
Cui cheng Gong seketika tercekat, nafasnya terasa telah pergi jauh-jauh meninggalkan tubuhnya. Sosok dingin berjubah biru itu kini berdiri di hadapannya. Meskipun dia hanya seorang praktisi kelas menengah (Alam Raja peringkat tengah) dari Sekte kelas tiga, namun setidaknya Cui Cheng Gong berpikir kalau keahlian menyembunyikan aura dan tempat persembunyian di antara batang-batang bambu beserta daun-daunnya yang rimbun telah mengamankan dirinya.
Namun rupa-rupanya pemikiran sederhana Master Sekte Gunung Unta Putih itu tidak berlaku bagi ahli tertinggi di dunia ini seperti Kaum Immortal. Sosok pria itu muncul mendadak laksana dewa - seolah-olah mampu menembus ruang dan waktu, kelihatan seperti udara yang ringan di hadapannya. Semua terjadi dengan tidak memperdengarkan suara gesekan ranting kering atau suara daun-daun rimbun hutan bambu yang di sibak itu.
"A-aku akan bercerita. T-tolong jangan sakiti aku" kata Cui Cheng Gong.
Suara pria itu, Nangong Rong terdengar tipis namun jelas. Ibaratnya suara merdu orang ketika bernyanyi.
"Ceritakan apa yang kamu ketahui" jawabnya singkat.
Cui Cheng Gong gemetar mendengar suara dingin itu. Katanya,
"Anak muda itu yang membunuhnya. Maksudku gadis yang mengendarai Kapal Roh yang mewah itu tewas dalam pertarungan melawan makhluk roh peliharaan anak muda setengah Elf itu..."
Wush !
Cui Cheng Gong hanya bisa mengeluh di dalam hati. Ketika itu dia merasa lehernya tercekik, dan sebagian tubuhnya terangkat dari tanah tanpa terlihat ada yang mencekik dan mengangkatnya.
Mata Nangong Rong tampak dingin menusuk jauh ke dalam jantung Cui Cheng Gong. Katanya seperti tidak memerdulikan pria master Sekte Gunung Unta Putih telah megap-megap seperti ikan kehabisan nafas.
"Critakan dengan jelas ! Kamu hanya semut di mataku. Jika kedapatan barang satu patah kata kamu berkata bohong, mati adalah taruhannya" Nangong Rong lantas membanting tubuh Cui Cheng Gong ke tanah, dengan gerakan yang sama sekali tidak terlihat.
"Mulai riwayatkan !" dingin terdengar suara Nangong Rong.
Setelah reda dengan batuk-batuk serta bernapas normal, Cui Cheng Gong memulai riwayatnya..
"Kira-kira delapan atau sepuluh tahun lalu..."
Cui Cheng Gong ini mulai menuturkan apa yang dia lihat ketika itu. Namun beberapa hal dalam ceritanya, jelas-jelas telah dia rubah sesuai dengan anggapannya. Dan semua di balik kisah fantasi versi dirinya sendiri di tambah bumbu-bumbu kebencian kepada anak muda bernama Sima Yong yang mewarisi kemampuan Alkemis.
Dia menuturkan ketika itu, dia sedang mengejar seorang anak muda bernama Sima Yong karena telah mencuri warisan seorang alkemis kuno yang seharusnya milik Sekte Unta Putih. Mereka bertempur di awan-awan dan Cui Cheng Gong dikalahkan anak muda itu.
__ADS_1
Kala itu satu kapal roh mewah dan aneh melintas, lalu terbitlah keinginan serakah di anak muda. Dia meninggalkan Cui Cheng Gong yang sekarat, lalu mengejar kapal roh itu. Kapal Toh tiba di Gunung Sushan dan berniat memanen Kristal Magenta yang keberadaannya konon banyak terdapat di puncak gunung itu.
Lalu Cui Cheng Gong makin membelokkan kisah sebenarnya dan menambah karangan-karangan bebas kalau Macan Putih yang bertarung melawan Nangong Chun-chun adalah hewan kontrak milik anak muda bernama Sima Yong..
Blam !
Cui Cheng Gong menjerit ngeri ketika melihat Hutan Bambu itu seketika hangus seperti terbakar. Luas kerusakan yang ditimbulkan Nangong Rong ini mencapai satu lie jauhnya (satu lie sama dengan setengah kilometer).
"Dia seperti dewa saja. Hanya dengan memikirkan sesuatu lalu hal itu terjadi" batin Cui Cheng Gong ngeri.
"Jika aku ingin selamat, pertama-tama yang aku lakukan adalah mengambil hati mahluk immortal ini" batin nya.
Dengan membuang rasa malu, Master Sekte Gunung Unta Putih itu berlutut,
"Tuan Immortal.. jika tuan berkenan, biarlah Cui Cheng Gong menjadi budak tuan. Akan aku tunjukkan saat yang tepat untuk membalas dendam anda.
Saat ini bocah bernama Sima Yong itu telah menghilang sekian tahun. Akan tetapi enam bulan kedepan, ketika terjadi perebutan Gelar Maha Sakti di Benua ini, pertarungan memperebutkan Gelar Dewa Pedang".
"Di saat itulah anda dapat membalas dendam atas kematian Nona Nangong. Sekte Gunung Unta Putih kami akan menjamu tuan selama menunggu pertarungan akbar itu terjadi nanti" kata Cui Cheng Gong bersemangat. Dia melihat makhluk immortal itu dapat menerima kata-katanya.
Nangong Rong diam seketika. Dia terlihat bimbang atas penawaran kebaikan Cui Cheng Gong. Katanya,
"Baiklah. Tunjukkan dimana tempat Sekte kamu. Aku akan berkultivasi memulihkan semua energiku, menunggu pertarungan benua kalian. Lagipula, waktu di sini berjalan sangat lambat. Enam bulan di dunia ini adalah setara dengan enam hari di tempatku berasal" kata Nangong Rong.
"Perjalanan melintasi dimensi antar universe ini betul-betul membuatku kehilangan banyak energi" batin Nangong Rong. Dia lalu mengikuti langkah Cui Cheng Gong membawanya ke Sekte Gunung Unta Putih.
Malam pun kembali terasa sepi setelah dua sosok itu menghilang. Hutan Bambu di Gunung Sushan menyisakan area seluas satu lie yang tanamannya hangus oleh kekuatan tak terlihat. Bahkan hewan-hewan sebangsa magical beast peringkat King 1 sampai 3 yang meregang nyawa di area seluas itu.
Ketika besok hari para penjinak binatang dan pemburu atau tentara bayaran memasuki hutan itu, mereka menemukan banyak sekali tulang belulang yang berserakan di atas tanah kering bekas hutan bambu. Beredar kabar kalau seseorang berkepandaian sangat tinggi telah muncul di Hutan Bambu Gunung Sushan, dan keberadaannya akan menjadi salah satu kontestan calon Dewa Pedang Benua Silver nanti.
******
__ADS_1
Di suatu tempat yang disebut Realm Magical Beast,
Sima Yong membungkuk setelah menguliti Jormungandr yang kalah bertarung melawan dia. Dengan menggunakan chakra air, ribuan pedang kristal tercipta dan membuat daging mahluk raksasa itu berubah menjadi potongan-potongan daging kecil yang dapat dikonsumsi.
"Sayang sekali aku tidak memakan makanan yang mengandung darah...
Mismaya, apakah kamu dan kelompok Klan Peri menginginkan daging ini?" tanya Sima Yong menawari.
"Tuan muda.. !" teriak Mismaya dengan nada sedikit kesal.
"Anda tahu bukan? Ras peri kami masih merupakan famili dari ras Elf. Tentu saja kami juga tidak memakan makanan yang mengandung daging ini"kata Mismaya geli.
"Haha.. Sayang sekali. Padahal daging mahluk keturunan dewa petir ini akan sangat bermanfaat untuk meningkatkan kultivasi.
Baiklah aku akan menjual daging mahluk ini di kota terdekat yang akan kami temui nanti" kata Sima Yong. Daging raksasa yang melimpah itu lantas disimpan kedalam sepuluh Cincin Spasial peringkat tinggi.
Wajah anak muda itu menjadi berseri-seri ketika menemukan 'Monster Core" atau Mutiara inti Jormungandr itu..
"Benda ini akan membantuku untuk membuat satu artefak nanti"batin Sima Yong berseri-seri.
Setelah puas membeset kulit mahluk itu, ia memperhatikan dalam-dalam kulit bagian ekor Jormungandr.
"Artefak Sarung Tangan Pengendali Petir akan aku ciptakan nanti.
Hanya menunggu ekor Berang-berang berekor enam itu lalu kemampuanku untuk mengendalikan Petir akan semudah membalikkan telapak tangan" batin Sima Yong.
"Kita akan berangkat setelah matahari terbit nanti. Saat ini beristirahat dan mengembalikan semua energi adalah yang yang paling penting. Masih ada banyak musuh yang harus aku hadapi sebelum berjodoh dengan Relikui Immortal Bangau Berkaki Satu" ucap Sima Yong bersemangat.
Bersambung
Halo semua. Terima kasih sudah membaca dan menyukai Novel ini. Dan untuk membuat author lebih semangat lagi, selalu berikan like ya. Jangan lupa favoritkan dan rekomendasikan novel ini kepada yang lain... Terima kasih dan semangat membaca. <3
__ADS_1