
"Wush - wush - wush !"
Tujuh bayangan itu berkelebat dengan sangat cepat meninggalkan lapangan kecil dimana sebuah Pohon dedalu tua berdiri kokoh di tengah-tengah lapangan.
Tujuh bayangan itu berpencar membelah kearah tujuh dari delapan mata angin yang berbeda. Masing-masing bayangan itu terlihat membawa beban yaitu para tawanan yang belum pulih sehingga tidak mampu mengumpulkan energi dari dantian.
Para ahli itu mereka memanfaatkan momentum ketika badai es itu ilusi ciptaan Sima Yongterjadi, untuk langsung secepatnya menjauh dari lapangan kecil di Istana Kekaisaran itu.
"Pergi sejauh mungkin lalu berbelok ke Gunung Da Hua" bisik Wei Park menggunakan transmisi. Dia berbicara dengan Tuan Bumi yang dengan ketat mengikuti kearah mana dia terbang.
***
Saat itu Wei Park terbang bersama Tuan Bumi Agama Terang. Sesuai kesepakatan, dia bersama Tuan Bumi akan membawa Panglima Ju Lianyi guru Pangeran Ju Qin ikut bersama, di gendong di punggung Wei Park. Pria itu masih lemas dan belum dapat mengumpulkan Qi dari dantiannya.
Beberapa waktu berlalu, Tuan Bumi yang selalu mengawasi arah belakang, merasakan sesuatu.
"Sebuah kapal roh memburu kita" desis Tuan Bumi setelah dua kali peminum teh dalam pelarian mereka.
Wei Park melirik kebelakang, dia melihat bayangan kapal roh, perlahan telah mendekat mereka di jarak 1.5 lie.
"Mereka menggunakan kapal roh dengan mesin terbaik" kata Wei Park menggunakan transmisi. Dia agak panik. Kapal itu paling tidak memuat 300 ahli tempur yang tergabung didalam ketentaraan Rajawali Agung.
"Tidak membutuhkan waktu yang lama untuk kita terkejar nanti" Tuan Bumi menyela. Lanjutnya...
"Aku berpikir, sebaiknya anda pergi terlebih dahulu, Tuan Wei. Aku akan berusaha menghalangi kapal roh itu" Tuan Bumi secara tiba-tiba telah berhenti dengan penerbangannya. Dia mengambil sikap menunggu kedatangan kapal itu.
Wei Park terkejut. Lantas dia berkata setengah memaksa.
"Tidak bisa, jikalau toh mesti tertangkap dan mati.. Biar kita sama-sama mati" katanya
Tuan Bumi hanya tersenyum kearah Wei Park. Katanya,
"Lihatlah. Anda masih demikian muda. Dan lagi, dipunggung anda masih ada seseorang yang harus di selamatkan. Jika anda memaksa bertempur bersama saya, bukankah akan ada tiga nyawa yang hilang hari ini?" tawar senyuman itu.
"Aku sudah cukup tua dan lama menikmati hidup di dunia ini. Jika memang harus tewas di hari ini, aku tidak akan menyesal" Tuan Bumi menarik nafas dalam-dalam.
Lanjutnya,
__ADS_1
"Tunggulah di depan sana, ketika nanti aku tidak kembali dalam satu jam, itu berarti aku telah tewas" dia lantas membuat gerakan seolah mengusir Wei Park.
Wei Park sekali lagi tertegun. Orang ini baru saja dikenalinya beberapa waktu yang lalu ini mau bertarung seorang diri dan memberi jalan buat dia dan Tn. Ju Lianyi?.
"Apakah anda yakin? Mereka ... kapal roh itu paling tidak berisi 300 tentara" jawab Wei Park ragu.
"Anda tidak perlu kuatir denganku. Aku punya cara sendiri untuk meloloskan diri nanti" jawab Tuan Bumi, menenangkan Wei Park.
"Jikalau demikian adanya, aku Wei Park tidak akan sungkan lagi" Wei Park membungkuk, menjura memberi hormat.
"Kelak, jika Langit mengijinkan kita bertemu lagi, Wei Park akan membalas budi Tuan Bumi" selepas mengucapkan kata-kata itu, tubuh Wei Park melesat cepat meninggalkan Tuan Bumi.
Sepeninggalnya Wei Park bersama Ju Lianyi, Tuan Bumi mencabut pedang dari tangannya. Dia sekarang terbang berbalik dengan cepat menyambut datangnya kapal roh yang mengejar mereka itu.
"Wush - wush " deru angin mendirikan bulu kuduk, akibat suara kapal roh yang membelah angin, melesat cepat ke arah Tuan Bumi
"Mari kita mati bersama !" raung tuan bumi. Dia membentuk segel di dada yang lantas menyemburkan aura pedang yang menyambar kearah dua kapal roh itu.
"tsing !"
Sekonyong-konyong dari arah kapal roh itu terlihat dua puluh sosok berkelebat terbang sambil memegang tombak. Gerakan dua puluh sosok tentara itu amatlah cepat. Di punggung mereka terdapat tali yang mengatur kecepatan kelincahan dan gerakan mereka.
Dua puluh orang itu adalah dua puluh pasukan elit tentara Kekaisaran Rajawali Agung yang di komandani Kapten Liao Quon. Kapten kapal itu berdiri garang di anjungan kapal roh. Ditangannya dia memegang Tombak (jika kamu masih ingat, pasukan ini dan Liao Quon ini bersama-sama Sima Yong ketika pergi ke Negri Embun Timur).
"Sebaiknya kamu menyerah !" teriak Liao Quon menggunakan Qi.
"Cih.. Tidak semudah itu kamu mau mengalahkan aku orang tua ini"
Sambil mengemposkan nafas, dia mengalirkan semua energi Qi dari dantiannya. Energi tebal Qi kini bergerak menumpuk kental di tangan dan pedang.
Tuan Bumi menggerakkan pedang di udara seperti maksud tertentu. Rupa-rupanya pedang itu membentuk teknik pedang di ilhami tulisan karya sastra di udara. Itu adalah salah satu teknik yang terkenal "Seni Pedang Mencoret Langit".
Pedang di tangan Tuan Bumi membuat gerakan mencorat-coret di langit membentuk tulisan-tulisan yang terinspirasi dari kata-kata bijak Konfusius "Kesunyian adalah kawan sejati yang tak pernah berkhianat".
Kata pertama yang dia coret di udara adalah "Kesunyian". Begitu Tuan Bumi memulai teknik pedang dengan kata itu, suara di sekitar seketika menjadi hening. Aura sepi keluar dari pedang ditangannya yang saling membentur dengan sepuluh tombak yang bersamaan di tusuk kearahnya.
"Trang !"
__ADS_1
Sepuluh tombak itu meleting, seiring dengan sosok 10 tentara itu yang terbang mundur di tarik pengendali angin. Namun Tuan Bumi tidak di buat bernafas lega. Ketika itu suara deru angin menggiris terdengar, tatkala sepuluh tombak lainnya di lepaskan sepuluh tentara.
"Suiiit" bunyi tombak menderu. Buru-buru Tuan Bumi mengubah coretan di udara.
"Kawan Sejati !" di coretnya lah pedang dengan kata itu yang lantas membuat gelombang berupa puluhan bayangan pedang yang bergulung dan menikam dengan cepat kearah sepuluh ahli tombak itu.
"Trang - trang - trang" bunyi benturan senjata bertubi-tubi. Sepuluh tentara itu sekali lagi terlempar kebelakang.
Liao Quon, komandan tempur itu merasa sangat tidak puas ketika melihat pertempuran itu. Dia lalu menarik tombak miliknya, dan dalam gerakan yang sangat cepat dia melompat terbang, dan berbaur dengan 10 tentara yang terlihat begitu menerjang Tuan Bumi.
"Suiitt !"
Belum kelar Tuan Bumi menghadang sebelas tombak yang mengancam dirinya, terlihat di belakang mereka, terjangan dari sepuluh tentara lainnya. Bergerak sangat lincah diatur oleh para pengendali angin dari geladak kapal. Tuan Bumi terjepit diantara 21 ahli tombak, bergerak liar di udara.
"Wush" tusukan Liao Quon menyambar dan merobek lengan Tuan Bumi. Pria itu terpental, berjumpalitan dan mencoba mengatur nafas dan meredakan darah yang menetes deras dari lengannya.
Tuan Bumi sambil menahan perih di lengan, dia menggigit bibirnya. Di emposkannya energi tersisa dari dantian, yang lalu di sebar ke seluruh tubuh, lalu bertumpu seluruhnya di tangan yang memegang pedang. Tuan Bumi lantas mencoret kata "Tak Pernah Berkhianat" di udara.
Ini adalah teknik pamungkas dari Seni Pedang Mencoret Langit. Teknik ini adalah teknik pengorbanan, dimana seluruh energi Qi akan terserap oleh pedang yang memberikan efek serangan dua kali lipat dari kekuatan praktisi. Ibarat kata, inilah serangan bunuh diri.
Kenyataan adalah setelah menggunakan teknik pamungkas ini, praktisi akan kehilangan seluruh energi Qi dan harus beristirahat setidak satu minggu untuk mengembalikan semua energi yang telah di korbankan dalam pertempuran tadi.
Kini, tampak gerakan tulisan tangannya terlihat sangat cepat, membentuk tulisan "berkhianat". Lalu ketika dia membuat gerakan menebas, terlihat aliran energi pedang yang menyambar,
"Tsing !" aliran energi pedang itu menebas dan membuat dua tentara bertombak terdekat berteriak ketakutan, tatkala mereka merasakan sebuah energi pedang merobek dada dua tentara malang itu. Kedua orang itu jatuh terhempas ke bumi dalam kedaan tidak bernyawa.
Tuan Bumi tertawa terbahak-bahak. Dia semakin menggila dengan kembali mencoret tulisan "tak pernah berkhianat". Setiap sambaran pedangnya selalu memakan korban, dimana tidak kurang dari sepuluh tentara pasukan elit itu telah tewas di tangannya.
Liao Quon menjadi murka. Dia lantas berteriak dengan keras,
"Pasukan pemanah !"
Tiga ratus gendewa ditarik dengan anak panah siap di tembak oleh 300 prajurit pemanah di geladak kapal.
*Bersambung*
Untuk membuat author lebih semangat dan tetap berkreasi melanjutkan novel ini, jangan lupa di-like, sekedar komen dan vote.
__ADS_1
Terlebih tolong favoritkan novel ini karena Noveltoon akan menilai untuk menjadi pemasukan Author berdasarkan jumlah Favorit, komen dan like … yang tentunya juga menyemangati author. Apresiasi yang readers berikan akan menyemangati autor untuk terus berkarya di Noveltoon ini.