
Peta Realm Magical Beast
Sementara itu ketika Mismaya tengah melakukan uji coba penerbangan menggunakan Sayap Komet Petir, dengan takut-takut Alkemis itu membuka percakapan dengan Sima Yong.
"Er. tuan muda" dia suaranya terdengar ramah dan berhati-hati.
"Jika anda tidak keberatan, dapatkah aku bertanya? Siapa alkemis yang membuat Belati Tepian Waktu itu?
Dan apakah efek yang di hasilkan belati peringkat Dao seperti itu? Harap maafkan ketidak tahuan diriku ini. Aku hanyalah seorang alkemis yang banyak membuat benda-benda sihir. Keterbatasan energi sihirku membuat kemampuan menyuling senjata tempur roh adalah tindakan yang mustahil" tanya Thelthorn.
Sima Yong tidak melirik sedikitpun. Katanya,
"Aku sendiri yang menyuling belati itu. Di negri yang aku datang sebelumnya, aku di kenal dengan sebutan Refiner Kelabu.
Aku perlu menjelaskan, di luaran sana pekerjaaan menyuling senjata tempur roh seperti itu di namakan Refiner. Bukan Alkemis.
Alkemis adalah seseorang yang lebih banyak membuat ramua-ramuan untuk meningkatkan kultivasi seorang praktisi" kata Sima Yong.
Dengan terkejut Alkemis itu berkata,
"Anda yang menyuling senjata roh itu?" tatap Thelthorn tak percaya. Dia heran, sejak awal-awal dirinya telah melakukan pemindaian untuk mencari tahu kekuatan jiwa anak muda ini namun hasilnya nihil.
Kini dengan penuh percaya diri anak muda ini mengatakan kalau dialah sang penyuling atau refiner dari Belati Tepian Waktu? "Ho - ho .. mimpi mu terlalu jauh anak muda !" batin Thelthorn mencemooh.
"Ku akui kemampuan mengolah ototmu hebat sehingga dapat mengecil seukuran peri. Namun untuk menyuling senjata artefak peringkat Dao? Hm.. Selera makanmu terlalu besar di banding kemampuanmu" tanpa sadar dia mencibir.
Alkemis ini betul-betul tidak percaya dengan usia yang demikian muda, Sima Yong mampu menyuling senjata peringkat Dao, Belati Tepian Waktu tadi contohnya.
Kembali dia mengolok-olok Sima Yong di dalam hati,
"Bukankah untuk menyuling senjata peringkat Dao, di butuhkan kekuatan batin setingkat Dao? pria ini terlalu muda untuk seseorang yang layak di sebut penyihir berkekuatan Dao" cibir Thelthorn dalam hatinya.
Namun alkemis peri itu seketika menjadi terkejut. Anak muda bebaju kelabu itu seperti mampu membaca suara hatinya. Ia terlihat menatap Thelthorn dalam-dalam dan berkata dengan dingin,
"Anda tidak pecaya bukan? kalau aku yang menyuling Belati Tepian Waktu?" suaranya terdengar datar.
"Mungkin ini dapat membuktikan kalau aku seorang penyuling senjata peringkat Dao" kata Sima Yong - ia tak jua melepasakan tatapannya dari bola mata Thelthorn. Alkemis itu seketika pening.
Belum lagi alkemis peri itu menjawab kata-kata Sima Yong, mendadak dia merasa dunia di hadapannya menjadi kosong, hampa. Dunia lalu cepat berubah menjadi kilatan cahaya dan diantara kilatan cahaya itu ada satu pasang mata yang sangat besar membuat bulu kuduk meremang, tatapan itu menusuk kuat kedalam benak nya. Itu adalah tatapan dingin dan tanpa perasaan.
__ADS_1
Bibir Thelthorn menjadi kelu, tak dapat berkata-kata lagi. Semua terasa hampa dan kosong. Thelthorn lantas terjatuh dalam keadaan tidak sadarkan diri. Dia mengalami trance dalam tiga tarikan napas. Thelthorn saat ini merasa dirinya seolah-olah dia telah mati dan tengah berhadapan dengan Giam Lo-Ong atau Raja Neraka yang tengah menghakimi dosa-dosa nya tanpa belas kasihan.
Tiga tarikan napas berlalu, lalu Thelthorn mendengar satu suara lembut berbisik di telinganya.. "Bangun !"
Alkemis Thelthorn langsung tersadar, dia kembali terbangun di dalam ruang workshop nya di Kota Klan Peri..
"A-apa aku masih hidup?" tanyanya. Dia melihat di depannya berdiri si anak muda berbaju kelabu tadi.
Pelan-pelan memory nya kembali terisi penuh dan dia langsung teringat sesuatu
"Serangan jiwa ! Anak muda ini seorang ahli pertempuran jiwa di peringkat Dao !
Celaka ! aku telah memandang rendah dirinya dua kali.
Sepertinya ia mampu membaca pikiran !" Thelthorn menjadi panik.
Alkemis Theltrhorn lantas berjalan menggunakan lututnya dan menyembah Sima Yong. Katanya dalam nada pilu,
"Dewa .. maafkan aku tidak melihat seorang ahli seperti anda. Keberadaan dan kemampuan anda hanya ada di salinan-salinan kuno tentang keahlian kaum Elf-elf penghuni mula-mula dunia ini.
Maafkan kebodohanku yang picik ini" Alkemis Theltrhorn membentur-benturkan kepalanya di lantai sebagai tanda penyesalan. Suara tangisan nya demikian teratur seperti orang tengah melantukan lagu sedih.
Master Dao adalah peringkat kedua tertinggi sebelum Master kekuatan Immortal. Namun keberadaan ahli-ahli penyerang jiwa berkekuatan Dao ini hanyalah menjadi dongeng yang di ceritakan dari mulut ke mulut di sejarah Benua Silver.
Tentu saja, melihat sosok di depannya seorang master Dao, tentu saja Thelthron menjadi ketakutan, setelah sebelumnya sempat meragukan kemampuan pria ini.
Masih dalam ratapannya di kaki Sima Yong, anak muda itu lantas berkata,
"Berdiri ! Aku telah mengampuni selembar jiwa mu tadi.
Kalau saja aku mau, aku dapat membakar jiwamu sehinga kamu mati tanpa pernah bisa ber-inkarnasi lagi"
Bum ! Theltrhorn mengigil mendengar kata-kata dingin itu.
Mati adalah mati. Semua orang akan mati. Namun mati dengan jiwa terbakar, lalu lenyap dan tidak pernah dapat ber-inkarnasi lagi? Tunggu dulu batin Thelthorn. Dia membuang jauh-jauh keangkuhannya di hadapan master ini. Memelas adalah jalan merendahkan diri namun menyelamatkan nyawanya.
Pria berbaju kelabu itu lantas mengajukan satu pertanyaan yang sulit di bantah. Katanya..
"Jika aku meminta sesuatu milikmu yang berharga, apakah kamu bersedia memberikannya?"
Buru-buru Alkemis itu menjawab,
__ADS_1
"Thelthorn telah membuat kesalahan di hadapan dewa. Kini selembar jiwa hina ini adalah milik tuan. Apapun permintaan dewa, Thelthorn akan berupaya menyerahkannya" jawab Theltrhorn.
"Bagus !" kata Sima Yong gembira. Lanjutnya..
"Aku minta salinan dan teknik cara membuat benda sihir seperti sayap yang kamu jual itu.
Rincikan dengan bahan-bahan serta jenis mantra yang di perlukan untuk mengerjakan benda-benda sihir, semua yang anda ketahui.
Pindahkan ke dalam slip giok ini. Kapan-kapan aku akan mempelajari cara membuat benda sihir seperti artefak dan lain sebagainya" kata Sima Yong.
Meskipun wajahnya berubah menjadi gelap. Biar bagaimanapun masalah resep dan mantra sihir, itu semua selalu menjadi rahasia seorang Alkemis. Kalaupun di turunkan, biasanya mereka meminta kompensasi berupa barter resep dan mantra atau sejumlah Eliksir merah jambu.
Namun dalam hal ini Thelthorn tidak punya pilihan lain selain bergegas memenuhi semua permintaan Sima Yong dengan cepat. Dia memindahkan semua resep dan mantra, termasuk salinan teknik dan blue print pembuatan benda sihir atau yang di kenal dengan sebutan artefak. Komplit dengan mantra serta bahan-bahan yang di perlukan dalam pembuatannya.
Sambil menunduk Theltrhorn menyerahkan slip giok itu kepada Sima Yong,
"Terimalah slip giok berisi semua catatan dan pengetahuan hamba.
Mohon agar dewa tidak menaruh dendam atas perbuatan meremehkan selama kunjungan anda di toko hamba yang sederhana ini"
Sima Yong hanya melambai tangan memerintah alkemis itu pergi. Thelhron mundur pelan-pelan ke dalam bilik nya.
******
Saat ini Sima Yong telah meninggalkan perkampungan Klan Peri itu bersama Mismaya. Mismaya tampak sangat senang dengan sayap nya yang baru, sementara Sima Yong terbang mengikutinya menggunakan angin yang dikendalikan dengan teknik chakra.
Dengan cepat keduanya telah meninggalkan rawa-rawa perkampungan Klan Peri, terbang menyusuri Sungai Hutan Mistis menuju Buikit Sihl. Mismaya berteriak melawan angin kepada Sima Yong.
"Tuan muda, kita harus mampir di perkampungan Klan Beruang. Di sana kita harus membeli peta di Toko Klan Beruang yang khusus menjual peta Realm Magical Beast ini" kata Mismaya.
"Tidak masalah !" jawab Sima Yong.
Dua sosok itu terbang dengan kecepatan tinggi menuju Klan Beruang sesuai petunjuk Mismaya. Mendadak langit berubah warna menjadi ungu, suara dengungan sayap seperti suara kepakan sayap capung terdengar keras di depan Sungai Hutan Mistis.
Tampak lebih dari seratus mahluk kecil bersayap dengan senjata anak panah - mereka melayang dengan posisi siap bertempur, menanti keduanya tiba di pinggir sungai.
"Pasukan kaum Daeva" desis Mismaya takut.
Bersambung
Halo semua. Terima kasih sudah membaca dan menyukai Novel ini. Dan untuk membuat author lebih semangat lagi, selalu berikan like ya. Jangan lupa favoritkan dan rekomendasikan novel ini kepada yang lain... Terima kasih dan semangat membaca. <3
__ADS_1