Kisah Dewa Pedang Utara

Kisah Dewa Pedang Utara
Putri-putri Altar


__ADS_3

Matahari telah nampak di Timur, ia menyerupai sosok yang baru terbangun dari malam yang panjangnya - menyinari hangat Kota Guntur Langit yang dingin berselimut embun. Meskipun demikian, kesibukan telah terlihat jauh hari ketika kentongan lima baru saja dibunyikan (waktu antara 03.00 - 05.00)


Ini adalah hari istimewa, orang-orang berpakaian rapih, pakaian terbaik yaitu tunik putih bersih, yang merupakan pakaian sembahyang para penyembah Kuil Dewa Himalaya.


Bau-bauan dupa dan kemenyan telah menyeruak keseluruh kota dan satu demi satu orang-orang berjalan membawa persembahan menuju Kuil Dewa Himalaya di kaki pegunungan itu.


Sima Yong juga tampak diantara kelompok rakyat Kota Guntur langit, berjalan menyusuri jalan kota menuju ke kuil. Ia juga mengenakan tunik putih seperti yang di kenakan orang lokal - setelah sebelumnya menanyakan informasi tentang pakaian yang pantas dikenakan.


Karena orang-orang tumpah ruah memenuhi jalanan, tentu saja ia tidak bisa dengan leluasa berjalan dengan cepat, dan memilih untuk membaur bersama orang dunia fana. Ketika baru saja ia melewati tikungan kedua, terdengar suara tangis dari dalam salah satu bangunan, yang terdengar begitu pilu.


Sontak saja orang-orang yang sedang berjalan pelan-pelan itu berbalik kepala, memandang dengan rasa ingin tahu yang besar ke arah bangunan itu.


"Apa yang terjadi?" tanya seorang perempuan setengah tua di depannya.


Perempuan tua itu berjalan bersama satu perempuan tua lainnya. Keduanya berbisik pelan, tetap berusaha terlihat bersuasana khidmat dan menjaga bibir tetap suci seseorang yang akan pergi sembahyang.


"Itu adalah suara ratap isteri Keluarga Gyalwa. Sejak semalam menangis sedih. Semalam keluarga itu di datangi padri-padri Kuil Dewa Himalaya.


Putri mereka satu-satunya yang berusia dua belas tahun menurut wangsit kuil, bahwa anak gadis itu telah di tunjuk langsung oleh dewa untuk menjadi putri altar di istana dewa" jawab perempuan yang satunya.


Dengan nada nyinyir dan penuh ketidak sukaan, perempuan yang satu nya mulai menyalahkan isteri Keluarga Gyalwa.


"Bukankah mereka, keluarga itu seharus nya bersuka cita? Berkat dewa akan turun dengan sendirinya, selepas mereka mempersembahkan anak perempuan mereka" bisik nya dengan nada kurang setuju, cenderung menyalahkan.


"Aku pun heran. Seharusnya Keluarga Gyalwa itu menegur menantu perempuan yang kurang sopan itu. Jika saja dia masih terus berduka seperti itu, aku takut jika padri-padri kuil mendengar nya dan menganggap selama ini rakyat kota tidak rela anak gadis kami menjadi pelayan di Istana Dewa.


Lalu kutuk dan petaka akan menimpa kami seisi kota" nada menghakimi mulai keluar.


"Jika aku adalah mertua dari perempuan cengeng itu, jauh-jauh hari telah ku usir menantu tidak tahu di untung itu" perempuan yang satunya mencibir sambil memonyongkan mulut kearah bangunan rumah tadi.


Sima Yong tertegun mendengar pembicaraan diantara dua wanita itu,

__ADS_1


"Sedemikian percaya nya mereka dengan Kuil Pemujaan itu? Aku ingin melihat reaksi mereka, ketika nanti aku dapat membongkar kebusukan persekongkolan pihak Kuil Pemujaan Dewa dengan Dewa Himalaya itu sendiri"


Jelas-jelas kuil itu adalah satu ordo kaum Magi yang memanfaatkan rakyat malang di negri ini. Bahkan aku menduga Ordo Magi itu beraliran hitam" batin Sima Yong dengan iba.


Waktu pun merayap sangat pelan. Iring-iringan itu pada akhirnya tiba di halaman Kuil Pemuja Dewa Himalaya. Pintu kuil belum di buka, sehingga halaman depan kuil yang ruang doa nya dapat menampung 5000 jemaat, terlihat seperti lautan putih.


Sima Yong melihat dua sosok di kejauhan sana, tepat di depan gerbang kuil, yang berulang kali mencoba menarik perhatiannya dengan melambai kan tangan.


"Jampa dan ayah nya Imay?" batin Sima Yong.


Imay tampak berusaha membuat komunikasi dengan menggerak-gerakkan mulutnya, dan dia beruntung karena pria yang di ajaknya bicara bahasa isyarat - Sima Yong, dapat mendengar bisikannya meski jarak mereka sekitar tiga puluh tombak.


"Pindah kesini Tuang Agung, Jampa dan aku telah menyiapkan tempat untuk anda di depan sini" batin Sima Yong menerjemahkan gerak bibir dan bisikan Imay.


Sima Yong tidak membutuhkan kesulitan untuk berpindah kedepan, tepat di samping Imay dan Jampa. Dengan menggunakan "Teknik Mengerutkan Otot dan Menciutkan Tulang", dalam sekejab mata ia telah menerobos celah sempit kerumunan orang banyak, dan dengan ajaib ia telah berdiri di samping ayah dan anak itu.


"B-bagaimana anda dapat menerbosos kerumunan orang banyak dengan begitu cepat Tuan Agung?" tanya Imay takjub.


Tampak dua orang padri muda berdiri di gerbang dan membuat tanda salam di dada, sambil mempersilahkan jemaat kuil untuk masuk kedalam aula sembahyang. Sima Yong berjalan teratur mengikuti Jampa dan ayahnya berpura-pura khidmat, lalu memilih duduk bersila di deretan ketiga dari depan - tidak terlalu dekat dari tempat upacara dan juga tidak terlalu jauh.


Tak lama kemudian terdengar suara protokol berbicara dengan keras memecah sunyi.


"Raja dan Ratu memasuki kuil. Beri sembah dan kidung pujian !"


Semua jemaat yang duduk bersila posisi lotus, sontak bersuara keras memuji-muji Raja - yang rupanya juga datang bersembahyang untuk menerima berkat dewa..


"Agunglah Raja Negri Tumbuhan Obat, Langit akan selalu memberkati Negri ini, memberi kesehatan panjang umur bagi Raja dan Ratu..."


Puji-pujian seperti kidung itu tiga kali di ulang-ulang semua orang sambil menundukkan kepala, tidak berani mengangkat wajah. Sima Yong sendiri tidak berusaha berpura-pura menunduk dalam-dalam, karena ia bukanlah rakyat negri ini.


Raja masuk pelan-pelan, begitu agung dan terlihat penuh wibawa. Menyusul sang ratu mengikuti dari belakang, dan seorang anak laki-laki - menurut Imay selepas upcara selesai, itu adalah Putra Mahkota Kerajaan.

__ADS_1


Bangsawan-bangsawan istana itu mengambil tempat, duduk di kursi yang di sediakan di area khusus, tidak bergabung dengan rakyat jelata.


Tang ! tang ! tang ! suara lonceng bergema demikian keras yang suaranya menjangkau hingga sepuluh lie- ketika itu keadaan semakin khusuk dan hening.


"Padri Utama Kuil masuk" bisik Imay.


Suara kaki melangkah pelan-pelan memasuki aula sembahyang. Semua orang menunduk tak berani menatap sosok yang baru masuk itu. Bau kemenyan yang beraroma kayu gaharu terasa kental mencucuki hidung, diikuti percikan air menetes yang di ciprat seseorang kearah semua jemaat.


Banyak saat terkena cipratan dan mencium bau kemenyan, menjadi kesurupan dengan tangis isak kesedihan karena perasaan merdeka dan bebas dari kutuk seperti hilang dari pikiran. Sima Yong mengangkat kepala dan melihat wajah siapa yang baru saja masuk itu.


Ia mengernyitkan kening ketika melihat sosok berjubah putih panjang dengan hiasan dan simbol-simbol tertentu di jubah yang dilengkapi tudung itu.


"Jadi dia ini adalah Padri Ketua Kuil Penyembahan ini? Dia bukanlah seorang suci seperti yang di sebut-sebut rakyat negri ini. Padri ketua kuil ini hanyalah seorang magus peringkat surgawi menengah belaka" Sima Yong mentertawakan dalam hati sekaligus mengasihani rakyat Negri Tanaman Obat ini yang demikian lugu sampai kena tipu Ordo Magi ini,


"Lihat saja, aku akan membongkar topeng manusia-manusia pembohong ini, namun tidak sekarang. Rakyat bisa marah ketika aku terang-terangan membuka aib pembohong-pembohong ini" batin Sima Yong.


Memang pada kenyataannya di dunia sering terjadi seperti ini. Ketika kita telah mengidolakan sesuatu dan bertemu kenyataan bahwa semua itu hanyalah semu - palsu, terkadang kita enggan untuk mengaku bahwa diri kita telah kena tipu.


Sima Yong memperhatikan dalam-dalam Padri Wangchuk (nama ketua kuil), ketika dia mengayun-ayunkan kemenyan di atas bandulan beraroma kayu gaharu kekiri dan kekanan.


"Bahkan aroma kemenyan ini mengandung bahan-bahan opium yang memabukkan dan memberi efek palsu" Ia semakin marah.


Menyusul kemudian terdengar bunyi derap kaki yang cukup ribut. Ia memperhatikan ketika satu demi satu gadis-gadis muda yang di sebut putri altar penyembahan (pelayan) yang berjalan masuk ke aula dengan langkah seperti robot, penuh tatapan kosong..


"Yang sana adalah Rani putri saya, Tuan Agung" bisik Imay kepada Sima Yong dengan bangga.


Sima Yong mengangguk kepala, dan ia semakin berang setelah ia memperhatikan gadis-gadis yang di sebut putri altar itu..


"Semua gadis ini dalam keadaan mabuk. Mereka pecandu opium" ia menggertak kan giginya menahan gusar.


Bersambung

__ADS_1


Halo semua. Terima kasih sudah membaca dan menyukai Novel ini.  Dan untuk membuat author lebih semangat lagi, selalu berikan like ya. Jangan lupa favoritkan dan rekomendasikan novel ini kepada yang lain... Terima kasih dan semangat membaca. <3


__ADS_2