Kisah Dewa Pedang Utara

Kisah Dewa Pedang Utara
Gadis itu Bernama Lin Hong


__ADS_3

Meirenyu menajamkan indra pendengarannya. Dia tertarik mendengar percakapan antara Pria berbusana putih bernama Cui Cheng Gong itu.


Pria berbusana serba ungu yang rupanya memiliki nama Xia Geng melirik kearah dua orang temannya. Keduanya mengangguk kepala, lantas keduanya meninggalkan restoran itu.


"Aku telah menginstruksikan dua anggota Klan Xia kami untuk menemui Senior Mao Kang yang masih menunggu kedatangan dua target kita di Kota Cahaya Barat. Siapa menyangka jikalau Ketua Cui telah mendahului dengan meringkus dua bocah itu..." Xia Geng terkekeh senang.


Dia membayangkan bahwa Senior Mao Kang itu demikian senangnya dan akan memberikan kompensasi yang pantas atas jerih lelahnya.


"Ketua Cui tidak perlu merasa ragu, Senior Mao akan memberikan kompensasi yang sepadan atas jerih lelah anda. Bukankah anda menargetkan Pil Penembus Kultivasi untuk menerobos Alam Raja?"


"Yang kudengar... Klan iblis telah mengeluarkan demikian banyak pil dan energi stone untuk siapapun yang berjasa menemukan jejak dua orang penyihir itu" XIa Geng terlihat menenangkan Cui Cheng Gong.


"Apakah kita sudah dapat melihat dan memverivikasi bahwa target itu adalah orang yang benar? Aku penasaran, apakah orang yang anda tangkap itu betul-betul seperti yang Klan Xia dan ras iblis inginkan" Xia Geng mengajak Cui Cheng Gong pergi.


Kedua orang itu lantas berbegas meninggalkan Restoran lalu menghilang di kegelapan malam. Mereka terbang menuju kemana ketua Klan Unta Putih menyembunyikan tawanan.


Tanpa mereka sadari, sesosok bayangan dengan ketat membuntuti mereka. Tidak terdengar suara atau gerakan apapun yang timbul dari sosok yang mengekor mereka. Seandainya mereka tahu pun, pasti keduanya akan terkejut jika mengetahui kultivasi penguntit itu.


Cui Cheng Gong mengajak Xia Geng kearah yang ber- lawanan dengan lokasi dimana Sekte Unta Putih berada. Mereka lalu masuk ke dalam sebuah gua diantara tanah gersang penuh batu itu.


Terdapat puluhan penjaga dalam balutan warna putih bergambar unta dan gunung, yang berdiri dengan waspada menjaga gua itu.


"Aku membawa tamu yang ingin menemui tawanan" Kata ui Cheng Gong.


Seorang pengawal menekan sebuah tombol di dinding goa, lalu pintu goa terbuka, membiarkan Cui Cheng Gong bersama Xia Geng melangkah masuk.


Keadaan didalam ruangan goa itu tidak lah gelap seperti perkiraan dari luar. Cahaya dalam goa cukup terang, dimana banyaknya lampu penerangan yang menempel di dinding goa.


Seorang gadis terlihat duduk terkulai di sudut ruangan. Tangannya di rntai dengan ketat, serta sebuah rantai besar mengeliling lehernya, sehingga dia terlihat seperti kerbau yang diikat.


Melihat kedatangan Cui Cheng Gong, gadis itu me- nengadahkan kepalanya lalu memaki,


"Cui Cheng Gong manusia rendah. Kalau kamu benar-benar seorang pria sejati, lepaskan rantai di leherku ini dan biarkan aku bertempur satu melawan satu denganmu. Kita bertempur 100 jurus. Aku ingin melihat apa kamu akan mampu melawanku"

__ADS_1


Meskipun suaranya hanya menyerupai desisan karna sepertinya dia memaksakan diri berbicara dengan sisa kekuatan, namun sinar mata gadis itu sungguh berapi-api. Dia terlihat sangat benci dengan Cui Cheng Gong.


Sambil tertawa meremehkan Cui Cheng Gong meludah,


"Omong kosong !... kalian semua penyihir hanya mengandalkan kekuatan ilusi semata lalu menakut-nakuti orang. Padahal sesungguhnya kekuatan fisik tempur kalian lemah".


"Aku berani taruhan untuk bertempur melawan guru kamu penyihir itu. Aku yakin dalam beberapa gebrakan saja dia akan terbirit-birit lari" Dengan tawa yang terdengar menjijikkan Cui Cheng Gong terkekeh.


Sinar Mata gadis yang ditawan itu seketika memancarkan tatapan penuh kejijikan, dengan nada menghina dia berkata


"Mulutmu terlalu busuk karena banyak membual. Guruku itu sebelum menghilang beberapa tahun lalu saja telah memiliki kultivasi di ranah Alam Raja Bintang dua. Sedangkan kamu? sejak pertemuan pertama dengan guruku... kultivasi kamu hanya tersendat di Kuasi Alam Raja. Jika kamu tidak meracuniku dengan bius pelemah kultivasi dan mengikat jiwaku dengan besi terkutuk ini, sudah jauh hari kamu aku bunuh"


Mulut gadis itu setajam pedang. Lontaran kata-kata pedas itu membuat Cui Cheng Gong ingin mencekiknya. Dengan kasar Cui Cheng Gong menendang dada gadis itu sehingga dia jatuh pingsan.


"Anda dapat melihat bukan? Gadis itu mengaku dia adalah murid dari penyihir yang menjadi target penangkapan Klan Xia anda dan Klan ras iblis. Apakah anda telah tenang setelah melihat gadis itu?"


"Lin Hong adalah nama gadis itu" Kembali Cui Cheng Gong menegaskan.


Mata Xia Geng, bercahaya dalam kilatan setelah menyaksikan semua kejadian tadi serta mendengar nama gadis itu adalah Lin Hong.


Tatapan mata Cui Cheng Gong serasa akan membelah tubuh Xia Geng. Dia seolah meminta penjelasan Xia Geng, mengapa pria itu membunuhnya...


Sambil meludah Xia Geng menendang mayat Cui Cheng Gong lalu berkata dengan dingin,


"Kamu seorang tokoh minor dari sekte bintang empat, berani-beraninya meminta imbalan dari Sekte Kelas Lima dan Kelas enam seperti kami"


"Ketika nanti Senior Mao Kang memberikan pil pembangkit kultivasi, biar itu akan menjadi bagian sendiri. Aku tidak rela untuk berbagi dengan Sekte Kelas empat seperti kamu. Sekali lagi XIa Geng membuang ludah.


Dia lalu bertepuk tangan, saat itu juga nampak dua kawannya yang tadi bersama dengan dia di restoran. Dua orang pria Klan Xia yang merupakan praktisi Alam Spirit Agung bintang tujuh dan delapan itu memberi kode kepada Xia Geng "Semua penjaga di luar telah kami bereskan"


Xia Geng memerintahkan dua kawannya itu untuk memasukkan gadis bernama Lin Hong itu kedalam karung, lalu mereka bertiga bergegas meninggalkan goa yang mana di dalam dan luarnya tergeletak banyak mayat penuh luka.


"Mari kita pergi ke Kota Cahaya Barat menemui Senior Mao Kang" tiga orang itu melompat ke udara dan melakukan mode penerbangan.

__ADS_1


Ketika ketiga orang itu baru saja terbang dalam jarak dua Lie dari goa dimana mereka membawa gadis itu... sekonyong-konyong nampak seorang pria sastrawan tengah duduk diatas awan sambil menatap lucu kearah mereka.


Sambil mengipas tubuhnya, pria sastrawan itu berbicara ...


"Wahai tiga mahluk dari Klan Xia. Benda apakah yang kalian bawa itu? Jawaban kalian akan menentukan apakah kalian akan hidup atau mati"


Xia Geng dan dua kawannya sontak terhenti. Mereka mulai merasa was-was. Pria berpakaian sastrawan ini tahu dengan jelas bahwa mereka dari Klan Xia. Adapun demikian, sepertinya kemampuan sastrawan ini amat tinggi. Mungkin dia telah mengikuti mereka sejak dari tadi, hanya saja mereka tidak mengetahui kehadirannya.


Xia Geng bukanlah seorang anak ingusan di Dunia Sungai Telaga ini, dia tahu sastrawan itu bermaksud tidak baik dengan mereka dan sengaja membentur mereka.


Tanpa basa-basi Xia Geng, menghunus pedang lalu dia menikam sastrawan itu dengan teknik mematikan khas Klan Xia.


"Sreeetttt" Xia Geng mengerahkan semua kekuatan Qi dari dalam tubuhnya.


Xia Geng meskipun bukanlah petinggi di Klan Xia, akan tetapi dia adalah penatua klan yang mana memiliki kultivasi Alam Raja Bintang lima, sehingga hawa pukulannya mengandung teknik dan Qi yang berbahaya. Dia yakin dengan sekali tikam maka sastrawan itu akan meregang nyawa.


Alangkah terkejutnya Xia Geng, ketika dia melihat sastrawan itu bukannya menghindari serangan mematikan itu, melainkan dia menyambut Pedang Peringkat Surgawi itu dengan ayunan ringan kipas hiasan yang terbuat dari kayu itu.


"Kraak..."


"Arrgggghh" Xia Geng menjerit tidak percaya. Pedang Roh peringkat Surgawi ditangannya patah ketika membentur kipas hias di tangan sastrawan itu.


"Seorang ahli SAINT" pekik Xia Geng dalam rasa ngeri.


Ketika kamu berada di ranah SAINT, bahkan kertaspun dapat berubah menjadi senjata yang mematikan. Pantas saja Pedang Surgawi ini menjadi lelucon ketika membentur kipas di tangan sastrawan itu.


"Larii.." hanya itu yang dapat di ucapkan Xia Geng kepada kawan-kawannya. Tubuhnya melesat pergi, sementara seorang kawannya melempar karung berisi gadis bernaa Lin Hong kearah yang berlawanan dengan arah kemana mereka lari.


"Kurang ajar..." bentak sastrawan itu, yang seketika tergopoh-gopoh mengejar karung berisi Lin Hong. Dia tidak akan membiarkan gadis itu terhempas dari ketinggian ini.


Xia Geng dengan dua kawannya menghilang di balik kegelapan malam, dari kejauhan mereka mendengar sumpah serapah sastrawan itu. Diam-diam ketiga orang itu berkeringat dingin. Salah sedikit saja, nyawa ketiga nya akan melayang.


*Bersambung*

__ADS_1


   Untuk membuat author lebih semangat dan tetap berkreasi melanjutkan novel ini, jangan lupa di-like, sekedar komen dan vote.


   Terlebih tolong favoritkan novel ini karena Noveltoon akan menilai untuk menjadi pemasukan Author berdasarkan jumlah Favorit, komen dan like … yang tentunya juga menyemangati author. Apresiasi yang readers berikan akan menyemangati autor untuk terus berkarya di Noveltoon ini.


__ADS_2