Kisah Dewa Pedang Utara

Kisah Dewa Pedang Utara
Kedai Tuan Abror iii


__ADS_3


Dengan bergabungnya energi hawa murni dari tiga ahli bertopeng itu, kini Tuan Abror tidak lagi leluasa menindas pemimpin kelompok bertopeng seperti sebelumnya. Pedang dan Rantai perak itu tampak tegang saling beradu kekuatan energi QI.


Waktu berlalu kira-kira dua puluh tarikan napas. Namun belum jua di ketahui siapa pemenang diantara mereka. Dua kelompok berdiri dalam diam, saling beradu hawa murni.


Dari kepala Tuan Abror maupun tiga pria bertopeng itu terlihat asap putih mengepul, dimana wajah mereka mulai memerah.


"Huh tiga tikus kecil, namun memiliki hawa napsu begitu besar. Tuanmu ini tidak akan memberi ampun untuk kaum pencoleng seperti kalian" Tuan Abror mengemposkan kekuatan, hawa murni mengalir makin deras ke rantai yang bertautan dengan pedang. Dia menambah kekuatan hawa murni menjadi sembilan puluh bagian.


Tring ! rantai perak itu membelit makin ketat, membuat pedang mulai sedikit ringsek.


Senjata yang di pegang pria bertopeng itu pelan-pelan mulai bergetar menjadi getaran hebat. Ketika itu Tuan Abror telah menambah hawa Qi kedalam rantai perak, sehingga membuat tangan pria bertopeng terasa ngilu dan mulai tidak memiliki indra perasa.. Dia lalu berbisik kepada kawannya..


"Tambah energi kalian. Jika tidak, kita bertiga akan terpakar dengan semua organ tubuh yang rusak.


Siapa mau menyangka kantong tua ini memiliki tingkat kultivasi di ranah Alam Tanpa Batas bintang sembilan.."


Dua kawannya yang di belakang seketika menambah tekanan aliran energi dengan niat memperkuat hawa murni di ujung pedang.


Akan tetapi tiga orang bertopeng itu lagi-lagi menemui kejutan. Tuan Abror membuat gerakan mencurigakan dengan menelan sesuatu benda.


Selepas menelan pil tadi, mendadak hawa menindas yang dikerahkan Tuan Abror meningkat drastis sebanyak sepuluh persen. 'Wush '


Wajah tua itu kini menyeringai jahat. Dia merasa diatas angin setela menelan pil pemicu energi itu, dengan berlagak kuat dia mulai menekan tiga ahli bertopeng itu dengan seluruh hawa murninya.


"Aku tak menyangka.. pada akhirnya pil penambah energi yang mesti nya ku persiapkan untuk keadaan genting, harus ku gunakan melawan tikus-tikus seperti kalian" tawa pria tua itu dengan bengis.


Pil penambah energi seperti itu meskipun bukan sesuatu yang langka, namun pil tersebut di jual cukup mahal di toko-toko alkimia atau lembaga-lembaga lelang.


Meskipun memiliki masa efek selama sepebakaran hio dan penambahan kekuatan sepuluh persen saja, namun pil itu amat membantu ketika seseorang akan menghadapi pertempuran hidup mati seperti ini.


Tiga pria bertopeng itu terlihat telah berkeringat sebesar jagung, dengan asap putih mengepul dari kepala, dan salah satunya berkata,


"Aku sudah tak kuat lagi...!" desis pria bertopeng yang termuda.


Baru saja pria bertopeng itu mengatakan demikian, tiba-tiba semua orang merasa dunia seperti tersedot kearah langit. Desiran angin yang mengandung hawa pedang terasa mengalir dari langit.


Meski tidak saling melepaskan adu senjata diantara dua kelompok, Tuan Abror dan kelompok pria bertopeng mendongak ke atas.

__ADS_1


"Demi Kura-kura Hitam !" desis Tuan Abror. Dia menatap ngeri keatas. Sedangkan tiga pria bertopeng itupun mengeluarkan jeritan tertahan tatkala ikut melihat.


Dari arah langit terlihat satu sosok manusia meluncur deras, dengan pedang teracung lurus vertikal kearah pertemuan pedang dan rantai perak.


"Alam Pencerahan Suci bintang empat !" tiga pria bertopeng memandang ngeri kearah datangnya pedang.


Bum !


Duar !


Pedang yang mengandung Qi seorang ahli ranah Alam Pencerahan Suci peringkat awal itu sangat jelas bukan tandingan keempat praktisi di peringkat Alam Tanpa Batas.


Pedang itu dengan mudah memberi efek rantai perak Tuan Abror dan Pedang kelompok pria bertopeng mejadi rompal dan retak-retak..


Krak - krak !


Bahkan pantulan energi yang di pakai nya terasa menindas pertukaran energi pada dua senjata itu. Akhirnya benturan itu membuat ledaka eksplosif dan berakibat tiga pria bertopeng serta Tuan Abror terlempar jauh sambil memuntahkan seteguk darah.


Dalam gerakan yang sangat cepat, pendatang baru itu menyambar salinan rumus resep masakan diatas tanah, menyisakan suara mendengus penuh hinaan. Dia lalu melompat ke udara seperti bayangan, terbang dan menghilang seperti alap-alap. Semua dia lakukan dengan tepat, teratur dan sangat sedikit menimbulkan suara.


Samar-samar terdengar suara tawa mengejek dari dalam Hutan Pinus yang penuh dengan Magical Beast. Keadaan mejadi sunyi, tersisa Tuan Abror dan tiga pia bertopeng. Diam-diam Tuan Abror menyesali kesembrono-an nya yang dengan pongah telah meletakkan salinan resep masakan itu.


Tuan Abror pada akhirnya tidak memerdulikan kepergian tiga pria bertopeng, yang terihat berjalan tertatih-tatih menembus malam, dan menghilang ke dalam Hutan Pinus Ribuan Tahun. Dia hanya menyesali hilang nya 100 ribu energi stone dari angannya.


******


Di dalam rimbunan pepepohonan pinus dan semak-semak Hutan Pinus Ribuan Tahun...


Seorang pria dalam balutan pakaian hitam ringkas melepaskan topeng kulit yang menutupi wajahnya. Raut itu terlihat tampan untuk pria berumur 40 tahun, kini memasang wajah gembira.


Orang ini adalah salah satu praktisi yang datang dari Kota Gajah Putih. Nama nya Duan Thian Long, seorang bangsawan dari Klan Duan.


Klan Duan adalah salah satu Sekte Bintang Sembilan, bersama-sama dengan Sekte Black Dragon, telah menjadi penguasa di kota Gajah Putih. Duan Thian Long tertawa pelan. Dia berkata..


"Kantong tua itu demikian sembarangan mengumbar keberadaan harta seperti informasi Relikui ini.


Dia bahkan dengan serakah berniat untuk menjual informasi ini berpuluh-puluh kali lipat dari harga yang awal di tawarkannya.."


"Lihatlah sekarang.. dia tidak mendapat apa-apa selain luka dalam yang telah aku berikan" Duan Thian Long lantas melepaskan pakaian hitamnya dan menyisakan pakaian bersih mahal, seperti yang biasa di pakai kaum bangsawan.

__ADS_1


Baru saja dia akan melompat pergi, sekonyong-konyong didengar nya satu suara lembut di kuping nya.


"Kamu akan pergi? Lalu apakah kamu menganggap aku yang sejak awal menonton pertarungan tadi, hanya sebagai patung belaka?" nada suara lembut itu kini berubah menjadi ejekan.


Merinding ! Sejak kapan orang itu datang ? Inilah isi hati pria bermarga Duan itu.


"Siapa kamu !" Duan Thian Long membalikkan badannya, mencari lihat siapa yang bersuara itu.


Dalam hatinya dia merasa gentar. Semua bulu kuduk nya berdiri. Sejak tadi ketika dia menyerang dua kelompok yang bertikai tadi, sama sekali dirinya tak melihat satu orangpun di sekitar area pertempuran itu. Dan dia terkejut karena tidak merasakan kehadiran pria yang bersuara lembut di hutan ini.


Tentu saja perasaan nya langsung memberi kode bahwa ini adalah tanda bahaya.


"Apakah dia ini seorang ahli di ranah Alam Pencerahan Suci Puncak? atau bahkan pendatang ini adalah seorang SAINT?" Duan Thian Long gemetar dan keringat dingin menetes sebesar biji jagung.


Tampak di hadapan Duan Thian Long, seorang pria yang bisa di katakan muda, namun dandanannya seperti orang-orang tua bijaksana. Kumis dan jenggot nya di biarkan tumbuh tak beraturan. Pakaiannya pun hanya dalam satu warna dasar saja. Kelabu dan tidak menarik.


Bahkan Duan Thian Long tidak merasakan adanya aura kultivasi tertentu dari tubuh pria di hadapannya. "Manusia Fana?" Pelan-pelan kepercayaan diri Duan Thian Long mulai tumbuh. Dengan berani dia menantang,


"Apa mau mu?" katanya dingin.


Pria itu tersenyum datar. katanya,


"Aku ingin benda yang kamu ambil dari keuntungan pertempuran dua kelompok di desa Jinzhi sana"


Duan Thian Long tercengang. Baru kali ini ada seseorang yang berani berbicara terang-terangan dan meminta benda kepunyaannya.


"Apakah kau gila?"


"Kau ingin mati?" Duan Thian Long meloloskan pedang nya.


"Kulihat kamu datang ke sini tanpa bersuara sama sekali. Aku jadi bertanya-tanya, apakah kemampuan bela dirinya selihai teknik meringankan badanmu?" pedang di tangan Duan Thian Long meluncur deras dengan hawa murni sebanyak delapan puluh bagian.


Dia tidak ingin mengambil resiko, kalau-kalau si baju kelabu ini adalah ahli Alam Pencerahan Suci puncak. Lebih baik mengambil langkah terlebih dahulu menyerang, sebelum lawan menjadi siap..


"Mati ! " pedang itu telah berada pada jarak tiga jengkal dari dada si baju kelabu.


Bersambung


Halo semua. Terima kasih sudah membaca dan menyukai Novel ini.  Dan untuk membuat author lebih semangat lagi, selalu berikan like ya. Jangan lupa favoritkan dan rekomendasikan novel ini kepada yang lain... Terima kasih dan semangat membaca. <3

__ADS_1


__ADS_2