
Ketika Sima Yong tiba di Toko Array, dia menjadi amatlah geram ketika menadapat Penatua Ren Fu yang terkapar dalam keadaan kritis. Ren Fengguang terlihat hanya dapat menangis sejadi-jadi nya di Pundak Sima Yong. Sambil gemetar Sima Yong memeriksa kondisi Penatua Ren Fu, dan dia segera memberi obat penawar racun kepada Penatua Ren Fu.
“Mari kita kembali ke rumah” kata Sima Yong yang dengan sekali hentakan, dia telah memegang kedua Kakek dan cucu itu lalu terbang dengan amat cepat.
Di sela-sela kesedihannya, Ren Fengguang masih saja sempat untuk memuji keindahan Sayap Nirwana Kuning milik Sima Yong. Sayap itu terlihat dengan indah dan memiliki kecepatan yang tinggi membawa mereka sehingga dalam sekejab mata telah tiba di pinggiran kota, rumah Penatua Ren.
“Tuan muda Kakak Yong… anda memiliki sayap yang sedemikian indah. Apakah kemampuan bela diri pedang anda juga sekuat seperti sayap anda itu?” tanya Ren Fengguang setelah berhenti menangis.
“Berjanjilah untuk menuntut keadilan atas perbuatan mereka kepada kakek” pinta gadis kecil itu.
Sima Yong hanya tersenyum dan berkata,
“Kamu tidak perlu kuatir. Kakak Yong ini tahu apa yang harus aku lakukan. Sekarang sebaiknya kamu menjaga kakek di pembaringan. Jangan lupa untuk memberikan pil yang telah aku berikan agar dikonsumsi kakek Ren setiap empat jam. Pastikan kelima pil itu habis di telan kakek Ren”
“Akan tetapi Tuan muda kakak Yong… judade itu mengatakan bahwa dia telah meracuni kakek dengan racun Kelabang Hitam… bahkan dia berkata bahwa obat pemunah racun hanya ada ditangannya. Tidak ada seorangpun yang dapat menawarkan racun tersebut…” kata Fengguang dengan cemas.
Dengan tertawa dingin Sima Yong menenangkan gadis itu,
“Racun Kelabang Hitam seperti itu tidak lebih dari sebuah lelucon dihadapanku. Tidak kah kamu ingat bahwa aku adalah seorang Master Alkimia dan Master Array yang handal??” kata Sima Yong, yang kemudian membuat gadis kecil itu terlihat tenang.
“Sekarang aku akan membuat berbagai array rumit untuk melindungi rumah ini dari siapapun yang mencoba untuk masuk tanpa persetujuanmu. Sima Yong kemudian terlihat sibuk menempatkan array rumit untuk melindungi seluruh rumah itu. Banyak sekali bendera ayyar yang dia tempatkan diberbagai sudut untuk proteksi.
Setelah selesai mengerjakan array proteksi, Sima Yong memberikan kejuta untuk Fengguang,
“Dan ini adalah temanku Bai Laohu, dia akan menjaga kamu dan kakek selama aku pergi” Sima Yong kemudian mengeluarkan Macan Putih bersayap yang seketika tubuh mahluk raksasa itu memenuhi halaman rumah sederhana itu.
Pada awalnya Ren Fengguang amat takut melihat penampilan macan putih bersayap raksasa itu. Akan tetapi Ketika Sima Yong meminta Bai Laohu untuk merubah tubuhnya menjadi kecil, maka macan itu seketika berubah ukuran menjadi seukuran kucing biasa. Dengan penampilan yang hanya seukuran kucing, Bai Laohu berubah wujud menjadi lucu dan menarik. Dia terlihat seperti seekor kucing yang memiliki sayap dengan kesan uniknya. Keduanya menjadi akrab dengan cepat.
Ren Fengguang saat ini semakin hilang rasa takutnya. Dia tidak lagi merasa ngeri setelah dia mendapati kenyataan bahwa Bai Laohu dapat berbicara layaknya manusia. Beberapa menit kemudian terlihat keduanya bermain-main dihalaman dengan akrab. Ren Fengguang merasa memiliki teman berbicara, Ketika sang kakek terbaring diatas tempat tidur.
Sima Yong kemudian meninggalkan 500 Blue manna untuk keperluan sehari-hari Ren Fengguang. Gadis itu kini merasa aman setelah didampingi Bai Laohu. Bahkan jika pergi kepasarpun, Ren Fengguang akan menggendong Bai Laohu layaknya kucing peliharaan. Sima Yong juga telah menjelaskan bahwa macan putih itu adalah Hewan Ajaib yang memiliki kultivasi setara dengan Praktisi Alam Tanpa Batas awal (bintang dua), menambah rasa percaya diri gadis itu.
******
Malam hari keadaan di Kota Selatan Benua Penyaringan Dewa itu terlihat ramai seperti biasa. Pusat perdagangan penuh dengan berbagai pedagang yang menawarkan jajanan dan banyak sumber daya yang dibutuhkan oleh praktisi bela diri. Pedagang-pedagang seperti itu, meskipun terlihat seperti orang biasa, akan tetap rata-rata mereka memiliki dasar kultivasi di ranah Alam Bayi Spirit.
Pemandangan pedagang berkultivasi Alam Bayi Spirit seperti itu amatlah berbeda jauh dibandingkan pedagang yang umum di Benua Silver. Di Benua Silver pedagang rata-rata tidaklah memiliki peringkat kultivasi. Namun itulah Benua Penyaringan Dewa, dimana kemampuan dan keahlian bela diri menjadi hal yang paling dibanggakan dan dikejar semua orang. Aliran hawa Qi dari bumi dan langitpun amatlah banyak di benua itu….
Tiga sosok bayangan melesat di atas bubungan rumah-rumah penduduk bagian pinggiran kota. Meskipun itu adalah pinggiran Selatan kota, namun sebagai Kota Besar di bagian Selatan Benua, sentra sentra perdagangan banyak tersebar di berbagai sudut kota itu. Demikian juga dengan pinggiran Selatan Kota, terdapat beberapa pusat perdagangan seperti pasar dan toko-toko milik penduduk.
Tiga sosok bertubuh tinggi itu menuju kearah sebuah toko kecil di pinggiran Selatan Kota, tepatnya di sebuah toko yang dikenal orang sebagai toko penjualan jasa array dan berbagai keperluan mantra maupun kertas array. Saking tingginya badan ketiga sosok itu, orang dengan mudah dapat menebak bahwa ketiga sosok itu adalah ras Judade.
Karena waktu telah menunjukkan hampir tengah malam dimana semua toko telah tutup, ketiganya terlihat tanpa ragu-ragu melompat ke sebuah toko array. Salah satu judade menendang pintu toko array sehingga terbuka paksa dengan menimbulkan suara yang amat keras. Saking kerasnya, hewan malam ikut-ikutan berekasi dengan mengeluarkan bunyi-bunyian.
“Tidak perlu berbasa basi dengan melakukan Tindakan yang memancing keributan seperti itu. Aku telah menunggu kedatangan kalian sejak tadi” sebuah suara dari dalam toko array itu terdengar bernada dingin. Sosok yang bersuara dari dalam toko array itu adalah Sima Yong.
“Bagus jikalau kamu telah batasan dengan menyerahkan diri seperti ini. Bukankah jika semudah ini, kakek tua tadi siang tidak perlu menderita pukulan dan menerima racun kelabang hitam..” judade didepan pintu itu tertawa terbahak-bahak. Dia amat senang karena tugasnya ternyata amat mudah, hanya dengan menakut-nakuti seorang kakek tua, target yang dia inginkan langsung menyerahkan diri.
__ADS_1
“Karena aku telah menyerahkan diri, tolong berikan obat penawar racun kelabang hitam mu.. kakek penjual array itu berada dalam keadaan sekarat saat ini” Kembali Sima Yong bersuara. Dia benar-benar ingin mencari tahu seberapa jauh ketiga judade itu memiliki dendam terhadap dirinya dan seberapa kejam hati ketiganya….
“Apa?? Kamu mencoba membuat lelucon? Kamu bahkan telah membuat tuan muda Phallama Bhalu harus beristirahat di tempat tidur selama berbulan-bulan untuk Kembali sembuh. Jika saja alkemis klan kami bukan seorang Alkemis peringkat Surgawi, kemungkinan tuan muda kami akan menderita cacat seumur hidup…..” Judade itu berbicara tanpa berhenti. Dia bahkan melebih-lebihkan kemampuan klan tempat dia bekerja. Saking focus menyanjung diri sendiri, dia tidak melihat perubahan di wajah orang yang berada didalam toko.
Jika saja dia melihat perubahan raut wajah Sima Yong saat itu, kemungkinan dia tidak akan segegabah itu berbicara menyombongkan diri.
Sementara itu, dua rekan judade itu merasakan perubahan iklim di toko array tersebut…
“Tidakkah anda merasakan udara malam ini lebih dingin dibanding malam malam biasanya??” hening sejenak karena dingin itu semakin menusuk tulang.
“Benar, ada yang tidak beres… dan lihat lah… Butir-butir es berguguran dari angkasa” sambil melihat kearah atas, kedua judade itu terlihat mulai khawatir.
“Sejak kapan wilayah Selatan Benua ini turun salju???...” dua judade diluar toko saling berpandangan…
“Gawat… cepat panggil Tauko keluar dari toko itu…” salah satu diantara mereka melompat kedalam area toko.
Akan tetapi pemandangan didalm toko membuat judade itu menjadi pucat pasi. Dia melihat Judade berkepala botak Bernama Tauko itu telah berubah menjadi patung es. Berdiri kaku dengan mata terbelalak diantara guguran es kecil yang jatuh dari arah atas. Ruangan toko itu telah berubah seluruhnya menjadi putih Ketika terpantul cahaya dari luar.
“Sihir… pria ini menggunakan sihir untuk memanipulasi udara Selatan menjadi sedingin wilayah Utara sana” judade Bernama Samjhako itu melompat mendobrak pintu toko array sehingga menambah kerusakan toko tersebut.
“Larii…. Pria itu menggunakan sihir. Kita bukan lawannya….” Samjhako melambung tinggi dan terbang dengan cepat keangkasa. Dia tidak memperdulikan temannya lagi. Yang ada di pikirannya adalah lari dan terbang sejauh mungkin menyelamatkan diri. Setelah selamat barulah dia akan memberitahu Chamdiko mengenai kegagalan misi mereka. Agen mata-mata Klan Sugandha telah gagal kali ini.
Samjhako si judade itu telah terbang dengan kemampuan terbaik yang dia miliki. Menurut penilaiannya dirinya telah menjauh sekitar 50 km dari lokasi toko array tadi. Saat ini sedikitpun dia tidak melihat tanda-tanda dirinya dibuntuti seseorang. “Mungkin aku telah lolos dari kejaran penyihir itu” pikir judade itu. Namun sangat disayangkan, kebahagiaan Samjhako hanya sebentar saja.
Tampak didepannya, berdiri diantara udara langit Kota Selatan dimalam hari, sesosok tubuh pria mengenakan jubah abu-abu. Wajah putih pucat yang tampan itu tampak mengerikan Ketika dia mengembangkan sayapnya. Sayap pria dihadapannya itu amatlah besar dan lebar. Kira-kira 4 meter lebarnya. Adapun warna sayap pria itu adalah kuning yang amat berkilauan. Samjhako merasa penampilan pria dihadapannya itu mirip malaikat pencabut nyawa.
“Minggir dari jalanku. Atau aku akan bertarung nyawa melawanmu” Samjhako membesarkan hatinya agar dia memiliki sedikit keberanian melawan pria bersayap kuning itu. Pria bersayap kuning ini adalah Sima Yong.
Sebuah suara tertawa penuh hinaan terdengar ditelinga judade Samjhako,
“kamu bukan lawanku dengan kemampuan hanya Alam Raja Bintang tujuh itu. Bahkan seorang Ahli diranah Alam Tanpa Batas bintang dua sekalipun harus sangat berhati-hati untuk mencoba melawanku”
“Aku tidak percaya.. yang aku lihat kamu hanyalah praktisi di Alam Raja bintang enam…” Samjhako menerjang dengan kekuatan full seorang ahli Alam Raja Bintang tujuh. Kekuatan ATK yang dia kerahkan didalam Teknik goloknya sebesar 350.000 jin. Itu adalah nilai kekuatan ATK maksimum praktisi diranah tersebut.
Samjhako merasakan dunia disekelilingnya tiba-tiba melambat… bahkan anginpun terasa sangatlah lambat Ketika bertiup melewati pipinya. Judade itu menjadi gugup….
“Celaka.. gerakanku menjadi amat lambat. Penyihir itu menggunakan sehir mengubah dunia menjadi lambat” judade itu menjadi sangat panik.
Bisikan suara bernada dingin terdengar seperti bisikan iblis, terasa begitu dekat di telinganya…
“sudah aku katakan. Kamu bukan lawanku… bahkan kamu tidak layak untuk membuatku mencabut pedang”
“Duaar…”
Sebuah telapak tangan mengandung kekuatan sebesar 450.000 jin mendarat dengan tepat didada judade itu. Tubuhnya terlampar jauh beberapa tindak bagaikan karung bocor yang dihempaskan ketanah. Tauko terbanting dengan keras sambil mengeluarkan seteguk darah dari mulutnya. Seluruh tubuh Samjhako terasa sakit bagaikan baru saja tertimpa gunung. Dia saat ini telah kehilangan semua kemampuannya.
Ditengah-tengah kesengsaraannya… tiba-tiba Samjhako melihat sosok pria bersayap kuning itu menghampirinya.
__ADS_1
“Tolong… jangan bunuh aku. Aku hanyalah orang suruhan…” Samjhako berubah menjadi sesosok raksasa lemah bagaikan anak kecil yang sedang merengek.
“Siapa yang menyuruhmu?? dengan dingin pria itu berkata.
“Aku akan menceritakan semua… tapi tolong jangan bunuh aku. Aku bahkan sama sekali tidak menyentuh kakek tua pemilik toko array” kata Samjhako.
Tanpa diminta, judade itu lalu menceritakan bahwa mereka adalah petugas mata-mata Klan Sugandha, dan semua permintaan ini adalah usulan dari Chamdiko setelah Chamdiko bertemu dengan Phalama Bhalu. Phalama Bhalu memiliki dendam kepada Sima Yong setelah dirinya dikalahkan dan menderita sakit berbulan bulan kedepan.
Ketika Samjhako bercerita tentang semua kejadian hingga malam ini, pria dihadapannya itu terlihat benar-benar tidak memasang ekspresi apapun. Padahal Samjhako sudah berharap banyak bahwa dirinya akan diberi belas kasih oleh si sayap kuning.
Sima Yong hanya menatap Samjhako dengan dingin lalu dia berkata,
“Aku mengampuni selembar jiwamu. Akan tetapi orang seperti kamu ini jika diberi keampunan, kalian cenderung akan melakukan hal kekejaman yang sama. Karena itu kamu dapat pergi namun aku akan melumpuhkan kemampuanmu” tanpa disangka-sangka Sima Yong memukul kearah dantian dan merusak dantian judade itu. Judade itu menangis pedih didalam kesakitan.
“Kamu bisa pergi dan mengatakan kepada Chamdiko kalau aku menunggunya di Arena Kota Selatan untuk bertarung besok hari. Katakan bahwa jika dia tidak datang ke arena, maka aku akan datang klan kalian dan merenggut nyawa Phalama Bhalu sepupunya itu” Sima Yong kemudian menghilang dalam sekejab mata dari hadapan Samjhako yang tengah merintih kesakitan.
Dipihak lain Samjhako merasa bersyukur, setidaknya dia tidak meregang nyawa seperti dua kawannya yang berubah menjadi kristal es.
“Aku akan pulang ke kampung dihutan setelah memberi info kepada tuan Chamdiko…” janji Samjhako didalam hati. Setelah menulis surat kepada Chamdiko, Samjhako menghilang dari Kota Selatan, hingga pada akhirnya dirinya terlupakan pernah meramaikan dunia praktisi di Kota Selatan.
******
Pagi itu Chamdiko mendapat berita dari bahwa ketiga utusan yang dia kirimkan itu telah menghilang dan tidak pernah muncul lagi. Kemungkinan telah mati. Menyusul sebuah surat diberikan oleh pengawal di gerbang Klan yang mengatakan bahwa surat itu di tulis oleh salah satu agen rahasianya yang dikirim untuk meringkus Sima Yong. Agen Bernama Samjhako itu hanya sempat menulis surat kepada Chamdiko, lalu mengundurkan diri untuk balik ke hutan tempat dimana dia berasal.
Setelah membaca isi surat itu, wajah Chamdiko berubah menjadi amat tidak sedap. Dia meremas surat tersebut yang dalam seketika berubah menjadi debu.
“Pria malang Sima Yong itu benar-benar berani. Dia telah membunuh dua orang agen ku bahkan menantangku untuk bertarung di arena pada hari ini”
“Baik akan aku layani keinginan mu bocah udik pedesaan….” Chamdiko benar-benar diliptui hawa amarah. Seseorang yang amat tidak terkenal berani menantangnya Ahli Peringkat Tiga kelas Perak di Arena Kota Selatan.
“Persiapkan peralatan tempurku. Aku akan bertarung di arena pada hari ini” bentak Chamdiko kepada pelayannya gadis ras jingling yang terlihat ketakutan.
******
Sementara itu, banyak sekali slip giok array komunikasi para praktisi Kota Selatan berdering menandakan ada berita yang amat baru dan menghebohkan.
“Chamdiko akan bertarung di arena melawan seorang Ahli pemegang Tato Sayap Perak bergaris satu”..
Seluruh kota menjadi gempar,
“Bukankah terlalu berlebihan untuk petarung sekelas Chamdiko melawan petarung lain di kelas Sayap Perak bergaris satu??”
“Ah… sudah terlalu lama Kota Selatan ini tidak dihebohkan dengan pertarungan seru di arena. Sepertinya ini adalah moment yang cukup menarik, ayo kita pergi menonton”.
Hari itu tiket menonton pertarungan di arena Kota Selatan laris terjual. Bahkan beberpa orang masih ingin membeli tiket, namun tiket dinyatakan telah habis terjual…
*Bersambung*
__ADS_1