
Kota Boneka roti penampakannya tidak terlihat seperti kota-kota pada umumnya. Kota Boneka Roti terdiri dari hamparan tanah berbukit-bukit yang di bukit-bukit tersebut terdiri dari banyak sekali goa.
Meskipun itu adalah gua, namun penampilannya dari luar terlihat sangat asri dengan banyak tanaman-tanaman merambat serta bunga-bungaan yang di tanam di depan jendela-jendela gua tempat tinggal ras Berung itu. Dengan langit-langit kota berupa jalinan cabang-cabang pohon Willow yang besar-besar dan tua, Kota itu seperti diselimuti dengan permadani hijau di atas kepala.
Warga ras beruang yang lalu-lalang pun tidak benar-benar terlihat seperti penampakan beruang pada umumnya. Semua tampilan adalah mirip dengan penampilan manusia biasa, namun yang membedakannya adalah rata-rata ras ini berbadan tinggi gempal, dan kaum laki-laki yang memiliki bulu rambut lebat di sekitar kumis dan jenggot mereka.
Memang keajaiban di dalam Realm Magical Beast itu adalah, semua mahluk itu dapat mengambil rupa seperti manusia tanpa perlu mahluk ajaib itu memiliki kultivasi menembus ranah Kaisar 6.
Seringkali ada yang melirik atau menatap lama ke arah Sima Yong dan Mismaya dengan tidak menyembunyikan rasa heran nya. Peri kecil seperti Mismaya telah sering mereka jumpai, baik itu di dalam Kota Boneka Roti atau di Hutan Mistis. Namun keberadaan Sima Yong adalah suatu penampakan yang langka di dalam hutan itu.
"Manusia?"
"Tidak, dia seorang Elf. Jelas-jelas rambut indahnya sudah jelas memberi tahu bahwa pria tampan itu adalah ras Elf" suara diantara perempuan-perempuan ras Beruang yang berbicara keras-keras dan tidak merasa bahwa menggunjing seseorang apalagi di depan nya langsung adalah hal yang tidak pantas.
Tentu saja Sima Yong merasa jengah. Apalagi ketika anak-anak kecil berbadan gendut kepala botak yang berkelompok mengikuti kemana pun dia pergi. Mereka tak habis-habisnya mengikuti dia dengan menyanyikan satu pantun unik.
Kakak berbaju kelabu berjalan di Kota Bonek Roti
Gadis peri bersayap cantik, diam-diam melirik
Apakah yang di cari si jantung hati
Ow- ow tentu saja si nona dalam hati terkikik
Pantun dengan nada jenaka itu di ulang-ulang anak anak gendut berkepala plontos. Lalu tanpa di sadari, diam-diam pipi Mismaya memerah seperti warna dadu (dadu adalah kosa kata lain untuk memberi arti warna pipi yang memerah seperti warna merah muda).
Dengan sedikit kesal karena pantun jenaka itu, Mismaya melangkah cepat-cepat guna menghindari anak-anak ras beruang yang iseng itu. Meskipun peri kecil menjafa jarak antara seorang pelayan dengan tuan muda nya, namun tak dapat dia pungkiri, tuan muda itu adalah seorang pria yang memesona.
"Aduh !"
Mismaya menjerit dan terperosok kedalam satu lubang parit di depan Toko yang diatas nya tertulis
"Toko Kakek Sendok Madu. Menjual segala keperluan sehari-hari"
Wajah gadis peri itu semakin memerah dadu. Apalagi ketika anak-anak beruang itu bersorak-sorak menertawai dia.
"Plak !" Mismaya menampar pipi gemuk salah satu bocah gundul yang paling bersuara keras.
__ADS_1
"Cih !
Lihat lah. Gara-gara kamu semua sampai-sampai nonamu ini terperosok masuk kedalam parit" kata Mismaya mencoba bengis.
Namun sayang sekali bagi pihak Mismaya. Anak-anak ras beruang itu sejak kecil telah memiliki bakat bawaan di ama kulit mereka keras dan alot. Tentu saja tamparan yang di berikan Mismaya tak lebih dari satu usapan ringan di pipi si kecil gundul.
Serempak empat anak gundul lainnya bersuara keras-keras,
"Tampar kami juga dong kakak peri. Kami juga kepingin merasakah usapan ringan kakak peri yang cantik ini"
"Astaga !" kata Mismaya tambah memerah wajahnya.
"Bocah-bocah ras beruang ini sejak usia dini telah berkelakuan mesum seperti ini.
Dengan membanting kaki nya dan memasang wajah enggan, Mismaya mengangkat kepala tinggi-tinggi layaknya perempuan bangsawan, lalu berbalik tegap dan memasuki Toko Kelontong Kakek Sendok Madu.
"Mari kita masuk tuan muda. Abaikan bocah-bocah kasar itu" kata Mismaya anggun.
Sima Yong hanya tersnyum-senyum saja karena dia melihat Mismaya dengan badan kecilnya terasa seperti kanak-kanak belaka di dalam pandangannya. Dan ketika Mismaya marah-marah sendiri dengan bocah-bocah beruang ini, tingkah Mismaya terlihat imut.
Mismaya melangkah anggun melewati pintu toko kelontong itu. Saking tinggi nya dia mengangkat kepala - bahkan terlalu tinggi untuk ukuran seorang putri bangsawan, Mismaya tak melihat di bagian bawah pintu toko terdapat gundukan untuk menghalangi mahluk-mahluk kecil masuk liwat celah itu.
Bedebum ! Mismaya terjungkal dan disusul teriakan seru bocah-bocah ras beruang di luar toko. Mismaya hampir menangis karena malu. Beruntung seseorang menyelamatkan situasi,
"Ah.. terima kasih tuan" kata Mismaya penuh rasa malu. Ini kali pertama dia berkunjung di toko ini, pertemuan pertama ini di nodai dengan kecerobohannya terjatuh dua kali area Toko Kakek Sendok Madu.
Dengan berusaha menutupi rasa malunya Mismaya berkata,
"Apakah anda adalah Kakek Sendok Madu?"
"Itu benar sekali. Aku adalah Kakek Sendok Madu. Dan usaha toko kelontongku ini adalah yang terlengkap di Kota Boneka Roti.
Katakan saja apa yang anda butuhkan, dan biarkan Kakek Sendok Madu memberikan semua yang anda butuhkan !" Sima Yong ternganga. Kakek Sendok Madu menjawab pertanyaan Mismaya dengan irama seperti seseorang sedang membaca pantun.
"I-ini.." Mismaya menjadi tergagap mendengar kata-kata Kakek Sendok Madu. Seketika dia teringat candaan dan pantun-pantun anak-anak kecil gundul tadi.
"Jadi.. kebiasaan berbicara seperti seseorang sedang berpantun adalah tradisi di sini?" diam-diam Mismaya menjadi tidak enak hati. Dia telah berprasangka kalau anak-anak beruang itu sebelumnya centil dan menggoda dia.
Beruntung Sima Yong cepat tanggap. Meskipun tidak berkata-kata seperti berirama pantun, namun ia bertanya dengan sopan dan pelan. Suara khas Elf pun terdengar merdu bagaikan tiupan seruling.
__ADS_1
"Aku adalah pengelana.
Sesuatu telah terjadi.
Dan aku harus pergi ke satu tempat.
Bukit Sihl. Itulah nama tempat tujuan ku.
Dapatkah Tuang Sendok Madu,
Menjual peta terlengkap tentang Realm ini?"
Begitu Sima Yong bersuara seperti suara seruling, Mismaya tertegun karena kaget dengan suara seruling itu. Sedangkan Tuan Sendok Madu sendiri terlihat gembira. Pria ras beruang itu senang di sambut dengan suara seperti orang bernyanyi. Katanya..
"Tuan muda ini datang dari negri nun jauh rupanya.
Apakah tuan serta teman kecil ini telah tahu akan bahaya?
Tersebutlah mahluk-mahluk setengah dewa yang akan anda temui.
Bijuu dari semua ras akan menghalangi perjalanan anda untuk tiba di Bukit Sihl"
Masih salam nada seperti irama pantun mendayu-dayu Kakek Sendok Madu menjawab pertanyaan Sima Yong. Mendadak Sima Yong berkata,
"Kakek Sendok Madu, tidak bisakah kita berbicara secara normal tanpa perlu berirama seperti ini?
Aku tahu ras beruang anda adalah satu ras yang sangat gemar berlatih bernyanyi dan berpantun. Namun kini aku memerlukan informasi tentang peta dan apa saja bahaya yang akan menghadang di sana.
Jika anda mau membantu dan menjawab pertanyaanku secara normal, aku akan memetik kecapi dengan satu komposisi lagu gubahan Bangsawan Elf. Tidak saja indah dan merdu. Irama yang ku mainkan nanti akan membantu anda, Kakek Sendok Madu mengalami perbaiki di jiwa. Luka jiwa anda akan aku jahit dengan satu lagu nanti.
Apakah anda bersedia?" tanya Sima Yong.
Meski terlihat sedikit kecewa, namun Kakek Sendok Madu langsung berbicara secara normal.
"Baiklah.. aku akan menjelaskan Mahluk Setengah Dewa Bijuu itu kepada anda tuan muda. Namun ku harap anda tidak membohongiku, anda harus memainkan musik kaum Elf yang telah ku dengar kemampuan mereka sejak ratusan tahun yang lalu" kata Kakek Sendok Madu.
"Dengarlah...
Bijuu adalah kelompok mahluk-mahluk berkekuatan setengah dewa, yang ekor mereka bercabang dan lebih dari satu..."
__ADS_1
Bersambung
Halo semua. Terima kasih sudah membaca dan menyukai Novel ini. Dan untuk membuat author lebih semangat lagi, selalu berikan like ya. Jangan lupa favoritkan dan rekomendasikan novel ini kepada yang lain... Terima kasih dan semangat membaca. <3