
Kota Gerbang Seribu mimpi yang merupakan pintu menuju Gurun Terkutuk Great Sun adalam penghubungan antara tiga wilayah, yaitu Wilayah Barat, Utara dan Wilayah Tengah. Karena merupakan tempat persinggahan diantara tiga wilayah besar Benua Silver itu, membuat Kota Gerbang Seribu Mimpi ini terbilang ramai meskipun jumlah penduduknya tidaklah banyak.
Kemungkinan besar, banyaknya mahluk dari berbagai ras mahluk hidup yang bersliweran di kota itu, sebagian besar hanyalah kaum pendatang atau musafir belaka, baik itu pelancong, penegmbara ataupun kaum pedagang lintas wilayah.
Sore itu semua orang tegah sibuk, tak seorangpun melihat ketika agak jauh dari pinggiran kota berdebu dan berpasir itu, diam-diam satu mahluk rohani peringkat legenda mendarat dan menurunkan dua sosok manusia dari punggungnya.
"Kita akan pergi untuk mencari makan terlebih dahulu di kota itu, sebelum melanjutkan perjalanan menuju utara.
Telah berhari-hari lamanya Fei Ma tidak menyentuh daging. Fei Ma membutuhkan asupan bergizi agar tubuhku menjadi kuat menempuh perjalanan panjang lagi" kata pria setengah tua, namun terlihat gagah dalam balutan pakaian seperti hartawan itu.
"Baiklah.. Terserah senior saja. Jiang Fai dan Wan Hui hanya akan mengikuti anda" jawab pria muda yang berpakaian seperti seorang alkemis itu.
Ketiga orang itu lantas berlari dalam gerakan terbang diatas rumput, menuju ke Kota Gerbang Seribu Mimpi. Fei Ma melirik dua orang yang tampak ngos-ngosan di belakang mereka, lalu dia menggerutu,
"Kalian berdua harus lebih banyak lagi berlatih dan berkultivasi. Kemampuan bela diri dan teknik light skill kalian amatlah lemah.
Kelak Fei Ma akan menurunkan barang satu atau dua teknik pukulan kepada kalian"
Dua orang itu hanya berdiam diri saja, dan memasang senyuman kecut. Sepanjang jalan mereka dari Wilayah Utara Benua Penyaringan Dewa, Fei Ma selalu mencela kemampuan bela diri mereka.
Tentu saja ketika pada akhirnya Fei Ma ketika mengeluarkan kata-kata akan menurunkan beberapa teknik kepada mereka, perasaan gembira melanda perasaan mereka, setidak nya Fei Ma ini berhati baik walaupun kadang-kadang kata-katanya terasa memerahkan kuping yang mendengar.
Jiang Fai adalah ahli Alkimia yang hanya di beri pelajaran-pelajaran Alkimia oleh master mereka. Sedangkan Wan Hui sebagai pengurus rumah tangga, hanya bertugas mengurusi hal-hal didalam urusan rumah tangga master mereka. Sehingga keinginan untuk berlatih bela diri, terkadang terabaikan oleh mereka berdua.
"Kalian berdua dapat memesan hidangan yang apa saja yang terbaik di restoran ini. Fei Ma akan mentraktir kalian berdua kali ini" kata Fei Ma membanggakan diri. Dia bersikap seolah-olah dia benar-benar seorang hartawan.
Jiang Fai dan Wan Hui lantas dibuat ternganga mendengar kata-kata Fei Ma itu. Wan Hui yang memang tidak biasa menahan mulut, dengan terbata-bata berkata,
"T-tapi Senior Fei Ma...
Bukankah uang melimpah itu semua diberikan oleh Master Yong? B-bagaimana bisa anda m-mengatakan bahwa anda yang mentraktir kami berdua?"
Fei Ma terdiam sebentar, sambil mengingat-ingat. Lalu katanya,
"Ah.. Fei Ma telah demikian tua sampai-sampai Fei Ma melupakan bahwa uang ini pemberian Master.
__ADS_1
Akan tetapi karena saat ini semua uang dipegang oleh Fei Ma, maka anggaplah Fei Ma yang mentraktir kalian berdua"
Ketiga nya lalu pecah di dalam gelak tawa penuh kegembiraan. Kemudian makanan dari dapur restoran mengalir seperti air sungai yang tiada habis-habisnya di hantar pelayan.
Fei Ma dengan selera makan yang sedemikian besar, berulang kali memasukkan potongan daging bergajih kedalam mulutnya. Bibirnya sampai-sampai terlihat mengkilap penuh tetesan gajih yang menetes.
"Ah.. Daging hewan roh ini benar-benar terasa sangat lezat, ayo santap lagi. Jangan kamu berdua merasa sungkan" tangan Fei Ma mencomot sebuah potongan daging penuh gajih sekali lagi.
Matanya sampai-sampai meram melek menikmati daging hewan roh yang dimasak dengan resep khusus ala gurun pasir itu.
Di tengah kegembiraan ketiga orang itu menyantap hidangan mereka, lamat-lamat terdengar suara seperti tangisan hewan malam, yang memasuki telinga demikian samar terbawa angin gurun.
Fei Ma menghentikan gerakan mencomot makanan dengan sumpit. Katanya..
"Tidakkah kalian mendengar sesuatu suara seperti sempritan khusus?" Fei Ma bertanya kepada dua orang disampingnya.
"Tidak " jawab Wan Hui. Kemudian Jiang Fai menambahkan, katanya..
"Yang aku dengar hanya suara seperti tangisan hewan malam. Well.. Bukankah kita berada di dekat gurun tandus? Aku pikir itu adalah suara hewan malam yang merintih pedih karena kelaparan"
"Tidak" Fei Ma menjawab.
Akan tetapi bunyi peluit serupa ini biasanya hanya akan dilakukan sekte-sekte rahasia ketika terdesak dan peruntukan meminta bantuan" mata Fei Ma menyala didalam antusias yang mendalam.
Dia memang amatlah gemar didalam keributan ataupun menonton sesuatu keributan. Adreanalin di tubuhnya melonjak dalam kegelisahan. Fei Ma rindu melihat pertempuran.
Buru-buru Fei Ma meninggalkan sejumlah koin emas dimeja (dia hanya memiliki Manna Biru dan koin emas di cincinnya), katanya..
"Ayo kita pergi melihat keramaian.
Telah lama sekali Fei Ma tidak terlibat didalam keributan. Kali ini menyaksikan pertempuran ahli-ahli beladiri Benua Silver, akan membuka wawasan kami semua sebagai seniman bela diri"
Orang-orang pengunjung restoran di Kota Gerbang Seribu Mimpi menahan nafas, ketika mereka melihat dengan mata sendiri kalau si hartawan itu memegang tangan dua orang muda disampingnya, lalu dengan gerakan secepat hantu dia menghilang dikegelapan malam.
"Ah.. Banyak sekali ahli-ahli peringkat tinggi yang berkeliaran di kota ini dalam satu tahun terakhir"
__ADS_1
******
Saat itu, Xia Chen masih meniup peluit ditangannya keras-keras, dimana suara tiupan itu terdengar secara berirama yang mengartikan kode-kode tertentu.
"Kamu merayu kematian !" pria bertangan buntung yang di sebut Peng Fai itu melambaikan tangan, lalu pedang jingga di tangannya melesat secepat meteor, menebas leher Xia Chen.
Xia Chen mati di tempat dengan semburan air mancur dari tubuh, ketika kepalanya terkulai setengah terputus dan tergantung di tubuh hampa itu.
Peng Fai membuang sebuah sapu tangan yang di atasnya bersulamkan lukisan Kelelawar hitam, yang jatuh tepat di dada Xia Chen.
"Itu sebagai tanda bahwa kamu di musnahkan tiga pembunuh Istana Kelelawar Hitam" suaranya terdengar dingin.
Lima tarikan nafas berlalu, keadaan di Gurun Terkutuk skarang menjadi sepi setelah Xia Chen mati dan tidak lagi berisik dengan tiupan peluitnya. Kapal roh Klan Xia sendiri telah ***** menjadi bubuk, menyisakan sedikit bara api, sisa-sisa pembakaran.
"Kita sebaiknya cepat-cepat pergi, perasaanku terasa tidak enak" kata pria yang satunya.
"Silahkan saudara Yu Long memimpin jalan.. Peng Fai dan Lin Hong akan mengikuti jejak anda" jawab Peng Fai. Akan tetapi sebelum mereka bertiga pergi dari tempat itu, samar-samar sebuah energi yang menindas terasa terasa mendekati tempat dimana mereka berada saat ini.
"Itu hawa penindasan seorang praktisi Alam Pencerahan Suci" Peng Fai berkata dengan ngeri.
"mari kita buru-buru pergi, kembali ke utara sana" kata perempuan yang disebut Lin Hong.
Peng Fai buru-buru menjawab,
"Jangan.. Jangan ke utara. Sekte Pedang Awan aku berada dekat perbatasan gurun ini.
Aku khawatir ahli Alam Pencerahan Suci ini akan mencari perkara ke Sekte Pedang Awan, seperti yang pernah di lakukan ahli mereka beberapa tahun lalu" Peng Fai terdengar cemas.
"Kita terbang ke arah barat. Di Kota Gerbang Seribu Mimpi, aku mempunyai tempat persembunyian khusus. Dahulu sekali, ketika kami bertiga di kejar Klan Xia dan Klan ras iblis, tempat itu menjadi persembunyian yang aman bagi kami" jawab Yu Long.
"Pimpin jalan !" kata Lin Hong dan Peng Fai bersamaan.
Tiga orang itu lalu melompat ke udara, lalu bayangan mereka hilang di telan kegelapan malam.
*Bersambung*
__ADS_1
Untuk membuat author lebih semangat dan tetap berkreasi melanjutkan novel ini, jangan lupa di-like, sekedar komen dan vote.
Terlebih tolong favoritkan novel ini karena Noveltoon akan menilai untuk menjadi pemasukan Author berdasarkan jumlah Favorit, komen dan like … yang tentunya juga menyemangati author. Apresiasi yang readers berikan akan menyemangati autor untuk terus berkarya di Noveltoon ini.