
Anak muda yang berjalan riang itu terlihat amat sederhana. Di dalam balutan pakaian kedodoran warna kelabu sederhana dia selalu bersenandung sepanajng perjalanan. Dengan penampilan yang tidak menarik perhatian itu, wajah putih dan tampan itu tetap menarik perhatian dibalik penampilan sederhana nan membosankan itu.
Sima Yong kini berdiri mengantri di pintu masuk Kota Riluo. Dengan usia muda 23 tahun, dia terlihat masih seperti remaja usia 18 tahun saja. Tidak heran usia mud aitu membuat banyak orang terkadang meremehkannya.
Penampilan mud aitu mungkin diperoleh atau dipengaruhi herbal roh dan susu stalaktat yang pernah dia konsumsi. Keseluruhan penampakan Sima Yong tetap terlihat bagaikan pria remaja. Yang segar.
Sebuah suara keras memecah keceriaan di wajah Sima Yong.
“100 blue manna adalah biaya untuk memasuki Kota Riluo ini” kata penjaga gerbang dengan dingin kepada Sima Yong, ketika telah tiba gilirannya untuk memasuki kota.
Dengan mulut terbuka seolah-olah terkejut karena biaya demikian tinggi, Sima Yong berkata…
“Tuan penjaga yang baik… bukankah 100 blue manna terlalu tinggi jumlahnya untuk biaya memasuki sebuah kota? Lihatlah… aku ini hanya seorang pria miskin. Dari mana aku bisa mendapatkan blue manna sebesar itu? Mohon beri kelonggaran” katanya berharap.
“100 blue manna atau kamu sama sekali tidak diijinkan memasuki kota” kata penjaga yang ke dua dengan bengis sambil mengarahkan tombak ke leher Sima Yong.
Hanya terdapat empat penjaga di pintu gerbang kota dan keempatnya memasang wajah angker kepada siapapun yang berniat memasuki kota tanpa biaya.
Sementara itu secara tiba-tiba orang-orang yang tengah antri untuk memasuki kota menjerit ketakutan… rupanya…..
“Minggir…”
“Tar... Tar..!!”
Sebuah pecut menggelegar di angkasa terasa memecah telinga semua yang mendengarnya. Tampak seorang gadis muda berusia 19 tahun duduk tegak diatas kuda sambil memutar-mutar cambuk ditangannya. Gadis muda itu terlihat di kawal empat orang pengawal muda yang memiliki kultivasi rata-rata diranah Alam Raja awal.
“Nona Ong… terimalah hormat kami” empat pengawal itu sekonyong-konyong merunduk hormat melihat gadis bersikap angkuh itu. Dan dalam Gerakan tangan mereka mempersilahkan kelompok Nona muda itu memasuki kota.
Dalam Gerakan angkuh sambil melirik kearah Sima Yong dan orang-orang lainnya, Nona Ong itu bersama rombongannya mamasuki tanpa biaya sepeserpun.
“Sungguh tidak adil” pikir Sima Yong
Sima Yong memasang wajah seolah olah ternganga terkejut, ketika melihat kejadian itu. Lantas dengan Gerakan acuh tak acuh dia juga ikut melangkahkan kakinya memasuki pintu gerbang Kota Riluo itu.
-------
“Berhenti sampai di situ… dan berikan biaya 100 atau kamu akan mati di tempat” teriak empat pengawal sambil mengacungkan tombak.
Bukannya takut, pemuda itu bersikap seolah-olah seseorang tuli, sehingga membuat emapt pengawal kota menjadi amat marah. Pemuda berjubah kelabu itu tetap melenggang santai memasuki kota.
“Mati…!!!” keempat penjaga pintu kota menusuk bersamaan kearah Sima Yong yang sepertinya sengaja membangkang instruksi dari mereka.
Ketika tombak 4 penjaga itu telah dekat dengan batang leher Sima Yong, terlihat sedikit getaran dari lehernya dan semua mendadak serangan tombak itu melenceng jauh dari sasaran.
__ADS_1
Merasa dipermalukan dengan tindakan menghindar Sima Yong seperti itu, bukannya merasa takut… 4 penjaga itu semakin menjadi jadi didalam angkara murka.
Empat Gerakan tombak kini bukan hanya ditujukan ke tenggorokan, melainkan diarahkan dengan kekuatan penuh ke titik mematikan lainnya di bagian jantung.
“Plak..plak…plak…plak…” tanpa diketahui dari mana asalnya tamparan itu.
Empat penjaga itu terlempar jauh kebelakang sambil menghamburkan banyak sekali gigi yang copot dari mulut mereka. Belum selesai mereka dengan rasa kaget itu, pemuda itu kini memalingkan wajah dan menatap tanpa ekspresi.
Dalam tiga detik saling tatap mata dengan pemuda itu, empat penjaga langsung terlihat terkencing-kencing ketakutan. Tidak ada suara yang keluar melainkan ekspresi ketakutan yang amat sangat.
Mereka berlutut dan menyembah Sima Yong sambil meraung raung meminta maaf. Sima Yong kemudian tidak mempedulikan keempat penjaga itu, dan dia langsung berjalan memasuki Kota Riluo untuk mencari tempat menginap.
Ketika melihat penjaga kota masih berlutut meraung-raung meminta maaf, gerombolan orang-orang yang tadinya ikut antri untuk membayar biaya memasuki kota langsung berhamburan menyerbu dalam kota tanpa biaya sedikitpun.
Belakangan di ketahui bahwa empat penjaga kota itu merasa tertekan dalam keanehan Ketika di tatap pemuda jubah kelabu. Sepertinya mereka terkurung didalam suatu alam mistik yang amat gelap, sepi mengerikan penuh dengan desiran angin dingin yang mampu merobek daging bahkan merontokkan tulang mereka….
>>>>>>
Malam adalah waktu yang tepat untuk seseorang melakukan kegiatan-kegiatan mata-mata atau kegiatan rahasia lainnya. Demikian juga yang terjadi dengan Sima Yong pada malam yang sepi di Kota Riluo itu. Selepas dia mengenakan jubah hitam longgar dengan topeng khas Raja Kelelawar, sosoknya terbang melayang diatas Kota Riluo… mengikuti kekuatan aliran angin malam.
Sesudah dirinya menguasai unsur angin dari Teknik Tiga Jalan Cakra Bianfu, Sima Yong bahkan tidak perlu repot-repot menggunakan energi fisik untuk mengepakkan sayap dan terbang seperti biasanya. Saat ini dia hanya mengambang di udara memanfaatkan unsur angin sehingga jubah hitam itu terlihat seperti sayap kelelawar ketika mengembang diterpa angin.
Sima Yong sibuk mencari lihat sesuatu kode yang berpendar dari arah kota, dari ketinggian ini. Ketika pada akhirnya dia melihat cahaya berpendar dalam irama tertentu, tubuhnya melesat terbang kearah mana titik cahaya itu berasal.
Beberapa saat kemudian…..
“Hmm bangunan yang mewah penuh dengan benda-benda seni yang dikerjakan para ahli” katanya dalam hati sambil mengagumi eksterior istana itu.
Sima Yong berjalan perlahan tidak menimbulkan suara. Langkahnya berhati-hati sekali Ketika menapaki tangga menuju aula istana itu….
“Lancang… berani-beraninya menerobos istana ini”
Sebuah tusukan pedang langsung terkunci di dadanya. Kemunculan praktisi berpenampilan seperti seorang Imam Agama Tao itu amatlah tiba-tiba. Kekuatan dahsyat dikerahkan oleh Imam di ranah kultivasi Alam Pencerahan Suci tengah 6 itu.
Masih dalam sikap tenang Sima Yong bergerak pelan, namun efeknya adalah dia langsung terhindar dari tusukan pedang yang amat berbahaya itu.
Sima Yong tidak akan pernah membiarkan seseorang menyerangnya diam-diam tanpa dirinya melakukan serangan balasan. Telapak tangannya terulur dan sebuah serangan berbentuk cakar kelelawar melesat keluar dan menghantam dada imam penyerang itu.
“Buk.. Buk..” Imam itu terlempar kebelakang. Seteguk darah muncrat dari mulutnya. Dia menatap tidak percaya kearah orang yang membalas menyerangnya. Ternyata penyerang balasan itu adalah sosok berjubah serba hitam dengan tatapan mata yang amat tajam, serasa mampu mencabik-cabik tubuhnya.
Menyusul sosok berjubah hitam itu dalam diam dan acuh tak acuh mengeluarkan sebuah token terbuat dari Platinum, berbentuk Kunci diarahkan ke imam itu….
“Bianfu Wang…” sura imam itu bergetar…
__ADS_1
“Raja Kelelawar…”
Imam itu buru buru berlutut dan bersujud di kaki Raja Kelelawar. Dia langsung meraung dalam tangisan sedih dan rasa takut.
“ampuni jiwa hamba yang murah ini wahai Bianfu Wang. Hamba sungguh sungguh tidak tahu bahwa salah satu Jendral Organisasi sedang datang berkunjung ke istana Dong Xing” dengan sedih Imam itu kini mengetuk ngetuk kepalanya dilantai.
Raja Kelelawar itu hanya menatap dingin kearah Imam seperti jijik. Lalu dengan suara yang sengaja dibuat supaya berubah dan terdengar seperti suara kuno dia berkata…
“Lalu kamu dapat pergi meninggalkan sekarang juga sebelum Aku yang Agung ini berubah pikiran”
Dalam tatapan kaget, Imam itu segera berlari pergi dalam kesempatan pertama. Jarang sekali Raja Kelelawar bermurah hati kepada seseorang yang telah melakukan kelalaian seperti dirinya. Imam itu berlari sambil berulang kali mengucapkan kata-kata terima kasih.
Keadaan di halaman luas istana itu Kembali menjadi sangat sepi….
Raja Kelelawar masih berdiri diam di anak tangga itu. dengan dingin dia berkata,
“Lalu kenapa kamu tidak keluar menemuiku, ketimbang mengintip seperti pencuri….”
Beberapa detik kemudian sebuah suara tawa memecah kesunyian malam,
“Hahahaha… Salam kepada Bianfu Wang.
“Memang benar seperti yang di bicarakan orang-orang banyak. Seorang Bianfu Wang yang legendaris itu selalu sangat berhati-hati dalam tindakannya. Aku sastrawan yang rendah ini terkagum-kagum melihat kemampuan anda yang kini semakin mengalami kemajuan”….
Sesosok tubuh keluar dari kegelapan malam. Penampilan pria itu adalah seperti seorang pelajar yang telah lulus ujian negara atau sastrawan. Pria itu terlihat seperti seseorang usia 40 sampai 50 tahun. Akan tetapi usia sebenarnya adalah 200 tahun. Wajahnya amat tampan dan menimbulkan perasaan suka Ketika orang melihatnya. Sikapnya terlihat amat ramah kepada Raja Kelelawar.
Akan tetapi satu kenyataan yang harus diketahui adalah, sastrawan tampan tersebut adalah salah satu dari lima Jendral Organisasi berbahaya Dong Xing.
Selain sebagai salah satu dari 5 jendral organisasi, dia juga merupakan pembunuh bayaran terkenal berbahaya dari organisasi Dong Xing. Pria itu dikenal dengan nama “Sastrawan Tak Punya Aturan”
Raja Kelelawar hanya melirik sebentar, lalu dengan kata-kata dingin dia berkata…
“Kita tidak saling mengenal. Lagi pula di organisasi seperti ini, bersikap tidak saling mengenal adalah aturan. Untuk apa saling menyapa ramah kepadaku?. Tidak perlu anda bersikap manis kepadaku”
Dan dengan nada mencibir Raja Kelelawar berkata seperti ini sebelum pergi....
“Anggap saja anda tidak melihat dan bertemu dengan ku disini….”
Dengan angkuh Raja Kelelawar meninggalkan Sastrawan Tiada Aturan yang masih terus memasang wajah ramah. Ketika Raja Kelelawar menghilang didalam bangunan istana, wajah ramah itu berubah geram,
“Suatu saat nanti akan aku kalahkan mahluk buruk rupa itu. Selama ini dia selalu bersikap semena-mena terhadap kami berempat”….
*Bersambung*
__ADS_1
* Untuk membuat author lebih semangat dan tetap berkreasi melanjutkan novel ini, jangan lupa di like, sekedar komen dan vote.*
* Terlebih tolong favoritkan novel ini karena Noveltoon akan menilai untuk menjadi pemasukan Author berdasarkan jumlah Favorit, komen dan like … yang tentunya juga menyemangati author. Apresiasi yang readers berikan akan menyemangati autor untuk terus berkarya di Noveltoon ini.*