Kisah Dewa Pedang Utara

Kisah Dewa Pedang Utara
Shaman Perempuan bernama Aqildi Ayel


__ADS_3

Patriak Xie Sying terlihat duduk di sebuah mimbar kecil, sementara semua orang duduk membentuk semacam lingkaran di bawah podium tersebut.


Orhideya terlihat dengan sopan melangkah maju dan berlutut memberi hormat,


"Ketua Sekte, terimalah hadiah tanda ikatan kerja sama dari Sekte 1000 Pedang Abadi. Orhideya melakukan perjalanan bahaya ini demi keagungan Sekte Qilin kami"


(Sekte Pedang Abadi ini adalah sekte yang menyewa Ye Bing Qing di Kota Kuno Utara)


Tangan Orhideya terjulur kedepan sambil menyodorkan sebuah kotak yang terbuat dari kayu cendana. Tampak hiasan berupa ukiran-ukuran rumit yang sulit di terjemahkan orang biasa, memenuhi seluruh permukaan kotak.


Sima Yong menduga ukiran itu adalah simbol-simbol masa kuno yang dia sendiri belum pernah lihat. Mungkin jika dia dijinkan mendekti dan meneliti benda itu, dia bisa menjelaskan arti ukiran simbol itu. Well biar bagaimanapun dia adalah seorang master simbol dan telah banyak mempelajari hal-hal aneh selama di perpustakaan Kekaisaran Rajawali Agung.


"Bagus cara kerja mu Orhideya...Sekte akan memberi kompensasi atas jerih payamu itu" tangan Patriak Xie Sying terangkat, dan kotak cendana itu melesat ditarik oleh kekuatannya.


Patriak Klan Qilin lalu membuka kotak ditangannya. Lalu dengan wajah penuh kerinduan dia menatap benda yang berada di dalam kotak. Semua mendengar keluhan penuh rindu itu yang keluar dari mulut Patriak Xie. Rasa penasaran seketika memenuhi wajah-wajah didalam tenda.


Tentu saja ketika orang-orang di dalam ruang tenda itu melihat tatapan dan ekspresi Patriak Xie sedemikian rindu, mereka akan memiiki rasa ingin tahu tentang apa barang didalam kota cendana.


Ketika Patriak Xie mengangkat wajahnya, matanya membentur tatapan tiap orang dimana dia melihat jelas, tatapan yang penasaran penuh rasa ingin tahu. Dia lalu tertawa terbahak-bahak..


Setelah tawanya reda, Patraik Xie menjelaskan,


"Bana ini adalah sebuah benda atau fragmen patahan kaki artefak Klan kami yang berbentuk mahluk mitos Qilin. Sebagai Klan Pemuja Qilin dan juga keturunan ras Qilin, sekte kami selalu menyimpan benda-benda artefak kuno dalam bentuk mahluk Qilin".


"Kaki Qilin Artefak ini akan di renovasi dan di sambungkan dengan beberapa patung Qilin koleksi sekte yang kini dalam keadaan cacat".


"Perlu diketahui, dalam menempa dan merenovasi benda artefak seperti ini, hanya dapat dilakukan oleh refiner berpengalaman yang menggunakan kekuatan jiwa. Kali ini pekerjaan penempaan benda artefak ini akan di lakukan oleh Aqildi Ayel seorang Shaman dari Suku Wu Yi kami".


Begitu nama Aqildi Aye di sebutkan, tampak seorang perempuan tua berjalan ke arah Patriak Xie. Seluruh tubuh perempuan itu di hiasi tato.


Gelang-gelang etnik serta manik-manik meriah memenuhi busananya yang sepertinya di kerjakan secara halus oleh tangan-tangan ahli. Wanita shaman ini adalah seorang yang terpandang pikir Sima Yong.


Dia langsung berdiri dengan kaku di samping Patriak Xie. Wajahnya tanpa ekspresi sama sekali,


"Dia seorang penyihir" bisik Orhideya kepada Sima Yong, dengan menggunakan transmisi. Sima Yong hanya membalas bisikan itu dengan senyum.


"Wanita ini seorang master jiwa berperingkat Surgawi Level tiga. Aku menjadi bertanya-tanya. Dengan kekuatan jiwa seperti itu, apakah dia akan mampu menempa ulang menggunakan kekuatan jiwa?" batin Sima Yong.


Menurut SIma Yong ... dengan kekuatan Master Jiwa Surgawi level tiga, kekuatan Aqildi Ayel itu tidak akan cukup kuat untuk membuat benda-benda artefak kuno dapat mampu meleleh.

__ADS_1


Apalagi untuk menyatukannya dengan benda artefak yang lain dan membentuk benda baru. Sima Yong igin berpendapat, namun dia tidak ingin menyakiti perasaan wanita shaman itu.


******


Setelah acara pertemuan dengan Patriak Xie selesai, kenyataannya dimana Patriak Xie belum mengijinkan semua tamu nya untuk meninggalkan Suku Wu Yi itu.


Hal Itu karena tiga hari kedepan, akan dilaksanakan pesta pernikahan kakak dari Orhideya juga anggota sekte Qilin. Sebagai kluarga bangsawan, tentu saja mereka ingin agar acara itu akan meriah dengan banyak kehadiran tamu udangan.


Sima Yong dan kawan-kawannya telah membantu menyelamatkn adik mempelai, sehingga mereka dianggap tamu terhormat dan diharapkan mnghadiri perheletan keluarga bangsawan itu, dengan cara memeriahkan malam resepsi yaitu berkumpul dan berpesta di acara api unggun.


Karena mereka masih akan beberapa hari lgi di Barat Lau ini, maka Sima Yong bersama Ye Bing Qing dan Jiang Fai mengikuti Orhideya yang membawa mereka dalam tour mini, melihat-lihat keindahan alam Suku Wu Yi. Orhideya bahkan membawa mereka menunjungi pasar-pasar tradisional dimana Sima Yong menemukan beberapa bahan herbal yang langka di wilayah lain, hanya ada di Barat Laut ini.


Fei Ma sendiri lebih memilih untuk bermain ke padang rumput. Menurutnya kuda-kuda liar di padang rumput itu amat menarik perhatiannya.


Karena Fei Ma merupakan transformasi dari mahluk kuda bersayap, tentu saja dia sangat cepat menjadi akrab dengan kuda-kuda liar yang ditemuinya di padang rumput tak berbatas.


Bahkan pada suatu sore, Fei Ma pulang ke tenda mereka dengan menunggang seekor kuda liar yang berpostur sangat tinggi.


Semua orang menebak klau kuda itu adalah kuda keturunan yang sering di gunakan ahli-ahli perang, yang saat ini kemurniannya telah tidak terlihat seperti kuda yang di tunggang Fei Ma.


Fei Ma hanya tertawa keras ketika orang-orang bertanya ..


"Bagaimana caranya anda dapat menaklukkan Kuda legendaris itu?" tentu saja Fei Ma enggan mengatakan bahwa dirinya adalah transformasi dari mahluk kuda bersayap.


Dengan mata melotot, Fei Ma menjawab ketus...


"Apakah anda pikir, sedemikian mudah untuk menaklukkan Mahluk bersurai merah seperti dia ini? Mahluk ini adalah keturunan kuda legendaris. Menaklukkan nya tidak semudah menaklukkan kawan-kawannya yang keturunan biasa itu.


Sejak saat itu Fei Ma lantas menjadi amat terkenal di kalangan Suku Wu Yi. Mereka menyebut dia dengan si Penakluk Kuda. Fei Ma sendiri sangat senang dengan sebutan itu. Dia betul-betul menikmati liburan di suku Wu Yi...


>>>>>>


Malam itu adalah malam pesta perayaan pernikahan Kogildir (kakak Orhideya) dengan seorang gadis bernama Kemeyu. Karena keluarga Orhideya dari kalangan bangsawan, maka acara pesta api unggun tentu saja amat besar, meriah serta menghabiskan banyak uang.


Tentu saja karena mereka dari kalangan bangsawan itu, maka undangan yang diberikan oleh Keluarga Orhideya adalah bersifat terbuka.


Orang-orang Suku Wu Yi yang mengembara di padang-padang rumput yang nyaris terlupakan, malam itu datang menghadiri pesta keluarga bangsawan. Semua datang mengucapkan selamat kepada Kogildir dan Kemeyu.


Dengan mengenakan pakaian warna-warni indah, yang berhiaskan manik-manik melingkar, merupakan pakaian khas yang dikenakan oleh orang-orang Suku Wu Yi itu, mereka brgerak-gerak gembira diingi bunyi gemerincing manik yang salin membentur.

__ADS_1


Daging, roti-rotian, buah-buahan mewah yang di datangkan khusus dari Wilayah Barat dan Wilayah tengah tampak memenuhi pesta resepsi Kogildir itu.


Minuman anggur tak henti-hentinya mengalir dari tenda penyimpanan, sehingga tamu-tamu terpuaskan dengan menikmati semua acara dan hidangan, sambil mengelilingi api unggun.


Sima Yong melirik ketika dia melihat, Fei Ma tak henti-hentinya mengambil potongan daging besar dan memasukkan-nya kedalam mulut.


"Slruuupp"


"Sebaik nya kamu pelan-pelan saja menelan daging itu. Aku menjadi khawatir kalau-kalau dirimu akan tersedak saking rakusnya menyantap semua daging yang menghampirimu" tegur Sima Yong.


Dengan malu-malu Fei Ma berjalan menyingkir dari wajah tuannya. Lalu ketika aman di bagian spot yang lain, dia kembali menyantap bongkahan daging kambing yang di bawa pelayan seakan-akan tiada habisnya itu.


Ketika malam mulai menunjukkan kekuatannya musik langsung di mainkan, dimana tiga orang seniman musik suku Wu Yi menggesek alat musik seperti biola. Semua orang automatis berlarian dalam suara cekikikan gembira dan mengelilingi api unggun besar itu.


"Puk-pang-puk-pang"


Suara gendang di tabuh musisi yang lainnya, yang secara harmonis mengikuti gesekan tiga biola tadi.


Semua orang semakin riuh bernyanyi didalam kegembiraan. Semua bergandengan tangan membentuk lingkaran dan menari mengelilingi api unggun.


Sima Yong yang bergandengan bersama Ye Bing Qing, Jiang Fai dan Orhideya dan mereka mencoba bernyanyi keras-keras mengikuti nyanyian orang-orang Suku Wu Yi...


"Rasanya telah lama sekali aku tidak bergembira seperti ini" batin Sima Yong...


"Anggur keluar..." teriakan para gadis-gadis muda pelayan berlari kecil, yang kini mengedarkan kendi-kendi berisi air anggur. Semua larut didalam kegembiraan.


Malam belum lagi melewati kentongan pertama, dan ketika semua orang bahkan belum jatuh mabuk dimana suasana masih sangat gembira, dan ketika teriakan-teriakan kegembiraan memenuhi atmosfer....


Dari arah langit sesosok tubuh dalam balutan busana serba hitam meluncur cepat kearah lokasi pesta. Suara teriakannya terdengar begitu keras, menindas suara keributan gembira itu. Mau tidak mau mereka, peserta pesta api unggun itu menatap ke arah sosok yang muncul dari angkasa itu dengan hati bertanya-tanya.


"Celaka...!!"


"Patriak Xie... terjadi kecelakaan" sosok itu ternyata Aqildi Aye, wanita Shaman (dukun) Suku Wu Yi. Wajah perempuan tua itu terlihat pucat pasi dengan tubuh gemetar.


Begitu menginjakkan kaki di tanah berpasir itu, dia langsung lari ke arah Patriak Xie dan berlutut di hadapan Xie Sying.


"Aku berbuat kesalahan"


*Bersambung*

__ADS_1


Untuk membuat author lebih semangat dan tetap berkreasi melanjutkan novel ini, jangan lupa di-like, sekedar komen dan vote.


   Terlebih tolong favoritkan novel ini karena Noveltoon akan menilai untuk menjadi pemasukan Author berdasarkan jumlah Favorit, komen dan like … yang tentunya juga menyemangati author. Apresiasi yang readers berikan akan menyemangati autor untuk terus berkarya di Noveltoon ini.


__ADS_2