
Di dataran Tengah Benua Penyaringan Dewa, ketika memasuki musim panas tahun berikutnya, tentara Kaum Pembebas berhasil menerobos ke Kotaraja Kekaisaran Rajawali Agung. Tidak terdapat perlawanan yang berarti dari pihak kekaisaran karena terdengar kabar Pangeran Ju Kai bersama ibu nya Ibu Suri kekaisaran, telah melarikan diri dari istana.
Kurangnya dukungan dari ahli-ahli peringkat SAGE di tepian Barat, serta menurunnya daya juang tentara kekaisaran yang lebih dari lebih dari setengahnya adalah tentara yang diambil dari masyarakat umum, yang semuanya tanpa melewati pelatihan perang membuat lemah kekuatan pasukan kekaisaran.
Memang lebih dari separuh tentara kekaisaran adalah kaum wajib militer yang di rekrut paksa, sehingga dengan kondisi menyerah tanpa perlawanan itu, para tentara wajib militer Kekaisaran Rajawali Agung justru merasa lega.
Anak-anak di bawah umur, maupun suami-suami yang pekerjaan nya adalah petani, kembali ke rumah masing-masing di kampung halaman, bertemu keluarga, anak dan isteri tercinta dengan gembira.
Sang Pangeran Ju Qin lalu membebaskan Kaisar tua serta semua abdi yang setia dari penjara, yang lantas membuat Ju Qin menjadi sangat dihargai dan diperhitungkan di mata Kaisar. Tidak lama setelah itu, ketika musim panas belum lagi berakhir, Kaisar tua mengumumkan bahwa Ju Qin akan di nobatkan sebagai Kaisar di Negri Rajawali Timur.
Ju Qin yang merasa banyak dibantu oleh ahli-ahli seperti Sima Yong dan kawan-kawan, Sekte Du Hua, Sekte Malaikat Kelabu dan Klan Penjinak Binatang, mengirimkan banyak-banyak hadiah serta ucapan terima kasih kepada mereka. Ju Qin bahkan meminta Sima Yong untuk menjadi Guru Negara, suatu jabatan yang sangat berpengaruh di satu negara.
(Pada jaman itu, sebutan menjadi Guru adalah hal yang sangat besar dan sangat di hormati. Apalagi menjabat sebagai Guru satu Negara.. Itu adalah impian banyak ahli-ahli dunia Jiang Hu).
Sima Yong menolak dengan sopan tawaran yang di berikan Pangeran Ju Qin dengan alasan dia adalah rakyat dari Benua Silver. Demikian juga Atid, yang diketahui adalah penduduk dari Benua Silver.
(Di kisahkan di bagian lain namun tidak dirinci di kisah ini, Atid telah berbicara dengan Sima Yong. Sima Yong berjanji akan mengantar Atid keluar dari Benua ini, untuk bersama-sama kembali ke Benua Silver).
"Seandainya saja Master Huang Chi masih hidup, aku akan menawarkan posisi Guru Negara kepada dia" kata Ju Qin sedih.
Sima Yong lantas diingatkan pada rencana pemakaman Elf itu, Master Huang Chi, dan dia cukup heran karena hingga sekarang belum ada pemberitahuan dari Ren Bai Xian.
"Apakah Ren Bai Xian itu telah lupa untuk memberi tahukanku tentang pemakaman Master Huang? Rasanya tidak mungkin. Sebagai setengah dari ras Elf, dan pernah memperoleh perawatan khusus di Sekte Malaikat Kelabu, aku ini setidaknya dianggap orang dalam sekte tersebut. Akan tetapi tidak mungkin rasanya. Mereka tidak akan melupakanku untuk ikut bersedih di pemakaman Elf tua itu.
Mungkin saja masih ada sesuatu yang harus di urus sebelum upacara pemakaman di langsungkan. Bukankah jenasah itupun telah di awetkan di peti kaca kristal?" Sima Yong lantas menjadi lebih lega setelah dia berpikir secara positif.
Pembicaraan keduanya, Ju Qin dan Sima Yong dilanjutkan,
"Menurut hematku, Mengapa anda tidak mengangkat guru anda sendiri, Ju Lianyi menjadi Guru Negara?
__ADS_1
Bukankah jasa Ju Lianyi itu amat besar dimasa peperangan sebelumnya?" Sima Yong teringat mereka lima ahli SAINT yang bertempur melawan SAINT-SAINT mewakili Ju Kai pada waktu itu, dan mereka memenangkan pertempuran satu melawan satu.
(rincian pertempuran antar SAINT di peperangan tidak di bahas banyak, akan tetapi mereka lima SAINT pihak Kaum Pembebas memenangkan pertempuran satu melawan satu).
Seperti diingatkan akan sesuatu, Ju Qin sang pangeran menepok jidatnya keras-keras,
"Demi kura-kura hitam, benar adanya. Guruku sendiri pantas untuk jabatan itu. Mengapa aku sampai melupakan orang itu?" disuruhnya lah penjaga untuk memanggil J Lianyi kedalam ruangan.
Pada akhirnya setelah Pangeran Ju Qin mengikuti saran Sima Yong, mengangguk-angguk kepala dengan puas, ketika melihat raut bahagia yang jelas tergambar di wajah Ju Lianyi, pada waktu ketika Pangeran Ju Qin mengatakan akan mengangkat dia menjadi Guru Negara Rajawali Agung.
"Terima Kasih atas kepercayaannya Pangeran !" Ju Lianyi berlutut di hadapan muridnya yang kini dipanggil kaisar.
Sepeninggalnya Ju Lianyi, anak muda itu kembali menanyakan sesuatu kepada Ju Qin.
"Jadi menurut anda, kemana kira-kira perginya Ju Kai itu?"
Sambil menghela nafas panjang-panjang, Ju Qing bercerita kepada Sima Yong.
Ju Kai adalah seorang anak haram dari salah satu Master Pedang di tepian barat. Ibunya di dalam suatu perjalanan ke barat sana, sempat berhubungan dengan Master Pedang itu.
Maka lahirlah Ju Kai, yang kemudian di akui sebagai salah satu pangeran oleh kaisar tua. Padahal kenyataannya dia bukan anak kaisar. Kenyataan ini terbongkar dengan sendiri nya dari mulut Ju Kai dan ibundanya, ketika mereka melakukan pemberontakan di awal-awal yang lalu.
Jadi jika Saudara Yong menanyakan kemana Ju Kai itu pergi? Aku menduga bahwa dia telah berada di Negri Tepian Barat, bersembunyi di bawah pengaruh ayahnya yang di sebut Master Pedang"
Meskipun terkejut mendengar penjelasan Ju Qin, namun Sima Yong tidak merubah ekspresinya seperti layaknya orang terkejut. Malahan dia berkata pelan,
"Perjalananku selanjutnya adalah ke beberapa tempat. Dan salah satu tempat yang akan aku kunjungi adalah Tepian Barat sana. Ada dendam yang harus aku tuntaskan dengan beberapa SAGE di negri itu.
Jika kelak aku berjumpa Ju Kai di barat sana, apakah anda ingin aku membunuhnya?" tanya Sima Yong.
__ADS_1
"Terserah pada anda Saudara Yong. Aku pikir seseorang dengan hati dan pikiran jahat seperti Ju Kai itu, tidak pantas untuk berlama-lama hidup di dunia ini" jawab Ju Qin tegas.
Sima Yong menatap dalam ke arah Ju Qin lalu berkata.
"Kalau begitu aku akan membunuhnya. Sekalian dengan ibunya yang selalu menyemangati Ju Kai itu. Aku menduga dia dan master pedang itu yang menjadi pokok permasalahan sampai Ju Kai itu memiliki niat menghianati Kekaisaran Rajawali Agung ini"
******
Senja baru saja berlalu, ketika itu langit demikian cerah tanpa awan. Bintang-bintang berkilauan di langit. Waktu itu terlihat banyak sekali sosok-sosok mengenakan pakaian berwarna kelabu berjalan di tengah hutan, menyusuri tepi sebuah sungai yang di beri nama Sungai Suci Huang. Mereka berjalan pelan-pelan dibawah pohon-pohon Ek yang memenuhi hutan itu.
Kelompok orang-orang itu terdiri dari pria dan wanita dengan wajah yang sangat menawan. Penampilan mereka tertutup jubah menjuntai berwarna kelabu yang indah. Rambut mereka kelihatan hanya memiliki salah satu diantara dua warna saja,
Pertama warna cemerlang seperti bintang dan warna yang kedua adalah hitam sekelam malam.
Sima Yong, jagoan kita terlihat diantara orang-orang itu, dengan rambut seterang bintang, berjalan pelan-pelan memasang wajah diam sesuai suasana ketika itu. Di dahi semua orang itu, Elf maksudnya, terlihat cahaya terang dari tato huruf kuno yang berfungsi sebagai penerang.
Masing-masing Elf itu membawa seruling emas atau harpa-harpa emas, sambil memetik atau meniupnya dan melantunkan lagu yang pelan-pelan terdengar sedih. Mereka kemudian berhenti di sebuah pinggir sungai, dimana telah menanti satu buah kapal berwarna kelabu, dan di nakhodai satu Elf tua yang juga berjubah kelabu.
Kelompok Elf laki-laki kemudian membopong satu demi satu peti yang terbuat dari kaca kristal dan kaca-kaca lainnya. Jumlahnya ada lima buah peti tepatnya. Selepas lima peti itu berada di geladak kapal, lalu seorang Elf yang menjadi penatua di Sekte Elf itu berbicara keras-keras dalam bahasa kuno.
"Menne rauhassa! Toivattavasti saat unelmiesi uuden vartalon"
Sima Yong paham dengan bahasa kuno Elf yang artinya "Sudah saat nya kalian pahlawan-pahlawan ini berangkat ke Tanah Ajaib. Pergilah dengan damai dan semoga memperoleh tubuh baru sesuai impian kalian"
Sima Yong menatap lekat-lekat ketika kapal itu meninggalkan tepian sunga, lalu layarnya terkembang secara sihir, dan pelan-pelan meninggalkan mereka kelompok Elf yang masih menunggu sambil mengeluarkan nada-nada sedih dari harpa dan seruling. Hewan-hewan hutan lalu berkumpul, dan mulai bersuara-suara sambil menitikkan air mata.
Hujan pun turun, mengiringi keberangkatan kapal kelabu itu, namun kelompok Elf itu tetap diam ditempatnya, memainkan lagu-lagu bernada sedih. "Selamat jalan Master Huang. Ketika aku mencapai Immortal nanti, aku akan mencari anda di Tanah Ajaib itu"
*Bersambung*
__ADS_1
Halo semua. Terima kasih sudah membaca dan menyukai Novel ini. Dan untuk membuat author lebih semangat lagi, selalu berikan like ya. Jangan lupa favoritkan dan rekomendasikan novel ini kepada yang lain... Terima kasih dan semangat membaca...