
PROLOG
Batas kemampuan penguasaan satu mahluk hidup di dunia ini, untuk memiliki energi kekuatan jiwa atau yang lebih akrab di sebut kemampuan sihir tidaklah banyak lagi jumlahnya seperti penciptaan dunia yang mula-mula. Waktu berjalan mengakibatkan evolusi dan kemampuan-kemampuan mistis seperti itu, nyaris hanya menjadi mimpi-mimpi yang terlupakan oleh waktu.
Di dalam catatan-catatan kuno di Perpustakaan berbagai Sekte dan Klan ternama di Benua Silver, tercatat hanya dua ras tersisa yang memiliki kemampuan mengolah energi sihir ini. Tercatat Ras Elf (termasuk kelompok peri yang masih terhitung turunan nya) dan manusia saja yang masih di berkati Langit untuk memiliki mengolah sihir atau kemampuan kekuatan jiwa.
Namun bertentangan dengan catatan kuno itu, jauh di dalam Hutan Kuno Mistis di Desa Suku Jinzhi ini, atau lebih dikenal oleh penghuninya sebagai Realm Magical Beast (Dunia Mahluk-mahluk Ajaib) terdapat beberapa ras dari mahluk itu memiliki kemampuan mengolah sendiri energi sihir, meskipun tidak sekuat yang di miliki Ras Elf atau manusia sebagai adik langsung Ras Elf ketika dunia pertama kali di buat.
Penyebab utama mengapa sihir masih dapat di temui di mana-mana dalam Realm itu karena : Dunia di dalam Realm itu, alam, tumbuh-tumbuhan dan semua-semua nya di buat dan di manipulasi dan di kondisikan seperti keadaan alam di masa-masa kejadian penciptaan dunia mula-mula oleh para dewa-dewi
Konon, Patriak Guan yang pernah memimpin semua magical beast di realm ini merupakan ahli terkuat dalam mengendalikan energi sihir, selain kekuatannya di bidang seni bela diri. Sampai-sampai ketika patriak ini mencapai ranah Immortal dalam seni beladiri dan dia harus bertransmigrasi ke Negri Ajaib, Patriak Guan meninggalkan satu benda yang di sebut Relikui Bangau Berkaki Satu.
Kabarnya sepenggal jiwa yang di tinggalkan Patriak Guan di relikui itu, sangat memiliki faedah guna memperkuat kemampuan seseorang ahli didalam mengolah energi sihir. Di tambah lagi efek mengolah relikui bangau akan meningkatkan kemampuan praktisi di ranah kultivasi mereka saat ini. Oleh sebab itu, sejak kepergian Patriak Guan, kehidupan di Realm Magical Beast ini selalu di landa pertikaian.
Jika terdengar kabar, atau informasi, atau keterangan lengkap tentang keberadaan Relikui Bangau Kaki Satu, pastilah peperangan akan langsung meledak di kawasan hutan itu. Semua memimpikan kemuliaan dengan tingkat kultivasi tinggi - atau memiliki peluang menembus ranah kultivasi sihir.
Hal tentang pertumpahan darah itu telah berlangsung tahun demi tahun. Abad demi abad sampai ribuan tahun dan semua di sebabkan kabar burung keberadaan Relikui Bangau Kaki satu. Namun hingga saat ini tak satupun penghuni Realm Magical Beast yang pernah melihat, apalagi memiliki Relikui Bangau Berkaki Satu itu.
Berikut ini adalah tingkat kemampuan seseorang dalam memiliki Energi Sihir atau kekuatan jiwa :
Ranah Dasar yang terbagi lima tingkatan. Itu adalah Master Segel 1, 2, 3, 4 dan 5.
Ranah Bumi terbagi 4 yaitu : Master Bumi 1, 2, 3 dan 4.
Ranah Surgawi terbagi 3 yaitu ; Master Surgawi 1, 2 dan 3.
__ADS_1
Ranah SAINT terbagi 2 yaitu : Master SAINT 1 dan 2.
Ranah DAO terbagi dua yaitu : Master DAO 1 dan 2
Ranah Sihir Immortal .
******
Ratusan anak panah penuh nyala terlihat melesat dengan aura membunuh kental, terlontar cepat ke arah dari mana Sima Yong dan Mismaya, dari mana mereka datang.
"Mundur !" kata Sima Yong.
Sementara itu Mismaya seolah melengkapi kata-kata Sima Yong, memekik dengan ngeri.. "Daeva !" Dia melihat desiran api biru serupa anak panah bersliweran di bagian kaki nya. Hawa panas membakar menguap dari arah bawah.
Sesungguhnya anak panah yang di tembakkan kelompok Daeva itu bukanlah satu anak panah biasa yang di lumuri minyak dan di nyalakan agar terlihat seperti api pada perang-perang kaum manusia.
Semua tembakan itu di lakukan oleh kelompok Daeva yang dikenal sebagai kelompok berkekuatan magic Pemanggil Api. Ya benar, kelompok Daeva di berkati langit sebagai Mahluk yang memiliki Affinitas Api.
Mismaya memandang ngeri ketika panah api di tepiskan Tuan Muda Sima Yong tatkala ada yang nyasar ke arah mereka setelah berpindah keatas setinggi dua puluh langkah.
Dengan mata telanjang Mismaya menyaksikan panah api yang lolos itu, melalap habis tanaman dan bebatuan di arah belakang mereka. Semua tanaman dan batu-batu cadas lansgung menjadi bubuk ketika bersentuhan dengan senjata yang di tembakkan kaum Daeva.
"Hentikan !" teriak Mismaya marah. Tentu saja dia kesal. Daeva-daeva itu bernia mengambil nyawa mereka berdua.
__ADS_1
"Apa sebenarnya mau kalian? Bisa-bisanya kalian menembak kami dengan Fire Arrow seperti itu" teriak Mismaya dengan mata menyala. Fire Arrow adalah teknik memciptakan panah berapi. Sesungguhnya Mismaya agak percaya diri saat ini. Dia telah memiliki sayap pengganti yang di sebut Sayap Komet Petir, dan tentu saja mudah bagi nya meloloskan diri. Namun dia harus menunggu instruksi tuan muda Sima Yong.
Sima Yong sendiri terlihat belum melakukan tindakan apa-apa atas ancaman Daeva itu. Ia masih ingin melihat-lihat gelagat ; hal apa gerangan yang membuat kelompok Daeva itu begitu ingin membunuh mereka berdua.
Wush !
Satu sosok Daeva berwajah garang tampak maju kedepan kelompok pemanah kaum Pemanggil Api. Daeva ini jika di bandingkan dengan pria manusia normal, dia telihat baru berusia tiga puluh tahun (namun tidak dapat di tebak usia sebenarnya. Kelompok ini cenderung menjadi mahluk abadi bukan?).
Nama Daeva itu adalah Dizr Azasi. Dzir Azasi lebih terkenal sebagai salah satu panglima perang kelompok Daeva dan juga menjadi algojo dalam mengeksekusi penghianat kaum Daeva - ada lima panglima perang yang kelompok Daeva itu miliki.
Dzir Azasi menyungging kan senyum mengejek, menghiasi wajahnya yang lonjong dengan pola hidung panjang menyerupai hidung burung betet. Sekilas pandang ketika siapapun menatap senyuman di wajah buruk Dzir Azasi, mereka pasti akan ketakutan. Wajah itu terlihat seperti wajah nenek sihir versi laki-laki.
"Huh.. Mismaya kamu hanya seorang peri rendahan. Tolong katakan, bagaimana caranya Tuan Muda kami 'Uge Cart' meninggal dunia?" senyuman penuh ejekan semakin lebar di wajah Dzir.
"Mata-mata kami memberi informasi bahwa Tuan Muda Uge sebelum kematiannya, kalian berdua sempat kejar-kejaran mesra di Hutan Mistis.. Dapatkah kamu menjelaskannya kepadaku mengapa Tn Muda Uge bisa menjadi irisan tipis daging?" nada Daeva itu terdengar menekan.
Jantung Mismaya berdetak dalam irama seperti pukulan gendang bertalu-talu. Tentu saja Mismaya menjadi serba salah dalam hal ini. Dia ingin memberi klarifikasi tentang kejadian itu, namun perasaan nya tidaklah nyaman. Tuan muda penolongnya lah yang membunuh Uge Cart yang sejak awal telah berniat jahat kepadanya.
Mulut Mismaya terbungkam dalam diam, sementara Sima Yong yang sejak awal sudah gatal-gatal tangannya, lantas menyela dan berbicara dengan lantang.
"Aku yang membunuh Daeva cabul itu. Siapakah yang tidak menjadi gatal tangannya melihat mahluk cabul itu mengejar peri kecil dengan wajah mesum dan kata-kata kasarnya? Aku puas membunuh mahluk itu" jawab Sima Yong menantang. Sementara kelompok Daeva itu terkejut dengan keterus-terangan manusia di depan mereka. Semua meraba busur mereka dan mulai merapal mantra guna mengerahkan api ke telapak tangan.
Sima Yong tidak berhenti di situ saja. Lanjutnya dengan cemooh,
"Kalau kalian merasa ada hutang piutang yang harus di tagih, silahkan menagihnya kepadaku saja. Peri kecil itu tidak melakukan apa-apa yang menyakiti tuan mudamu !"
Mendadak bunyi tali busur yang di tarik kencang terdengar, seperti bunyi 'pop !' Itualah suara seratus lima puluh tali busur di tarik, dengan nyala api di tangan kanan - berbentuk seperti anak panah. Semua panah api itu terkunci ke arah Sima Yong.
"Wow.. kamu semua akan mengeroyok ku?" tanya Sima Yong. Wajahnya menyungging senyuman tipis.
"Kamu pantas mati. Tidak ada kata pengampunan untuk pembunuh" kata Dizr Azasi.
"Tembak, bunuh dia !" titah Dzir.
Tsing - tsing - tsing !
Ratusan api biru melayang berkelebat menyambar sosok anak muda berbaju kelabu. Dari jauh saja Mismaya telah merasakan hawa panas yang sanggup melelehkan benda apapun di dekatnya menjadi abu. Mismaya mengeluh di dalam hati, berdoa kencang-kencang "Semoga Langit melindungi kami, terlebih tuan mudaku ini" Sebegitu mengidolakan tuan mudanya sampai-sampai Mismaya relah mendoakan keselematan Sima Yong dan tidak menyebut nama sendiri di dalam doa.
"Pergi kamu menghindar" Sima Yong melambaikan tangan dan sejumlah besar angin yang di kuasai berdasarkan chakra, langsung melempar Mismaya hingga beberapa Lie Jauhnya.
__ADS_1
Bersambung
Halo semua. Terima kasih sudah membaca dan menyukai Novel ini. Dan untuk membuat author lebih semangat lagi, selalu berikan like ya. Jangan lupa favoritkan dan rekomendasikan novel ini kepada yang lain... Terima kasih dan semangat membaca. <3