
Sima Yong memasuki gua tempat tinggal yang tadinya merupakan kediaman peringkat sepuluh semidevil Neraka Dunia. Kedatangannya di sambut oleh puluhan pria dan wanita, yang semua berlutut ketika dia melewati pintu masuk gua yang semua lantainya terbuat dari batu pualam. Dingin namun memberikan kesan mewah.
Tidak ada seorangpun yang berani mengangkat wajah dan menatap Sima Yong. Seorang pelayan perempuan tergopoh-gopoh "Nama hamba adalah Meigui. Adakah hal pentng yang Tuan Semidevil inginkan untuk hamba kerjakan?" gadis itu terus menunduk, tak berani menatap Sima Yong.
Sima Yong hanya menghela nafas dalam-dalam. Dia tidak dapat mengubah tata cara dengan memerintahkan orang-orang itu tidak usah terus membungkuk dan tidak menatap wajahnya.
Mungkin orang-orang itu telah terbiasa melakukan cara-cara seperti kaum budak, sejak mereka lahir. Bahkan kemungkinan mereka semua telah lahir dan besar di Neraka Dunia, tanpa pernah melihat keadaan di luar sana.
"Adakah tempat khusus bagi aku untuk berlatih di dalam tempat ini? Aku merasa harus berkultivasi. Beberapa manfaat telah aku dapati didalam pertarungan sebelumnya, kini aku ingin berlatih untuk membuka pemahamanku" kata Sima Yong. Dia berpikir, pecahan relikui Raja Pedang telah berada di tangannya. Sudah waktunya meningkatkan kekuatan.
Dengan cepat Meigui, gadis pelayan itu menjawab,
"Ijinkan hamba memberi penjelasan,
Di setiap tempat kediaman sepuluh semidevil, telah didirikan spesial tempat berlatih secara pribadi, sehingga kapan saja para Mahasuci Semidevil ingin berkultivasi, anda dapat langsung menggunakan fasilitas itu"
"Tunjukkan jalan !" kata Sima Yong.
Meigui mempersilahkan Sima Yong berjalan terlebih dahulu, lalu dia mengikuti di belakangnya,
"Maafkan Meigui tuanku, semua budak tidak diijinkan berjalan mendahului Mahasuci Semidevil.
Jika aku ketahuan melanggar aturan itu, aku pasti akan dibunuh. Semua keluargaku juga akan menerima hukuman dari ahli-ahli di Neraka Dunia ini" demikian penjelasan Meigui, ketika Sima Yong meminta dia berjalan bersama-sama dengan dirinya.
Sima Yong menganggukan kepala. Aturan semacam itu mungkin telah berlaku selama puluhan tahun, bahkan mungkin ratusan tahun. Dia pada akhirnya tidak mencoba untuk merubah-rubah peraturan yang ada.
Besar resikonya bagi para budak berbagai ras di istana peringkat sepuluh, jika dia meminta mereka merubah kebiasaan yang menurutnya terlalu berlebihan itu. Dia tidak berniat tinggal lama disitu, jadi tidak ada manfaatnya jika dia merubah-rubah aturan yang telah berlaku ratusan tahun.
Mereka pada akhirnya tiba di bagian terdalam dari gua, istana kediaman semidevil peringkat sepuluh itu. Dari luar bentuk pintu ruangan kultivasi pribadi itu terlihat biasa saja. Namun ketika Sima Yong membuka pintu ruang kultivasi,
"Wush " seberkas energi Qi meluap dari dalam ruangan. Sinar matanya bersinar dalam cahaya rasa gembira,
"Ini adalah sebuah ruangan dengan energi Qi yang melimpah ruah didalamnya. Bahkan menurutku jumlah aliran Qi ditempat ini sepuluh kali lebih banyak dibanding ruang VIP di Neraka Pembakaran"
Dia lantas masuk kedalam ruang kultivasi pribadi itu, setelah memberi pesan kepada Meigui agar tidak seorang pun diijinkan mengganggu kultivasinya.
__ADS_1
"Kemungkinan aku akan menghabiskan waktu selama sebulan penuh didalam sana" kata Sima Yong.
Sima Yong lalu mengambil posisi lotus, setelah dia mengeluarkan patahan Relikui Raja Pedang,
"Pecahan Relikui merupakan bagian dari gagang pedang" batinnya.
Selepas mengeluarkan patahan relikui itu dia lantas berbicara kepada anak kecil roh pedang,
"Senior Hei Jian, anda telah dapat keluar. Terimalah asupan relikui Raja Pedang ini".
Hei Jian, anak kecil itu lantas keluar dari kehampaan di Pedang Immortal Hitam. Dengan perasaan gembira dia langsung meraih relikui itu,
"Relikui Raja Pedang, akhirnya akan mengembalikan sebagian kekuatanku" suara Hei Jian terdengar cempreng seperti biasa, akan tetapi suatu kekuatan yang menindas terasa keluar dari suara itu.
>>>>>>
Cahaya Pelangi berpendar di kegelapan malam Gurun Terkutuk. Meskipun keindahan cahaya pelangi terlihat menyerupai keajaiban aurora, sampai-sampai membuat kontras pemandangan di malam gelap padang gurun itu, namun tiada seorangpun yang dapat menikmati keindahan warna pelangi itu.
Padang Gurun terkutuk Great Sun, sesuai dengan namanya yang penuh hal-hal kutukan, membuat siapapun merasa enggan untuk berlama-lama di sana. Apalagi hanya sekedar menikmati cahaya pelangi seperti malam itu, yang ada malahan orang akan menjadi bertambah takut, melihat fenomena pelangi ganjil dan aneh di malam hari. Mana ada cahaya pelangi berpendar-pendar seperti hantu layaknya, di padang sepi mengerikan itu.
Liu Peng-peng melakukan gerakan mengiris dengan Pedang Pelangi ditangannya. Suara lolongan pedang terdengar menindas, disusul seberkas sinar mematikan terarah lurus, mengunci dengan niat membelah horisontal tubuh Lin Hong dan Yu Long.
"Mati kami kali ini"pikir Lin Hong. Dia menutup mata, pasrah dengan kematian.
Sekonyong-konyong, sebuah pecahan kerikil meleting cepat dan membentur cahaya pedang pelangi. Aura Qi pedang pelangi itu sontak menjadi buyar seketika. Dilain pihak, Liu Peng-peng merasakan tangannya menjadi kesemutan dan membaal akibat terjangan pecahan kerikil tadi. Hampir saja dia melepaskan Pedang Pelangi ditangannya.
Liu Peng-peng sadar, seseorang ahli yang berkemampuan tinggi tampaknya telah mengambil bagian didalam pertempuran itu. Dengan hati-hati dia mengambil tata cara para seniman beladiri di Dunia Sungai Telaga dalam berkomunikasi,
Dalam suara yang lantang dia berbicara..
"Liu Peng-peng, Peri Pedang Pelangi dari Menara Suar Wilayah Tengah memohon memohon maaf dari senior jika telah membuat keributan di Gurun ini.
Akan tetapi, perkara ini adalah pasal pertikaian antara organisasi kami Menara Suar di Wilayah Tengah dengan Organisasi Istana Raja Kelelawar di Utara.
Mohon kelapangan hati Senior untuk tidak mencampuri pertikaian diantara dua organisasi ini"
__ADS_1
Liu Peng-peng menunggu sebentar. Hingga sepuluh tarikan nafas, tidak terjadi sesuatu. Dia memutuskan untuk melanjutkan pembantaian tiga ahli Istana Raja Kelelawar. Lalu Pedang Pelangi itu kembali terayun didalam kekuatan penuh, Liu Peng-peng membuat gerakan tebasan sekali lagi.
"Mati !" ratap Liu Peng-peng
Kembali terdengar lolongan suara pedang, menyusul Qi pedang yang dengan cepat membelah horisontal dua ahli yang tidak berdaya itu.
Sekonyong-konyong untuk kesekian kali, lagi dan lagi, Liu Peng-peng dibuat tidak percaya. Dia melihat helaian Qi Pedang Pelangi berwarna-warni itu buyar, dan lenyap didalam kehampaan.
"S-siapa anda? Liu Peng-peng dari Menara Suar meminta audiensi" Liu Peng-peng menjadi lebih gugup lagi. Tanpa menunjukkan wujud sama sekali, ahli itu mampu membuyarkan Qi pedang yang dia pakai untuk membantai tadi.
Tahu-tahu secara mendadak, sebuah penampakan memunculkan sosok manusia dari kehampaan di depan Liu Peng-peng.
Sosok itu adalah seorang pria pertengahan baya, mengenakan pakaian mewah layaknya kaum hartawan atau tuan master di Klan-klan kaya. Wajahnya demikian halus, tampan namun sulit menentukan usia sesungguhnya pria itu.
Liu Peng-peng memicingkan matanya sejenak. Dia berpikir keras, mencoba mengingat-ingat, namun tetap dia sampai pada kesimpulan. Sosok berpenampilan dengan kemampuan yang mumpuni seperti ini, belum pernah dia dengar namanya baik di Wilayah Tenga, Barat maupun Utara Benua Silver.
"T-tuan... Apakah anda memiliki hubungan dengan tiga orang itu" Liu Peng-peng bertaya takut-takut. Akan menjadi berbahaya jikalau hartawan ini memiliki kecenderungan berpihak pada Istana Raja Kelelawar.
Oleh karena itu, menimbang pria hartawan itu telah menyelamatkan tiga ahli Istana Raja Kelelawar sebanyak dua kali, maka dia menarik kesimpulan "Pria hartawan ini memiliki kecenderungan berpihak pada Istana Raja Kelelawar"
"Jika benar tuan memiliki hubungan dengan tiga orang ini, ijinkan Liu Peng-peng undur diri. Aku pikir kejadian ini hanya sebuah kesalah pahaman belaka" Li Peng-peng berjiwa licik. Dia merasa bahwa pria hartawan itu memiliki kepandaian yang jauh melampaui dia. Oleh karena itu dia mengambil jalan aman, melarikan diri. Masalah membunuh mereka tiga **** itu, dia pikir masih akan banyak kesempatan lainnya nanti.
Liu Peng-peng lantas melompat kedalam kegelapan malam, lalu terbang kembali ke Wilayah Tengah,
"Kelak aku akan memberi tahu Tuan Menara agar mengirim ahli yang lebih hebat, dan membalaskan penghinaan hari ini" Liu Peng-peng tersenyum senang, wajahnya terasa dingin tertimpa angin malam padang gurun.
Mendadak sorot mata Liu Peng-peng menunjukkan keterkejutan. Dia melihat kebawah, kearah dadanya yang tiba-tiba terlihat di tembusi sebuah tangan yang membentuk gerakan menusuk seperti pedang. Sejak kapan aku diserang? Itulah yg ada dipikiran Liu Peng-peng sebelum pada akhirnya semua pikirannya lenyap.
Liu Peng-peng lalu terjatuh bebas dari udara, dia mati tanpa mengeluarkan suara, tanpa mengetahui siapa dan apa yang telah menusuk, menyebabkan kematiannya.
Angin malam gurun yang dingin itu, semakin membuat orang menjadi lebih menggigil ketika melihat dari jauh, seorang pria berpakaian seperti hartawan, terbang dalam kecepatan layaknya hantu, mengejar pria yang lainnya, yang tengah terang cepat menuju Wilayah Tengah.
Tangan pria hartawan itu membentuk gerakan kaku seperti pedang, lalu menusuk punggung ahli pedang berjulukan Peri Pedang, semua tanpa suara, tanpa aura pedang atau aura hawa murni. Itu terjadi begitu saja, sampai-sampai Liu Peng-peng sendiri tidak mengetahui kalau dirinya tengah di buru..
*Bersambung*
__ADS_1
Untuk membuat author lebih semangat dan tetap berkreasi melanjutkan novel ini, jangan lupa di-like, sekedar komen dan vote.
Terlebih tolong favoritkan novel ini karena Noveltoon akan menilai untuk menjadi pemasukan Author berdasarkan jumlah Favorit, komen dan like … yang tentunya juga menyemangati author. Apresiasi yang readers berikan akan menyemangati autor untuk terus berkarya di Noveltoon ini.