
Peta Negri Tanaman Obat
Melewati malam di dataran tinggi Negri Tanaman Obat Dunia itu serasa tinggal di dalam kamar pendingin saja. Beruntung jago kita adalah ahli kelas atas yang tidak dapat di bandingkan dengan orang biasa, sehingga hawa menusuk tulang itu justru ia manfaatkan untuk semedi, menyerap energi dari langit dan bumi.
Saat kelam penuh bintang berlalu dengan tenang tanpa insiden apapun. Ketika pagi-pagi benar matahari baru saja menampakkan dirinya, ia telah menyelesaikan semedi dan siap meninggal rumah keluarga sederhana itu.
Namun sebelumnya ia memandang bayangannya dari pantulan kolam kecil di belakang rumah.
"Aku sungguh terlihat asing seperti seorang wiku atau penatua agama saja" batin nya sambil senyum.
Wajah halusnya meski kini dipenuhi rambut liar di bagian atas bibir dan janggutnya, namun tidak menyembunyikan wajah tampan bersinar itu. Malahan mempertegas aura keagungan itu.
"Mungkin aku akan mencari penata rias untuk memperbaiki penampilannku di Kota Guntur Langit nanti"
Pembicaraan semalam dengan tuan rumah telah memberikan banyak informasi kepadanya, dan ia memutuskan untuk pergi seorang diri ke Kota Guntur Langit.
Jampa anak kecil itu telah keluar rumah untuk menggembala ke padang rumput, lama sebelum matahari terbit. Hingga pada akhirnya Sima Yong berpamitan dan mengucapkan terima kasih kepada Imay sebelum mengucapkan perpisahan kepada anak itu.
"Sebenarnya aku berharap agar Tuan Suci ini mau menunggu barang dua hari lagi. Upacara penerimaan berkat langsung dari Dewa akan di gelar di kaki Pegunungan Himalaya di Kuil pemujaan Dewa. Aku ingin menunjukkan dan memperkenalkan anak perempuanku nanti kepada Tuan Suci.
Mungkin Tuan dapat memberikan berkat kepada Rani anak tertua kami itu. Meskipun dia telah hidup senang menjadi pelayan di Istana Dewa Himalaya, namun jika memperoleh berkat dari Orang Suci lainnya seperti Tuan, hatiku akan semakin lega" kata Imay penuh harap.
Sima Yong tidak langsung menjawab permintaan Imay. Ia melambaikan tangan dan satu kertas jimat melayang dan menempel di pintu masuk rumah Keluarga Imay (lebih tepat gubuk). Mulutnya menggumamkan kata-kata dalam bahasa kuno dan segumpal bintang-bintang kecil melayang lalu menyatu dengan kertas jimat bersimbol ortodoks itu.
Imay pun seolah mengerti, lantas mengunci bbirnya rapat-rapat. Dia tahu kalau pria yang mereka panggil Tuan Suci itu tengah melakukan ritual pemberkatan rumah tempat tinggal mereka. Sesudahnya, anak muda itu lalu membalikkan badan dan tersenyum lembut. Katanya..
"Itu adalah satu tindakan atau mantra sihir yang aku lakukan untuk melindungi rumah anda.
Meskipun manfaat sihir akan menyusut seiring waktu, akan tetapi mantra jimat ini mampu bertahan selama sepuluh tahun kedepan.
Meskipun aku tidak membaui adanya roh atau hewan magical beast di sekitar sini, namun mantra ini akan melindungi rumah anda dari serangan magical beast level King sepuluh atau Alam Spirit Agung puncak.
Roh dan mahluk sihir lainnya sepanjang tidak berkekuatan diatas Alam Spirit Agung, tidak nanti dapat membobol rumah anda, dengan perlindungan jimat sihir itu"
Imay buru-buru berlutut dan menyembah.
__ADS_1
"Terima kasih Tuan Agung.. Terima kasih Tuan Suci.." dia sampai membentur-benturkan kepalanya berulang kali di lantai tanah itu.
Sima Yong membuat gerakan pelan dan Imay mendadak terangkat dari posisi menyembah, kini berdiri dalam keadaan terkejut. Tuan Suci ini benar-benar setengah dewa! pikirnya. Sikapnya menjadi bertambah hormat.
"Mengenai atraksi upacara prosesi pemberkatan dari Dewa Himalaya, mungkin kita akan bertemu di Kota Guntur Langit" Kata Sima Yong.
"Aku akan menunggu dan bertemu lagi dengan anda dan Jampa di Kuil Penyembahan Dewa Himalaya" kata Sima Yong lembut.
Ia lalu meninggalkan Desa Surya dan memutuskan berjalan kaki saja menuju Ibukota Negri Tanaman Obat.
"Menurut cerita Jampa, perjalanan ke ibukota paling lama memakan waktu dua jam jalan kaki.
Mungkin ada hal menarik yang dapat aku lihat sepanjang jalan menuju Kota Guntur Langit" batin Sima Yong.
*****
Negri Tanaman Obat adalah satu negri kecil yang berdiri diatas hamparan pegunungan atau dataran tinggi. Sedangkan Ibukota Negri berada ke arah Timur nika berpatokan dari Desa Surya, tepat di kaki Pegunungan Himalaya.
Kota Guntur Langit adalah satu-satunya kota di negri ini, sementara sisanya hanyalah desa-desa kecil yang rata-rata rakyatnya hidup dari hasil menggembala ternak kambing khas negri itu.
Orang-orang terlihat riang bersliweran namun tidak padat, dengan kombinasi rakyat biasa dan kaum pendeta dari agama tertentu dari beberapa kepercayaan yang di akui negri itu. Hampir semua laki-laki dan sedikit saja perempuan tua. Sima Yong memalingkan muka ketika suara gemerincing bel yang di hentak-hentak terasa berdenging di telinga.
Orang-orang terlihat mundur dari jalanan berbatu rapih, dan berjejer rapih di pinggir jalan sambil membungkuk memberi hormat, lalu berlutut dan tidak berani menengadah keatas.
"Apa yang terjadi?" batin anak muda itu.
Tampak enam anak muda dalam balutan jubah besar dan panjang berwarna keemasan (padri muda), melintas di tengah jalan yang seketika menjadi lengang - semua orang minggir dan sujud menyembah, sementara rombongan itu - dimana padri muda paling depan berulang kali menggoyang satu lonceng kecil yang menimbulkan suara berdenging.
Kring ! Kring ! Kring ! Bunyinya teratur dan mengikuti ritme tertentu.
Empat padri yang lainnya terlihat memikul joli berukir naga (yang diatasnya duduk seorang padri yang lain berumur setengah tua) ia tepat di belakang padri berlonceng itu.
Di paling belakang sekali dari rombongan, nyata seorang padri lainnya yang berulang kali memercik air suci dari bejana ditangannya, ke kiri dan kanan jalan, sepertinya memberi berkat kepada para pejalan kaki.
Mulutnya komat-kamit dalam bahasa rumit, namun pejalan kaki yang berlutut menyembah itu terlihat begitu bahagia terpercik air suci, badan mereka langsung bergoyang-goyang mirip orang kerasukan, tatkala air percikan menimpa tubuh.
Sima Yong memperhatikan baik-baik ke padri setengah tua yang duduk diatas, ketika angin bertiup kencang membuat kibaran jubah padri itu melambai..
__ADS_1
"Tangan kirinya buntung? Well.. bukan hanya tangan kiri. kedua kakinya juga tidak ada. Apakah mereka ini adalah kelompok agama yang gemar memutilasi anggota badan sendiri?"
Ia menyimpulkan demikian karena mata tajamnya melihat bekas luka kuntungan tangan kiri padri itu adalah tebasan yang dilakukan secara suka rela, bukan karena pertempuran.
Imajinasi jago kita terhenti, ketika ia secara mendadak melihat kilat kecil dari tatapan kurang senang dari padri setengah tua di atas joli.. Terarah kepadanya.
"Apakah ini karena aku tidak bertelut menyembah dan berkaca-kaca ?" ia mencoba menarik kesimpulan. Kilatan itu mengandung energi yang akrab dimata Sima Yong.
"Magus ?" batinnya. Meski dengan cepat kilat aura sihir langsung di tarik balik si padri, namun setitik aura sihir bocor itu tidak dapat membohongi anak muda kita.
Dengan gerakan rendah hati ia menundukkan kepala dan dua tangannya di dada membentuk tanda penghormatan. Padri diatas joli itu juga menundukkan kepala pertanda balasan hormat kearah Sima Yong, kembali mencoba bersikap agung.
Kejadian tadi berlalu dengan cepat, ketika rombongan padri tersebut telah berada jauh di depan. Kerumunan pejalan kaki kembali berdiri dan suara keributan orang berbincang terdengar kembali.
"Apa itu tadi?" tanya Sima Yong kepada salah satu pejalan kaki yang paling dekat dengannya.
"Ah.. tuan ini pasti bukan orang setempat bukan?" orang itu menatap balik dan memperhatikan cara berpakaian Sima Yong yang berbeda. Lanjutnya..
"Itu tadi adalah kelompok Padri Penatua dari Kuil Dewa Himalaya. Orang-orang suci itu setiap hari selalu berkeliling kota dan memberi berkat kepada semua warga" kata orang itu bangga.
"Pemujaan negri ini terhadap Dewa Puncak Himalaya tidaklah sia-sia. Tuan melihat sendiri bukan? Negri ini tidak pernah dilanda perang dan kehidupan kami tercukupi" kata pejalan kaki itu.
Anak muda kita mengangguk kepala, namun didalam hati dia bertanya-tanya. "Dimanakah pejalan kaki atau orang-orang kaum perempuan muda kota ini?. Mengapa hanya para pria atau wanita tua saja yang berlalu lalang di jalanan? Apakah mereka semua juga telah di persembahkan ke Dewa Himalaya itu?"
Pertanyaan itu ia pendam dalam hati, dengan niat akan mencoba menyelidiki malam nanti. Dengan sopan ia bertanya lagi,
"Tahukah anda dimana aku dapat membeli peta Negri Tanaman Obat ini? Kulihat semua toko disini hanya menjual produk-produk makanan dan kebutuhan sehari-hari saja"
"Ah Tuan .. anda benar-benar bukan orang Negri Tanaman Obat. Peralatan dan kebutuhan seperti itu tidak di jual umum di toko-toko kota..
Jika berkeinginan untuk melihat-lihat benda sihir seperti itu, anda harus mengunjungi Lembah Guntur Naga. Disanalah di jual banyak barang-barang kebutuhan penyihir seperti itu.
Akan tetapi jika anda bukan penyihir atau seorang ahli beladiri, anda tidak di ijinkan untuk memasuki lembah itu" jawab si pejalan kaki. Ia lalu buru-buru berpamitan dan pergi, seperti takut-takut karena terlalu banyak bercerita dengan orang asing.
Bersambung
Halo semua. Terima kasih sudah membaca dan menyukai Novel ini. Dan untuk membuat author lebih semangat lagi, selalu berikan like ya. Jangan lupa favoritkan dan rekomendasikan novel ini kepada yang lain... Terima kasih dan semangat membaca. <3
__ADS_1