
Malam telah merayap pelan menuju pagi. Ketika itu kentongan kelima baru saja di bunyikan. Meskipun matahari belum lagi bersinar dari ufuk Timur, namun ayam jantan telah mulai berkokok memecah sunyi, memberi tahu pada orang-orang kalau matahari sebentar lagi akan muncul.
Udara dingin gurun di tambah waktu menjelang pagi yang selalu bertambah dingin, tak jua membuat pria berlengan satu itu untuk meninggalkan area pengawas di benteng pertahanan aliansi utara. Peng Fai sejak semalam mondar-mandir diatas titian kayu pengawas benteng pertahanan. Tak sedetik pun anak muda itu memicingkan mata nya sepanjang malam.
Terserempak dengan dia ketika memutar badannya, tiba-tiba terdengar bunyi keras 'Pop !' disusul suara bedebum .
Satu tubuh keluar dari lubang blackhole secara mistis, yang mana lubang hitam itu muncul secara mendadak dari kehampaan. Lantas satu tubuh terjatuh dan bergulingan diatas titian jembatan pengawas benteng.
Brak !
"Demi Kura-kura Hitam dan semua dewa, apa yang terjadi Fenying !" Peng Fai bergegas menolong sosok yang baru muncul dari lobang teleportasi itu.
Hati Peng Fai sedikitnya bersyukur karena Fen Ying datang pada waktu yang tepat. Sementara itu dari kejauhan terdengar suara mesin-mesin perang yang berderak-derak mendekat, di seret pasukan tentara wilayah Timur yang makin mendekati Benteng Pertahanan utara. Debu telah mengepul, meski udara masih gelap, namun suara derap kaki pertanda ribuan langkah telah berjalan berirama, mendekati benteng pertahanan mereka.
Sementara itu...
Topeng kayu yang biasa di kenakan perempuan itu telah jatuh telepas, mempertontonkan wajah nya yang putih dan sangat menawan itu. Saking putih dan memesona nya, wajah gadis yang di panggil Fenying itu selalu terlihat seperti bercahaya layaknya bulan purnama.
Namun untuk kali ini wajah gadis itu - Fenying tampak putih bukan karena putih merah jambu alamiah. Wajahnya putih sepucat kertas karena terluka dalam pertempuran.
"Apa yang terjadi?" teriak Peng Fai panik ketika melihat lengan gadis itu - bertanda bekas cakaran lima garis panjang, berwarna hitam kebiru-biruan.
"Kamu terkena racun oleh siapa? Katakan siapa yang melukai mu?" teriak Peng Fai.
Saat itu dengan keadaan di benteng pertahanan mulai sepi, dan hanya segelintir murid Sekte Pedang Awan yang menemani Peng Fai - juga menanti datangnya Penatua Fenying dari kegiatan mata-mata di Gurun Barat, suara Peng Fai terdengar mendominasi bergema kemana-mana.
Sementara suara Fenying terdengar lemah ketika dia berbisik. Peng Fai dengan terpaksa mendekatkan telinga nya lebih dekat agar mendengar bisikan Fenying.
"Tolong bawa aku ke Kota Azalea. Hanya Alkemis itu, murid kakak Yong yang dapat mengobati racun ini.." Fenying lantas terkulai tidak sadarkan diri. Dia terluka dan banyak menghabiskan hawa murninya untuk memblokir racun Telapak Tengkorak Putih - racun khas ras iblis.
Master Sekte Pedang Awan itu lantas bersiul keras, seperti memberi kode kepada sesuatu. Dari arah langit terdengar bunyi gemuruh, menyerupai suara kepakan sayap hewan ajaib - burung raksasa yang selalu menjadi kendaraan Master Sekte Pedang Awan. Dia melayang ringan dengan memikul Fen Ying, hinggap muus diatas bangunan kayu di punggung hewan raksasa itu.
__ADS_1
"Semua murid Sekte Pedang Awan, kita akan bergerak menuju ke Kota Azalea. Penatua Feng Yin terluka, dan kita akan ke Balai Harta untuk bertemu Alkemis Balai Harta!" titah Peng Fai dari atas ruang kecil di burung raksasa.
Ada lebih dari sepuluh sosok berpakaian serba putih yang lantas berkelabat, melompat ke atas punggung hewan raksasa itu. Dengan tiga kali kepakan sayap. burung raksasa itu telah mengangkasa - tinggi di luar jarak tembak musuh.
Duar ! Dengan tiba-tiba sebuah batu besar - lebih besar dari kerbau - yang dibungkus semacam kain yang menyala-nyala jatuh di tengah-tengah benteng, meledak dan menimbulkan lobang seperti cendawan yang besar. Tanah di pinggiran Gurun terkutuk berguncang.
"Mereka telah mulai menyerang !"
Suara-suara baju zirah yang bergesekan, demikian sayup-sayup menuju keras terdengar sampai menembus pekatnya kegelapan pagi, menimbulkan perasaan menggiris hati. Menyusul setelahnya, ribuan anak panah tercurah dari langit, mulai memanggang tiang-tiang benteng dengan nyala api. Ya setiap anak panah itu di ujung nya terkandung api yang menyala-nyala.
"Beruntung kita telah berada diatas burung raksasa ini" kata salah satu murid sekte agak menyombongkan diri. Dia menatap bangga dari punggung burung, dan merendahkan pasukan yang dinilai nya terlambat itu.
Baru saja murid berkata-kata dengan niat menjelek-jelekkan pihak musuh yang dinilainya terlalu lambat menyerang, sekonyong-konyong satu halilintar besar menyambar kearah mereka.
"Awas !" pekik Peng Fai.
Burung raksasa itu meliuk guna menghindari kilat yang menyambar, berkelok-kelok sehingga semua yang berada diatas punggung burung terlempar-lempar kesana-kemari. Sayang sekali, ketika hewan ajaib itu meliuk menghindari sambaran halilintar, satu goncangan keras diatas ruangan kayu, melemparkan dua tubuh murid sekte. Murid yang tadi menyombongkan diri adalah salah satu diantara yang terlempar.
Peng Fai memandang dengan secermat mungkin di kejauhan sana. Dia melihat satu sosok manusia berambut putih, dalam balutan jubah serba putih mengangkat tongkat tinggi-tinggi, lalu petir dan halilintar tiada habisnya pergi dari arah jauh membakar habis benteng pertahanan orang utara.
"Penyihir ! Orang-orang Timur itu menggunakan penyihir pengendali cuaca untuk melawan kami" desis Peng Fai geram.
Burung Raksasa itu terbang dengan cepat, menembus awan dan dalam hitungan tarikan napas, sosok Master Sekte Pedang Awan dan beberapa muridnya lenyap di balik awan.
******
Benua Penyaringan Dewa..
"Akhirnya aku tiba di wilayah Selatan ini" Sima Yong membatin. Dia berdiri di atas Phoenix yang menerbangkannya hanya dua hari dua malam melintasi daerah perbatasan yang berbahaya.
Berbeda dengan saat awal-awal anak muda itu melakukan perjalanan dari Selatan mlintas ke Tengah. Kala itu dia mengalami kecelakaan kekuatannya belum seperti saat ini - Kuasi Alam Melintas Immortal.
__ADS_1
Dengan kultivasi setinggi sekarang, dia dengan mudah menghindari dan menekan badai antariksa yang selalu memakan korban di perbatasan Selatan dan Tengah.
"Setelah selesai urusan ku memenuhi perjanjian pertemuan kami berlima, yang rasanya telah ditunda bertahun-tahun.. aku akan kembali ke Benua Silver bersama Atid Ananada.
"Aku akan membuat kejutan kepada kawan-kawanku itu. Tak ada yang menyangka kalau hari ini aku akan mengunjungi mereka" pikir nya gembira.
Pagi itu di Kota Selatan, tidak terlalu panas dan udaranya terasa amat sejuk. Sinar matahari jingga terasa hangat menimpa kulit, membawa rasa damai di hati. Sima Yong baru saja memesan makanan di restoran kenamaan Kota Selatan yaitu Pavilliun Musim Panas Selatan.
Dia memanggil pelayan restoran dan memilih beberapa hidangan-hidangan populer yang lezat dan mahal,
"Aku tahu di sini adalah musim panas sepanjang masa. Akan teta, apakah restoran kamu dapat menyediakan hidangan yang bahannya di datangkan dari wilayah lain?" tanya Sima Yong.
"Coba Tuan sebutkan jenis menu-menu itu. Dan restoran kami akam mencoba menyediakan yang terbaik" jawab si pelayan dengan senyum ramah.
Pelayan itu melihat tuan muda in mengenakan pakaian meski hanya satu warna, akan tetapi bahan yang di gunakan adalah dari bahan terpilih, yang hanya sanggup di beli dan di jahit oleh tangan-tangan trampil yang di bayar mahal.
"Tolong hidangkan dua kati daging kerbau masak saos, hati kambing satu kati, Puyuh masak asap, ceker bebek, lidah ayam cah, soto menjangan, soto burung dara, bakso kelinci.
Buahnya anggur, jeruk, buah pir dan buah-buahan kering. Sayuran dapat kamu sajikan dalam jumlah besar, karena aku tidak makan daging" kata Sima Yong.
Pelayan itu melongo. Anak muda ini sendirian, dan tidak makan daging. Namun pesanannya demikian melimpah - mengandung daging pula. Namun dia tidak memerdulikan hal itu
"Yang penting tuan muda ini membayar dan memberi tip yang cukup. Melihat dari dandanannya semestinya dia adalah seorang tuan muda dari keluarga yang kaya"
Sima Yong tersenyum-senyum sendirian, sambil menunggu hidangan di siapkan oleh karyawan restoran. Dia lalu mendengar bunyi-bunyi langkah kaki, dan suara ribut-ribut percakapan dari arah tangga.
Ketika Sima Yong memutar badannya..
"Saudara Yong..!"
*Bersambung*
__ADS_1
Halo semua. Terima kasih sudah membaca dan menyukai Novel ini. Dan untuk membuat author lebih semangat lagi, selalu berikan like ya. Jangan lupa favoritkan dan rekomendasikan novel ini kepada yang lain... Terima kasih dan semangat membaca...