Kisah Dewa Pedang Utara

Kisah Dewa Pedang Utara
Di Lorong Portal Benua Silver


__ADS_3

Matahari pagi bersinar cerah dari ufuk Timur. Pantulan nya membuat empat bayangan pada stu hutan, yang terkena sorot cahaya ufuk timur itu terlihat panjang-panjang, mirip leher jerapah yang nampak aneh dengan badan yang pendeknya.


Sima Yong bersama Atid trlihat berdiri di tengah suatu ruang lapang berumput, di Hutan Terujung Kota Selatan. Mereka telah bersiap-siap untuk melewati portal penghantar mereka keduanya menuju Benua Silver. Phoenix Api dan Gajah raksasa nan Agung milik Atid juga mendampingi dua orang itu. Hari ini adalah hari perpisahan antara Sima Yong dengan kawanan Ye Bing Qing.


Sima Yong dengan Atid dengan perjalanan berangkat menuju Hutan Terujung, sementara Ye Bing Qing membawa tiga kawannya menuju ke dataran utara.


"Anda akan menamai apa sekte kita nanti saudara Yong?" tanya Tang Yuwen.


"Sekte Pedang Terbang Elvan" kata Sima Yong.


"Aku akan menggunakan dua nama itu karena aku merasa berhutang beberapa hal dengan dua sekte kuno itu" jawabnya.


"Nama yang besar dan agung" jawab jawab tiga kawannya penuh rasa kagum.


Dengan senyum Sima Yong menjawab,


"Kalian akan di bawa menemui dua orang ahli yang juga menjadi bagian Sekte Pedang Terbang Elvan.


Lalu lihat lah keajaiban dan hal menarik di utara sana. Mungkin Bing Qing akan membawa kalian dalam tour ke suatu tempat bernama Neraka Dunia . Dua orangku juga menanti Bing Qing di perut bumi itu" Lalu mereka pun berpisah - Hattaudha, Niryadi dan Tang Yuwen di landa penasaran akan nama-nama yang Sima Yong sebutkan tadi


******


Ketika itu..


Sima Yong mulai membuka array yang menutupi portal itu. Sebagai ahli array, kerjaan menyibak kunci array adalah pekerjaam yang mudah. Dia lantas memegang badan Phoenix Api miliknya, sementara Atid yang duduk diatas Gajah Agung terlihat memerintahkan belalai sang gajah melilit kaki sang phoenix. Mereka harus saling terhubung selama perjalanan melintas ruang.


Blep !


Seketika semua merasa dunia berputar terbalik-balik. Pemandangan berubah sedemikian rupa, dan menimbulkan rasa mual. Tubuh mereka dengan cepat tersedot seuatu kekuatan, dan memasuki satu lorong waktu dan ruang. Warna lorong ruang dan waktu ini tampak berkerlap-kerlip seperti ledakan petasan tiada henti.


Angin bertiup sangat kencang di dalam ruang portal itu. Rambut dan semua benda yang melayang, melambai-lambai di terpa badai.


"Tetap teguh saling berpegangan, jangan saling berpisah !" teriak Sima Yong.


Dia mengencangkan genggamannya di bagian leher sang phoenix. Sementara Atid memeluk leher sang gajah erat-erat, yang mana belalai gajah itu ketat melilit kaki phoenix.


"Berapa lama kita akan berpindah melalui Portal ini?" teriak Atid.


"Tidak lebih dari satu jam" jawab Sima Yong.


"Mungkin kira-kira dalam se-pebakaran hio, kita akan mendarat di portal pembuka di wilayah barat Benua Silver sana".

__ADS_1


"Baiklah !" jawab Atid puas.


Sementara itu..


Asik terlibat dalam perbicangan saling teriak, tidak ada satupun diantara mereka kelompok pelintas ruang dan waktu itu, yang menyadari terjadi ledakan kecil dan menimbulkan percikan api di lorong waktu, di bagian paling depan.


Sang Phoenix lah mahluk pertama yang menyadari adanya percikan api. Mahluk mitos itu mulai bergerak-gerak dengan gelisah, mencium firasat tidak baik.


Phoenix api memulai teriakan langsung kencang - berulang kali berteriak dengan suara yang menguik-kuik. Dia berusaha keras memberi tahukan master nya kalau terjadi percikan api di bagian depan sebagai tanda bahaya.


"Kuik - kuik - kuik" pekiknya dengan panik.


"Apa yang akan kau katakan wahai mahluk mitos?" tanya Sima Yong lembut. Lambat laun dia menyadari kegelisahan sang phoenix.


Namun Phoenix itu tetap dengan keresahannya, membuat Sima Yong langsung bersiap-siap dan bersiaga.


"Dengar Atid ! ... di depan sana terjadi percikan api lorong ruang dan waktu. Hal sekecil itu dapat berakibat buruk jika di biarkan.


Baiklah aku akan mencoba menangani percikan api itu, - berjaga kalau-kalau terjadi ledakan yang mengakibatkan kebocoran di portal ini" teriak nya keras-keras, mencoba menandingi suara badai angin di lorong portal yang bertiup kencang.


"Aku akan menemanimu !" teriak Atid yang langsung bersiap untuk melompat dari Sang Gajah.


Dengan tegas Sima Yong balas berteriak..


Aku memiliki energi inti es yang dapat memadamkan percikan api dan juga menutup lobang jika saja hal itu terjadi" pekiknya.


"Dan lagi.. kultivasi ku yang tertinggi disini.


Aku kuatir jika niat baik mu membantu itu, hanya akan menyulitkan dan merepotkan ku. Lebih baik anda tetap di jalur menjaga dua mahluk mitos itu.


Meskipun terlihat kurang senang, namun Atid mengiyakan permintaan anak muda itu.


"Baiklah kalau demikian. Aku bersama Gajah Agung dan Phoenix api ini akan menunggu mu di depan" pekik Atid.


Rambutnya yang di gelung seperti adat kebiasaan Orang Selatan, kini telah berantakan didalam badai lorong ruang dan waktu.


Tap - tap - tap !


Sima Yong melompat memisahkan diri, menempel di dinding yang menyala-nyala akibat gesekan udara. Sementara Atid awal-awal telah melayang dan mengambil posisi pemimpin rombongan, berada paling depan mengganti posisi Sima Yong, diikuti Sang Phoenix dan Gajah.


Ketika mereka melintas melewati dirinya, Sima Yong masih sempat melambaikan tangan kearah rombongan yang dengan cepat menghilang. Dia langsung bergerak ! Energi Qi nya meluap dari dantian, mengalir ke tangan.

__ADS_1


Dalam gerakan menampar 'wush !' - Energi Inti Es Teratai Salju mengalir ke telapak tangannya dan menutupi percikan api yang tinggal menunggu waktu untuk meledak. "Sempurna !"


"Mungkin aku akan menunggu barang tiga kedipan mata, guna memastikan lorong ruang & waktu ini tidak bocor dengan aliran lorong ruang & waktu lain yang menuju ke tempat lain.


Tiga kerdipan mata berlalu, dan Sima Yong telah memastikan kalau kristal es yang dia pakai menambal celah itu kini aman. Dia lantas melompat ke tengah aliran perjalanan ruang & waktu itu, tersedot lagi ke portal pembuka di Benua Silver sana..


"Beruntung kemampuanku telah meningkat jauh. Rasa nya tidak terlalu memberatkan ketika menggunakan energi es menambalcelah tadi" batin nya tersenyum.


Akan tetapi...


Baru sekali tarikan napas berlalu, anak muda itu mendengar suara bergetar seperti suara goncangan tanah saat gempa bumi. Makin lama makin keras..


"Apa yang terjadi? Apakah kristal es itu tidak mampu menahan luapan energi ledakan dari dunia luar lorong dan waktu ini?"


Sima Yong menatap ke belakang kearah celah yang di tambal nya tadi..


"Terlalu jauh, aku telah jauh dari spot celah tadi. Tak mungkin aku berbalik melawan aliran energi universe seperti ini" dia menatap nanar kearah bagian belakang lorong yang mulai menyala dengan cahaya menyilaukan.


Blam !


Satu energi raksasa dunia, menendang tubuhnya keluar dari lorong ruang dan waktu, ketika akhirnya celah itu meledak secara ekslosif. Sima Yong seketika jatuh pingsan akibat energi raksasa sementara tubuhnya terlempar seperti layangan putus di ruang hampa - tidak di dalam lorong waktu menuju Benua Silver, dan juga tidak berada di lorong lainnya.


Tubuhnya melayang-layang terlempar jauh di satu ruang serupa antariksa yang hampa, terkatung-katung. Dia tidak tahu apa yang terjadi selanjutnya ...


******


Sementara itu Atid berteriak keras di kejauhan - jauh sekali jaraknya di dekat pintu keluar mulut portal.


"Apa yang terjadi?.. Saudara Yong ! Saudara Yong !. Apakah anda telah berada di dekat sini?" suara Atid berteriak dalam kekuatan yang dahsyat.


Akan tetapi bukannya suara jawaban dari Sima Yong yang menjawab panggilannya, melainkan satu bahana gemuruh seperti tutur kata langit yang marah. Satu bunyi yang mengandung kekuatan dahsyat dari langit yang tak dapat di tanggung ahli-ahli manapun dunia ini.


Dentuman keras itu adalah muntahan energi ledakan dari celah tadi yang mendorong Atid dengan dua mahluk legendari itu. Ketiganya terlempar cepat kedepan seperti karung kosong tercampakkan.


Tiga sosok itu lantas tercampak keras, keluar dari mulut portal di patung Elf pada ruang kosong pada bangunan di domain Elf abu-abu wilayah Barat Benua Silver. Atid, Sang Gajah Agung dan Phoenix Api itu tampak terkapar tidak sadarkan diri.


Dua matahari di Domain Elf abu-abu, terlihat kekuningan seperti kulit jeruk matang, pertanda senja akan merayap menjadi kelam. Namun tiga mahluk itu belum juga tersadar dari pingsannya.


>>>>>>


Readers, ARC tentang dunia ajaib sihir telah selesai. Kita akan memasuki ARC baru tentang perjalanan anak muda Sima Yong untuk di sebut Dewa Pedang. Favoritkan novel ini untuk menunggu pemberitahuan ARC terbaru KDPU ini. Akhir kata menutup ARC tentang sihir, Autor mengucapkan terima kasih kepada kalian semua. Komen dan like mu adalah sangat berarti dan memberi semangat bagi autor untuk terus menulis kisah ini. Salam.

__ADS_1


*Bersambung*


   Halo semua. Terima kasih sudah membaca dan menyukai Novel ini.  Dan untuk membuat author lebih semangat lagi, selalu berikan like ya. Jangan lupa favoritkan dan rekomendasikan novel ini kepada yang lain... Terima kasih dan semangat membaca...


__ADS_2