
Wan Chenfu memasuki kamarnya, setelah ldia kelelahan menyelesaikan tugasnya seharian penuh. Nona muda itu sejak siang selalu marah-marah. Semua orang kena cacian bahkan kena hantaman tangannya yang tidak ada rasa peri kemanusiaan itu.
"Dengar-dengar... Nona muda telah bertemu seorang ahli muda yang memberinya pelajaran.
Semoga ahli-ahli dari Klan kami menemukan pria muda itu, lalu dihukum seberat-beratnya. Dia telah membuat mood nona muda berantakan seharian"
Letak kamar milik Wan Chenfu si kusir kereta yang khusus membawa Nona muda Klan Xu itu, berada di deretan kamar-kamar besar lainnya, yang tampak serupa paviliun kecil.
Ya benar. Klan Xu sebagai salah satu Klan Super yang menguasai beberapa titik perekonomian di Kota Kuno, tentu saja adalah klan yang kaya, berkelimpahan dengan uang. Sehingga tempat tinggal untuk para bujang dan pengikut klan, terlihat sangat memadai meskipun terletak di bagian belakang kompleks bangunan Klan Xu.
Wan Chenfu baru saja selesai bertukar dengan pakaian sehari-hari, ketika secara tiba-tiba dia merasakan dirinya seolah terisolasi dari dunia luar. Suara angin malam dan hewan malam tidak lagi terdengar.
"Apa yang terjadi?"
Dalam rasa bingungnya itu, sekonyong-konyong satu sosok laki-laki tua muncul di hadapannya dengan menatap dingin. Kontan saja Wan Chenfu terkejut. Dia merasa mengingat wajah orang itu.
"K-kamu k-kusir tua itu? Apa yang kamu lakukan?
Lancang benar kamu memasuki Klan Xu kami"
Wan Chenfu lantas berteraik sekeras-kerasnya memancing keributan dengan niat mengundang kehadiran penjaga-penjaga klan yang selalu bersliweran.
Akan tetapi dia dibuat heran stengah mati. Meskipun dirinya mendengar suara orang bercakap-cakap melewati jalan kecil di depan kamar itu, mengapa teriakannya diabaikan saja? seperti tidak didengar oleh para penjaga?
Wan Chenfu mulai dilanda rasa takut. Apalagi pria itu misterius itu mengeluarkan kata-kata yang membuat dia ngeri..
"Percuma kamu berteriak sampai putus saraf suaramu. Tidak akan ada yang dapat mendengarmu ketika kamu berada didalam Jimat Fatamorgana ini"
Pria tua itu bersuara sedemikian dingin. Bahkan kini tangannya telah memegang belati.
"T-tolong.. Sebaiknya kamu jangan bertindak gegabah. Kamu akan mati kalau berani mengambil tindakan gegabah di Klan Xu kami.
S-sepanjang pengetahuanku.. t-tidak ada seorang pun yang dapat lolos dari Klan Xu kami.
Begitu kamu membunuh aku, tidak terlalu untuk orang-orang klan mengetahui tindakan kamu itu. Lalu kematian telah menantimu" Wan Chenfu menjadi makin berani. Dia mencoba mengintimidasi lawan.
Namun intimidasi yang di lakukan Wan Chenfu itu seperti sia-sia saja. Pria tua tertawa terebih dingin lagi. Katanya,
"Kamu terlalu banyak menghayal seakan-akan Klan Xu ini adalah penguasa dunia.
Well ... itulah sebabnya kamu menjadi kiut-ikutan semena-mena kepada orang lain, sama seperti tindakan Klan Xu kamu.." pria tua itu semakin dalam tertawa ..
"Dan kamu belum tahu bukan? bagaimana rasanya hidup di sebuah tempat yang isinya adalah semua penjahat dan buronan dunia tinggal bersama-sama.
Apakah kamu pernah mendengar sesuatu yang di sebut Neraka Dunia?" kini orang tua itu tidak lagi tertawa, Belati di tangannya di gores pelan di leher Wan Chenfu. Whan Chenfu sendiri telah berkeringat dingin. Apalagi ketika dia mendengar pria itu menyebut Neraka Dunia.
__ADS_1
"Bersikap berhati-hati dengan orang yang tidak kamu kenal... selalu jaga diri kamu agar tidak menimbulkan rasa benci di hati orang-orang jahat seperti itu. Ini adalah pelajaran nomor satu untuk bergaul dengan orang-orang Neraka Dunia.
Tapi sayang sekali... Pelajaran nomor dua tidak akan kamu ketahui.. Karena kamu akan mati !"
Pria tua itu menghujam belati di tangannya, tepat menembus dada Wan Chenfu. Dia langsung mati pada tikaman pertama, ketika belati itu mengoyak jantungnya. Pria tua itu melompat mundur dengan enggan, ketika melihat air mancur menciprat keluar dari dada Wan Chenfu.
Pria tua itu lantasmembuang ludah kearah Wan Chenfu ketika dia telah menjadi mayat. Katanya,
"Pantang bagi penghuni Neraka Dunia dipermalukan didepan umum. Kamu masih beruntung, aku tidak berminat untuk menyantap jantungmu mentah-mentah"
Pria tua yang ternyata Luo Yeye itu lantas menghamburkan bubuk putih di dalam kamar Wan Chenfu itu, dengan tujuan menghapus semua jejak serta aura yang tertinggal.
Luo Yeye lalu bergerak gesit didalam kegelapan meninggalkan kamar hunian Wan Chenfu. Ketika beberapa penjaga Klan Xu memergoki dirinya,
"Penyusup !" teriak dua penjaga yang memergoki Luo Yeye.
Kedua penjaga langsung mengayunkan pedang ditangan mereka. Sementara dari kejauhan terdengar deru angin, ketika puluhan penjaga lain datang dalam penerbangan, bersiap meringkus penerobos itu.
"Lancang. Mencari kematian dengan menyusup dalam Klan Xu kami !" tikaman mematikan dari pedang dari dua penjaga berkultivasi Alam Raja itu, siap merobek Luo Yeye.
Luo Yeye mengeluarkan dengusan dingin, lalu tangannya melempar sebuah slip jimat..
Duaar !
"Dia menggunakan jimat ledakan !"
"Teleportasi !"
Suiitt !
Bunyi sabetan pedang dari seorang ahl diranah Kuasi SAINT yang di arahkan ketika tubuh Luo Yeye mulai menjadi kabur didalam ruang teleportasi.
Wush !
Luo Yeye langsung menghilang, menyisakan sabetan pedang ahli itu yang melayang bebas, menyasar di tempat hampa.
"Kurang ajar.. Mahluk itu menggunakan jimat-jimat peringkat DAO yang susah di lacak" kepala pengawal berkultivasi Kuasi SAINT itu memaki-maki.
Mereka memeriksa keadan sekeliling, namun tidak di temui sesuatu yang janggal.
"Mungkin penyusup itu belum sempat melakukan apa-apa, ketika kami berhasil memergokinya" jawab penjaga lainnya.
Keadaan menjadi tenang lagi, namun kewaspadaan penjagaan di Klan Xu semakin di tingkatkan. Keadaan berubah menjadi heboh lagi, ketika esok harinya tatkala efek jimat fatamorgana telah habis.. Seseorang pelayan mendapati mayat Wan Chenfu yang telah membiru.
Klan Xu menjadi heboh. Seseorang dengan leluasa keluar masuk Klan Xu dan membuat keonaran, namun keberadaan orang itu seperti lenyap di telan bumi.
__ADS_1
******
Kentongan kelima baru saja di bunyikan, ketika Luo Yeye memasuki kamarnya di penginapan. Dia telah berteleportasi sejauh 100 lie jauhnya sesuai titik yang dia atur. Luo Yeye telah menyediakan kuda merah di titik kemunculannya dari ruang teleportasi.
Kuda itu lantas membawanya kembali ke penginapan tempat mereka bermalam. Angin malam yang dingin, tidak membuat Luo Yeye gentar, meskipun luka di punggungnya terasa perih ketika angin dingin menyambar luka itu.
Luo Yeye meraba punggung nya yang terlihat menampilkan luka menganga sepanjang 9 cun. Darah telah berhenti sejak awal-awal kejadian, ketika dia melaburi luka itu dengan bubuk pengering luka khusus yang sering dipakai para assasin.
"Apakah anda berhasil membunuh orang itu?" sebuah suara terdengar dari sudut kamar penginapan itu.
Buru-buru Luo Yeye bersujud dan berkata,
"Yang Mulia Tuan Muda.
Terima kasih telah memberi hamba tiga macam jimat itu. Target itu telah hamba lenyapkan"
"Yang aku lihat, anda terluka sabetan pedang. Apakah kamu baik-baik saja?"
"Hamba baik-baik saja Yang Mulia. Luka ini tidak berarti apa-apa dibanding dendam yang telah terbalaskan tadi"
"Bagus !
Terimalah pil penyembuh ini" sosok itu melemparkan sebuah botol kecil yang berisi pil-pil penyembuh luka.
"Luka anda akan mengering dengan cepat setelah mengkonsumsi pil peringkat DAO ini.
Akan tetapi luka sabetan itu akan terus membekas. Tapi tidak apa-apa. Itu akan menjadi bukti sejarah bahwa anda pernah menerobos dan membuat onar di sebuah Klan Super Kota Kuno ini.
Aku yakin, orang-orang di Neraka Dunia akan melihat iri bekas luka anda nanti" Sosok itu lalu meninggalkan kamar Luo Yeye.
Pria tua itu buru-buru menelan pil penyembuhan yang di berikan Yang Mulia Semidevil peringkat sepuluh. Siapa mau menyangka, selain sebagai refiner ternama, Semidevil itu pada kenyataannya adalah seorang juga Alkemis.
Luo Yeye menelan sebutir pil, dari botol yang dia lihat berisi tiga butir pil saja.
"Sisa dua butir akan aku simpan, untuk digunakan dikemudian hari"
Sepebakaran hio kemudian, Luo Yeye merasakan punggungnya hangat. Terasa seperti luka sepanjang 9 cun itu seolah-olah melekat dan membuat rasa perih sejak semalam lantas lenyap tidak tersisa.
"Mungkin satu atau dua hari kemudian lukanya akan mengering. Ah.. Yang Mulia Peringkat sepuluh memilik banyak sekali harta tak terduga didalam lengan bajunya ..."
*Bersambung*
Untuk membuat author lebih semangat dan tetap berkreasi melanjutkan novel ini, jangan lupa di-like, sekedar komen dan vote.
Terlebih tolong favoritkan novel ini karena Noveltoon akan menilai untuk menjadi pemasukan Author berdasarkan jumlah Favorit, komen dan like … yang tentunya juga menyemangati author. Apresiasi yang readers berikan akan menyemangati autor untuk terus berkarya di Noveltoon ini.
__ADS_1