
Pagi itu suasana di arena Kota Selatan secara tiba-tiba berubah menjadi lebih ramai dibanding hari biasanya. Banyak sekali pertarung yang merupakan pemegang tato silver berkumpul di aula arena dan memiliki keinginan menggebu-gebu untuk menonton pertarungan hari ini. Walaupun demikian tidak sedikit juga petarung dari pemegang tato perunggu yang membanjiri arena untuk menonton duel itu.
Semua ingin melihat seperti apa wujud seseorang petarung pendatang baru Bernama Sima Yong yang telah menantang peringkat tiga Tato Perak di Arena Kota. Wajar saja mereka tidak menyadari siapa SIma Yong adanya.Adalah Sima Yong ketika menyelesaikan tantangan di Menara Dewa Berkabut, dirinya langsung menghilang dan pergi.
Akibatnya memang tidak ada seorangpun saat itu yang melihat wajahnya, dan tidak ada yang menyangka bahwa Sima Yong penantang Chamdiko peringkat tiga di Arena Kota adalah pemegang peringkat enam di Ujian Menara Dewa Berkabut.
Seandainya saja mereka tahu bahwa Sima Yong adalah pemecah record ranking 6 di ujian Menara Dewa Berkabut, mereka tidak akan mengeluarkan kata-kata memandang rendah seperti yang terdengar diantara diskusi para penonton saat ini…
“Kudengar dia bahkan hanya memiliki kultivasi Alam Raja Bintang enam. Apakah dia akan sanggup menahan pukulan seseorang di ranah Alam Raja Bintang delapan seperti Chamdiko?”
“Kemungkinan Sima Yong itu hanyalah seseorang yang mencoba menarik perhatian penonton di arena Kota Selatan ini. Akan tetapi rupanya dia salah memilik lawan untuk ditantang. Belum pernah sekalipun aku mendengar Chamdiko berbelas kasihan terhadap lawan di atas arena”
Suara ejekan bahkan nada iba terdengar diantara semua penonton arena saat ini. Sima Yong telah tiba di arena kota, dan dia tidak memperdulikan pembicaraan dan duduk menutup mata sambil berkultivasi. Semua pembicaraan penonton, praktis cemooh itu tidak dia dengar sama sekali setelah dirinya khusuk berkultivasi.
Kira-kita setengah jam lamanya Sima Yong duduk berkultivasi di tempat duduk para penonton, barulah Chamdiko muncul di ruang arena tersebut. Kedatangan judade itu disambut dan di elu-elukan oleh penonton di arena…
“Chamdiko pastikan diri anda menjadi pemenang…!!”
“Petarung Chamdiko adalah petarung yang terbaik kebanggan Kota Selatan..!!!”
“Jangan beri kesempatan bagi lawanmu petarung Chamdiko, bunuh dia …!!!”
Penonton yang Sebagian besar berasal dari ras judade, jelas jelas memiliki keberpihakan kepada Chamdiko. Selama ini di setiap kelas tato sayap, baik perunggu, perak, emas bahkan platinum selalu ras judade adalah ras pemegang record terbanyak jajaran tiga besar.
Ras lainnya yang menduduki tiga besar peringkat arena adalah ras mogui (iblis), dan sedikit dari ras airen (kurcaci). Belum pernah seorangpun dari ras nanren atau jingling yang memegang posisi tiga besar. Sehingga Ketika mendengar seseorang dari ras campuran nanren jingling menantang Chamdiko, praktis keberpihakan penonton jatuh kepada Chamdiko.
Hanya sedikit sekali terdengar diantara penonton yang memberi support kepada Sima Yong. Itupun mereka adalah kawan satu team nya yaitu Hattauda, Niryadi, Tang Yuwe dan Ye Bing Qing.
Kenyataan yang mereka ketahui, sebagai pemegang ranking enam di ujian Menara Dewa Berkabut, tentu saja mereka lebih percaya Sima Yong akan menaklukkan Chamdiko. Lagi pula sejak ribuan tahun, belum pernah seorangpun di Benua itu yang masuk kedalam 20 besar Tantang Menara Dewa Berkabut, selain Sima Yong. Jelas-jelas Nanren mix jingling itu adalah sosok yang sama sekali tidak sederhana.
“Sima Yong pasti akan menang. Aku merasa muak dan kepingin melihat kesombongan Chamdiko itu runtuh di kaki kawan kita” Kata Ye Bing Qing. Diayakin seyakin yakinnya, karena dirinya sendiri pernah merasakan kekuatan jiwa Sima Yong yang hampir membuatnya menjadi gila….
******
Chamdiko terlihat tengah menikmati pujian yang diberikan oleh orang-orang di Arena Kota Selatan. Judade itu tau benar bagaimana cara menikmati pujian serta cara memperlakukan pemujanya dengan baik. Dia tersenyum senang dan menjawab semua pertanyaan pemujanya dengan satu kalimat..
“aku akan menghabisi nyawa Sima Yong itu, bahkan dengan seluruh kemampuanku sehingga dia akan menderita didalam satu pukulan saja”
Dilain pihak, tanpa memperdulikan Chamdiko dengan semua omong kosongnya, Sima Yong melompat kedalam arena. Dengan dingin dia berkata kepada Chamdiko,
“Apakah kamu sudah selesai dengan upacara pemujaan dari penggemarmu?”
Chamdiko dengansedikit kepura-puraan seperti terkejut memandang Sima Yong lalu berkata,
“Jadi kamu mahluk kecil ini yang Bernama Sima Yong? Hehe… kamu harus tahu… didalam pertarungan aku tidak pernah mengampuni lawanku. Semua harus mati” jawab Chamdiko dengan keji.
__ADS_1
“Benarkah demikian? Berarti kamu adalah seseorang yang amat di segani di tempat ini huh?”
“Hahaha… kamu dapat mendengar dan melihat sendiri. Seberapa banyak ahli yang memuji dan meng-elu elukan diriku. Aku adalah Chamdiko yang tidak terkalahkan…. Jika kau mau berlutut dan menyembahku sebanyak sepuluh kali, mungkin aku masih akan berbelas kasihan dengan membuat kematian yang tidak menimbulkan rasa sakit” Chamdiko mengucapkan kata-kata merendahkan sambil membuang ludah. Dia masih dendam mengingat kesengsaraan sepupunya yang terbaring di tempat tidur. Biar bagaimanapun pria didepannya ini harus mati.
“Aku tidak terlalu suka dengan basa basi seperti ini… tuan hakim arena, apakah pertarungan ini telah dapat dimulai?” tanya Sima Yong.
Tanpa menunggu instruksi kedua kalinya, hakim arena ras airen itu berteriak dengan keras,
“Duel antara Nomor 20.569 melawan nomor 8.895 dimulai… pertandingan ini adalah pertarungan hidup dan mati….!!!”
Setelah hakim mengumumkan duel dimulai, Chamdiko menerjang kearah Sima Yong dalam gerakannya yang amat cepat. Dia telah mengerahkan kekuatannya 90% sebesar 350.000 jin dari total 400.000 jin total kemampuannya. Serangan “Perangkap Martil Semesta” itu menerpa tubuh Sima Yong, dimana Chamdiko sengaja mengolah Teknik itu untuk mencuri banyak energi dari langit dan bumi. Alhasil tambahan kekuatan dari langit dan bumi melengkapi terjangan martil menjadi total 500.000 jin.
Jarang sekali lawan Chamdiko lolos didalam pertempuran Ketika judade itu menggunakan Teknik ini. Sebuah ledakan besar terjadi Ketika martil berkekuatan total 500.000 jin itu mengenai lantai dimana Sima Yong berdiri tadi. Ternyata sosok Sima Yong sendiri telah berteleportasi berdiri acuh tak acuh di bagian belakang Chamdiko.
Chamdiko Kembali meraung dengan ganas Ketika melihat terjangan “Perangkap Martil Semesta” itu tidak mengenai sasarannya. Bahkan sasaran itu telah berada di jarak 50 meter dibelakang nya. Dia sedikit heran melihat Sima Yong dapat berpindah sangat cepat.
“Perangkap Martil Universe Level sepuluh…!!!”
Judade itu meningkatkan level maksimum dari Teknik martil yang dia miliki. Dengan menggunakan energi yang dicuri dari langit dan bumi bertambah sebesar 250.000 jin. Saat ini kekuatan ATK yang dia gunakan total menjadi 600.000 jin. Kekuatan 600.000 jin itu adalah kekuatan seorang praktisi di ranah Kuasi Alam Tanpa Batas.
Chamdiko mengabaikan resiko penggunaan energi curian dari langit dan bumi yang hanya berfungsi sesaat menambah kekuatan. Biasanya satu jam setelah efek pemakaian energi curian seperti itu menghilang, ganjaran berupa dampak buruk akan menimpa ahli yang mengeksploitasi energi langit bumi seperti itu.
Namun Chamdiko tidak perduli. Dalam hal ini dia harus memenangkan duel didalam serangan cepat dan mematikan, atau dia akan kehilangan wajah setelah berkoar-koar akan menaklukkan lawan didalam satu serangan saja.
“Duaar…”
“Duaar…”
Setelah ledakan benturan kosong keempat, disusul lima dan akhirnya terjadi ledakan kosong kesepuluh. Chamdiko mulai kehilangan rasa waras sebagai mahluk hidup. Dia mulai merasa malu. Apalagi dari arah penonton dia mendengar dengusan beberapa orang yang dengan sengaja tertawa dengan keras…
“Hahaha. Lihatlah… Chamdiko kini bertingkah bagaikan badut. Dia berlarian seharian mondar mandir demi memukul anak kecil yang bahkan tidak dapat di sentuh sedikitpun ujung rambutnya…”.
Bahkan yang lebih menyakitkan, seseorang berbicara dengan keras sehingga memancing tawa seluruh penonton di arena,
“Sepertinya Chamdiko ini telah berusia terlalu tua untuk bertanding di arena seperti ini. Sudah sepantasnya dia mengundurkan diri dari dunia Praktisi bela diri dan hanya bermeditasi di kamar untuk merenungkan kesalahan kesalahan dan menerima karma jahat yang pernah dia perbuat..”
Chamdiko memang telah berusia 75 tahun. Namun usia 75 tahun bagi praktisi beladiri yang mengejar jalur kehidupan abadi, itu bukan usia tua. Itu terbilang sangat muda dengan ranah kultivasi Alam Raja nintang delapan. Bahkan sebagai praktisi yang selalu menyerap Qi dari langit dan bumi seperti itu, Chamdiko terlihat seperti pemuda berusia 28 tahun di Kerajaan fana (mortal).
Kepala Chamdiko serasa ingin meledak karena marah, dia mencaci Sima Yong dan berkata..
“Dasar kamu S****t . kamu hanya dapat menghindar dan menghindar. Tidakkah kamu diajar gurumu kan barang sedikitpun Teknik menyerang selain Teknik menghindar?”
Chamdiko lalu menambah curian energi dari langit dan bumi. Energi ATK yang dia kerahkan bertambah lagi menjadi 650.000 jin. Dan ini adalah batas maksimum kemampuan yang dapat di bebankan ke tubuh Chamdiko. Dengan penambahan energi ATK 50.000 jin itu, Chamdiko tahu. Dia akan memiliki masalah besar setelah semua energi curian itu menghilang. Nampak mulutnya mengalir beberapa tetes darah. Namun Chamdiko tidak peduli.
“Wusshh….”
__ADS_1
Martil raksasa berkelebat dengan kekuatan penuh yang dapat menghancurkan bahkan sebuah gunung. Sima Yong tertawa pelan dan berkata,
“Karena kamu ingin sebuah pertempuran adu tenaga, maka marilah …..”
Sebuah energi kekuatan sebesar 750.000 jin mengalir ke Pedang Hati Rembulan yang tiba-tiba telah berada digenggaman Sima Yong. Pedang ditangannya berubah warna menjadi kuning berkilauan, disusul sepasang sayap terbentang masing-masing selebar empat meter.
Sayap berwarna kuning yang indah dan membuat semua mata terarah untuk mengaguminya. Semua penonton terbelalak memandang ngeri kearah Sayap Nirwana Kuning itu. Mereka seperti diingatkan sesuatu kejadi di Menara Dewa Berkabut …..
“Duaarrr….!!!”
Bunyi benturan keras Ketika Pedang Hati Rembulan berbenturan dengan Martil Universe itu. Pedang Hati Rembulan bahkan dengan amat mudah menghancurkan martil ditangan Chamdiko, lalu kemudian bergerak lurus kedepan menembus dada judade itu. Kejadian itu amatlah cepat terjadi.
Chamdiko tertegun, matanya melotot menatap ke dadanya yang terkoyak dan menyembulkan organ-organ dibagian dalam tubuh. Dia masih tidak percaya dengan kenyataan, bahwa lawannya itu hanya melakukan satu Gerakan sederhana saja dan langsung mengoyak dadanya. Chamdiko mati dalam keadaan tidak percaya bahwa dia kalah dari praktisi Alam Raja Bintang enam.
Keadaan di arena benar-benar menjadi hening. Meskipun beberapa saat lalu beberapa orang mentertawakan Chamdiko, akan tetap mereka tidak percaya dengan penglihatan didepan mata. Chamdiko mati begitu saja Ketika pria yang mereka tahu Bernama Sima Yong itu melakukan adu senjata dan membelah dada Chamdiko. Dan sayap Kuning itu…. Belum pernah seorangpun di Wilayah Selatan yang memiliki sayap sedemikian indah dan berwibawa….
Dilain pihak, Biar bagaimanapun Chamdiko adalah salah satu idola banyak orang di Kota Selatan ini. Kematian yang terasa sia-sia itu membuat semua orang masih juga tidak percaya. Tidak ada yang bertepuk tangan atau mengelu-elukan Sima Yong seperti Ketika memuji Chamdiko tadi.
Dengan kasar Sima Yong merenggut cincin tata ruang milik Chamdiko. Dia menghapus tanda di cincin lalu mengubah cincin untuk menjadi miliknya dengan menggunakan kekuatan jiwa. Isinya adalah 250.000 Manna Biru kelas venti??
“Lumayan…Raksasa itu ternyata cukup kaya” pikir Sima Yong. Dia menelusuri lebih jauh dan menemukan beberapa Teknik kultivasi dan Teknik senjata menggunakan martil. Umumnya Teknik kultivasi kaum judade berbeda dengan Teknik kaum nanren dan jingling. Oleh karena itu dia tidak tertarik dengan manual kultivasi milik Chamdiko.
“Akan kuberikan kepada Hattauda atau Niryadi saja nanti”
Sedangkan beberapa Teknik pertempuran yang cocok digunakan untuk ras nanren dan jinglin, segera dia simpan didalam cincin tata ruang miliknya. Tidak lupa dia menjarah senjata martil kepunyaan raksasa itu.
“Biar bagaimanapun, Martil ini berperingkat Surgawi trenta yang akan berguna bagi seseorang di masa depan” Dalam waktu singkat martil universe itu tersimpan dengan aman di cincin tata ruang Sima Yong.
******
“Pemenang pertempuran adalah Nomor 50.569” teriak hakim arena yang membuat semua penonton terbangun dari keterkejutannya. Sambutan tepuk tangan kemudian terdengar menggema, memenuhi seluruh aula arena Kota Selatan. “Hidup Sayap Kuning Nirwana….” Seseorang memuji diantara teriakan penonton.
“Tuan 50.569, anda memperoleh Hadiah sebesar 5 point. Tolong berikan token arena anda dan aku akan mentransfer point” Kata Hakim, dan Sima Yong menyerahkan Token Arena. Hakim kemudian melakukan transfer 5 point arena kepada Sima Yong, yang saat ini dia melihat bahwa total point di token telah menjadi 14 point arena. Itu adalah sebuah nilai yang banyak.
Hakim itu mendekat dan berkata pelan…
“Tuan 50.569, ijinkan saya memberi anda sedikit saran” kata Hakim arena.
“Silahkan Tuan Hakim….”
“Karena lawan anda telah mati didalam duel, anda dapat melakukan penjarahan transfer nilai point lawan anda yang mati kedalam token kepunyaan anda” Jelas hakim arena.
Dengan terkejut Sima Yong bertanya. Dia sangat gembira jika benar adanya seperti itu….
“Benarkah???” Sima Yong buru-buru mengambil token di tubuh mayat Chamdiko, dan menempelkan tokennya dengan token yang dia jarah itu. Beberapa saat kemudian dia dengan wajah berseri-seri melihat, token miliknya saat ini telah berjumlah 34 poin arena.
__ADS_1
“Wah… aku kaya… sepertinya aku akan berbelanja beberapa item dan menyewa ruang pelatihan kelas VVIP menggunakan point arena” dengan Bahagia Sima Yong berlalu, setelah dia mengangguk hormat kearah Hakim arena.
*Bersambung*