
Di Pintu Gerbang Sekte Teratai Putih Malam itu.
“Buk-buk-buk…”
“Aduh.. Aarrggh…”
Tujuh penjaga di gerbang sekte terbaring di tanah dengan wajah babak belur. Tampak seorang pria paruh baya dalam busana yang terlihat mewah memandang lucu kearah tujuh penjaga itu.
“Apa??? Hanya segitu saja kemampuan kalian para penjaga sekte bintang Sembilan???”
Pria setengah baya itu lalu berjalan mengeliling tujuh orang itu. Kaki nya menendang sekali lagi ke seorang penjaga….
“Buk..!!”
Penjaga dalam balutan pakaian serba putih bertudung itu terlempar dan membentur tembok. Sesudahnya dengan pelan dia menatap penjaga yang terlihat mengenaskan itu. Lalu meneteskan satu tetes cairan ke mulut penjaga itu. Dengan santai pria itu berkata…
“Kamu dapat menyampaikan pesan kepada Mao Xuezhe, katakan bahwa seseorang utusan kawan lama nya menunggu disini. Ingat… anda yang harus disampaikan langsung kepadanya dan memaksanya datang kesini” senyum pria paruh baya itu terlihat kejam sampai-sampai penjaga itu tak terasa mundur beberapa Langkah.
Lalu dengan wajah ceria pria paruh baya yang adalah Fei Ma dengan sifatnya sangat mudah berubah ubah itu berkata…
“Oh iya… aku hampir saja lupa. Cairan yang aku tetes ke mulut kamu tadi adalah racun kelabang dari Hutan Terlarang di Selatan”.
“Percayalah… tidak ada satu orang pun yang dapat menawarkan racun itu, selain aku” Ancam Fei Ma. Penjaga kuil itu terlihat bertambah gemetar ketakutan.
Dalam pikirannya, pria setengah baya ini adalah seseorang yang berhati kejam. Hanya dengan sebuah ancaman dia tanpa emosi langsung mencekoki dirinya dengan racun langka.
“Jadi… jangan kamu bermain gila dengan mencoba mengakaliku. Ingat… Kamu cukup memaksa memaksa Mao Xuezhe untuk menemuiku disini, maka niscaya obat penawar racun itu akan aku berikan ke kamu”….
“Pergiii….” Teriak Fei Ma dengan keras.
Penjaga yang malang itu lari terbirit-birit menaiki ratusan anak tangga yang menuju ke kuil.
Sepeninggalnya pengawal itu, Rei Ma si kuda terbang itu bersiul-siul sambil jalan berputar-putar. Tingkahnya terlihat agak konyol, akan tetapi perubahan sikap dan emosi yang mudah berubah, serta kekejaman yang ditunjukkan Fei Ma, membuat enam penjaga gerbang yang sebetulnya telah siuman dari pingsannya kini memaksa diri untuk terus berpura-pura pingsan.
>>>>>>
“Siapa yang memaksa bertemu denganku di malam hari seperti ini??” sebuah suara terdengar menggeledek. Tampak berjalan turun dari anak tangga kuil, seorang yang mengenakan tudung putih. Dia adalah Mao Xuezhe Wakil Ketua Sekte.
Dibelakang nya mengikuti sambil terlihat agak gemetar, si penjaga yang telah diberikan racun oleh Fei Ma. Dengan malas Fei Ma mengalihkan pandangan kearah Mao Xuezhe yang bersuara bagaikan geledek itu.
“Jadi anda ini adalah
Mao Xuezhe, wakil ketua Kuil Teratai Putih?” tanya Fei Ma dengan mimik wajah malas.
“Jika yang kamu cari adalah Mao Xuezhe wakil ketua Kuil Teratai Putih, maka dia adalah aku” jawab Mao Xuezhe dengan dingin.
Jelas-jelas pria paruh baya didepannya itu terlihat memandang rendah kepadanya pikir Mao Xuezhe. Padahal sharusnya semua tokoh ternama di Wilayah Tengah benua ini tidak ada yang tidak mengenali dirinya Mao Xuezhe, wakil ketua sekte.
Yakin bahwa itu adalah wakil ketua kuil…..
“Bagus… anda berani datang sendiri menemuiku…. “
“Namaku Fei Ma. Dan aku datang membawa undangan duel dari Tuan ku. Dia ingin menantang Ketua Sekte Kuil anda Mao Mushi dalam duel secara terbuka” kata Fei Ma acuh tak acuh….
“Hahahahaha… Fei Ma? Nama macam apa itu Fei Ma???” Mao Xuezhe tertawa menghina.
“Sementara master anda siapa dia? Apakah kalian itu adalah gerombolan yang baru keluar dari hutan?? Tanpa memiliki rasa hormat dan bertindak sembarangan didepan Kuil Teratai Putih kami… kalian betul-betul kaum kasar yang idak mengenali dalamnya lautan dan tingginya gunung dihadapanmu? Kamu mahluk lemah semacam ini berani secara terbuka Master Kuil Teratai Putih???” Mao Xuezhe menatap jijik kearah Fei Ma.
“Dan dengan menganggap diri seolah-olah merupakan Tokoh papan atas, berani benar kamu mengirim surat tantangan kepada Ketua Sekte Bintang Sembilan… hahaha kamu dan Master mu itu hanya akan menjadi sebuah lelucon di hadapan Kuil Teratai Putih kami” Mao Xuezhe tertawa penuh hinaan.
Sementara itu, setelah melihat kedatangan wakil ketua sekte mereka, keenam penjaga yang berpura-pura pingsan itu langsung bangun dan berdiri disisi Mao Xuezhe.
Fei Ma mengubah raut wajahnya mendengar makian Mao Xuezhu. Jika pada awalnya dia masih bersikap acuh tak acuh, kini wajah nya berubah menjadi dingin.
__ADS_1
Penghinaan kata-kata yang di ucapkan Mao Xuezhe membuat harga diri kuda terbang yang telah berusia ribuan tahun itu mulai marah.
Mao Xuezhe bersikap seolah-olah dia tidak melihat perubahan raut wajah Fei Ma. Kata-kata hinaan terus meluncur dengan bebas dari mulutnya.
“Jika kamu dapat meloloskan diri dari tiga pukulanku, anggap saja kedatanganku adalah sebuah kesalahan” tantang Fei Ma sambil kembali bersikap acuh tak acuh.
Masih dalam gaya meremehkan, Mao Zuenzhe melanjutkan hinaannya…
“Apa??? Bahkan kini.. kamu sebuah karakter tidak terkenal ini menantangku dengan tiga pukulan?? Hohoho… sepertinya belakangan ini sudah terlalu banyak orang kurang waras berkeliaran di Sungai Telaga (dunia Persilatan / Jianghu bhs mandarin nya) Wilayah Tengah ini”
Tiba-tiba Mao Xianzhe merasakan sebuah aura yang menindas keluar dari pria paruh baya itu…
“Tahan serangan..!!” bentak Fei Ma.
Segulung energi yang amat kuat menerkam ganas kearah Mao Xuezhe. Wakil ketua sekte itu langsung menjadi pucat. Dengan cepat dia membentuk segel menggunakan pedang. Sebuah energi hitam langsung terbentuk di dada. Mao Xuezhe dengan paksa mendesak energi hitam didadanya itu mengalir ke pedang ditangan nya. Dia mengibaskan pedang ditangannya.
“Duar…!!!” bentrokan energi hitam dari pedang Mao Xuezhe terdengar keras ketika berbenturan dengan terkaman energi ganas milik pria paruh baya itu. Dia terdorong mundur beberapa tombak. Tangannya gemetar karena nyeri dan kesemutan. Hampir saja pedang ditangan Mao Xuezhe terlepas.
Sementara itu pria paruh baya berpakaian mewah itu terdengar mengeluarkan dengusan bernada menghina. Lalu pria setengah baya itu menjadi kabur dalam sebuah bayangan yang kembali menerkam ganas kearah Mao Xuezhe.
“Duk.. duk..” dua serangan telapak tangan Fei Ma mendarat jitu didada Mao Xuezhen, Ketika pedang milik wakil ketua Sekte Kuil Teratai Putih terlepas dari tangannya. Mao Xuezhen berulang kali memuntahkan darah dari mulutnya. Tatapan nya menjadi nanar.
“SAINT level 5 ??? anda seorang Kultivator SAINT Level 5” Mao Xuezhe menjadi sangat terkejut. Tingkat kultivasi seperti itu biasanya hanya dimiliki wakil ketua sekte-sekte berbintang Sembilan. Dia sendiri hanya berada di SAINT level 2 awal. Jelas-jelas perbedaan dua tingkat itu membuatnya menjadi keok di tangan pria paruh baya itu.
Sikap Mao Xuezhe seketika berubah menjadi sopan….
“Mohon memperkenalkan nama Tuan SAINT. Maaf kesalah pahaman ini, Mao Xuezhe telah bersikap kurang hormat” dia membungkuk memberi hormat.
Fei Ma di dalam balutan pakaian mewah bangsawan itu, bersikap seakan acuh tak acuh. Fei Ma lantas melemparkan sebuah kotak berisi undangan tantangan pertarungan dari Raja Kelelawar, kearah Mao Xuezhe.
“Itu adalah undangan tantangan duel kepada Ketua Sekte kamu Mao Mushi”
“Katakan bahwa Raja Kelelawar akan menantang dia berduel … tujuh hari dari sekarang”.
Mendengar kata-kata angkuh yang dikeluarkan Fei Ma, kawanan penjaga Kuil Teratai Putih menjadi marah…
“Sombong sekali… Raja Kelelawar yang telah dikalahkan ketua kami itu berani berani nya mengancam seluruh Kuil ini… cih… mahluk rendah tak tahu malu” maki salah seorang penjaga yang merasa tersinggung dengan ucapan Fei Ma.
“Suiiitttt” Fei Ma bersiul dengan keras.
Tahu-tahu Fei Ma menghilang dalam bentuk bayangan yang menerkam dengan amat cepat kearah penjaga yang berbicara tadi.
Tanpa mengeluarkan jeritan sama sekali nyawa penjaga itu telah pergi melayang ketika tangan Fei Ma menembus dada nya dan dalam sikap acuh tak acuh merogoh keluar organ vital bagian dalam penjaga itu. Wajah Fei Ma tetap dalam aura tanpa ekspresi.
Keadaan seketika berubah menjadi hening… terlebih hening dari pada upacara sebuah pemakaman.
Pria setengah baya berwajah tampan dengan pakaian serba mewah itu benar-benar kejam. Hanya dengan sekali salah mengucapkan kata saja dia langsung mengambil nyawa penjaga itu menggunakan Teknik yang sangat aneh.
Fei Ma menatap tajam kearah Mao Xuezhe dan penjaga gerbang yang tersisa…
“Percayalah padaku. Jika Mao Mushi tidak muncul dihari tantangan itu, nasib kuil Teratai Putih kalian akan lebih buruk dari apa yang aku lakukan ini”
Fei Ma lantas membuka sayap putih nya dengan sekali mengepakkan sayap, tubuhnya telah berpindah jauh seratus meter di angkasa. Sebuah benda dilemparkannya sambil berkata…
“itu adalah obat pemunah racun Kelabang Hutan Terlarang. Tolong berikan kepada penjaga yang telah melayani permintaanku tadi”
Fei Ma kemudian lenyap di kegelapan malam. Sementara suasana mencekam masih tersisa di pintu gerbang Kuil Teratai Putih. Buru-buru semua penjaga membereskan ceceran darah, bekerja dalam diam. Ketika Mao Zuezhe meninggalkan lokasi tersebut, semua penjaga ribut didalam diskusi…
“Mahluk kejam apa yang menjadi utusan Raja Kelelawar itu??”
“Sepertinya Dunia Sungai Telaga (Persilatan) akan bertambah kacau setelah kembalinya Raja Kelelawar”…
>>>>>>
__ADS_1
Pagi itu Sima Yong kepingin berjalan-jalan menikmati keindahan Kota Embun Surgawi. Dia mengajak Fei Ma setelah sebelumnya menegur nya…
“Lihatlah kamu kuda tua ini berpakaian sedemikian mewah. Aku menjadi khawatir kalau-kalau orang-orang berpikir aku adalah pelayanmu” cibir Sima Yong.
Dalam wajah yang dibuat cemberut, kuda tua itu berkata…
“Master.. anda tahu bukan. Dikalangan Magical Beast yang dapat menjadi hewan kontrak, aku adalah salah satu hewan kontrak legendaris. Jelas aku tidak mau menjatuhkan reputasiku dengan berpakaian terlalu sederhana”
Sima Yong hanya melirik, lalu mengacuhkan Fei Ma dan berjalan meninggalkannya yang kini tergopoh-gopoh mengejar Sima Yong. Kuda tua itu lalu mencoba mengambil hati Sima Yong dengan memuji-muji kultivasi Sima Yong yang saat ini amat tinggi menurutnya.
Sima Yong secara acuh tak acuh Kembali melirik Fei Ma dan berkata,
“Ke depannya aku berharap kamu tidak bertindak secara kejam dengan sembarangan”
Fei Ma tertegun sejenak…
“Master…apakah anda menyaksikan aksi ku semalam di Kuil itu???” tanya Fei Ma malu-malu.
“Cih… tentu saja aku menyaksikan aksi kamu. kekejaman kamu sampai-sampai membuat seisi Kuil Teratai Putih menjadi heboh…” kata Sima Yong
“Akan tetapi baguslah… aku turut menikmati aksi buasmu semalam. Ternyata kemampuan kamu cukup tinggi juga” kata Sima Yong dengan datar.
Dengan wajah sedikit tersinggung karena diragukan kemampuannya, Fei Ma mengguman kesal…
“Mahluk iblis wakil ketua sekte itu jelas jelas bukanlah lawanku. Jika aku menghendaki … aku dapat mengambil nyawanya hanya dalam tiga pukulan saja….”
>>>>>>
Sima Yong menaiki tangga lantai Restoran “Kenangan Para Dewa”. Hidangan sayur-sayuran di tempat ini cukup enak dan cocok dengan lidah nya. Setelah memperhatikan keadaan di lantai dua yang cukup ramai itu, dia memilih duduk di meja yang memiliki pemandangan kearah jalan.
Setelah memesan hidangan sayur-sayuran dan buah-buahan, Fei Ma mengajukan pertanyaan kepada Sima Yong.
“Tuan.. mengapa anda tidak mengkonsumsi daging?? Bukankah daging sangat dibutuhkan untuk membantu seniman bela diri dalam memperkuat kultivasinya???”
“Fei Ma… Kaum Elf atau yang di sebut Jingling itu memang tidak mengkonsumsi daging atau apapun yang mengandung darah. Aku meskipun bukan 100 % ras jingling… akan tetapi harus mengikuti teori itu”
“Mengkonsumsi bahan yang mengandung darah akan membuat kaum jingling mengalami kemacetan didalam kultivasi Kekuatan jiwa atau yang dikenal dengan sihir. Salah-salah yang ada malahan kemampuan sihir kami dapat berubah menjadi sihir kegelapan”
“Lagi pula… dengan tidak mengkonsumsi bahan mengandung darah itu, kami dapat mendeteksi keberadaan mahluk hidup lainnya dengan amat mudah. Mudah mendetekasi mahluk lainnya disebabkan karena kami akan mengenali bau darah dari mahluk tersebut” jelas Sima Yong.
Fei Ma mengangguk-angguk kepala pertanda memahami penjelasan Sima Yong. Kedua nya lalu terlibat didalam percakapan mengenai kemampuan sihir.
>>>>>>
“ Yang aku dengar… Kuil Teratai Putih kini menjadi amat waspada. Kabar terakhir mengatakan bahwa sebuah pesan dikirimkan menggunakan transmisi array kepada seorang ahli jenius dari Negri Matahari Pagi untuk membantu Kuil Teratai Putih dalam pertempuran melawan Raja Kelelawar nanti” Kata seorang Kultivator pengunjung restoran yang tangannya memegang sepasang pedang kembar.
"Benarkah??? Bukankah Ketua Kuil Teratai Putih sendiri memiliki tingkat kultivasi yang amat tinggi? Kuasi Alam Melintas Sage adalah ranah yang amat tinggi dikalangan Sekte-sete berbintang delapan dan Sembilan. Guna apa lagi mereka harus mengundang ahli lainnya dari Negri Matahari Pagi itu??” tanya kawan Kultivator berpedang dua itu.
“Tidak tahukah kamu?? Semalam beredar berita bahwa seorang pria setengah baya datang membuat kehebohan di Kuil Teratai Putih. Menurut kabar pria tersebut adalah utusan Raja Kelelawar. Dia membawa undangan untuk menantang Ketua Kuil Mao Mushi dalam duel enam hari kedepan”
“Menurut cerita… bahkan utusan Raja Kelelawar saja berada di ranah SAINT level 5. Dapat di bayangkan, sebagaimana tinggi kultivasinya Raja Kelelawar saat ini…”
“Padahal mahluk pembunuh Raja Kelelawar itu setahun yang lalu hanya berada di ranah Alam Pencerahan Suci Level 1. Bagaimana mungkin dalam setahun dia akan mampu meningkatkan kultivasinya secara ekstrim?”
“Justru karena itulah… semua Kultivator saat ini menjadi gempar. Semua bertanya-tanya… di ranah kultivasi apa kah Raja Kelelawar berada selepas satu tahun menghilang ini? Sampai-sampai dia dengan nyali besar menantang Praktisi di ranah kuasi Alam Melintas Sage”
Sima Yong dan Fei Ma memasang telinga mendengarkan percakapan itu. Keduanya saling memasang wajah tersenyum lucu.
*Bersambung*
Untuk membuat author lebih semangat dan tetap berkreasi melanjutkan novel ini, jangan lupa di like, sekedar komen dan vote.
Terlebih tolong favoritkan novel ini karena Noveltoon akan menilai untuk menjadi pemasukan Author berdasarkan jumlah Favorit, komen dan like … yang tentunya juga menyemangati author. Apresiasi yang readers berikan akan menyemangati autor untuk terus berkarya di Noveltoon ini.
__ADS_1