itu telah membuat berantakan formasi pedang yang akan di bentuk dua puluh Ahli Alam Raja Klan Xia. Kelompok itu menjadi kocar-kacir.
"Siapa kamu !
Tidak tahukan kamu tengah berurusan dengan Klan Xia, salah satu Klan Bintang Lima dari Wilayah Barat? Tidak tahukah kamu bahwa kamu sedang bermain-main dengan kematian?"
Seorang pria berpakaian seragam Klan Xia yang memiliki kultivasi paling tinggi di Alam Raja Bintang enam berkata dengan suara mengancam. Dia memperhatikan lantas dalam-dalam kilauan pedang ditangan perempuan itu,
"Itu adalah Pedang Roh peringkat SAINT.
Dari mana orang-orang ini berasal? Senjata maupun peringkat kultivasi mereka demikian tinggi" batinnya
Perempuan itu kembali tertawa. Dalam nada dingin dia berkata,
"Bukankah sudah aku katakan sebelumnya? Kalian adalah Klan yang pernah mengejar-ngejar diriku sampai-sampai aku terlunta-lunta di Wilayah Barat sana.
Mungkin jika aku memberikan sedikit pelajaran maka ingatan kalian akan menjadi terbuka"
Pedang bercahaya jingga itu di ayunkan seperti orang menari, lalu perempuan itu lenyap di dalam gulungan cahaya seperti langit menjelang petang. Gerakannya terlihat demikian cepat namun indah, seperti seorang Dewa Pedang tengah menari,
"Suiitt !"
Dengan sebuah tusukan yang membawa gelombang jingga namun tersasa berbahaya, dia menusuk kearah kelompok Klan Xia.
Dilain pihak, dua puluh ahli Klan Xia itu lantas saling merapatkan tubuh dan terdengar instruksi,
"Formasi Pedang"
Mendengar instruksi itu, dua puluh praktisi Klan Xia lantas membentuk formasi rapih, yang terlihat seperti tulisan pedang.
"Slash !" pria yang berada paling depan, yang mana memiliki kultivasi tertinggi Alam Raja Bintang enam membuat gerakan menebas dengan santai.
Tidak terdapat energi murni yang di pancarkan tebasan formasi pedang itu, akan tetapi hebat akibatnya tebasan yang dilakukan formasi itu. Perempuan berpedang jingga itu tiba-tiba merasakan kekuatan rebound (artinya memantul karena istilah ini yang sering digunakan didalam game game mmogrpg).
"Wush..!" perempuan itu terlontar keras kebelakang.
Namun disebabkan keahliannya, bukannya jatuh tersungkur, melainkan dia melakukan jumpalitan yang indah, dan kakinya di tapakkan ringan tanpa suara diatas tiang layar kapal roh.
"Hihi.. Ternyata formasi pedang kalian itu memiliki kekuatan rebound yang cukup baik.
__ADS_1
Bagus !. Aku ingin tahu. Jika aku menyerang bersama tiga kawanku dalam teknik yang serupa, apakah kamu semua masih dapat menghasilkan rebound sebesar 80 bagian seperti tadi?"
Wajah perempuan itu boleh tertutup cadar yang menyamarkan. Namun semua ahli Klan Xia itu merasakan nada ejekan di dalam suaranya. Perempuan itu lalu bersiul keras, disusul dengan salto yang indah dilakukan dua laki-laki bertudung itu, mendarat ringan di samping dia, perempuan itu. Dua-duanya pria gang bertangan buntung maupun bertangan lengkap terlihat telah menghunus pedang mereka.
"Menghancurkan !" suara bentakan terdengar dari mulut perempuan bercadar gelap, disusul dengan lontaran keras dari tiga ahli itu yang terlihat melompat secepat walet kedalam kegelapan malam di langit Padang Gurun Terkutuk itu.
"Waspada !
Aku menduga mereka akan...!" baru saja dia akan menjelaskan apa yang harus dilakukan, sekonyong-konyong terdengar suara deru angin yang sangat kencang dari arah langit Gurun Terkutuk. Semua mendongak kepala keatas untuk melihat.
Deru itu di susul gemerlap kilauan warna jingga yang memenuhi malam, ketika tiga sosok ahli berpakaian ringkas itu tampak terjun bebas kebawa dengan pedang yang mengancam ke arah formasi.
"Formasi Kura-kura hitam !" pria pemimpin formasi berseru. Semua ahli Klan Xia lantas mengeluarkan sesuatu benda seperti perisai bundar besar, berwana hitam yang saling menumpuk, membuat mereka terlihat seperti punggung kura-kura hitam, dari arah atas.
"Satukan hawa murni !" instruksi pemimpin formasi segera di eksekusi semua anggota Klan Xia, yang lantas memompa hawa murni Qi mereka, bergabung dan menyelimuti permukaan perisai.
"Rebound Teknik !" keseluruhan tameng itu lantas mengeluarkan semacam selaput tipis berwarna hitam, yang merupakan gabungan hawa murni, dengan tujuan melindungi mereka.
"trang - trang - trang !" tusukan pedang beraura jingga berbenturan dengan tameng hitam. Kekuatan rebound secara gabungan, mau menghalangi tusukan pedang jingga yang berulang kali menusuk dan berusaha menghancurkan energi rebound.
Akan tetapi energi rebound demikian kuat melindungi perisai hitam itu, membuat semua tusukan berhawa murni Qi itu selalu memantul kearah penyerang. Belum lagi sesekali dari dalam formasi perisai, pedang Klan Xia terlihat keluar balas menusuk, sehingga membuat tiga ahli itu menjadi kerepotan.
ubah strategi serangan" bisik si tangan buntung menggunakan transmisi kepada tiga kawannya.
Sekali lagi tiga ahli pakaian ringkas itu mencelat ke langit, lalu mereka saling berbaris dengan sangat cepat di udara, lantas menukik tajam dalam barisan yang saling mendukung pengerahan hawa murni.
"Energi Es Pedang Jingga !" teriak perempuan bercadar di barisan terdepan. Ketiganya meluncur deras dengan kecepatan tinggi, dipenuhi hawa murni gabungan yang disebut energi dingin itu.
Dua puluh orang di bawah tiba-tiba merasakan kedinginan yang menusuk hingga kedalam sum-sum mereka. Memang, udara di gurun basanya amatlah ekstreem, yaitu siang amat panas, namun malam menjadi dingin. Akan tetapi hawa dingin yang di pancarkan tiga ahli ini bukanlah hawa dingin biasa,
"Aku merasa seolah-olah ada energi sihir didalam serangan ini" bisik pemimpin fromasi dengan menggigil kepada kawan-kawannya.
Hanya dalam dua kedipan mata, dua puluhan orang Klan Xia itu melihat butir-butir bunga es berguguran dari langit, jatuh menimpa perisai mereka..
"Mengapa aku merasa merinding?" bisik seorang.
Dipenuhi rasa penasaran, pria pemimpin formasi itu mengintip dari sela-sela perisai.
"Demi dewa-dewa" dia berseru pelan. Dalam pandangannya dia melihat sebuah pedang raksasa berkilauan dalam balutan cahaya jingga meluncur turun dimana di sekitar pedang itu tampak aura kembang teratai raksasa, yang sepertinya adalah teratai es.
"Bum !" benturan keras terjadi ketika pedang jingga raksasa membentuk tameng rebound, membuat retak tameng itu, lalu kemudian pecah berkeping-keping. Kapal roh itu sendiri terguncang demikian keras, dimana bentrokan itu membuat kapal terlontar demikian keras dan membentur satu tebing karang.
__ADS_1
"Duar !" benturan kedua yang tidak kalah kerasnya menyebabkan lambung kapa sobek, lalu menyusul tiang layar kapal yang patah0
Dua puluh ahli Klan Xia itu terlempar puluhan tombak keluar dari palka kala, dimana mulut mereka berulang kali mengeluarkan tegukan darah.
Sementara itu, tiga ahli berpakaian ringkas tampak melompat dalam gerakan yang indah, mereka berjumpalitan lalu mendarat diatas tanah gurun, agak jauh dari kapal yang terlihat membentur tebing karang.
Tidak ada ekspresi sedikitpun di wajah tiga ahli yang mengenakan pakaian ringkas berwarna hitam itu. Mereka berdiri diam, menunggu untuk melihat apakah duapuluh orang Klan Xia itu masih hidup.
"Apakah mereka telah tewas semuanya? Tanya pria bertangan buntung.
"Aku tidak menduga demikian. Sebaiknya kita menunggu sebentar" jawab pria satunya yang sejak awal tidak bersuara sama sekali.
Tiga orang itu sepakat menunggu, sementara malam semakin dingin dan angin bertiup kencang, ketika di seberang sana terlihat kapal roh yang mulai menyala di lalap api.
Diantara mayat-mayat yang bergelimpangan itu, Xia Chen pria pemimpin formasi Klan Xia, terlihat menggerak-gerakkan tangannya. Dia berusaha merogoh sesuatu dari cincin tata ruangnya. Xia Chen rupanya belumlah mati.
Ketika pada akhirnya dia berhasil mengeluarkan sebuah sempritan dari dalam cincin itu, Xia Chen berdiri dengan kekuatan terakhir. Dia berteriak keras-keras,
"Hahaha... Meskipun berhasil menghancurkan kapal Klan Xia kami, namun jangan harap kamu dapat hidup. Aku tahu kalian itu orang-orang utara yang bar-bar. Terimalah kematian kalian !"
Peluit itu di letakkan di mulutnya, lalu keras-keras dia meniupnya berulang kali,
"priit - prritt -priit"
Tiga ahli itu saling berpandangan, lalu si tangan buntung berkata panik,
"Celaka, bajingan itu memanggil seseorang. Aku berpikir kalau itu adalah ahli yang kemampuannya melampaui kemampuan kita"
"Diam kamu Peng Fai, tidak mungkin ada seorang berkepandaian lebih tinggi di tempat ini. Tidak kurasa aura apapun di sekitar sini"
Si tangan buntung kemudian tampak sedikit lega, katanya
"Semoga saja apa yang anda katakan itu benar adanya, Lin Hong
ijinkan aku membunuh bajingan ini" Peng Fai melambaikan tangan. Pedang jingga itu menyala, lalu terbang secepat meteor mengarah leher Xia Chen
*Bersambung*
Untuk membuat author lebih semangat dan tetap berkreasi melanjutkan novel ini, jangan lupa di-like, sekedar komen dan vote.
Terlebih tolong favoritkan novel ini karena Noveltoon akan menilai untuk menjadi pemasukan Author berdasarkan jumlah Favorit, komen dan like … yang tentunya juga menyemangati author. Apresiasi yang readers berikan akan menyemangati autor untuk terus berkarya di Noveltoon ini.
__ADS_1