
Lalu pertempuran diantara Kaum SAINT itu terjadi. Ye Bing Qing berhadapan dengan seorang SAINT dari tepian Barat yang menggunakan teknik kepalan tangan kosong.
SAINT itu dengan pukulan telapak tangan yang mengandung petir, membuat cahaya berkilat-kilat mematikan menyambar-nyambar dari telapak tangan nya mencoba mencabik mati Ye Bing Qing. Namun Ye Bing Qing tidak menjadi gentar.
Gadis keturunan Elf itu lantas menggunakan kombinasi antara pedang di tangan kanan, dan tongkat sihir dari tangan kirinya. Sembari pedang berayun-ayun dengan kecepatan cahaya, mencari-cari celah untuk menebas putus kepala SAINT itu, tangan kiri Ye Bing Qing berulang kali mengeluarkan kutukan Blackhole. Seketika SAINT tepian Barat itu terlihat megap-megap kerepotan. Dia selalu merasa sedotan kental dari arah lubang Blackhole.
Berulang kali gadis itu melafalkan kutukan Blackhole yang selalu membentuk perangkap hitam, dengan lubang hitam dalam seperti sumur tidak berdasar..
Blackhole itu selalu menyedot keberadaan SAINT lawannya, membuat lawannya selalu terputar-putar di lingkaran Black Hole seperti ikan yang terjaring di dalam bubu yang tidak memberi jalan keluar.
(Bubu adalah alat penangkap ikan yang terbuat dari saga atau anyaman bambu, yang membuat ikan masuk perangkap namun tak dapat keluar).
"Penyihir jahanam !" caci SAINT tepian barat,
Ketika itu dia berhasil keluar dari perangkap Blackhole. Lalu SAINT itu sadar telah banyak sekali energi Qi nya tersedot kedalam perangkap Blackhole tadi. "Penyihir" desisnya berulang kali.
Merasa energi Qi nya telah hilang di sedot blackhole, buru-buru SAINT itu menelan sesuatu yang berbentuk seperti pil. efek pil itu dengan seketika membangkitkan semua kekuatannya seperti semula, seperti memberi energi tambahan buat dirinya. SAINT itu menerkam Ye Bing Qing, melajutkan pertempuran melawan gadis Elf itu dengan stamina yang 100% kembali membaik.
"Cih " caci Ye Bing Qing sambil melempar jimat guntur peledak, membuat mundur SAINT lawannya.
Sementara itu Xong Hui Yong, Wei Park, Zhang Junda dan Hua Shen, ahli-ahli SAINT dari pihak Kaum Pembebas juga terlihat terlibat didalam pertempuran sengit di udara, melawan ahli-ahli SAINT dari Tepian Barat yang merupakan penyokong Kekaisaran Rajawali Agung.
******
Manakala malam telah tiba, langit diatas Padang Impian Bidadari terlihat menyala-nyala karena pengaruh pedang ahli-ahli SAINT yang berkelebat saling menebas tiada ampun.
Ledakan eksplosif dan percikan lidah api karena pertemuan pedang, belum termasuk jimat demi jimat yang di lemparkan para ahli untuk saling melukai, yang kemudian meledak dengan daya ledak tinggi, berbuntut penampakan warna-warni dan cahaya indah di pandang mata
Ketika peperangan antara dua belah telah memasuki hari kedua, dan ketika hari menjelang sore... pihak Kekaisaran menaikan bendera putih. Bendera putih itu bukanlah bendera pertanda menyerah kalah melainkan meminta masing-masing pihak menahan diri, berhenti dan jeda saling serang untuk semalam saja.
Alasan pihak Kekaisaran adalah tentara masing-masing pihak telah kehabisan tenaga, dan jika dilanjutkan maka bukan kemenangan yang akan di dapat melainkan dua belah pihak akan mati kelelahan karena tenaga telah terkuras habis.
"Aku tidak percaya dengan sikap tulus pihak kekaisaran. Entah mengapa aku merasa mereka itu penuh kepalsuan" kata Sima Yong.
Akan tetapi Pangeran Ju Qin berkeras untuk menerima tawaran pihak kekaisaran. Hatinya menjadi lemah ketika melihat tentara Kaum Pembebas dalam kondisi mengenaskan.
"Lihatlah, semua tentara kita terlihat sangat loyo. Mungkin jika mereka beristirahat barang semalam dan mengisi perut mereka dengan makanan, akan sedikit membantu memulihkan kekuatan mereka" bujuk Ju Qin kepada Sima Yong.
Pada akhirnya Sima Yong mengikuti keinginan Ju Qin, sehingga Pihak Kaum Pembebas mengumumkan bahwa mereka menerima permintaan pihak kekaisaran untuk jeda selama semalam.
"Akan tetapi aku tidak ingin semua pihak tentara lantas kehilangan kewaspadaan" kata Sima Yong.
"Setelah semua mengisi perut dengan makanan dan minum air dingin, semua tentara tidak diijinkan untuk beristirahat lama-lama.
__ADS_1
Semua harus berjaga-jaga dan waspada karena itu adalah sikap terbaik, ketimbang menjadi lengah dan di serbu ketika dengan mendadak" pungkas Sima Yong.
Waktu masa jeda itu, meskipun dua belah pihak sepakat untuk jeda dalam semalam, namun sepuluh ahli SAINT yang bertempur di udara, tidak berhenti saling menebas untuk saling mengalahkan lawan.
Dari ketinggian belum mencapai langit, masih se batas awan-awan, Sepuluh SAINT memancarkan hawa membunuh saling menjatuhkan.
Puluhan pil ajaib, puluhan jimat penyembuhan telah konsumsi masing-masing kedua belah pihak SAINT, untuk tetap terjaga dengan stamina prima dan kekuatan Qi seperti awal-awal pertempuran di mulai. Mereka tidak makan, tidak minum dan tidak istirahat sama sekali, hanya mengandalkan pil-pil dan slip demi slip giok jimat pemulih tenaga.
******
Sima Yong malam itu berjalan menyusuri kemah-kemah kaum prajurit hongga akhirnya tiba di kemah besar yang sangat ramai. Dia lalu memasuki kemah yang sangat besar itu, yang ditetapkan sebagai balai pengobatan darurat tentara Kaum Pembebas.
Aroma obat-obatan dan aura sihir kental tercium ketika Sima Yong memasuki balai pengobatan. Suara rintihan kesakitan terdengar dimana-mana
Ada lebih dari lima puluh healer terlihat bekerja keras, berusaha menjahit secara sihir luka-luka yang menganga yang dibawa tentara-tentara setelah berperang dua hari.
Peluh meleleh di pelipis para healer, diselingi bau darah, bau obat dan juga suara rintihan menahan sakit, begitu pilu didengar memenuhi Balai Pengobatan.
Sima Yong duduk di salah satu kursi yang disediakan untuk healer, sambil mencoba dengan keras menutup benaknya dari suara-suara rintihan orang-orang yang kesakitan.
"Berikan aku pasien !" kata Sima Yong singkat.
Biar bagaimanapun ini adalah tempat orang-orang dengan sejuta kepedihan. Ini bukan tempat bersenang-senang mengumbar kebahagiaan. Berbicara pendek-pendek adalah langkah yang terbaik mengungkapkan keprihatinan menurut dia.
Luka-luka itu menganga terbuka lebar menunjukkan daging segar dibagian dalam dengan warna coklat kemerahan.
"Tolong tidak berteriak ketika aku menjahit luka kamu menggunakan sihir" kata Sima Yong halus.
"Jika kamu tidak mampu, mungkin benda ini akan membantu" Sima Yong menyodorkan satu gulungan kain bekas kepada prajurit itu.
Dengan mencoba bersikap dan bicara sehalus-halusnya dia berkata,
"Gigitlah kuat-kuat kain itu, ketika kamu tidak kuat menahan rasa sakit nanti"
Prajurit muda itu tidak menjawab. Dia langsung menjejalkan gulungan kain ke mulutnya, menggigitnya kuat-kuat. Suaranya tidak terdengar jelas ketika dia menjawab kata-kata Sima Yong. Namun Sima Yong menebak anak muda itu berkata "Aku telah siap"
"Ini akan terasa pedih. Cobalah untuk bertahan" Sima Yong mengguyur luka-luka anak muda itu dengan cairan yang tersedia di meja pengobatan.
Anak muda, prajurit itu menggelepar ketika Sima Yong membubuhi semua luka-lukanya dengan cairan pembersih khusus yang di buat para alkemis Kaum Pembebas. Wajah anak muda itu memucat seputih kertas. Dia berusaha keras menahan rasa perih dan menggigit kain di mulutnya keras-keras.
Setelah semua luka-lukanya dibersihkan, Sima Yong berkata,
"Penjahitan secara sihir akan cepat terjadi, serta menimbulkan bekas luka yang minimal. Aku dapat memberikanmu opium, agar kamu kehilangan kesadaran dari rasa sakit ini. (Opium adalah getah yang diambil dari tanaman Popy atau candu dan di kategorikan sebagai bahan-bahan pengobatan terlarang sejak dahulu hingga sekarang)
__ADS_1
Apakah kamu mau menerima pengobatan menggunakan opium?" tanya Sima Yong memastikan. Prajurit muda buru-buru menggelengkan kepala.
"Bagus kalau begitu adanya. Sering sekali aku menemui seseorang yang di obati menggunakan terapi ini, kemudian berubah menjadi seorang pecandu. Dia lalu ketergantungan setelah diberi pengobatan dengan bahan-bahan yang mengandung narkotika ini"
Tangan Sima Yong lantas bergerak cepat, menelusuri luka demi luka di punggung dan bagian depan tentara muda itu. Suara jeritan kesakitan terdengar keras, lalu anak muda itu jatuh pingsan.
"ini lebih baik bagi kamu. Jatuh pingsan dan tidak sadar akan kesakitan dari daging yang di jahit satu demi satu"
Sima Yong menyelesaikan penyembuhan anak muda itu, lama nya kira-kira sepeminum teh. Setelah beres dengan prajurit muda itu, dia menginstruksikan tentara kesehatan untuk memindahkan anak muda itu ke kemah lain tempat orang-orang memulihkan luka.
"Pasien selanjutnya !" teriak Sima Yong. Sima Yong menatap dalam-dalam pasien berikutnya.
Seorang anak muda berwajah halus dan tampan, berjalan maju sambil terseok-seok sambil memapah lengannya yang terlihat membengkak. Sima Yong memperhatikan dalam-dalam luka di tangan anak muda itu terlihat hitam dan telah menonjolkan tulang-tulang bagian dalam luka. Kakinya sendiri terlihat memiliki irisan luka yang dalam dan lebar.
"Demi kura-kura hitam, anak ini mungkin baru berusia lima belas tahun" batin Sima Yong pedih.
"Sakitkah tanganmu?" tanya dia singkat dan terdengar ramah.
"Sakit sekali tuan. Sedemikian sakitnya sampai-sampai aku merasa seolah-olah tidak memiliki tangan lagi" kata anak muda itu muram.
"Aku akan memberimu obat untuk mengurangi rasa sakit. Kemudian aku akan membersihkan luka di tangan dan kakimu. Selanjutnya aku akan menjahit secara sihir luka menganga di kaki mu. Apakah kamu bersedia menahan sakit?" anak muda itu mengangguk diam. Dia menahan nyeri.
"Namun sayang sekali. Tanganmu akan di amputasi" diam sebentar. "Apakah kamu bersedia dan tahu akan di amputasi?" tanya Sima Yong lembut.
Anak muda itu mengangguk pasrah. Sima Yong memberikan dia biji Popy kering, memintanya menguyah pelan biji opium itu. Beberapa saat berlalu dan anak muda itu terlihat tidak kesakitan lagi, bahkan anak muda itu terlihat sangat relax, dia mulai membersihkan luka di tangan dan kaki. Lalu membebat tangan itu kuat-kuat dengan kain dan menjahit luka di kaki secara sihir.
Selepas memulihkan luka di kaki anak muda itu, Sima Yong menyerahkan dia ke tabib-tabib tentara yang bertugas mengamputasi tangan anak muda itu.
Sepanjang malam, Sima Yong teta berusaha fokus dengan membantu para healer menjelang pagi. Dia menutup semua perasaan dan rasa sentimentil ketika melakukan pengobatan di balai obat Kaum Pembebas.
******
Ketika pagi akan menjelang, tatkala matahari sedikit lagi akan muncul, tiba-tiba terdengar bunyi tambur dan terompet tanduk yang di tiup penjaga kemah..
"Seorang dari arah Barat terlihat berlari cepat menuju kemari. SAGE, aura SAGE terpancar dari bayangan di barat sana !"
Merespons SAGE yang berlari dari arah Barat, dari perkemahan terdengar bunyi derap kaki lainnya, yang sepertinya berlari cepat menuju kearah SAGE itu.
Atid Ananada lantas mengumbar aura SAGE, yang berdiri diatas satu hewan monster raksasa berbentuk Gajah berlari cepat menghadang arah SAGE lawan. Sepasang pedang kembar di tangan Atid terlihat menyala-nyala, aura nya menyeramkan serasa membunuh gelapnya pagi yang dingin. Dia bersiap menebas musuh.
*Bersambung*
Halo semua. Terima kasih sudah membaca dan menyukai Novel ini. Dan untuk membuat author lebih semangat lagi, selalu berikan like ya. Jangan lupa favoritkan dan rekomendasikan novel ini kepada yang lain... Terima kasih dan semangat membaca...
__ADS_1