
Sima Yong menatap ringan kearah kerumunan orang-orang yang menonton pertarungan antar penyihir malam itu. Dia tahu, saat ini keberadaan kaum penyihir dan Magi telah terkuak setelah mereka terang-terangan bertempur secara sihir tadi.
Namun dia juga sadar. Diantara kerumunan itu, jelas-jelas terdapat banyak sekali kaum penyihir yang berbaur dengan masyarakat biasa atau yang disebut commoners itu. Matanya lalu menyapu dan menatap dingin ke arah langit malam - yang di lapisan ketiga dan lapisan ke empat dia melihat keberadaan banyak Afrit dan Marid, mahluk roh halus yang di jadikan bawahan oleh para penyihir.
Mahluk roh halus seperti mereka itu jelas-jelas adalah suruhan para penyihir master mereka untuk memata-matai pertempuran, lalu akan mengambil manfaat demi keuntungan pribadi.
Dengan tatapan mencorong seperti harimau dan suara yang penuh ancaman dia berkata,
"Aku tidak akan mentolirer dan berbelas kasihan kepada siapapun diantara Magi yang mencoba-coba merebut hadiah Relikui di tanganku
Seharusnya kalian semua menghormati akan keputusan Perang Suci dan tidak menjadi serakah untuk merebut relikui naga dari tanganku.
Sebagai pemenang Perang Suci abad ini sekali lagi aku tegaskan. Barang siapa yang masih mengejarku demi Relikui dan Noble Phantasm ini, kematian adalah hadiah yang akan kalian terima"
Semua diam... Suara angin saja yang terdengar pelan.
Selepas berkata seperti itu, Sima Yong lantas mengeluarkan Noble Phantasm yaitu Tongkat Sihir Teleportasi. Tongkat pendek itu di pegang di tangan kanannya - yang di angkat tinggi-tinggi dengan tubuh yang melayang di udara.
Teleportasi !
Ketika Sima Yong selesai dengan mengucapkan mantra teleportasi nya, langit membentuk satu lingkaran hitam serupa black hole. Lalu dibarengi penampakan lubang hitam itu, kilat menyambar yang membuat penampakan anak muda terlihat seperti orang suci menggenggam tongkat di tangan.
Dia lantas lenyap di telan blackhole yang keluar dari langit - semua kejadian itu demikian cepat, hanya dalam sekejab mata saja.
Wush !
Langit kembali menjadi kelam, hanya menampilkan rembulan yang sepertinya malu-malu untuk menampilkan diri nya yang setengah purnama. Tidak tersisa jejak apapun, bahkan debu dari empat sosok yang tadi nya bertempur dengan anak muda itu telah lenyap terbawa angin malam.
Kerumunan penonton dari arah Kota Tepian barat bubar. Demikian juga dengan kerumunan roh halus - budak para penyihir, langsung bubar. Sang Pemenang Perang Suci telah pergi. Tidak ada yang perlu di tonton lagi.
Kota Tepian Barat malam itu langsung di hebohkan dengan berita tentang pertempuran antara para ahli sihir. Selama ini tidak seorang pun menyangka akan keberadaan ahli-ahli sihir seperti yang baru saja mereka saksikan barusan.
Namun setelah menyaksikan kemegahan dan kehebatan pertarungan ahli sihir yang tidak kalah dengan pertarungan diantara SAGE - sejak saat itu kaum praktisi menjadi lebih berhati-hati terhadap kemampuan tempur seseorang yang mengandalkan kekuatan magis itu.
******
__ADS_1
Sima Yong muncul dari kehampaan di pinggiran Barat yang berbatasan dengan Barat Laut. Dia berdiri di atas tebing-tebing cadas di kelilingi malam kelam. Anak muda itu lantas bersiul dengan sangat keras - menggunakan kekuatan Qi dan saluran khusus yang hanya dapat di tangkap Phoenix tunggangannya.
Dia menunggu dan berdiri kokoh dengan jubah melambai di tiup angin malam. Selewat sepeminum teh, dari arah langit terdengar suara menderu, seperti bunyi kepakan sayap burung Rajawali. Menyusul setelah suara itu, tampak sosok besar dengan api-api kecil menukik kearah mana dia berdiri.
Anak muda itu lantas melompat ke udara, lalu melakukan jumpalitan tiga putaran dan hinggap berdiri diatas punggung sang Phoenix.
"Ayo Phoenix... tugasku telah selesai disini. Saat nya terbang ke Selatan menjumpai kerabat dan sahabat. berikan kecepatan terbaik yang kamu miliki "
Phoenix itu mengepakkan sayapnya dua kali, seketika tubuh nya melesat serupa teleportasi - berpindah puluhan tombak kedepan.
"Wahai orang-orang Selatan... nantikan kedatangan ku" wajahnya sangat gembira.
******
Benua Silver - Gurun Terkutuk
Matahari baru saja terbenam. Di sisi timur gurun itu terlihat banyak sekali api unggun telah di nyalakan kawanan ribuan tentara yang duduk-duduk mengelilingi cahaya sumber panas itu, meski dalam balutan baju zirah pertempuran, tetap merasa kedinginan dengan udara ekstreem gurun.
Dari kejauhan kerlap-kerlip api unggun mereka terlihat berpijar-pijar bagaikan batu permata, indah dipandang, dan tampak mencolok diantara pasir penuh debu di tanah tandus itu.
Kapal-kapal roh dan mesin-mesin perang sepertinya mulai berderak-derak, berbunyi keras pertanda gerakan penyerangan ke utara di benteng pertahanan tinggal menunggu waktu - benteng pertahanan adalah tempat para praktisi negri utara dengan cara membangun sebuah benteng yang disebut 'Benteng Pertahanan' untuk melawan serangan dari arah Timur.
Di malam kelam itu, ada tampak satu sosok yang melayang terbang di angkasa mendekati perkemahan tentara timur, yang dengan jubahnya yang berkibar-kibar tertiup angin, dan terlihat dia sama sekali seperti tidak terganggu ketika banyak sekali anak panah di tembakkan dari arah perkemahan untuk memanggang dirinya.
Tsing - tsing - tsing !
Sosok itu adalah seorang pria muda, mengenakan pakaian seperti seorang Imam Agama Tao, dengan rambut yang di gelung tinggi dan d ikat pita dari kain sederhana. Yang menariknya dari penampilan pria itu adalah salah satu lengan baju nya terlihat seperti kosong. Dapat di pastikan kalau ahli itu adalah seorang praktisi berlengan tunggal.
Meskipun demikian, kekurangan dengan hanya satu lengan saja tidak mengurangi penampilannya. Wajahnya terlihat bercahaya - penuh energi dan terlihat tampan. Pria berlengan satu itu dengan enteng melambaikan tangan kanannya, lalu ratusan anak panah yang di tembak kearahnya, gugur ke tanah.
"Dia seorang praktisi ranah SAINT" teriak kumpulan para tentara di kawasan Timur Gurun Terkutuk.
Imam muda berlengan satu itu membuat gerakan memutar di udara setelah dia menghitung dan memperkirakan jumlah pasukan dari arah Gurun bagian Timur ini, berniat berbalik ke utara.
Baru saja pria berlengan satu ini memutar tubuhnya dan akan kembali ke benteng pertahanan utara, sekonyong-konyong satu sosok tubuh melompat ke udara.
__ADS_1
Suiitttt !
Sosok itu adalah satu perwira yang mengenakan zirah khusus perwira, dia bersiul dengan suara yang amat kencang, dengan satu pedang tajam yang membuat gerakan menusuk lurus kearah pria lengan satu itu.
Suara mencicit pedang terdengar menggiriskan hati, pertanda pedang di gunakan menggunakan energi yang sangat kuat.
"Mati !" teriak semua tentara serempak.
Para tentara yang melihat perwira gagah itu bersorak-sorak dan melecehkan verbal dengan hinaan ke pria lengan satu yang telah terkunci dalam tekanan pedang.
Namun semua sorak-sorai para tentara dari Gurun Timur menjadi terbungkam dalam diam. Semua menyaksikan ketika imam muda berlengan satu membuat gerakan berputar di udara, jumpalitan indah. Tangan kanan nya terjulur cepat menyambut tusukan pedang.
"Kraaak !"
Semua tentara yang awalnya bersorak-sorak merayakan kemenangan perwira mereka, kini hanya menatap nanar serasa tidak percaya, ketika itu pedang yang di tusuk perwira mereka telah di jepit dengan dua jari si imam berlengan satu itu dengan teknik yang amat cepat.
Sedangkan suara krak itu adalah suara yang timbul akibat jepitan jari si imam yang lantas mematahkan pedang perwira itu menjadi dua bagian.
"Mustahil !"
"Itu adalah pedang yang di tempa khusus, bagaimana mungkin?" jerit tak percaya kaum tentara.
Tidak berhenti hanya disitu saja, imam lengan tunggal itu kembali berputar di udara dalam gerakan luwes dan indah. Kakinya secara beruntun mengekseskui yaitu teknik tiga kali tendangan - mendarat di dada perwira dari Gurun bagian Timur.
Perwira itu langsung merasakan sesak di dadanya. Beruntung dia mengenakan zirah khusus untuk kaum perwira. Jika tidak kemungkinan dadanya akan hancur!.
Buk - buk - buk !
Hoeks !
Perwira itu lantas melayang terlempar kebelakang beberapa tombak jauhnya, lalu dia memuntahkan seteguk darah segar. Tatkala melayang tadi, tubuhnya terlihat seperti layangan putus dan diakhiri dengan suara bededum, mendarat di atas pasir gurun. Pasir lantas membentuk lobang seperti cendawan besar.
Imam berlengan tunggal itu terlihat menggunakan daya tendangan, lantas mendarat di tanah gurun, lalu dengan sekali teolan untuk meminjam kekuatan dari tanah - tubuhnya meluncur dengan cepat ke angkasa. Dia melesat terbang dengan cepat, menyisakan tatapan dingin dengan bola mata menyorot seperti harimau - kearah kumpulan para tentara.
*Bersambung*
__ADS_1
Halo semua. Terima kasih sudah membaca dan menyukai Novel ini. Dan untuk membuat author lebih semangat lagi, selalu berikan like ya. Jangan lupa favoritkan dan rekomendasikan novel ini kepada yang lain... Terima kasih dan semangat membaca...