
Saat itu, di suatu tembok besar sihir yang membatasi dunia wilayah barat yang fana dengan dunia sihir kaum Magi berbagai ras berada, di suatu tanah yang di sebut Tanah Selubung, terlihat empat Magi tua berdiri di satu ruangan besar yang di sebut Arena.
Di tengah-tengah area luas itu juga, tampak melayang-layang dengan aura mistis satu benda berbentuk ukiran naga kecil sebesar lengan orang dewasa. Itulah benda yang menjadi impian semua Magi.
Relikui Naga itu berkelap-kelip lalu menuliskan satu tulisan kuno yang di baca beramai-ramai empat magi senior. Masing-masing Magi mewakili empat ras keturunan yang berkuasa di Tanah Selubung itu, Ras Manusia, Dark Elf, Fey dan Imp.
Empat ras itulah yang menguasai dunia Magi di barat ini, namun ras Imp itu bukan lah kelompok Magi sebenarnya. Mereka tidak dapat mengeksekusi sihir seperti ras lainnya, namun mereka selalu terlibat di dalam peperangan karena ras mereka selalu menjadi pelengkap karena Kelas Caster dari Roh Pahlawan hanya dapat di panggil dan di tundukkan oleh ras Imp itu.
"Seseorang telah berhasil memanggil servant. Dan itu dari kelas Assasin. Masih ada enam slot untuk enam Master yang akan bertarung di dalam perang suci nanti" kata salah satu penatua dari ras manusia.
"Sayang nya Relikui itu tidak mau memberitahukan, siapa saja yang telah dia beri tanda command spell untuk melakukan ritual pemanggilan.
Dengan demikian kita hanya dapat menunggu sampai relikui itu memberitahukan lagi, jikalau semua Roh Pahlawan berbagai klas itu telah lengkap" kata penatua itu muram.
"Sampai berapa lama lagi semua Master perang suci itu menjadi lengkap? Aku takut kalau-kalau Magus yang memperoleh command spell dengan ceroboh memanggil Roh, lalu karna kekuatannya masih lemah dan berani memanggil roh kuat dan ... Well anda tahu sendiri akhir ceritanya bukan?" dengan suram penatua ras manusia itu mengeluh.
Ada terlalu sedikit sekali ras manusia yang menguasai sihir di masa akhir-akhir ini. Lalu ketika satu demi satu Magus ras manusia tewas, dia takut keberadaan manusia di dalam asosiasi Magus itu akan tersingkir dan mereka akan di perbudak ras-ras lain.
******
Matahari baru saja terbenam. Rumah-rumah penduduk mulai menutup jendela dan kerai, dan lampu-lampu minyak mulai di nyalakan. Meskipun keadaan mulai gelap, namun lampu-lampu di rumah penduduk, apalagi di tempat-temat keramaian seperti rumah-rumah hiburan dan tempat makan, tetap terlihat meriah.
Dua sosok bayangan melayang tinggi diatas rumah-rumah penduduk, sambil memandang kearah satu buah rumah besar yang berada tepat di tengah-tengah kota. Ketika Sima Yong mengangkat pandangan kearah barat, dia masih melihat semburat kekuningan, bekas-bekas matahari tersisa senja tadi.
Hari ini dia berencana untuk menyelesaikan salah satu karma yang sudah menjadi agendanya. Ju Kai ! Dan dia berencana untuk melihat aksi pembunuhan yang di lakukan Nevertari, mahluk Roh asassin yang akan menjadi Servant nya selama perang suci nanti.
Pada awalnya gadis kecil itu menolak perintah Sima Yong, untuk dia membunuh Ju Kai..
"Aku menjadi servant mu sebatas yang berhubungan dengan Perang Suci Relikui Naga saja.
Di luar dari pada itu, semua bukan urusanku. Aku akan bergegas meninggalkan dunia ini setelah perang suci berakhir nanti" kata Nevertari tegas.
"Cih.. Kamu bahkan belum menunjukkan kemampuan apa-apa sebagai seorang assasin kepada Master mu ini.
Aku jadi bertanya-tanya. Jangan-jangan kamu hanya membual dan mengarang-ngarang cerita, agar aku berbelas kasihan dan mengajakmu ikut dalam perang suci itu.
__ADS_1
Dan nanti ketika nanti aku memenangkan perang, kamu akan tertawa kegirangan karena ikut-ikutan menjadi tenar lalu memamerkan keberhasilanmu pada semua roh-roh setelah mendompleng kekuatan magecraft ku dalam perang nanti" Sima Yong sengaja memanas-manasi.
Wajah Nevertari berubah menjadi buruk. Katanya...
"Aku tahu kalau kamu hanya mencoba memanas-manasi ku. Akan tetapi aku berpikir, kalau-kalau kamu tidak akan percaya dengan kemampuan ku sebagai Assasin yang melengenda di Mesopotamia dulu.
Mari... Antar aku menuju target mu itu. Dan aku ku pertunjukkan padamua, bagaimana cara kerja seorang assasin yang sesungguhnya" kata Nevertari memasang wajah keji.
"Akan tetapi seperti biasa, ketika aku telah selesai dengan misi membunuhku nanti, kamu harus memberikan sesuatu yang berbau sihir untuk memperkuat diriku. kamu tahu bukan? Mahluk roh gaib seperti kami lebih membutuhkan sihir untuk di konsumsi ketimbang makanan fana" kembali Nevertari menegaskan permintaannya.
Sima Yong hanya melengos dan berkata,
"Bilang saja kalau kamu kepingin makan. Tenang saja.. Ketika kamu sukses dengan tugas mu, dan mempertunjukkan keahlianmu, aku akam memainkan satu lagu sihir untuk kamu konsumsi" kata Sima Yong.
"Sepakat !" jawab Nevertari keras-keras.
******
Mereka berdua memasuki gedung itu. Sima Yong memperhatikan benar-benar, meskipun mengenakan gelang tangan dan kaki demikian banyak, tidak terdengar satu suara pun yang keluar dari tubuh Nevertari. Apalagi dia tidak mengenakan alas kaki sama sekali. Nevertari bergerak tanpa suara, bahkan lebih ringan daripada kapas.
Nevertari, Roh itu bahkan dapat menembus tembok tanpa terjadi apa-apa. Sima Yong yang di pegang tangannya pun ikut-ikutan menjadi bayangan yang dapat menerobos tembok. Dia masuk ke kamar yang sebelumnya telah dia pindai bahwa itu adalah kamar Ju Kai, menggunakan jejak aura dari satu benda kecil peningggalan Ju Kai di Kekaisaran Rajawali Agung sana.
Nevertari memandang kesal ke arah Sima Yong dengan pertanyaannya. Jawabnya,
"Seorang Assasin bekerja seperti pencuri. Dia datang paling awal lalu pergi paling cepat.
Kami tidak akan membiarkan target terlebih dahulu berada di tempat kejadian, lalu dengan ceroboh mencoba menerobos masuk dan menimbulkan kecurigaan.
Semua assasin bekerja dengan diam-diam dan tidak terduga lalu membunuh ketika target lengah. Sekarang waktu nya menunggu dengan sabar.." dia lalu mengabaikan Sima Yong, diam seperti patung
"Roh ini ternyata satu assasin yang hati-hati" batin Sima Yong.
"Lalu mari kita lihat, seperti apa aksinya nanti. Berapa pukulan yang akan dia kerahkan untuk melumpuhkan Ju Kai, seorang Ahli SAGE level satu itu.
Aku kepingin melihat teknik pertempuran dari Negri dia berasal. Apakah tekniknya cukup baik atau tidak" Sima Yong tersenyum dalam hati dengan antusias.
__ADS_1
******
Waktu pun berlalu, malam merayap pelan-pelan meninggalkan waku-waktu senja itu. Kini jam telah menunjukkan tengah malam, burung-burung malam mulai membunyikan suara-suara misterius, itulah saat nya orang-orang untuk berbaring di ranjang dan beristirahat.
Suara pintu kamar terdengar bergeser, pertanda seseorang memasuki kamar itu. Ju Kai melepaskan jubah yang dia kenakan, berjalan pelan-pelan untuk mencuci muka. Ju Kai tidak menyadari warna udara di kamar itu telah berubah menjadi keemasan. Ketika itu Nevertari mengangkat tangannya, seketika ruangan berubah menjadi keemasan.
"Dia menggunakan sihir untuk memblokir ruang dan waktu. Ju Kai telah terperangkap di dalam domain sihirnya" batin Sima Yong.
"Dia memisahkan diri dari dunia luar, tidak menggunakan jimat sama sekali. Kemampuannya cukup baik" kembali Sima Yong menjadi kagum.
Lama kelamaan Ju Kai itu mulai merasa ada yang tidak beres. Dunia terasa begitu hening, tidak terdengar apa-apa dari balik pintu kamar, sedangkan kamarpun berubah warna seperti nuansa keemasan. Ju Kai melompat memburu pedangnya yang dia letakkan di atas meja.
Brak !
Ju Kai menjadi terkejut bukan alang kepalang. Seorang gadis kecil tahu-tahu telah berdiri di meja, kedua kakinya menginjak tangan Ju Kai. Anak dengan dandanan aneh mencolok itu membuat hati Ju Kai menciut seketika.
Dia lalu mengerahkan segenap kemampuannya sebagai ahli peringkat SAGE, untuk menarik tangannya yang memegang pedang di meja. Namun tenaga anak perempuan itu demikian besar. Dia tak dapat menggerakkan tangannya sama sekali.
Dalam kepanikannya Ju Kai mendengar perempuan kecil itu berkata dingin,
"Wajahmu demikian tampan. Sayang sekali kamu harus mati !" Ju Kai panik melihat tatapan keji dari anak perempuan itu. Belum pernah dia melihat seorang anak-anak dengan tatapan jahat seperti itu.
"S-siapa k-kamu !" tanya Ju Kai gugup.
Gadis kecil itu tidak menjawab apa-apa. Dia mengangkat dua tangannya tinggi-tinggi, dimana dua bilah Hidden Blade menyala jahat di tangannya...
"Tolonglah.. Aku dapat memberimu banyak harta.." tangis Ju Kai.
Gadis itu tidak menjawab, hanya tatapan keji nya yang berbicara. Lalu mengayunkan dua tangan yang menggenggam hidden blade, membantu silang X.
Ju Kai tewas tanpa mengeluarkan suara sama sekali tubuhnya terbelah dua dengan darah berhamburan. Herannya, irisan di tubuh Ju Kai demikian rapih, seolah-olah irisan itu di kerjakan dengan suatu mesin pemotong.
Sima Yong tersenyum puas. Nevertari cukup layak untuk membantu dia dalam peperangan Suci, untuk menjadi Servantnya dan memanggil dia dengan panggilan Master.
*Bersambung*
__ADS_1
Halo semua. Terima kasih sudah membaca dan menyukai Novel ini. Dan untuk membuat author lebih semangat lagi, selalu berikan like ya. Jangan lupa favoritkan dan rekomendasikan novel ini kepada yang lain... Terima kasih dan semangat membaca...