Kisah Dewa Pedang Utara

Kisah Dewa Pedang Utara
Kedai Tuan Abror


__ADS_3


Pagi menjelang siang, bau-bauan semerbak khas hutan terutama aroma daun pinus dan batangnya yang memiliki bebauan tersendiri, seperti melayang-layang terbang bersama semilir angin. Desa Suku Jinzhi memang berdekatan dengan penghujung Hutan Pinus yang diberi nama Hutan Pinus Ribuan Tahun, sehingga bisa dikatakan Desa Suku Jinzhi ini kental aura pinus.


Memang pada awalnya jaman dahulu sekali, kelompok suku ini lebih suka tinggal diatas pohon lalu membentuk rumah-rumah pohon sendiri, dan tidak mau menetap di atas tanah pada satu tempat saja.


Namun sesuai dengan berjalan nya waktu, makin kesini orang-orang suku itu mulai memilih diam menetap di tanah yang sekarang mereka tempati dan diberi nama Desa Suku Jinzhi. Meskipun tlah semakin modern dengan memilih diam di satu tempat saja, itu bukan berarti generasi muda Suku Jinzhi ini melupakan kebiasaan adat mereka. Tidak sama sekali.


Kaum muda Suku Jinzhi tetap memilih pekerjaan menjadi pemburu di Hutan Pinus Ribuan Tahun, dan pekerjaan sampingan lainnya adalah menjadi pengolah tanaman-tanaman langka dari dalam hutan yang di olah untuk menjadi bahan obat-obatan, terlebih racun dan bisa mematikan dan di jual di kota-kota besar di dataran Selatan ini.


Setelah mendengar penjelasan tadi, pasti kalian berpikir Suku Jinzi adalah ahli-ahli racun? Ya benar sekali. Suku Jinzhi ini sejak dahulu adalah kelompok yang ahli dalam kultivasinya yang seringkali menggunakan racun sebagai senjata dalam suatu pertempuran


******


Pria itu berjalan ceria memasuki perkampungan tempat tinggal orang-orang suku Jinzhi. Anak-anak kecil suku Jinzhi yang bermain di lapangan desa melihat kepadanya lalu melambai-lambai tangan dengan gembira.


"Paman ! Paman pengelana ! Selamat datang di Desa Suku JInzhi !"Pria berpakaian kelabu itu tersenyum ramah dan membalas ikut-ikutan melambaikan tangan kearah anak-anak kecil itu.


Beberapa perempuan yang adalah ibu-ibu rumah tangga, terlihat sibuk menjemur bahan hasil buruan suami mereka, dan sebagian lagi terlihat tengah menenun di teras rumah-rumah kayu yang memiliki ciri khas itu, menatap dengan perasaan curiga kepada pria asing berbaju kelabu itu.


Satu hal lagi yang membuat penampilan kelompok suku Jinzhi ini mudah dikenali adalah, pakaian mereka rata-rata memiliki warna dasar hitam polos. Lalu dengan hiasan berupa rajutan kecil atau tali-temali semuanya penuh warna-warni untuk membuat pakaian berwarna senada hitam itu tidak terlihat terlalu membosankan.


Untuk melengkapi penampilan mistis serba hitam itu, semua kelompok suku ini selalu mengenakan kain penutup kepala - semacam turban dari kain blacu polos yang di lilit untaian tali berwarna-warni. Meskipun alas kaki mereka masih tetap bernuansa traditional, akan tetapi sandal dan sepatu yang terbuat dari tali jerami itu terlihat bersih dan terawat - mereka membuat semua peralatan seperti sepatu dan lainnya dari tali jerami.


Sima Yong akhirnya tiba di penghujung desa dekat Hutan pinus itu, dan ia temui bahwa satu-satunya restoran makan dan minum, juga merangkap tempat penginapan bagi pendatang atau pengelana, ada di ujung desa. Ia mendongak kepala dan membaca tulisan aneh di atas pintu masuk,


"Kedai Tuan Abror" selain huruf di papan itu terlihat aneh - huruf khas yang menjadi ciri khas suku Jinzhi, ia membaca nama kedai itu yang juga di tulis dalam huruf umumnya - tulisan Kedai Tuan Abror itu tertulis kecil tepat di bawah huruf aneh Suku Jinzhi.


Karena hari masih terbilang pagi, sehingga rumah minum dan restoran itu terlihat sepi. Sima Yong adalah tamu pertama dan satu-satunya. Seorang tua yang terlihat seperti juragan, tampak sedang sibuk di balik meja bar, tempat biasanya orang memesan minuman.


"Salam tuan, apakah kedai ini masih menyisakan tempat untuk satu orang menginap?" tanya anak muda itu.

__ADS_1


Juragan kedai itu pelan-pelan membalikkan badan, lalu dia mulai menatap dan mendeteksi anak muda itu mulai dari kepala hingga ke ujung kaki. Mungkin di sebabkan hasil pendeteksiannya kepada tamu yang memberi hasil kalau pria berjubah kelabu ini bukan seseorang yang berasal dari Kaum Kultivator, pria itu bersikap dengan lagak acuh tak acuh. Jawab nya.


"Sayang sekali... " dia tidak menatap ke jubah kelabu.


"Baru saja tadi malam kamar penginapan Kedai Tuan Abror ini telah penuh.


Well.. Tiga orang kaum bangsawan yang katanya berasal dari Kota Angin telah memborong tiga kamar tersisa itu" dia menekankan kata-kata 'bangsawan'.


Pria yang di kenal sebagai Tuan Abror itu kemudian membalikkan badan dan berputra-pura menyibukkan diri dengan suatu pekerjaan di balik meja bar tinggi itu. Dia menggumam kata-kata tidak jelas dengan pelan, namun Sima Yong dapat mendengar dengan jelas,


"Aku sendiri heran.. aneh sekali rasanya...


Biasanya penginapan ini paling-paling hanya terisi tiga atau lima kamar saja.


Namun belakangan ini banyak sekali wisatawan yang datang berkunjung ke desa terpencil ini, sampai-sampai kamar penginapan Kedai Tuan Abror kami yang hanya lima belas kamar ini tiba-tiba menjadi full kapasitas" tangannya terlihat bergerak kesana kemari mengelap cawan yang biasa di pakai tamu minum.


"Sebenarnya... ada saja kamar gudang yang tersisa, namun itu tidak dapat di katakan tempat nginap yang layak" Tuan Abror hasil kerja nya. Sepertinya dia puas melihat meja bar yang kini mengkilap.


Mendengar kata-kata Tuan Abror tadi, anak muda itu lantas membuyarkan lamunan pemilik kedai,


"Jumlah seperti ini bahkan lebih dari cukup untuk pembayaran nginap selama seminggu di kamar yang anda katakan gudang itu bukan?" di atas meja terletak lima puluh Energi Stone Peringkat menengah.


Tuan Abror itu menampakkan raut muka terkejut. Tentu saja dalam hal ini dia menjadi kaget. Tadi.. Ketika dirinya mengatakan kamar tersisa hanya bekas gudang tadi, dia merasa telah berbicara sangat pelan. Begitu lirih lebih lembut dari pada orang berbisik.


"Apakah pria yang terlihat seperti seorang petapa ini adalah orang sakti?


Akan tetapi aku tidak dapat membaca tingkat kultivasinya.." bisiknya dalam hati. Sikap Tuan Abror seketika berubah menjadi ramah.


"Seseorang yang tidak terbaca tingkat kultivasinya, adalah orang paling berbahaya"


Sima Yong tertawa geli didalam hati ketika melihat orang tua itu secara tidak tahu malu langsung mengubah sikapnya dari seseorang yang angkuh dan acuh tak acuh, kini berubah menjadi sangat ramah. Terlebih ia melihat mata Tuan Abror yang kini berubah seperti serigala lapar tatkala menatap sejumlah energi stone peringkat tengah di atas meja.

__ADS_1


"Beri aku waktu ! Kami akan membersihkan kamar itu terlebih dahulu, agar tuan muda ini dapat lebih nyaman nginap di kamar tersisa itu" Pria itu lantas memanggil dua bujangnya dan memerintah mereka untuk membersihkan kamar gudang yang akan di tempati anak muda kita ini.


"Ah... aku sampai lupa memperkenalkan diri. Namaku Abror pemilik usaha Kedai dan Penginapan Tuan Abror. Tuan muda ini dapat memanggilku dengan panggilan yang lain orang lain sebut.


Tuan Abror.. Abror ini nama yang selalu membawa keberuntungan bagiku" kata nya.


Sima Yong balik bertanya acuh tak acuh..


"Keberuntungan seperti apa yang Tuan Abror dapatkan? Pasti itu adalah sesuatu yang amat berhrga bukan? Sampai-sampai anda mengatakan nama itu adalah pembawa hoki dalam hidup kamu" Sima Yong berjalan menuju meja di kedai, dia terus mencoba mengorek informasi.


"Itu adalah...


er apakah anda ingin memesan makanan atau minuman?" tanya Tuan Abror mengalihkan percakapan


"Tolong bawakan semangkuk bubur polos, sayuran yang di tumis pedas dan teh melati hutan untuk sarapanku.. (hening sejenak)


Anda bahkan belum menceritakan apa saja keberuntungan setelah menggunakan nama Tuan Abror?" Sima Yong menuangkan air dingin ke mangkok untuk dia minum. Caranya tidak terlihat seperti orang yang tengah melakukan interogasi.


Lalu dari mulut Tuan Abror, keluar kata-kata seperti air mengalir. Tuan Abror menceritakan kalau beberapa waktu yang lalu, dia secara tak sengaja memasuki Hutan Pinus Ribuan Tahun bersama anak buahnya sekedar ingin berburu.


Namun di dalam Hutan ribuan tahun itu rupa-rupanya ada banyak sekali misteri dan keanehan yang dia jumpai. Bahkan dalam satu keberuntungan, Tuan Abror dan timnya menemukan sesuatu benda kuno yaitu gulungan salinan catatan harian seorang ahli dari masa ribuan tahun yang lalu. Itu nyata dari huruf demi huruf yang di tulis dalam bahasa asing - bahasa nenek moyang mereka belasan ribu tahun yang lalu.


Setelah menimbang-nimbang dan berdiskusi dengan Patriak Suku Jinzhi, memang salinan tulisan itu tidak berisi informasi tentang suatu teknik atau apa-apa. Melalui penelitian di perpustakaan Patriak Ye, catatan di salinan itu tidak lebih dari catatan harian seorang juru masak di satu sekte ribuan tahun lalu, tentang cara memasak hidangan menggunakan daging burung bangau sebagai bahan dasar.


Sima Yong mengernyitkan kening mendengar penjelasan itu..


"Jarang sekali terdapat resep masakan yang menggunakan daging bangau sebagai bahan utama..


Ini aneh.."


"Lantas mengapa anda mengatakan bahwa resep masakan itu pembawa keberuntungan? Tanya Sima Yong

__ADS_1


Bersambung


Halo semua. Terima kasih sudah membaca dan menyukai Novel ini.  Dan untuk membuat author lebih semangat lagi, selalu berikan like ya. Jangan lupa favoritkan dan rekomendasikan novel ini kepada yang lain... Terima kasih dan semangat membaca. <3


__ADS_2