Kisah Dewa Pedang Utara

Kisah Dewa Pedang Utara
Kota Runya Oira


__ADS_3


Wang Yong terbangun ketika Hutan Taure Edhel telah bermandikan siraman matahari pagi. Aroma semerbak bunga-bungaan memenuhi hidungnya. Paru-parunya mengembang membesar karena udara pagi yang sedemikian segar.


Ketika menatap kearah atas gerombolan dedaunan pohon Ek tua yang mendominasi hutan, rasa keteduhan benar-benar menyelimuti hutan Taure Edhel. Lumut-lumut hijau nan lembut tumbuh subur di beberapa bagian batang pohon Ek tersebut sehingga menimbulkan perasaan seakan-akan melihat hamparan kain beludru halus berwarna hijau nan memanjakan mata.


Keempat Elf Ren Gazian, Ren Guang, Ren Gaotin, Ren Jiao Long terlihat mempersiapkan barang-barang untuk kepergian mereka menuju Kota Runya Oira. Setelah selesai dengan berkemas mereka lalu mengajak Wang Yong menuju tepi sungai Niire yang berarti Sungai airmata.


Dari dalam semak belukar ditepi sungai Niire, Ren Gaotin dan Ren Guang menarik keluar sebuah perahu kecil yang cukup untuk dinaiki 6 orang dewasa. Perahu tersebut terlihat sedemikian ringan yang mana terlihat papan perahu terbuat dari Kayu Pohon Ek dan Kayu Pohon Cedar (pinus berdaun tajam seperti jarum).


Kedua pohon tersebut dipercaya memiliki nilai mistis yang kental. Dimana pohon Ek dipercaya sangat erat hubungannya dengan kisah Dewa Dewi. Sedangkan Pohon Cedar dipercaya sebagai pohon yang ditanam langsung oleh Dewa Ketika Arda (dunia) dibentuk.


Ketika Wang Yong menanyakan cara pembuatan perahu yang halus dan ringan seperti itu, salah satu Elf hanya mengatakan bahwa mereka bernyanyi kepada pohon Ek dan Cedar untuk pembentukan sebuah perahu. Wang Yong agak bingung dengan jawaban ini, demi sopan santun dia tidak bertanya lagi. Namun hati kecilnya berkata bahwa dunia ini dipenuh dengan sihir.


Aroma harumnya kayu cedar menyeruak di atas perahu ketika mereka memulai perjalanan menuju Kota Runya Oira. Sementara itu air sungai yang terlihat sejernih kaca itu terkesan amatlah dingin. Ketika Wang Yong mencoba untuk merendam tangannya di air Sungai Niire, seketika dia menggigil kedinginan.


Ren Guang menyarankan kepada Wang Yong agar menggunakan mantel tebal yang berpenutup kepala. Tujuannya agar menghindarkan diri dari pengamatan Elf yang merasa curiga Ketika melihat telinga Wang Yong yang tidak seperti telinga kaum Elf umumnya. Lagipula penyamaran itu perlu untuk menghindarkan diri Wang Yong dari serangan sihir dari Elf.


Wang Yong mengiyakan sambil selalu mengamati tindak-tanduk keempat Elf itu. Dia benar-benar merasa bahwa kaum Elf sangatlah berbeda dibanding umat manusia. Keanggunan gerakan, serta kecepatan gerakan mereka sangatlah tidak mungkin dilakukan oleh ras manusia pada umumnya.


Bahkan Ketika menjelang petang, ketika perahu mereka melewati suatu tempat yang dikenal Bernama Iuin Menel itu, terdengar ramai suara nyanyian merdu yang memiliki daya magnet membius yang mendengarnya.


Nyanyian yang terdengar dilantunkan oleh banyak suara itu yang terdengar hingga ke perahu, dan mampu membuat Wang Yong merasa terbius oleh irama lagu. Wang Yong saat itu dirasuk perasaan sangat gembira dan berbahagia.


Ketika dirinya mulai terpengaruh dan memasuki keadaan trance (kesurupan) karena snandung kelompok Elf di Iuin Menel, dia tanpa merasa malu mulai melakukan gerakan menari-nari mengikuti irama kegembiaraan itu. Wang Yong beejingkrak diatas perahu.

__ADS_1


Salah seorang Elf yaitu Ren Guang lalu mendekati Wang Yong dan berkata,


“Hai sang satria manusia, gunakan kemampuan mental didalam dirimu. Tutup telingamu, dan kosongkan pikiranmu menggunakan kemampuan mental”


Wang Yong tidak jua mampu melepaskan diri dari pengaruh nyanyian kelompok Elf di Iuin Menel itu. Seketika itu Ren Guang menatap matanya lalu menjentikan jari dan berkata,


“dinaa….”


Keadaan di sekeliling Wang Yong langsung terasa begitu hening. Sepi. Dia tersadar dari keadaan trance itu. Lalu Wang Yong masih dalam keadaan terguncang, bertanya kepada Ren Guang. Apakah gerangan yang terjadi barusan.


“Itu adalah kegiatan kaum Elf Ketika menjelang musim semi. Kaum elf akan selalu bernyanyi untuk kesuburan hutan-hutan, tanaman, untuk pertumbuhan hewan-hewan yang berada di hutan”


“Jika saja kaum Elf tidak bernyanyi untuk kesuburan alam ini, mungkin hutan dan hewan-hewan hutan yang ada, hanya separuh yang tersisa.”


“Dan mengenai nyanyian yang di senandungkan Kaum Elf tadi, semakin banyak Elf yang berkumpul dan bernyanyi maka akan semakin kuat daya magis dan pesona lagu itu.


“Perayaan musim semi itu akan berlangsung dari pagi hingga pagi..... Mungkin sebaiknya kita meninggalkan tempat ini. Ku rasa tidak bijaksana untuk bermalam ditempat ini. Aku takut kalau-kalau anda tidak mampu bertahan dengan nyanyian sihir itu” Ren Guang mengakhiri pidatonya.


Wang Yong sungguh terkejut dengan kalmat yang begitu Panjang dikeluarkan Ren Guang. Karena sepanjang perjalanan dia mengamati kaum Elf ini tidak banyak berbicara. Mereka lebih sering tekun menantap sesuatu objek dengan berlama-lama lalu merenung. Dan Ketika diajak bercakap-cakap selalu hanya sepatah atau dua patah kata-kata singkat yang dikeluarkan mulut mereka.


Itupun kata-kata yang diucapkan terlalu penuh dengan perumpamaan sehingga terkesan berputar putar. Itu hanya pendapat Wang Yong semata.


Namun apapun itu, dia merasa telah bertambah lagi satu pengalaman mengena kemampuan dan sifat Elf. Wang Yong merasa dirinya harus semakin berhati-hati dengan Dunia Kaum elf ini. Terdapat sihir dimana-mana di dunia ini.


********

__ADS_1


Kota Runya Oira adalah kota yang tersisa milik kaum Elf. Bisa dikatakan kota itu merupakan kota terbesar milik kaum Elf dimana kelompok-kelompok lainnya hanya tinggal berkelompok di hutan-hutan. Kota ini berada di tepi Sungai Niire, sebuah sungai terpanjang melintasi pintu portal Dunia elf hingga ke perkotaan Kaum Elf ini.


Rumah-rumah kaum Elf umumnya didirikan diatas pohon-pohon dan terbentuk sangat alamiah. Terdapat jalan-jalan setapak yang cukup dilewati empat orang dewasa dijalan tersebut, gunanya untuk menghubungkan satu pondok atau rumah dengan yang lain.


Semua jalan setapak itu selalu dijuluri tanaman-tanaman bunga didominasi Mawar Hutan dan Bunga Bougenville. Rangkaian bunga pelindung itu terjulur indah lalu membentuk semacam kanopi dibagian atas jalan setapak. Kesan yang ditimbulkan adalah perasaan asing seolah-olah tengah melewati Lorong di taman yang penuh dengan bunga yang harum.


Wang Yong menjadi terkagum-kagum melihat keindahan Kota Kaum elf itu. Perasaan seperti berada dialam mimpi Ketika melewati Lorong-lorong penuh bunga sebagai kanopi.


Di Kota Kaum Elf ini, telah lama tidak terdapat seorang Raja. Raja terakhir yang ada yaitu Raja Pedang pada 1000 tahun lalu. Sehingga dengan demikian kaum Bangsawanlah yang mengambil alih kekuasaan untuk mengatur keharmonisan diantara kaum Elf.


Lady  Zhang Haiyun adalah bangsawan bermartabat tertinggi milik kaum Elf yang tersisa saat ini. Dia adalah sepupu dari Master Wang Yong yaitu Suma Chen, dimana mereka merupakan keturunan langsung dari Raja Pedang yang berkuasa 1000 tahun yang lalu.


Menjelang malam Wang Yong langsung diantar untuk menghadap Lady Zhang sebagai bangsawan yang paling berpengaruh bagi kaum Elf saat ini. Rumah atau dapat kediamannya dapat dikatakan menyerupai istana kecil.


Semua hiasan rumah Lady Zhang yang terbuat dari kayu-kayu yang kuno. Semua nya terlihat sangat mempesona dan dikerjakan oleh tangan-tangan ahli. Seumur hidup belum pernah Wang Yong melihat rumah kayu yang semua ukirannya sangat lah sempurna seperti ini.


Lampu-lampu yang digunakan adalah sejenis batu kristal alami yang mampu berpendar sendiri ketika malam hari. Batu langka dan mahal itu menghiasi istana Lady Zhang dengan warna-warni indah kebiru-biruan.


Ketika Wang Yong tengah asik terpesona dengan keindahan ukir-ukiran di istana kayu itu, tiba-tiba sebuah suara menyela keasikannya. Suara itu terdengar begitu merdu bagaikan suara seruling yang ditiup oleh seorang ahli,


“Kaum Elf menyanyikan akan lagu-lagu merdu nan indah ketika membangun istana ini. Diperlukan lebih dari 1000 kaum Elf untuk menyanyikan lagu merdu untuk membentuk istana ini”


Seorang wanita Elf yang terlihat anggun, suatu bentuk wajah yang membuat orang enggan untuk memalingkan muka ketika bertatan, saat itu berdiri didepan Wang Yong.


Rambut wanita itu begitu hitam segelap jelaga. Rambut itu dibiarkan terjatuh menghiasi punggungnya. Keindahan itu dihiasi semacam kelopak bunga membentuk mahkota. Pakaiannya bercahaya bagaikan sinar bintang di malam hari.

__ADS_1


“Perkenalkan namaku Lady Zhang Huiyan. Anda dapat memanggilku Lady Zhang”


*Bersambung*


__ADS_2