
Hai semua, ketika mengetik chapter ini, hujan lebat melanda Karawaci daerahku. gimana di tempat kalian? semoga baik-baik saja dan tidak banjir. Selamat membaca, jangan lupa Favoritkan, like dan komen positif yan. terima kasih...
*******
Setelah siren yang bernama “Meirenyu” itu ditempatkan didalam Domain Pagoda, Sima Yong kini focus terhadap empat kawannya yang terlihat dalam mengenakan berbusana mengenaskan seperti itu. Sebuah botol berisi cairan tiba-tiba telah berada di tangan nya.
Botol transparan itu memperlihatkan isinya adalah cairan dengan warna yang berpendar yaitu kuning keemasan terang. Warna menarik yang menimbulkan perasaan mata terus menatapnya dan tidak mau berpaling Ketika melihatnya warna indah itu. Cairan itu adalah suatu cairan hasil ekstraksi dari rempah-rempah pengobatan digabungkan dengan cairan emas dari wilayah barat Benua silver.
Sima Yong terlihat menjentikkan setitik cairan kekuningan emas itu dari dalam botol. Semacam uap terbentuk, yang mana uap itu menimbulkan aroma herbal kuat dan menyenangkan. Dia lalu melambaikan tangannya, maka aroma tersebut terkurung energi Qi lalu terbang dan memasuki hidung keempat praktisi itu.
“Semoga cepat tersadar” kata Sima Yong.
“Uhuk-uhuk…..”
“Uhuuukk…”
Keempat praktisi itu terbangun dan terbatuk-batuk. Menyusul terdengar suara mereka memuntahkan sesuatu cairan yang berwarna kehijau-hijauan. Keempat wajah mereka masih terlihat kebingungan ketika mendapati diri mereka dalam keadaan mengenaskan seperti itu.
“Cih… mengapa kamu menatapku dengan tatapan seperti itu?” Ye Bing Qing buru-buru menutup dadanya sambil melotot kearah Tang Yuwen yang kemudian terlihat membuang muka dengan cepat.
“Plaakk…!!”
“Sekali lagi kamu menatap dadaku dengan tatapan seperti itu, maka aku akan mencongkel biji matamu” kata Niryadi dengan bengis kepada Hattaudha yang kebingungan Ketika dirinya ditampar dengan keras.
Sima Yong tertawa lalu berkata,
“Kalian sedari tadi telah berada dalam keadaan mengenaskan seperti itu. Tidak perlu untuk saling merasa malu. Jika saja aku terlambat datang, kemungkinan kalian semua telah menjadi tulang-belulang setelah disantap kelompok mahluk ras siren itu”
“Langkah paling baik adalah cepat-cepat kalian mengganti pakaian dan tidak membiarkan diri kalian kedinginan di udara malam seperti ini. Perjalanan ini masih Panjang….”
Sima Yong kemudian memalingkan wajah dan memberi ruang bagi keempat praktisi itu berganti pakaian yang lebih pantas. Tentu saja sebagai ahli bela diri, masing-masing dari mereka memiliki persediaan pakaian yang cukup didalam cincin tata ruang.
Selesai mengganti pakaian yang lebih ringkas, keempat praktisi itu sekali lagi ribut saling menceritakan pengalaman Ketika awal terkena pesona nyanyian pemikat jiwa itu. Sima Yong hanya membiarkan mereka ribut berbicara. Setelah mereka selesai dengan pengalaman masing-masing dia melanjutkan kisah tentang mereka yang dia temui sekarat diatas karang danau Saitana Pari itu.
Meskipun geram, keempat praktisi itu kini tidak dapat membalas kemarahan mereka, karena kawanan siren itu telah kocar-kacir, bahkan ada yang mati membeku didalam air danau.
“Kita akan melanjutkan perjalanan ke Pulau Rahasya Dvipa esok hari setelah air danau mencair” kata Sima Yong.
“Aku memiliki kapal roh kecil hasil sitaan dari kaum siren itu. Dengan mengendarai kapal roh akan jauh lebih layak dibandingkan jika kita menggunakan batang pohon sebagai alat transportasi” kata Sima Yong.
Keempat praktisi itu menyetujui permintaan SIma Yong, karena memang mereka juga membutuhkan waktu bermeditasi untuk mengembalikan kondisi mereka ke keadaan yang fit setelah beberapa waktu di tawan kaum siren. Malam pun berlalu dengan sepi, ketika lima sosok praktisi itu duduk berkultivasi dan meditasi diatas kumpulan pulau kecil dari karang diatas Danau Saitana Pari.
******
Pagi itu udara di Kawasan Suci Hutan Terlarang amatlah teduh dan tenang. Kala itu, percikan air berbunyi berirama terdengar jelas didanau teduh Saitana Pari. Sebuah perahu roh melaju dan membelah air secara berirama membentuk bunyi yang terdengar bagaikan sebuah nyanyian riang.
“Syurr.. syurr… syurrr…”
Diatas perahu roh itu tampak lima sosok praktisi yang terlihat berdiri dengan gagah seakan menantang cakrawala luas itu. Pakaian yang mereka kenakan terlihat ringkas, namun salah seorang mengenakan jubah besar sederhana berwarna abu-abu.
Salah seorang praktisi itu, yaitu Sima Yong terlihat membuka peta di tangannya dan membuat refleksi peta besar di hadapan empat praktisi lainnya.
__ADS_1
“Menurut peta ini, perjalanan menuju Pulau Rahasya Dvipa hanya memakan waktu satu hari lagi dari posisi kita berada. Akan tetapi, kalian harus tahu. Masih terdapat satu monster lagi yang mungkin akan menghalangi perjalanan ini” dia menatap wajah keempat temannya yang lain.
“Monster lagi?? Tempat penyimpanan hewan kontrak itu betul-betul penuh dengan bahaya… saudara Yong. Tolong jelaskan monster apalagi gerangan yang akan kita hadapi di danau ini?” tanya Hattaudha cemas.
“Menurut catatan dalam Bahasa Elf kuno, disebutkan bahwa monster didanau nanti adalah sebuah monster raksasa yang terbuat dari besi” Jelas Sima Yong.
“Monster besi? Bagaimana bisa monster yang terdiri dari besi lalu itu akan mampu menjadi monster yang mampu bergerak seperti mahluk hidup?” tanya Ye Bing Qing.
“Apakah itu dibuat secara sihir??” Kembali dia bertanya.
Sima Yong terdiam. Setelah berpikir sejenak dia menjawab,
“Monster yang dikenal sebagai Tulos itu bukanlah sepenuhnya dibuat secara sihir. Akan tetapi monster ini adalah buah tangan salah satu Dewa jutaan tahun lalu. Dewa tersebut dikenal sebagai Dewa Teknologi. Dia membuat Tulos dari bahan baku besi yang hanya ada dialam dewa, lalu memberi kehidupan semu kepada kreasi nya itu".
"Selanjutnya hasil kreasi dewa teknologi itu di tempatkan di Danau Saitani Pari untuk menjaga Pulau Rahasya Dvipa dari orang luar yang mencoba pergi ke pulau tersebut. Benda itu kemudian dikenal sebagai Tulos. Meskipun kejadian pembentukan tulos itu sudah terjadi berjuta tahun yang lewat, kekuatan tulos itu tetap masih amat berbahaya bagi praktisi seperti kita ini”.
“Menurut peta ini, meskipun tidak sekuat dahulu namun setidaknya mahluk itu memiliki kekuatan setara praktisi di Alam Tanpa Batas peringkat tinggi …..”
Keempat temannya mengangguk pertanda mengerti. Lalu kemudian sebuah pertanyaan meluncur dari mulut Tang Yuwen.
“Itu berarti semua yang kita hadapi mulai dari centaurus itu, lalu siren dan kedepannya adalah tulos dan lainnya…. Itu merupakan sesuatu yang disengaja oleh kaum dewa untuk melindungi Pulau Rahasya Dvipa dan hewan kontrak itu?”
Sima Yong menganggukan kepala dalam diam. Dia membaca informasi dari peta itu bahwa tulos tersebut memiliki kekuatan sekurang-kurangnya setara dengan praktisi di Alam Tanpa Batas bintang enam. Dia sama sekali bukan tandingan tulos tersebut. Melihat semua kini menjadi terdiam, Niryadi mengeluarkan pendapatnya,
“Hewan kontrak yang akan kita buru ini betul-betul berasal dari kelas yang amat langka. Bahkan bisa dikatakan kelas Legendary. Bayangkan saja… bahkan tempat dimana hewan kontrak seperti itu berada, tetap dibawah perlindungan dari para dewa sejak jutaan tahun lalu….” Semua kini merasa lebih bersemangat ketika diingatkan oleh Niryadi tentang hewan kontrak yang legendary itu….. kesempatan itu hanya akan datang sekali seumur hidup.
******
“Sebaiknya semua waspada dan berhati-hati. Makin kesini aku makin menyadari bahwa bahaya dan serangan keji seringkali dilakukan pihak lawan pada malam har. Malam hari adalah Ketika seseorang dalam kondisi lengah dan tidak waspada…” Sima Yong memberi nasihat kepada keempat temannya yang lain.
……
Baru saja dia menasihati keempat temannya, tiba-tiba salah satu dari mereka berseru!!!...
“Lihat… sesuatu yang membentuk gelombang sepertinya mengejar kita dari arah belakang kapal roh ini”
Itu bahkan baru saja menjelang jam delapan malam. Dan serangan itu telah dilancarkan oleh monster atau apapun penghuni danau ini. Meski terlihat masih jauh yaitu berjarak 1 km jaraknya, namun gulungan ombak itu terlihat bergerak cengan cepat. Ombak itu semakin hari semakin membesar dan makin tinggi. Mula-mula hanya setinggi anak kecil, lalu saat ini terlihat setinggi judade perempuan.
“Oh God… ombak itu makin membesar (Tsunami)… Ketika nanti dia makin dekat keperahu ini, ombak itu pasti akan memecah kapal lalu menjungkir balikkan kita semua didalam air danau” Ye Bing Qing menjerit dengan ngeri.
Perlu diketahui, semua kemampuan terbang di area Hutan Terlarang secara otomatis hilang karena pengaruh pengaturan array oleh kelompok dewa sejak jutaan tahun yang lalu. Akibatnya ombak yang terlihat membentuk Tsunami itu membuat semua praktisi menjadi amat gentar. Apalagi mereka semua bukanlah ahli yang berasal dari daerah perairan sehingga tidak satupun diantara mereka yang dapat berenang. Kematian mulai terlihat didepan mata.
Ketika jarak ombak Tsunami itu semakin dekat, kira-kira 500 meter jauhnya… ombak itu terlihat telah meningkat menjadi setinggi 6 meter. Tampak diatas gulungan ombak tsunami yang mulai terdengar bergemuruh itu, sesosok mahluk raksasa yang memiliki kulit berwarna perak kekuningan.
“Itu adalah Tulos…” dengan ngeri Hattaudha menatap Tulos yang berdiri mengendarai ombak itu.
“Jangan panik… aku akan mencoba mengirimkan kita semua dengan teleportasi. Akan tetapi karena kita berlima ditambah kapal roh ini, itu terlalu berat dan butuh ruang besar. Jika aku menggunakan kekuatanku saja itu tidak akan mampu merobek ruang dan waktu. Masing-masing berdiri berjajar lalu kalian menyalurkan tenaga Qi kalian kepadaku. Aku akan mencoba membuat lubang teleportasi..!!” teriak Sima Yong mencoba menenangkan.
Dalam sekejab, keempat praktisi Ordo Sayap Suci berdiri berjajar lalu menyalurkan energi Qi mereka kepada Sima Yong dengan cara menempelkan telapk tangan di punggung Sima Yong.
Sementara itu ombak tersebut telah mendekat dengan jarak 200 meter jaraknya. Tinggi ombak kini telah menjadi makin tinggi kira-kira 15 meter tingginya. Dengan ombak setinggi itu mahluk hidup apapun dapat dipastikan akan mati jika tergulung ombak berkekuatan setara praktisi Alam Tanpa Batas bintang enam itu. Nampak jelas mahluk tulos berdiri dengan wajah memancarkan cahaya jahat dari atas gulungan ombak tsunami….
__ADS_1
“Konsep ruang dan waktu…”
“Pembagi Surga..!!!”
Sima Yong berteriak dengan keras ketika dia merasakan jutaan energi Qi mengalir memasuki tubuhnya akibat perpindahan energi dari keempat ahli lainnya.
“Sreeet…” sebuah lubang pertanda ruang dicabik oleh Teknik teleportasi itu.
Tampak semacam lubang berpendar untuk membentuk lubang yang besar. Namun kenyataannya lubang tersebut ternyata tidak cukup besar untuk menelan mereka berlima beserta kapal roh itu.
“Gagal… kita akan mati” bisik Niryadi pilu. Dia berpikir bahwa dirinya bahkan belum menikmati kehidupan dengan memiliki seorang kekasih hingga saat ini. Seumur hidupnya hanya didedikasikan untuk mengejar Dao beladiri demi kehidupan yang abadi (immortal).
“Cih… kita bahkan belum mencoba untuk kedua kali dan ketiga kali dan seterusnya, namun anda telah menangisi hidup seolah-olah kita telah mati” maki Ye Bing Qing kepada Niryadi. Kehidupan yang keras membuat gadis jingling itu selalu berpikir bahwa semua kesulitan didunia ini pasti ada jalan keluar.
Ombak semakin mendekat di jarak 100 meter sementara tulos itu tertawa licik diatas ombak setinggi 50 meter. Tulos itu kini terlihat bagaikan dewa air yang siap melahap mangsanya.
“Sekali lagi.. kerahkan sekuat tenaga kalian dan kirim kepadaku kekuatan itu”. Semua ahli Kembali mengirimkan tenaga Qi ke Sima Yong.
“Pembagi surga…. Berpindah!!!!…”
Kembali sebuah Lorong ruang terlihat Ketika kekuatan konsep ruang dan waktu level dua mencabik-cabik udara dan membentuk sebuah Lorong. Namun patut disayangkan, perahu dan lima orang praktisi itu rasanya terlalu besar untuk dapat ditelan oleh Lorong ruang yang diciptakan konsep “Pembagi Surga” itu.
“F**k.. kita akan mati” jerit Hattaudha.
Sudah sewajarnya judade itu menjadi panik. Ombak Tsunami itu saat ini telah mendekat di jarak 30 meter dengan ketinggian ombak 100 meter. Suara ombak terdengar amatlah bergemuruh dan membangkitkan bulu roma siapapun yang mendengarnya.
“Keluar kamu dan bantu aku..” teriak Sima Yong ketika dia menarik keluar “Meirenyu” dari dalam Domain Pagoda. Dengan mata terbelalak keempat praktisi Ordo Sayap Suci itu melihat pemimpin siren itu keluar dari kekosongan.
Dengan rupa yang terlihat amat cantik untuk ukuran mahluk hidup, juga dengan rambut Panjang berwarna hitam sekelam malam.. dan rambut itu amat Panjang hingga mencapai pinggang, juga dengan bola mata bersinar seterang bintang-bintang dimalam hari… “Meirenyu” dengan sigap mengibaskan tangan di udara.
Serangkum kekuatan Qi dari Ahli Alam Tanpa Batas bintang empat terlihat mengaliri tubuh Sima Yong. Sekarang kekuatan yang Sima Yong merasakan dia memiliki kekuatan Qi yang berlipat ganda jauh dari kekuatan sebelumnya. Kembali rapalan mantra Konsep ruang dan waktu dia ucapkan…
“Pembagi Surga……”
“Memindahkan…!!!” Sima Yong menangis dengan amat keras
“Kraakk…!!” bunyi yang membuat ngilu kuping timbul Ketika ruang dan waktu di koyak paksa kekuatan konsep Pembagi surga.
Sebuah lubang raksasa lalu terbelah dihadapan mereka Ketika ruang dan waktu terbelah dengan amat besar. Dengan sekali melompat. Maka kapal roh beserta isinya lenyap didalam ruang portal teleportasi itu, lalu menutup lagi seolah tidak pernah terjadi sesuatu di tempat itu.
Gelombang Tsunami itu menggulung di ruang kosong dan beberapa saat kemudian gelombang tsunami tersebut lenyap seiring waktu berjalan. Mahluk yang dinamakan Tulos itu terlihat seperti kebingungan, Ketika dia tidak menemukan satu pun mayat atau serpihan kapal yang terkoyak dihantam Tsunami.
Setelah mencari beberapa saat dan tidak juga menemukan apapun, Tulos itu mengamuk dan mengaum sekeras-kerasnya. Kesunyian malam di Danau Saitani Pari Kembali dipecahkan dengan bunyi-bunyian teriakan amarah tulos yang terdengar seperti bunyi mesin tua yang sudah karatan. Demikian keras hingga membuat rasa ngilu didalam hati siapapun yang mendengar suara itu.
*Bersambung*
Dear readers, jika menanyakan sesuatu, harap melakukan komunikasi di: jimmychuu2022. Beberapa Info penting sehubungan kisah ini juga author sering sampaikan di IG. Silahkan di follow. Terima kasih.
Untuk membuat author lebih semangat dan tetap berkreasi melanjutkan novel ini, jangan lupa di like, sekedar komen dan vote.
Terlebih tolong favoritkan novel ini karena Noveltoon akan menilai untuk menjadi pemasukan Author berdasarkan jumlah Favorit, komen dan like … yang tentunya juga menyemangati author. Apresiasi yang readers berikan akan menyemangati autor untuk terus berkarya di Noveltoon ini.
__ADS_1