
ARC 8.1. Dewa Puncak Himalaya
Ket : Arc ini masih masuk dalam ARC 8 sebelumnya, namun author membagi Arc 8 ini menjadi beberapa judul yaitu 8.1, 8.2 dan seterusnya..
******
Sosok bayangan itu terlihat laksana kilat yang melaju diatas jurang batas antara tepian Barat menuju Barat Daya dunia. Jika saja kamu bukan satu praktisi yang mampu menangkap gerak cepat kaum pengejar keabadian itu, pasti kamu akan mengira itu adalah satu kilat yang terlepas dari langit.
Dengan kultivasi yang tinggi yaitu Alam Melintas Immortal, boleh dikatakan jago kita ini telah mampu melakukan tindakan-tindakan melawan hukum alam dunia Universe KDPU ini.
Misalnya saja ketika penerbangan yang dilakukan oleh Sima Yong menuju Negri Tumbuhan Obat, perjalanan umum menggunakan airship yang biasa memakan waktu sepuluh hari, maka dengan kecepatan terbang di ranah kultivasi itu membuat ia hanya menempuh perjalanan dua hari dua malam saja.
Dengan ritme terbang seperti cahaya itu, ia sama sekali tidak mengalami hambatan dari Dark Beast dan mahluk-mahluk ajaib lainnya, yang biasa nya mengganggu perjalanan para pelintas antar wilayah. Misalnya saja saat ini ia tengah melakukan penerbangan 500 kaki dari atas tanah, tiba-tiba muncul sekelompok hewan ganas yaitu Gagak Hitam mahluk sihir.
Gagak Hitam ini meskipun badannya terbilang kecil, akan tetapi Gagak Roh ini adalah mahluk dark beast peringkat Kaisar Enam atau setara Alam Pencerahan Suci level sembilan. Jelas saja kekuatan ATK mahluk kegelapan ini setara dengan serangan Attack sebesar paling kurang lima juta jin.
Sepuluh gagak dark beast berdiri angker di kejauhan jarak dua lie, siap-siap memangsa jago kita ini. Dengan suara mengkaok-kaok yang menimbulkan perasaan gentar bagi siapapun yang mendengar, mereka membuat keributan di udara.
Sekonyong-konyong..
Baru saja sepuluh dark beast itu akan menerjang kearah Sima Yong, mendadak badai angin tornado lokal datang melanda.
Blam !
Gagak-gagak bengis itu terbelah menjadi beberapa bagian, di cabik angin badai dari berbagai arah, lalu terhempas jatuh jauh kedalam jurang perbatasan. Cahaya kilat itu terbang melintasi bekas amukan teronado yang masih menyisakan bulu-bulu melayang si mahluk malang, Gagak Hitam.
Sejak saat itu, tidak ada lagi mahluk-mahluk udara yang menghalangi kemana ia pergi. Bahkan jauh-jauh hari ketika mereka mendengar suara gemuruh seperti guntur dengan aura Alam Melintas Immortal yang dengan sengaja ia keluarkan, maka perjalanan mulus menuju Negri Tanaman Obat Dunia tidak lagi menemui kendala.
******
Hari kedua ketika dengan selalu mengecek peta yang ia beli ketika di barat sana, ia merasa Negri Tanaman Obat yang dia tuju telah semakin dekat.
"Tanah-tanah berjurang curam serta pohon-pohon lima musim mulai tampak. Negri Tanaman Obat Dunia di depan mata" batinnya gembira.
Sima Yong trus melakukan penerbangan solo, dan kian lama ia harus terbang menanjak karena dataran tinggi dan curam ini mengarahkan dirinya untuk menanjak. Pada akhirnya di ketinggian 1500 kaki dari permukaan tanah, ia melihat hamparan padang luas, dan bukit-bukit terjal lainnya.
__ADS_1
Kini sambil terbang rendah ia tersenyum sambil melambaikan tangan kepada para anak-anak pengembala Takin (semacam kambing) yang melompat-lompat girang berteriak dengan keras karena takjub melihat manusia yang melakukan atraksi terbang seperti itu.
"Orang Suci - itu orang suci !" teriak mereka melambaikan tangan, setelah sebelum nya membungkuk lalu berlari-lari gembira mengikuti Sima Yong.
Pada akhirnya Sima Yong turun dan mendekati anak-anak itu yang kini mengerubungi dirinya, agak takut-takut namun penuh minat.
"Salam anak-anak" kata Sima Yong. Ia merangkapkan dua tangan di dada karena tidak tahu tata cara memberi salam di tempat ini seperti apa.
"Apakah kalian bisa membantu ku?" tanya nya ramah.
Spontan lima anak itu membungkuk dalam-dalam dan berkata "Salam juga orang suci. Apa yang akan menjadi pertanyaan Tuan?" tanya salah satu anak yang terlihat pemberani.
"Dapatkah kalian menunjukkan kepadaku, dimana letak kota atau desa terdekat dari sini? Aku seorang kelana yang akan pergi ke Selatan Benua. Karena nya akan lebih mudah jika aku memperoleh peta yang menjadi pengarah tujuanku ke ke Selatan benua, yaitu ke Negri Menhu" jawab Sima Yong.
"Kami semua tinggal di desa terdekat bernama Desa Surya. Jika Tuan Suci ingin bersama kami menuju ke desa, Tuan dapat menunggu sebentar. Hari menjelang sore dan sebentar lagi hujan turun. Saat nya kami pulang ke rumah" jawab anak yang bernama Jampa.
Sima Yong mengiyakan dan dengan sabar menunggu Jampa mengumpulkan Takin hewan peliharaan nya, lalu Jampa mengucapkan salam perpisahan dengan kawan-kawannya dan bersama Sima Yong menuju Desa Surya.
Perjalanan menuju Desa Surya yang hanya berpenduduk 100 keluarga itu memakan waktu lebih dari satu jam perjalanan. Dan Desa Surya sendiri adalah satu desa yang cukup terkebelakang dengan kehidupan yang sederhana.
Ia dengan sopan menerima tawaran tuan rumah, ayah Jampa yang menawarkannya untuk bermalam di rumah mereka barang semalam, dan melanjutkan perjalanan menuju ibukota Negri yang hanya berjarak Seratus lie dari Desa Surya.
"Negri kami Negri Tanaman Obat adalah satu negri kecil dengan jumlah penduduk yang juga sedikit.
Namun berkat lindungan dewa-dewa, semua rakyat tidak pernah mengalami kesusahan dan kemelaratan. Wabah penyakit dan perang juga tidak pernah terjadi di negri kami ini.
Mungkin karena letak kami yang sangat jauh dari negri-negri lainnya dan juga berkat lindungan dan berkat surgawi dari Dewa Puncak Himalaya sehingga kami di tanah ini aman dari mara bahaya" kata Imay, begitu nama ayah Jampa.
Sima Yong mengangguk-angguk kepala. Ia menghargai semua kepercayaan dan adat dari tempat dimanapun dia berkunjung.
"Apakah kalian juga penganut penyembah Dewa Puncak Himalaya?" tanya Sima Yong berbasa-basi. Ia kembali menyesap minuman hangat itu.
"Ya tentu saja. Kami adalah penyembah Dewa Puncak Himalaya itu.
Bahkan anak gadis kami yang paling tua bernama Rani, juga telah kami persembahkan untuk Dewa Puncak Himalaya junjungan kami" jawab Imay dengan bangga. Ia meremas tangan isteri nya dan keduanya saling berpelukan mesra.
__ADS_1
"Kehidupan kami jauh membaik setelah kami mempersembahkan Rani untuk menjadi pelayan Dewa Puncak Himalaya...
Lihatlah sekarang. Berkat Sang Dewa, Jampa adik Rani kini memiliki ternak Takin hingga puluhan. Sebentar lagi mungkin ratusan. Kami beruntung.." kata Imay yang kini membelai rambut Jampa anaknya.
Jampa sendiri menunduk dan tidak bicara sama sekali. Sima Yong menangkap raut sedih di wajah Jampa, yang dengan cepat anak kecil itu merubah air mukanya menjadi tenang kembali. Sekonyong-konyong Jampa berkata dengan takut-takut...
"Ayah.. Tuan Yong ini, maksudku Tuan suci ini juga memiliki kemampuan terbang seperti Dewa Puncak Himalaya !" ia mendongak menatap ayah nya yang kini air muka nya berubah mendengar kata-kata Jampa.
"Hentikan Jampa!. Tidak ada serorangpun di dunia ini yang dapat terbang seperti Dewa Puncak Himalaya.
Tidak ada yang sesakti dan sehebat Dewa Puncak Himalaya.
Lalu berhentilah kamu untuk berharap seseorang yang dapat melawan dewa!" kata Imay membentak Jampa. Ia lalu celingak-celinguk menoleh kekiri dan ke kanan seperti takut-takut kalau pembicaraan mereka di dengar seseorang.
Sima Yong yang sejak awal diam dan mengangguk-angguk kepala saja, kini tiba-tiba menjadi tertarik.
"Sebentar Tuan Imay. Apakah aku salah mendengar? Maksudku adalah, apakah Dewa Puncak Himalaya itu adalah sosok yang masih exist keberadaannya? Jelasnya lagi dia yaitu dewa yang kalian sembah itu adalah mahluk hidup?" tanya anak jago kita penasaran.
Dengan suara bergetar Imay menjawab,
"Benar adanya. Dewa Puncak Himalaya itu adalah mahluk hidup. Dia adalah sosok dewa yang tersisa di dunia ini. Dia dapat terbang tinggi tanpa menggunakan sayap.
Sampai-sampai tempat tinggalnya jauh di salah satu puncak pegunungan Himalaya, puncak Timur pegunungan itu yang dekat dengan Negri Tanaman Obat ini.
Tidak ada manusia yang dapat terbang hingga ketinggian 40.000 kaki, lalu hidup di tempat dingin seperti itu bukan?"
Imay diam sebentar. Lanjutnya..
"Setiap dua bulan sekali Sang Dewa akan turun dari Puncak Himalaya dan mengambil persembahan dari semua pemujanya.
Dewa tidak meminta persembahan uang atau makanan. Dewa hanya menerima persembahan gadis-gadis yang masih perawan dari pemujan nya" pungkas Imay dalam nada bergetar.
"Ini aneh.. Ini tidak benar" batin Sima Yong.
Bersambung
__ADS_1
Halo semua. Terima kasih sudah membaca dan menyukai Novel ini. Dan untuk membuat author lebih semangat lagi, selalu berikan like ya. Jangan lupa favoritkan dan rekomendasikan novel ini kepada yang lain... Terima kasih dan semangat membaca. <3