Kisah Dewa Pedang Utara

Kisah Dewa Pedang Utara
Di lantai Dua Puri Merak Emas


__ADS_3

“Ayo kita sama-sama masuk ke lantai dua!!” praktisi ordo gabungan itu langsung bergerombol dan berlomba menaiki tangga. Mereka tanpa ragu langsung menerobos di kegelapan pintu lantai dua.


“Tap…. Tap… tap..”


“Argh….” Jeritan mengerikan terdengar dari dalam kegelapan.Ribuan anak penah menghujani praktisi ordo gabungan yang mulai memasuki lantai dua.


   Disebabkan rombongan didepan mereka banyak yang kini meregang nyawa di ujung panah, maka semua praktisi yang masih di bagian belakang di lantai satu langsung kini menjadi kacau. Jerit teriakan para praktisi yang meregang nyawa di ujung anak panah menimbulkan ketakutan kelompok yang masih tertinggal dibelakang itu.


“Hentikan Langkah…!!!“ komando Sima Yong dari aula lantai satu.


   Meski banyak praktisi yang mencoba menghentikan Langkah untuk menaiki tangga ke lantai dua, akan tetapi karena kekacauan telah terjadi, maka tak urung ratusan saling dorong terjadi yang mengakibatkan banyak praktisi lainnya terlempar ke dalam area gelap aula lantai dua…. Lalu mereka juga menyusul kawannya yang  telah terlebih dahulu meregang nyawa.


   Di dalam keadaan kacau balau seperti itu, Sima Yong mencoba menenangkan semua pihak dan memberi komando


“Biarkan aku membuka jalan…”


   Tubuhnya terlihat tergulung membentuk sinar yang dengan kecepatan yang sukar diikuti, gulungan cahaya kekuningan itu melesat cepat kearah pintu pembatas lantai dua dan lantai satu.


“Ikuti aku. Mari kita berantas semua ahli panah musuh” bisiknya menggunakan transmisi ke 4 kawan lainnya.


   Tidak lama setelah bayangan kuning itu menghilang dibalik pintu berkabut gelap itu, menyusul sosok empat praktisi yang mengikuti Sima Yong dengan tidak kurang cepatnya.


“Kalian dapat memasuki pintu lantai dua setelah mendengar aba-aba dariku” kata Hatatudha kepada 85 Praktisi ordo aliansi”


   Semua praktisi itu mengangguk pertanda mengerti instruksi Hattaudha.


>>>>>>


   Ketika Hattaudha dan kawan-kawannya telah memasuki aula lantai dua, pemandangan mengerikan terlihat. Adalah Sima Yong didalam balutan pakaian kuning orange itu berkelebat menari nari dengan lima pasang Qi pedang di tangan yang dengan buas mencekik dan menebas Ahli Panah Ordo Veteran.


   Dua mahluk mungil yang selalu terbang mengikutinya juga tidak kalah ganasnya membunuh ahli-ahli ilmu memanah itu.


“Hohoho… kami juga akan mengambil bagian”…..


   Tidak mau ketinggalan didalam pesta seperti itu, tanpa diminta keempat praktisi kawan dari Sima Yong langsung ikut terjun didalam pembantaian ahli panah. Pasukan pemanah Ordo Veteran kini menjadi panik.


“Jangan jumawa anak muda….. hentikan!!!” lima sosok praktisi tiba-tiba muncul dari anak tangga menuju ke lantai tiga. Salah seorang yang terlihat memiliki kultivasi tertinggi dari ras mogui itu, sepertinya telah berusia 50 tahun memandang geram kearah kelompok yang membunuh dengan buas.


   Mengikuti dibelakangnya 4 praktisi lain yang juga memiliki kultivasi tinggi. Nogui itu sepertinya adalah pemimpin kelompok kali ini ….


   Lima praktisi ordo Veteran itu terdiri dari lima ahli di ranah Alam Tanpa Batas. Masing-masing adalah


   1 Pemimpin kelompok ras mogui berpedang panjang, ranah kultivasinya adalah ATB bintang 5 (mari kita pergunakan singkatan biar lebih mudah… ranah ini akan saya singkat menjadi ATB).


   1 ras mogui assassin menggunakan doublepisau, ATB bintang 4,


   1 judade ahli golok di ranah ATB bintang 3 dan …


   2 judade ahli pedang di ranah ATB bintang 1.


   Nampak Ikut berdiri dibelakang mereka adalah 3 ahli panah ras airen di ranah kuasi ATB.


   Total delapan praktisi ini terlihat memiliki hewan kontrak berbagai tipe yang terlihat dari kelas rare (langka) dan Ancient. Masing-masing dari mereka terlihat menggunakan senjata berwarna ungu dan orange, bahkan pemimpin kelompok itu terlihat mengenakan sarung tangan berwarna emas.


   Hanya saja semua perlengkapan perang roh itu, tidaklah lengkap sehingga belum membentuk pakaian perang seperti yang dikenakan Sima Yong.

__ADS_1


   Mengikuti dibelakang lima praktisi Ordo Veteran itu, sekitar lima ratus ahli beladiri di ranah AR bintang 9 dan 8. Semua praktisi itu langsung mengurung Sima Yong yang terlihat tengah membantai ratusan pemanah Ordo Veteran.


“Sepertinya mereka adalah elit di Ordo Veteran” bisik Ye Bing Qing melihat penampilan delapan ahli itu.


“Hewan  kontrak dan persenjataan roh bukanlah hal yang mudah didapat praktisi sederhana…” kata Hattaudha…….


   Mogui pemimpin kelompok itu terlihat melompat dengan ganas kearah Sima Yong yang sementara asik tengah membantai pasukan pemanah Ordo Veteran.


“Lihat serangan…”


   Pedang berwarna orange ditangan mogui pemimpin kelompok itu menyambar dan mengunci kearah Sima Yong.  Sebuah kekuatan pembantaian kekuatan mengandung ATK 1.550.000 jin kini mengancam dada Sima Yong.


“Mati..!!” teriak mogui itu Ketika pedangnya telah dekat dan terarah dengan jitu ke bagian jantung dibagian punggung Sima Yong.


“huh…” dengan sinis Sima Yong melirik mogui yang terlihat senang karena sangkanya pedangnya nanti akan mengenai mengebor jantung pakaian beso kuning itu.


   Alangkah kagetnya mogui itu Ketika dia melihat tubuh Sima Yong hanya bergetar samar, dan semua Gerakan tikaman pedang roh peringkat Saint itu langsung lolos mengenai punggung sasaran.


“Tak mungkin…” katanya tak percaya.


   Tidak berhenti sampai disitu, lawannya secara Ajaib tiba-tiba telah membalikkan badan dan dengan senyuman dingin pria berpakaian besi kuning itu membuka telapak tangannya.


   Sebuah Teratai es raksasa terbentuk seketika ditangan kurus itu, lalu dengan keras membentur dadanya….


“Buk…!!!”


“Hoeks…!!” mogui pemimpin pasukan itu terlempar kebelakang beberapa tombak.


   Dari mulutnya dia mengeluarkan gumpalan darah. Tubuhnya langsung menggigil kedinginan. Unsur es dari Teratai saljut itu serasa meracuni hingga kedalam sum sum mogui tersebut. Wajah mogui yang pada umumnya memang telah putih kini makin menjadi pucat seperti kertas.


   Tujuh dari kawanannya menjadi terkesiap.


“Tak mungkin…. Ketika seseorang di ranah APS mencoba masuk ke domain Hutan Terlarang ini, maka array secara otomatis akan membunuhnya” kata temannya yang lain.


“Itu berarti dia masih berada di ranah ATB” jawab yang lain.


Mogui pemimpin mereka langsung memotong percakapan itu dengan marah,


“Tidak usah kalian berdiskusi. Mari sama-sama kita bantai pria berpakaian kuning itu” dia telah bersusah payah menelan pil penyembuhan, namun hawa dingin itu masih merasuk dalam tulangnya.


“Bunuh dia…!!!” teriak pemimpin mogui.


   Mereka berlima secara bersamaan langsung menerjang kearah Sima Yong. Tidak adalagi rasa malu Ketika pengeroyokan seperti itu mereka lalukan. Yang ada didalam benak mereka adalah kemenangan dan harus menang.


   Melihat pertempuran telah dimulai, tiga airen kuasi ATB itu terlihat telah mengangkat busur ditangan mereka dan siap memanah Sima Yong….


“Kalian adalah lawan kami…” sebuah suara terdengar dingin menghalangi Tindakan tiga airen ahli panah itu.


   Sambil menebaskan kapak ditangannya, Hattaudha kini terlibat pertempuran melawan ras airen itu.


   Ye Bing Qing, Tang Yuwen dan Niryadi juga tidak mau kalah cepat, dan segera tiga praktisi itu menerjunkan diri kedalam pertempuran melawan tiga airen ahli panah.


   Kutukan, sihir dan array dirapalkan Ye Bing Qing dalam rune-rune kuno yang kini membuat posisi tiga airen itu terdesak. Nirayadi selalu mengancam leher mereka dengan pedang pendeknya, sementara Tang Yuwen selalu melepaskan sengatan listrik yang semakin mengganggu tiga airen itu.


>>>>>>

__ADS_1


   Lima praktisi dari Ordo Veteran itu terlihat amat kompak ketika menyerang dan mencoba membunuh Sima Yong. Sepertinya mereka memang telah berlatih rutin didalam pertempuran secara kelompok, sehingga semua serangan selalu berkesinambungan, mengalir tidak putus-putusnya.


   Setelah pedang menebas kearah Sima Yong dan gagal, akan menyusul serangan dua pisau mencoba menjepit putus leher. Gagal lagi….. Dilanjutkan dengan serangan golok, pedang dan lagi pedang. Serangan lima ahli itu tiada putusnya mengalir bagaikan air di sungai.


“Sreeet….”


“wusshhh”


“Tssinggg…”


   Akan tetapi semua serangan lima ahli itu selalu gagal manakala lawan mereka, pria busana kuning terlihat seperti sedikit menggoyang tubuh.


   Bahkan yang terlebih seru lagi, kelima hewan kontrak milik praktisi Ordo Veteran itu kini terlihat mengeroyok Fei Ma dan Meirenyu (jika kamu ingat di bab sebelumnya, Fei Ma adalah Pegasus dan Meirenyu adalah Siren penyihir).


“Cih … mahluk hewan kontrak sekelas ancient dan rare seperti kalian berani-beraninya mengeroyok hewan kontrak sihir seperti aku dan Fei Ma yang dikelas Dao itu…”


“Kalian hanyalah mahluk malang yang hanya datang kemari mengantar nyawa” kata Meirenyu mengejek.


   Siren mungil itu menghina lalu melantunkan lagu-lagu sihir pemikat sehingga dalam sekejab lima hewan kontrak itu menjerit ngeri. Kesadaran mereka seperti akan melayang pergi.


   Sima Yong melirik Meirenyu dan sambil tertawa kecil dia juga mengeluarkan kata-kata ejekan…


“Sama seperti mahluk kontrak kepunyaan kalian…”


“kalian berlima sama sekali bukan lawanku. Cukup sudah main-main perkenalan ini….”


“Wusshhhh”


   Dalam suatu Teknik meringankan tubuh yang indah, telapak Sima Yong terbuka dan menjulur kearah lima praktisi itu.


   Tiga benda berkilauan yang menyakitkan mata melesat cepat kearah lima praktis Ordo Veteran.


“Bumm….!!!”


   Tiga topeng gorogon itu tiba-tiba membuka mata dan menatap tajam kearah ahli ahli beladiri Alam Tanpa Batas itu …..


“Aaargggg…..” teriak mereka berlima.


“Jangan tatap mata benda itu” teriak pimpinan kelompok itu, akan tetapi terlambat.


   Pemimpin kelompok itu sendiri terlanjur menatap mata salah satu gorgon, yang dalam sekejab pengaruh sihir dan kutukan langsung bekerja.


   Lima ahli Alam Tanpa Batas itu membatu dan dengan wajah penuh ketidak percayaan. Sima Yong menatap acuh kearah lima patung.


“Sudah kubilang kalian bukan lawanku” katanya


   Dengan lembut dia melepaskan lima kuntum Teratai es yang melayang indah kearah lima patung batu. Sambil bernyanyi senandung sihir dia berkata,


“Tubuh mereka boleh dihancurkan menjadi debu. Tetap semua cincin dan peralatan roh harus tetap seperti semula dan menjadi milikku”


   Ketika lima Teratai es itu menyentuh lima patung tersebut, mereka berlima menguap menjadi debu dan menyisakan beberapa cincin dan perlengkapan perang roh emas, orange dan ungu….. tergeletak ditanah……..


(readers, mohon maaf atas ketidak nyamannya. Kedepannya author akan disibukkan dengan kerjaan utama didunia nyata. Novel akan di upload agak terlambat dengan jumlah kata 1000 saja. Jika ada kelebihan waktu maka author akan mengupload 2 chapter.  Terima kasih…


*Bersambung*

__ADS_1


   Untuk membuat author lebih semangat dan tetap berkreasi melanjutkan novel ini, jangan lupa di like, sekedar komen dan vote.


   Terlebih tolong favoritkan novel ini karena Noveltoon akan menilai untuk menjadi pemasukan Author berdasarkan jumlah Favorit, komen dan like … yang tentunya juga menyemangati author. Apresiasi yang readers berikan akan menyemangati autor untuk terus berkarya di Noveltoon ini.


__ADS_2