
Mata polos Hei Jian melotot ketika melihat kain kasar yang kini terlukis pola-pola gerakan pedang yang bergerak-gerak.
"I-itu.. kamu dapat memunculkan gerakan pedang terbang di kain pembungkus itu? Kamu juga di pilihnya ..."
Hei Jian menggerakkan tangannya,
"wush"
Lembaran kain kasar itu terbang kearah Hei Jian. Lalu dengan gerakan yang halus lembaran pembungkus pedang itu terbuka, membentang di hadapan anak kecil itu.
"Ah... Rasanya telah lama sekali aku tidak melihat benda ini" dia mengelus-elus kain kasar yang menampilkan cerminan gerakan suatu teknik pedang.
"Apakah ini pertanda kita akan bertualang kembali di dunia Sungai Telaga ini?" mata Hei Jian semakin mencorong, menunjukkan kerinduan akan sesuatu. Demikian terangnya sampai-sampai cahaya dimata anak itu terlihat serupa cahaya rembulan di malam purnama.
Hei Jian serta merta memutar kepalanya kearah Sima Yong. Katanya,
"Lebih dekat kemari"
Sima Yong kemudian mendekati anak kecil itu, dia bertanya,
"Kenapa?"
"Kamu berjodoh denganku!.
Mula-mula kamu membangunkanku. Sesudah itu membuatku lebih terkejut lagi tatkala dengan mudah kamu membuat kain pembungkus pedang itu, menampilkan cerminan Teknik Pedang Terbang...
Kamu adalah orang pilihan !"
Sima Yong terpesona ketika melihat mata Hei Jian yang mencorong, memantulkan cahaya yang terlihat indah, sampai-sampai dia tidak memperhatikan maksud Hei Jian dengan jelas. Tanyanya dengan pertanyaan yang terdengar sedikit bodoh,
"Mengapa? Apakah terlalu sulit untuk menampilkan cerminan teknik pedang di kain pembungkusnya? Bukankah itu hanya memerlukan seseorang membaca puisi cinta di salinan puisi itu bukan?
Well, meskipun harus kuakui. Untuk membujuk dan membangunkanmu, itu lebih sulit dari yang aku perkirakan.
Akan tetapi seperti yang anda lihat, pada akhirnya aku berhasil membujukmu untuk keluar dari Pedang Hitam itu bukan?
Ku pikir.. Setiap orang mungkin dapat melakukan hal yang sama jika memiliki keinginan dan tahu cara nya. Untuk mengetahui semua trik ini, kupikir itu hanya masalah waktu saja bukan?"
Demikian lancar kata-kata itu mengalir dari mulut Sima Yong, dan tidak memperhatikan kalau wajah Hei Jian, bocah penunggu pedang itu menunjukkan raut bosan. Hei Jian terlihat mulai marah.
"Plak.." Hei Jian anak itu mengetuk kepala Sima Yong keras-keras.
"Aduh..! K-kamu anak kecil, mengapa kamu mengeplak mukaku keras-keras?" Sima Yong begitu terkejut ketika dia ditampar anak kecil itu.
Bukannya takut, bola mata Hei Jian semakin melotot, marah..
"Aku orang tua yang sudah terlalu tua! Bahkan aku telah berkelana di dunia ini, jauh sebelum kakek dari kakekmu ada di dunia.
__ADS_1
Jadi sudah sepantasnya aku mengeplak bocah seperti kamu, yang berbicara selalu sembarangan. Mengatakan bahwa untuk membangunkan aku, roh pedang ini dapat dilakukan sembarang orang.
Tidak tahukah kamu? meskipun barang sesiapapun yang melakukan hal yang sama seperti kamu, membaca keras-keras catatan puisi cinta itu, atau bahkan mengelus-elus pedang hitam itu siang dan malam.. Jika roh yang ada didalam dua benda itu tidak berkenan dengan orang itu, tidak akan kami terbangun dan menampilkan semua ini kepada kamu.
Kami.. roh didalam benda ini yang memilih kamu. Bukan kamu yang memilih kami !" Hei Jian terlihat sangat marah. Anak kecil itu membalikkan badannya, memunggungi Sima Yong.
Tegas dan keras kata-kata yang di lontarkan Hei Jian, membuat pemuda kita itu menjadi malu. Pelan-pelan Sima Yong mendekati Hei Jian, roh Pedang Hitam itu.
"Er.. Hei Jian si orang tua. Dapatkah kamu memaafkan aku? Aku sesungguhnya tidak bermaksud melukai anda. Sejujurnya, aku berpikir bahwa semua hal yang terjadi hanyalah kebetulan belaka.
Tak pernah aku berpikir bahwa roh pedanglah yang memilih ahli warisnya seperti sekarang" suara anak muda itu terdengar tulus.
Pelan-pelan Hei Jian akhirnya menjadi reda amarahnya. Dia membalikkan badan lalu berkata,
"Ku maafkan kamu sekali ini. Jangan pernah lagi menganggap bahwa roh pedang dapat diperbudak oleh sembarang ahli"
Kata Sima Yong,
"Tidak akan lagi terjadi. Aku berjanji" jarinya terangkat seperti seseorang yang tengah mengucapkan sumpah. Hei Jiang kini terlihat lebih lega. Kata anak kecil itu kemudian,
"Aku yang telah kamu bangunkan. Lalu kunci Teknik Pedang Terbang itu juga telah kamu singkapkan.
Sekarang aku ingin bertanya, bersediakah kamu berkelana bersama aku di dunia sungai telaga ini? Bersama-sama melanglang buana sampai kamu menembus legenda sebagai Raja Pedang Tiada Tandingan?" Hei Jian menatap mata Sima Yong lekat-lekat.
"Aku mau. Aku Sima Yong, bersedia berkelana di Dunia Sungai Telaga ini bersama Pedang Hitam dan Teknik Pedang Terbang, menjelajahi dunia untuk mengejar mimpi menjadi ahli tiada tanding !" Sima Yong mengucapkan janjinya.
"Bagus !. Mari kita mulai berlatih Teknik Pedang Terbang tiada tanding itu" kata Hei Jian.
******
"Kamu beruntung. Kemampuan kekuatan serangan kamu telah mencapai 50 juta jin, kekuatan yang sama dengan kekuatan standar ahl SAGE di level kelima.
Jika saja kemampuan menyerang kamu di bawah standar itu, aku kuatir kamu akan mengalami kecelakaan setelah mengeksekusi Teknik Pedang Terbang" Itulah yang dikatakan Hei Jian ketika dia melihat Sima Yong membuat Pedang Immortal Hitam melesat cepat dengan membawa aura naga hitam, menembus kekosongan.
Setiap Sima Yong menggerakkan tangannya, yang terlihat hanyalah pedang hitam yang berubah menjadi gumpalan asap kabut hitam kelam, berbentuk naga yang berkelebat membawa hawa membunuh yang amat kental.
******
Karena masa sewa Sima Yong telah selesai (dia menghabiskan sisa tiga hari untuk berlatih Pedang Terbang) lalu bersiap-siap untuk keluar dari kamar penyewaan itu.
Sebelum mereka keluar, Hei Jian mewanti-wanti Sima Yong,
"Kamu harus berusaha menemukan Relikui Raja Pedang, minimal penggalannya.
Saat ini kemampuan Teknik Pedang Terbang hanya akan berfungsi 10 bagian dari total 100 bagian kemampuan daya serangnya.
Minimal kamu menemukan pecahan relikui itu, lalu kemudian akau dapat mengaktifkan kemampuan Pedang Immortal Hitam sebesar 45 bagian dari total 100 bagian..
__ADS_1
Saat ini kekuatanku terlalu lemah untuk mengeluarkan seluruh kemampuan Pedang Terbang, tanpa relikui Raja Pedang.
Apakah kamu paham? Sekali lagi.. usahakan menemukan paling tidak penggalan relikui Raja Pedang"
"Aku paham. Anda tidak perlu kuatir" bisik Sima Yong.
Hei Jian tersenyum puas. Lalu roh anak kecil itu menghilang kedalam Pedang Immortal Hitam, yang kemudian di bungkus Sima Yong dengan kain kasar pembungkus pedang.
******
Sima Yong keluar dari kamar kultivasi itu, setelah sebulan penuh berlatih didalamnnya. Ketika dia keluar, jago kita itu merasa tatapan beberapa orang yang ada di aula Neraka Pembakaran menatapnya dengan prihatin.
Ketika balas menatap kearah orang-orang itu, buru-buru mereka membuang muka, tidak berani menatap lama kearah Sima Yong. Ketika dirinya masih dilanda rasa heran dan penasaran, tanpa dia sangka-sangka seseorang menghadang nya.
"Ling-ling? Mengapa wajah kamu begitu pucat?" tanya Sima Yong.
Dengan ragu-ragu Ling-ling menyodorkan satu lembar gulungan undangan tanpa berbicara.
"Apa ini?" tanya Sima Yong bingung.
"A-anda dapat m-membaca isi nya tuan refiner" Ling-ling menjawab pertanyaan dengan ragu-ragu.
Anak muda itu membentangkan gulungan surat undangan, dan dia membaca keras-keras.
"Tantangan terbuka, hidup dan mati. Penantang ; Pelajar Tangan Iblis"
Sima Yong membaca sekali lagi, lalu menatap Ling-ling yang kini tampak ketakutan.
"Peringkat Sepuluh Semidevil Maha Suci Neraka Dunia, menantang aku dalam pertarungan hidup mati?" Sima Yong merasa lucu. Semidevil peringkat sepuluh menantang seseorang yang tidak masuk didalam peringkat sama sekali.
Ling-ling, gadis itu tampak semakin ketakutan. Sepuluh Semidevil Maha Suci bukanlah hal yang dapat dia sentuh. Ketika pengantar undangan itu memberikan benda itu kepada dia, orang itu mewanti-wanti'
"Pastikan refiner itu paham dan datang di hari tantangan. Jika tidak, nyawa kamu bahkan semua kerabat kamu akan menjadi pencuci dosa refiner itu" Ling-ling menggigil ketika dia di ancam seperti itu.
Sima Yong kembali dengan gaya acuh tak acuhnya, bertanya kepada Ling-ling.
"Kapan jadwal undangan pertempuran itu?" dia menguap. Rasanya dia ingin beristirahat sebentar.
"Malam ini. Tepat ketika kentongan pertama di mulai. Lokasi pertempuran adalah arena di perbatasan Neraka kelima dan kesembilan.
Tempat itu biasa menjadi ajang arena pertempuran, karena penghuni neraka kesembilan dan neraka kelima akan hadir menonton, dan menjadi saksi atas duel maut" jawab Ling-ling.
Sima Yong berjalan meninggalkan Aula Neraka Pembakaran, meninggalkan Ling-ling yang bengong, lalu dia berteriak.
"Katakan kepada pengantar undangan itu. Aku akan hadir sebelum kentongan pertama di bunyikan"
*Bersambung*
__ADS_1
Untuk membuat author lebih semangat dan tetap berkreasi melanjutkan novel ini, jangan lupa di-like, sekedar komen dan vote.
Terlebih tolong favoritkan novel ini karena Noveltoon akan menilai untuk menjadi pemasukan Author berdasarkan jumlah Favorit, komen dan like … yang tentunya juga menyemangati author. Apresiasi yang readers berikan akan menyemangati autor untuk terus berkarya di Noveltoon ini.