
Di waktu yang tersisa ketika langit masih gelap itu keduanyan - manusia dan peri itu isi dengan menyantap Madu Lebah Merah yang di beli di Kota Boneka Roti.
"Ternyata madu olahan yang diambil dari hasil Lebah Merah ini sangat membantu orang menjaga konsentrasinya.
Aku pikir madu ini akan cocok dikonsumsi ketika seseorang tengah bermeditasi untuk menerobos ranah kultivasinya" kata Sima Yong sambil menatap dua botol kosong yang mereka habiskan.
"Dan tenagaku seketika pulih kembali seperti start mulai dari angka nol" timpal Mismaya sambil tertawa. Keduanya lantas melanjutkan masa istirahat dengan berbincang-bincang ringan seputaran Madu Lebah Merah serta khasiatnya.
Lalu waktu pun berlalu dengan cepat. Tak terasa di ufuk timur warna kuning keemasan telah muncul, terlihat malu-malu pertanda matahari segera akan segera menyinari seluruh kawan Realm ini.
"Mari kita bergegas menembus Padang Tengkorak itu. Menurut perhitungan di peta, waktu terbang kita akan dilakukan selama dua hari, dan tentu saja itu tanpa memperhitungkan waktu istirahat" kata Sima Yong.
Dalam sekejap mata, penerbangan sebagai seorang ahli di ranah Alam Melintas Immortal, Sima Yong telah memangkas waktu melewati lebih dari empat bagian jarak hanya ketika hari baru akan menjelang senja. Ia bahkan menginstruksikan Mismaya untuk menumpang di pundaknya, karena di rasanya Sayap Komet Petir itu bergerak terlalu lambat.
Karena pendapat Sima Yong, bahwa dengan menyusuri sisi-sisi sungai adalah lebih mudah dan aman dari pada melewati Padang Tengkorak, maka sejak awal-awal ia hanya terbang ketinggian pendek diatas tanah, mengikuti alur Sungai, berharap dapat mencapai Kota Klan Roc.
Mendadak..
"Kabut.." desis Sima Yong.
Kabut tebal di hadapan mereka dengan cepat menutupi jalan dan pandangan untuk menyusuri sungai yang telah menjadi pedoman dua orang itu.
"Aku menduga kabut ini adalah kabut sihir yang bahkan tidak akan ditembus meskipun aku terbang tinggi.
Ada yang dengan sengaja memasang kabut sihir ini agar semua pengelana yang akan melintas sungai menuju Kota Klan Roc, harus berbelok dan terpaksa melewati Padang Tengkorak sana" kata Sima Yong sambil menunjuk ke arah padang terbentang yang terlihat kering - dipenuhi tanaman-tanaman rumput yang layu berkesan sepi itu.
"A-apakah kita akan melewati padang itu tuan muda?" tanya Mismaya agak takut-takut.
"Ya.. hanya itulah satu-satunya jalan untuk menuju ke Kota Roc" kata Sima Yong.
"Makhluk berekor enam itu dengan sengaja meletakkan sihir aneh Benua Timur mereka agar tidak nanti jampi-jampi dapat diutak-atik oleh sembarang ahli.
Mari kita melewati padang kering itu" kata Sima Yong acuh tak acuh.
Ia pun lalu terbang berbelok kekiri dan mulai memasuki kawasan yang dinamakan Padang Rumput Tengkorak.
"T-tuan muda.. a-apakah ini akan baik-baik saja?" tanya Mismaya takut-takut.
"Yang ku dengar makhluk Penguasa Padang Tengkorak ini merupakan makhluk setengah dewa" lirih terdengar suara Mismaya.
__ADS_1
Memang benarlah apa yang dikatakan Mismaya. Ketika mereka berdua baru saja menembus ke Padang Tengkorak, seketika suasana terasa berubah drastis.
"I-ini adalah.." kata Mismaya ketakutan. Mata nya bergerak-gerak pertanda tidak nyaman.
"Tidak usah khawatir.." kata Sima Yong sambil meneruskan penerbangannya memotong jalur tengah-tengah Padang Tengkorak.
Memang sejauh mata memandang yang terlihat hanyalah rerumputan kering, campuran warna coklat dan kuning oranye. Terkadang penampakan batang pohon kering tanpa daun, adalah merupakan pemandangan istimewa setelah mata terasa bosan memandang rumput kering. Belum lagi sebentar-sebentar bayangan tulang belulang serta tengkorak-tengkorak yang menghiasi padang suram itu.
Saat itu langit mulai terlihat berwarna jingga dengan matahari hampir terbenam berhiaskan awan-awan bergerak yang memancarkan warna bernuansa jingga dan ungu. "Mirip permata yang telah tua" batin Sima Yong. Iya tak mau membuat Mismaya kuatir.
Namun tanpa diminta, peri itu mengungkapkan kekuatirannya..
"Tidakkah tuan muda merasa dunia di padang rumput ini seperti terlihat letih? Aku sendiri merasa seperti lelah jiwa dan hatiku ketika melihat matahari yang tampak tua dengan semburat warna yang serba layu ini" kata Mismaya pelan-pelan.
Sima Yong mengangguk pertanda setuju. Ia merasa pernah berada di satu tempat yang agak mirip dengan situasi disini. Itu adalah tempat di domain tersembunyi Elf abu-abu yang memiliki dua matahari (belakangan ia tahu kalau semua itu hanya ilusi kelas dewa yang dibuat Elf-elf berkekuatan sihir tinggi) di wilayah barat benua ini.
Melihat tuan mudanya berubah menjadi lebih serius, maka Mismaya pun menghentikan pertanyaan-pertanyaan konyolnya, demi mengurangi ketegangan di dalam benaknya.
Tidak membutuhkan waktu terlalu lama, ketika pada beberapa saat Sima Yong melihat satu gubuk besar yang terbuat dari jerami tua dan layu bernuansa kuning orange, masih terlihat berdiri kokoh di tengah-tengah padang rumput itu.
"Kita akan berhenti sebentar. Sepertinya aku harus bertempur dengan sesuatu yang menjadi penguasa di Padang Tengkorak ini" kata Sima Yong.
Dari kejauhan, di jarak sekitar satu lie ia melihat satu sosok pria usia empat puluhan tahun, mengenakan jubah putih panjang - demikian panjang sehingga menjulai melebar dan membujur sejauh beberapa tombak ketika pria itu tidur malas-malasan di atas sebatang dahan pohon kering, letaknya tepat di samping gubuk itu. Wajahnya terlihat terlalu tampan dan aneh untuk kebanyakan rupa manusia biasa.
Kibaran jubah panjang pria itu terlihat seperti gerakan penari - melayang gemulai ditiup angin senja - sepertinya bahan jubah itu adalah sutra yang langka, semuanya menambah kesan mistis terhadap penampilannya. Mata pria itu terpejam dengan ekspresi santai, layaknya raja tengah beristirahat di taman kekaisaran.
"Dia telah datang..!"
"Dia telah datang..!"
"Habisi dia !"
Sima Yong tiba dalam mode terbang tepat di samping gubuk tua itu, tetap melayang dengan ketinggian tertentu dan berbicara memecah keheningan yang terasa aneh itu (hening sekali hanya suara gagak yang berteriak sehingga terasa aneh dan berada di satu tempat pembantaian).
"Anda telah menungguku bukan?" kata Sima Yong datar.
Pelan-pelan dengan gaya seperti bangsawan, pria itu membuka matanya. Katanya sambil tersenyum tipis,
"Anda sungguh seorang yang sangat pintar. Dari mana anda tahu kalau aku tengah menanti kedatanganmu?" tangan pria itu. Dia melambaikan tangan lalu mulut gagak yang berteriak itu seketika terkunci dan terdiam.
"Hm aku bukanlah seorang yang bodoh. Di Realm Magical Beast ini, yang kudengar bahkan angin dapat berbicara. Tentu saja anda telah mendengar kisahku ketika membunuh Jormungandr itu" kata Sima Yong.
"Plok - plok- plok !" dia bertepuk tangan. jawabnya.
__ADS_1
"Selain pintar dan cerdas, ternyata anda seorang yang pemberani. Dengar kataku.." kata pria itu.
"Aku memikirkan kemampuan anda yang demikian hebat. Bahkan Jormungandr yang kabarnya adalah keturunan dewa petir itu harus takluk di tanganmu.
Karenanya aku ingin membuat kesepakatan dengan anda.. perkenalkan. Aku dikenal dan di panggil dengan sebutan Tuan Dermawan. Siapa namamu anak muda?" tanya Tuan Dermawan.
Sima Yong tertawa kecil mendengar kata-kata lembut dari Tuan Dermawan.
"Yang kudengar, penguasa di Padang Tengkorak ini bernama Tuan Dermawan Ke enam. Aku menjadi bertanya-tanya..
Apakah yang anda sebutkan nama Tuan Dermawan itu adalah sosok yang sama dengan Tuan Dermawan ke enam? Namaku Sima Yong. Aku berasal dari dunia luar"
Pria itu lantas memperlihatkan ekspresi seperti orang terkesan. Lanjutnya dengan kata-kata manis ...
"Ah... Tuan Sima Yong rupa-rupanya. Dan anda telah mendengar nama Tuan Dermawan keenam?" dia tertawa kecil.
"Akulah Tuan Dermawan keenam.
Aku menunggu anda disini untuk menawari anda sejumlah harta dan jabatan" dia bertepuk tangan..
Plok - plok ! tepuk tangan sekali lagi.
Sebuah penampakan istimewa tampak di depan mata. Ada banyak sekali bahan-bahan istimewa berupa herbal, ginseng dan jamur yang mahal serta langka di dunia luaran. Belum termasuk jutaan Eliksir berwarna merah jambu yang berkilauan, membuat Mismaya sampai berdecak kagum.
Tuan Dermawan keenam melanjutkan,
"Semua harta ini akan menjadi milik anda, sepanjang anda membatalkan keinginan untuk meneruskan perjalanan menuju Bukit Sihl" kini suara Tuan Dermawan keenam terdengar tegas.
Sima Yong kembali tertawa kecil. Katanya,
"Dan jika aku menolak penawaran ini?"
Hening sejenak. Lalu Tuan Dermawan berkata dingin..
"Jika anda menolak penawaran ini, maka anda harus mati"
Aura berenergi listrik seketika memenuhi tempat itu, hingga pada jarak satu lie. Mismaya langsung jatuh pingsan.
"Dan aku menolak tawan anda !" kata Sima Yong tak kalah dinginnya..
"Kalau begitu anda harus mati sekarang !"
Jubah panjang Tuan Dermawan seketika tersibak. "Bum !" enam ekor yang panjang dengan ujung bergerigi seperti bentukan petir lantas berdiri dan mengancam Sima Yong.
__ADS_1
Bersambung
Halo semua. Terima kasih sudah membaca dan menyukai Novel ini. Dan untuk membuat author lebih semangat lagi, selalu berikan like ya. Jangan lupa favoritkan dan rekomendasikan novel ini kepada yang lain... Terima kasih dan semangat membaca. <3