Kisah Dewa Pedang Utara

Kisah Dewa Pedang Utara
Pecahan Salinan Teknik Cakra Air


__ADS_3

   Di Kota Embun Surgawi Sima Yong terlihat memasuki sebuah restoran bersama Fei Ma si kuda terbang. Sedangkan Meirenyu telah beberapa waktu lalu memasuki Domain Pagoda untuk berkultivasi. Pil Pencerahan Nirwana Peringkat 8 harus segera dia serap.


   Ketika semua pesanan makanan terhidang di meja, tanpa malu-malu kedua orang itu seperti berlomba menyantap nasi dan sayuran dengan kalap. Pertempuran beberapa waktu yang lalu di langit Kotaraja, betul-betul telah menguras semua energi yang mereka miliki.


“Ayo … Fei Ma… kamu tidak perlu sungkan dengan cara makan yang penuh etika itu” kata Sima Yong mentertawakan Fei Ma.


“Master… aku merasa seolah-olah telah berminggu-minggu tindak makan. Jadi tolong jangan tertawakan cara makanku” Fei Malu memasang wajah cemberut


   Kuda terbang itu lalu tanpa malu-malu menyantap semua hidangan yang disajikan... Kira-kira sepeminum teh kedua orang itu telah terlihat kekenyangan. Meskipun hidangan hanyalah berupa sayuran dan buah-buahan, namun makanan itu adalah sumber kelezatan bagi mereka yang telah seharian tidak makan.


(Sepeminum teh itu setara dengan tiga puluh menit).


   Suara cakap-cakap diantara pengunjung terdengar jelas di telinga Sima Yong dan Fei Ma


“Apakah kamu telah mendengar berita yang paling baru tentang Kuil Teratai Putih???” Kata seorang pengunjung yang duduk tidak jauh dari meja tempat Sima Yong dan Fei Ma duduk. Pengunjung itu sepertinya seorang praktisi bela diri. Sebuah pedang dia letakkan diatas meja telah menjelaskan siapa dia.


“Ada apa dengan Sekte itu? Bukankah kedatangan kami di Kota Embun Surgawi ini untuk menyaksikan pertarungan Duel Ketua Sekte Kuil itu melawan Raja Kelelawar??” jawab temannya.


   Dengan memasang wajah seolah-olah terkejut, praktisi berpedang itu berkata


“Rupanya petugas Agen Rahasia sekte anda kurang cermat memberikan informasi terbaru kepada anda”.


“Ketahuilah ….  Kira-kira dua kali bakaran hio, Agen Rahasia sekte kami mengirimkan berita kepada Ketua Sekte kami bahwa terjadi malapetaka yang melintangi Kuil Teratai Putih” jawab praktisi berpedang itu.


“Kira-kira kejadian seperti apa yang menimpa Kuil Teratai Putih??” kawannya serta merta menghentikan kegiatan melahap hidangan di depannya. Mata nya melotot dalam rasa keingin tahuan yang amat besar tentang kejadian itu.


   Sima Yong memperhatikan, banyak sekali pengunjung rumah makan yang menghentikan kegiatan bersantapnya, dan kini mengarahkan perhatian kepada Praktisi berpedang yang tengah berkoar-koar penuh semangat itu.


   Merasa bahwa dirinya mendapat perhatian dari orang banyak, praktisi itu kini berbicara dalam nada yang lebih keras..


“Rupanya semalam telah terjadi kejadian yang boleh dikatakan sebuah bencana buat Kuil Teratai Putih”


“Raja Kelelawar Bersama dengan 5 pembunuh yang dibawahinya menyerang dan merata tanahkan Kuil Teratai Putih…” Kata pria itu dalam nada yang semakin dramatis.


   Seketika orang-orang di dalam restoran itu menghentikan kegiatan santap siangnya. Dan dalam tatapan yang terlihat terlihat ingin tahu, semua menatap Praktisi berpedang itu seolah menuntut penjelasan lebih jauh….


   Kini setelah menjadi pusat perhatian, praktis itu memulai kisah secara lengkap.


“Jadi urutan kejadian seperti yang diterima berita Ketua Sekte kami adalah seperti ini”.


“Setelah Raja Kelelawar bersama lima bawahannya memenangkan Pertarungan dahsyat melawan Senshi Katashi di Kotaraja Ju Ying, sepertinya ke enam praktisi itu langsung terbang menuju Kuil Teratai Putih malam itu juga. Kemenangan pertempuran menyebabkan dia menjadi besar kepala”


“Pihak Kuil Teratai Putih yang tidak menduga akan terjadi perdebatan melawan Raja Kelelawar dan kawanannya di malam itu. Maka secara curang Raja Kelelawar bersama kawanannya terlebih dahulu menghancurkan Kuil Teratai Putih yang belum siap bertempur. Well… seperti yang anda tahu bukan??? Janji duel diantara Raja Kelelawar melawan Ketua Kuil Teratai Putih akan dilaksanakan besok”.


“Merasa belum mempersiapkan diri dengan barisan formasi kuil, Ketua kuil Bersama para petinggi menderita luka parah melawan kawanan pembunuh bayaran itu. Tentu saja, anda tahu bukan?? Konon kemampuan tempur Raja Kelelawar setara kemampuan seorang Dewa. Malam itu, tatkala melihat ada peluang melarikan diri, ketua kuil Bersama beberapa petinggi kuil melarikan diri mencari selamat”.


“Raja Kelelawar pada akhirnya melampiaskan kemarahan nya kepada seluruh anggota sekte yang tersisa. Setelah membunuh ribuan anggota sekte, mereka Bersama-sama menjarah dan merata tanahkan Kuil Teratai Putih”….. praktisi bersenjata pedang itu mengakhiri ceritanya.


   Semua orang yang hadir di rumah makan itu menjadi gempar. Bagaimana tidak? Kuil Teratai Putih adalah Sekte Bintang 9.

__ADS_1


   Berhasil menguasai bahkan membantai hingga rata tanah sebuah sekte kelas 9 seperti itu, menunjukkan kemampuan Raja Kelelawar dan kawanan nya adalah para ahli bela diri yang sangat tinggi dan berbahaya.


>>>>>>


   Sima Yong Bersama Fei Ma yang tengah duduk setelah selesai santap siang, keduanya saling bertatapan dan menampakkan wajah yang bingung.


   Raja Kelelawar dan kawanannya? Raja Kelelawar yang mana? Bukan kah mereka berdua semalam langsung beristirahat dalam semedi? Raja Kelelawar manakah yang membantai Kuil Teratai Putih itu? demikian pertanyaan yang muncul di benak Sima Yong.


“Mari kita pergi melihat situasi” Kata Sima Yong. Dia bersama Fei Ma langsung menghilang dan terbang cepat setelah melakukan pembayaran biaya di  rumah makan itu.


   Dari kejauhan mereka melihat asap hitam di gunung Suangzhi Shan. Arah asap itu berasal dari lokasi dimana Sekte Kuil Teratai Putih berkediaman….


   Sesampainya di lokasi Kuil Teratai Putih, Sima Yong dan Fei Ma Kembali saling berpandangan heran. Kuil yang tadinya megah itu, kini tinggal puing-puing belaka yang tersisa asap pertanda tempat itu habis di bakar.


“Mengapa tidak terdapat bercak darah bekas pertempuran??? Taruh kata seseorang telah menguburkan semua mayat di tempat ini, akan tetapi sama sekali tidak tercium aroma darah setetespun di lokasi kejadian ini???” tanya Sima Yong dengan rasa heran.


   Fei Ma lantas berkeliling puing-puing itu dan mencoba mencium untuk mendeteksi bekas aroma pertempuran di sekitar Kuil yang menjadi puing itu. Raut wajah Fei Ma terlihat tidak menunjukkan ekspresi terkejut sedikitpun setelah kira-kira se-pebakaran hio mengendus kian kemari.


“Tidak tercium adanya aura atau bekas Energi Qi yang dikeluarkan praktisi untuk bertempur di tempat ini” katanya.


(Hio adalah semacam dupa bertangkai mirip lidi yang dipakai orang di Negri Timur sana untuk melakukan upacara sembahyang. Sedangkan sepebakaran/satu bakaran hio adalah kira-kira lima belas menit lamanya).


   Sima Yong lalu mengajak Fei Ma untuk pergi dari situ. Katanya …


“Aku merasa terjadi semacam konspirasi tokoh-tokoh di Kuil ini”


“Jelas-jelas ini Tindakan fitnah agar Raja Kelelawar dan kawanannya di benci oleh banyak Sekte dan praktisi”


   Dengan mengerutkan kening Sima Yong berkata


“Aku berjanji akan mengusut tuntas kejadian di Kuil Teratai putih ini….”


“Kelak ketika aku dapat membuktikan bahwa benar terjadi konspirasi diantara petinggi Kuil Teratai Putih sehingga seolah-olah kami sengaja bertindak semena-mena, maka aku tidak akan memberi ampun kepada Mao Mushi dan Mao Xuezhe itu” Kata Sima Yong.


   Keduanya lantas terbang dan menghilang dibalik awan. Tujuan selanjutnya adalah Kotaraja Ju Yin. Di Kotaraja biasanya terdapat informasi-informasi penting yang dapat di beli menggunakan uang. Sima Yong berharap dia akan memperoleh petunjuk keanehan di Kuil Teratai Putih itu.


>>>>>>


   Untuk mencari informasi yang gampang didapat adalah dengan mengunjungi tempat-tempat keramaian dimana orang berkumpul sambiil makan dan minum. Di situ biasanya para pembawa berita akan dengan bangga meriwayatkan kisah-kisah heroik atau sekedar berbincang mengenai hal-hal yang terjadi di Dunia Sungai Telaga.


   Di rumah makan bernama “Rumah arak dan makanan Anugerah” yang merupakan salah satu restoran besar di ibukota, Sima Yong memasang telinga dan akhirnya memperoleh informasi bahwa Sembilan Sekte Bintang Sembilan akan mengadakan rapat khusus yang membahas Pengaduan atas bencana yang menimpa Kuil Teratai Putih.


   Ketua Kuil Teratai Putih Mao Mushi sendiri yang akan bersaksi mengenai kekejian Raja Kelelawar, di acara pertemuan itu. Kuil Teratai Putih mengharapkan agar Sembilan Sekte Bintang Sembilan akan bekerja sama membantu Kuil Teratai Putih untuk membasmi Raja Kelelawar dan kawanannya. Jadwal pertemuan dan tempatnya belum ditentukan. Namun sepertinya akn dilakukan secara rahasia.


“Ini menjadi semakin rumit. Fei Ma… lihatlah. Kamu sekarang menjadi terkenal di Kawasan Tengah Benua ini” Kata Sima Yong tertawa kecil.


   Fei Ma memasang wajah kesal lalu ikut berkomentar,


“Ingin rasanya aku menyobek mulut Ketua Kuil Teratai Putih itu. Dia terlalu banyak menabur fitnah beracun untuk menyelamatkan dirinya dari duel dengan anda”

__ADS_1


“Sudahlah Fei Ma.. ayo mencari tahu dimana pertemuan Sembilan Sekte Bintang Sembilan itu nanti. Disana aku akan mencari celah dan kesempatan menghabisi nyawa Mao Mushi si penakut itu. Sekarang mari kita berjalan-jalan di Kotaraja” bujuk Sima Yong.


   Keduanya lalu berjalan-jalan menikmati keindahan Kotaraja Ju Ying. Hingga pada akhirnya mereka menemukan sebuah bangunan yang sangat megah. Terlihat banyak sekali orang yang berlalu Lalang keluar masuk bangunan mewah itu.


“Asosiasi Bao Xing Kota Ju Ying??”


“ini adalah tempat yang ingin aku kunjungi. Ayo kita masuk kedalamnya. Barangkali terdapat sesuatu benda berharga yang dapat kita beli untuk menghibur hati kamu dari rasa galau itu” Kata Sima Yong.


   Keduanya melangkah memasuki Asosiasi Bao Xing. Setelah beberapa  saat kira-kira sepeminum teh, Fei Ma mulai menunjuk ekspresi bosan.


“Barang-barang di lantai satu ini hanya lah barang-barang sampah. Sama sekali tidak ada manfaatnya untuk praktisi di ranah SAINT” keluh Fei Ma.


“Nama Asosiasi ini begitu berkharisma, namun barang dagangannya hanyalah barang-barang kelas tiga. Master… mari kita pergi” ajak Fei Ma.


   Sima Yong baru saja akan mengikuti Langkah Fei Ma, setelah di juga menjadi kecewa dengan barang yang di tampilkan di Asosiasi Bao Xing itu..


   Sekonyong-konyong seseorang yang terlihat cukup berwibawa mencegat dan menyapa mereka,


“Tuan berdua ini terlihat tidak puas dengan barang yang di pamerkan di lantai satu ini… mungkin tuan berdua dapat mengunjungi lantai dua. Disana terdapat barang yang lebih baik dibanding lantai satu ini”


   Sima Yong Bersama Fei Ma kemudian sepakat mengikuti penatua Asosiasi Bao Xing menuju lantai dua. Hanya membutuhkan waktu se-pebakaran hio lalu Fei Ma juga menjadi bosan. Sima Yong menunjukkan ekspresi senyum, berusaha membuat penatua Asosisasi Bao Xing itu tidak menjadi tersinggung dengan sikap Fei Ma.


“Tidak mengapa tuan. Mungkin barang-barang di lantai dua ini belum sesuai keinginan anda berdua. Akan tetapi, tahukan anda??? Sebuah lelang terbatas akan dilakukan Asosiasi Bao Xing kami”


“Apa yang dimaksud dan dikatakan lelang terbatas?” Lanjutnya.


“Karena lelang ini hanya di khususkan bagi praktisi yang memiliki kultivasi SAINT keatas. Namun jika anda tidak memenuhi kualifikasi SAINT itu, maka dengan biaya masuk per orang sebesar 25.000 blue manna anda dapat menghadiri lelang itu. Bukankah Itu bukan jumlah yang kecil?” penatua itu menatap Sima Yong dan Fei Ma. Dia mengharapkan mereka akan terperanjat.


   Kenyataannya adalah kedua pria dihadapanya tidak terkejut sama sekali  mendengar pembatasan ranah kultivasi. Malahan pria yang lebih tua dan berbusana seperti kaum Taois sederhana itu berkata,


“Bagus. Kebetulan aku mencari kegembiraan dan keramaian. Pembatasan kultivasi adalah SAINT bukan? Baiklah… kami berdua memenuhi syarat” Fei Ma membuka aura, aura dominan SAINT 5 nya membuat penatua itu jatuh tersungkur dan mencium tanah.


   Penatua Asosiasi Bao Xing itu terperanjat. Dia tidak menyangka kedua orang yang terlihat tidak menarik perhatian itu memiliki kultivasi di tingkat SAINT bahkan lebih. Dengan tergagap dia berkata..


“B-baiklah t-tu-tuan berdua. Aku akan mengambil kartu undangan masuk untuk anda”


   Penatua itu buru-buru meninggalkan kedua tamu nya untuk mengambil kartu undangan. Pada hal niat awalnya adalah untuk mempermalukan kedua orang itu. dia kesal karena pria setengah tua itu mengatakan barang dagangan di Asosiasi Bao Xing hanyalah barang sampah….


   Sementara itu Sima Yong mengambil sebuah selebaran di meja yang isinya tertulis pengumuman seperti ini,


“Lelang Asosiasi Bao Xing. Menampilkan banyak benda berharga seperti Senjata Peringkat Dao, Set Pakaian Tempur Kelas Dao dan sebuah pecahan Salinan Teknik dari Timur “Cakra Pengendali Air”


Catatan : Fei Ma setelah malam kejadian pertempuran di langit Kotaraja, mengubah penampilan seperti  penganut aliran Taoisme.


*Bersambung*


   Untuk membuat author lebih semangat dan tetap berkreasi melanjutkan novel ini, jangan lupa di like, sekedar komen dan vote.


   Terlebih tolong favoritkan novel ini karena Noveltoon akan menilai untuk menjadi pemasukan Author berdasarkan jumlah Favorit, komen dan like … yang tentunya juga menyemangati author. Apresiasi yang readers berikan akan menyemangati autor untuk terus berkarya di Noveltoon ini.

__ADS_1


__ADS_2