Kisah Dewa Pedang Utara

Kisah Dewa Pedang Utara
Dimalam Kelam yang membuat Patah hati


__ADS_3

Patriak Xia lalu mencoba menatap goresan pedang di tebing berbatu itu. Mulau-mula dia hanya melihat hanya terdapat coret-coretan tanpa arti di dinding batu itu. Akan tetapi lama kelamaan setelah menatap goresn pedang itu, Patriak Xie terkejut di dalam hatinya.


Coretan itu mulai bergerak-gerak seperti bayangan orang tengah melakukan gerakan pedang yang rumit. Semakin dalam dia memperhatikan goresan pertama, kepalanya semakin pusing. Lebih dari seratus variasi gerakan pedang di dalam goresan pertama.


Waktu berlalu dan seperti tersadar dari suatu lamunan panjang, Patriak Xie membuang muka nya dari coretan pedang di dinding batu ..


"Aku tidak sanggup lagi. Variasi gerakan pertama itu terlalu rumit. Jika aku berkeras menatap goresan pedang itu, aku khawatir akan terpaku ke dinding batu itu, lalu lupa akan waktu, merenungi teknik pedang siang dan malam.


Mungkin aku akan meneruskan merenungi coretan pedang ini esok hari !" kata Patriak Xie. Dilirik ke kiri dan ke kanan...


Patriak Xie terkejut. Ternyata tadi itu dia berbicara seorang diri. Tuan Yong dan Aqildi Ayel terlihat di jarak dua pluh tombak jaraknya, dimana dia mendengar anak muda itu mengajarkan Syaman Aqildi Ayel mantra-mantra sihir untuk bertahan melawan monster sihir.


Matahari semakin condong ke barat, sementara warna senja semakin merayap menuju kegelapan. Tiba-tiba suara Tuan Yong terdengar berbicara,


"Aku pikir anda telah menguasai sihir pertahanan ini. Biarpun tidak untuk pertarungan dan serangan sihir, namun mantra-mantra ini akan ampuh untuk pertahanan sihir anda dan membuat mahluk sihir menjadi takut. Semoga pelajaran singkat ini akan membantu Suku Wu Yi kedepannya" kata Sima Yong.


Patriak Xie semakin terharu.


"Tuan Yong itu demikian baiknya, dia selain menurunkan teknik pedang Peringkat Immortal, juga memberi pengetahuan bagi Syaman kami"


******


"Apakah nama teknik pedang yang anda turunkan kepada Suku Wu Yi kami itu?" Tanya Patriak Xie.


"Aku belum memberinya nama. Silahkan Patriak memberi nama sesuai keinginan anda" jawab Sima Yong.


Lama berpikir, lalu Patriak Xie kembali berbicara,

__ADS_1


"Kalau demikian aku akan memberi nama Sepuluh Langkah Pedang Tuan Yong. Apakah bagus di dengar?"


Sima Yong melongo mendengar namanya ikut disebut didalam Teknik Pedang yang baru di turunkan itu. Jawabnya..


"Aku pikir itu nama yang bagus"


"Suku Wu Yi harus mengingat nama anda. Kelak di masa datang nanti, jenius-jenius muda kami akan bertempur dengan dada terusung, dan dengan bangga akan menyebutkan keras-keras, kalau Teknik Pedang ini adalah peninggalan seorang Raja Pedang" kata Patriak Xie menatap kedepan.


Tiga orang itu terbang kembali ke perkemahan Suku Wu Yi, karena Sima Yong berencana untuk meninggalkan Tanah Barat Laut malam itu juga.


Ketika Sima Yong berpamitan diantara sekelompok besar Suk Wu Yi yang mengantar keberangkatannya, Patriak Xie masih sempat memperingatkan Sima Yong,


"Tuan Yong... Tidak bisakah anda menunggu sampai besok pagi, ketika ayam berkokok dan ketika mahluk-mahluk malam tak diinginkan telah kembali bersembunyi?


Mengapa anda harus memilih jam-jam di malam yang kelam untuk melakukan perjalanan? Sering sekali orang-orang mengalami kemalangan, mengalami kematian karena bayangan-bayangan malam yang tidak di ketahui apa itu. Aku ingin anda untuk menunggu semalam saja di kemah-kemah kami"


"Aku tahu... Aku bahkan selalu memperingatkan diriku bahwa malam adalah waktu-waktu yang berbahaya. Akan tetapi aku telah memperhitungkan matang-matang, dan akan mencoba untuk melawan bayangan-bayangan malam yang selalu menjadi sumber ketakutan manusia-manusia di pinggir-pinggir perbatasan"


Patriak Xie lantas membungkuk dalam-dalam, dia memberi hormat kepada anak muda yang kini mulai duduk di punggung Phoenix itu. Tindakan Patriak Xie diikuti oleh tindakan membungkuk dalam-dalam oleh semua orang di Suku Wu Yi.


Kabar burung berhembus yang isinya menceritakan bahwa Tuan Yong telah menurunkan Teknik Pedang peringkat tinggi, hanya untuk orang-orang jenius di suku itu. Belum lagi cerita lainnya kalau Syaman Aqildi Ayel telah memiliki mantra sihir baru, untuk menolak bala (malapetaka atau kemalangan) sehingga orang Suku Wu Yi menjadi lebih lega melewati malam-malam dingin.


Semua orang berterima kasih kepada Tuan Yong, dimana anak-anak muda diam-diam menyimpan gairah, untuk menjadi yang terbaik diantara anak muda lainnya, agar di ijinkan mempelajari teknik pedang immortal yang di turunkan Tuan Yong.


Kelak, dunia Dataran Tengah akan di guncang dengan ahli-ahli pedang ternama yang berasal dari Suku Wu Yi. Mereka bertempur gagah berani dan mengharumkan nama Klan Qilin mereka. Orhideya akan menjadi SAGE pertama diantara sembilan Klan Bintang Sembilan dataran Tengah.


******

__ADS_1


Dengan sekali kepakan sayap yang panjang saja. Phoenix itu telah berpindah jauh seperti layaknya berteleportasi, dan tiba-tiba telah berada beberapa puluh tombak di arah depan. Dunia seperti berdesir menjadi bayang-bayang, lalu kemudian bayangan kemah-kemah yang tinggi, yang ujung nya selalu berkibar bendera warna-warni, menghilang dari pandangan Sima Yong.


Sima Yong menghirup dalam-dalam aroma angin musim gugur dari Utara, yang membawa sepercik wangi aroma tanam-tanaman hutan seperti wangi pohon pinus dan aroma pohon ek.


Perjalanan menuju Negri di Tepian Barat diperkirakan akan memakan waktu lima hari perjalanan, dan malam ini adalah malam ke tiga perjalanan Sima Yong menggunakan Phoenix roh. Tidak ada kejadian apa-apa yang mengguncangkan selama perjalanan siang malam mereka.


"Tinggal sehari semalam perjalanan lagi, maka kami akan tiba di perbatasan Tepian Barat" batin Sima Yong.


Malam itu bulan masih tampak berbentuk sabit besar, tidak bundar karena telah lewat purnama. Akan tetapi cahaya sabit yang sedikit itu bulan semakin kelam dimana bintang-bintang pun tertutup kabut yang tebal, sehingga kekelaman itu akan membuat patah hati pejalan dan petualang malam hari.


Jauh-jauh hari Sima Yong telah merasakan sesuatu yang agak berbeda malam ini sehingga dia menjadi lebih waspada. Saat itu waktu adalah sekitar kentongan ke tiga, ketika tiba-tiba Sima Yong merasakan darah nya seperti membeku perlahan-lahan. Rasa dingin itu merayap pelan-pelan, lalu diikuti hilangnya rasa bahagia di dalam hati.


Lalu dia melirik ke bawah, kearah mana rumput-rumput tempat Phoenix rohnya terbang rendah melewati rumput-tumpu dan semak belukar. Area di sekitar perasaan dingin merayap itu menunjukkan kematian pelan-pelan, di mana rumpu-rumput mulai layu, semak-semak belukar berubah menjadi kering..


"Hawa kematian !,


Dia adalah si perenggut kebahagiaan.


Aqildi Ayel mengatakan agar jangan memandang ke arahnya, atau dia akan menunjukkan wujud lalu menyantap korban dengan kejam" batin Sima Yong. Tangannya meraba cincin spasial.


Saking dinginnya sesuatu itu, saking membawa hawa aneh dan merenggut rasa bahagia mahluk hidup, Phoenix roh itu sampai-sampai berhenti terbang, melayang-layang pelan tanpa mengepak sayapnya.


Lalu sesuatu yang membawa hawa dingin berbisik pelan, hawa dinginnya terasa mengelilingi Sima Yong dan sang Phoenix. Suara nya terdengar sperti suara yang keluar dari sumur tua tak berisi, bergema demikian kuno membuat rasa bahagia semakin terbang menjauh...


"Tatap aku manusia, lalu aku akan meremukkan tulang-tulang mu, merobek-robek daging nya, meluluh lantakkan tulang-tulang mu dan menghisap semua sum-sum mu. Tatap aku !"


*Bersambung*

__ADS_1


   Halo semua. Terima kasih sudah membaca dan menyukai Novel ini.  Dan untuk membuat author lebih semangat lagi, selalu berikan like ya. Jangan lupa favoritkan dan rekomendasikan novel ini kepada yang lain... Terima kasih dan semangat membaca...


__ADS_2