
“Wush… Wush… Wush….”
“Tsing….”
Demikian bunyi ratusan bahkan menjadi ribuan anak panah membelah langit di atas Lautan Embun Timur.
Semua ahli di Kapal Kekaisaran Rajawali Agung menyaksikan sendiri, samar-samar terdengar aba-aba dari seberang, tepatnya Pasukan Kavaleri Kuda Terbang…
“Defense…..!!!”
“Pertahanan membentuk tameng…!!!”
Tampak pasukan kuda terbang yang di bagian belakang melompat dan bertumpu diatas pasukan Kavaleri barisan depan. Demikian berturut-turut pasukan di belakang melompat dan bertumpu diatas lapisan kedua pasukan Kavaleri itu. Sehingga pada akhirnya terlihat tiga lapis pasukan kavaleri yang salin bertumpu membentuk tiga tingkat dalam formasi rapih sambil memegang perisai menutupi tubuh dan badan kuda terbang.
“Buk-buk-buk…” bunyi benturan anak panah Ketika menabrak perisai demi perisai di tangan pasukan Kavaleri musuh. Sekali dua kali pasukan kavaleri itu masih mampu bertahan dengan tabrakan anak panas musuh. Akan tetapi dalam satu bakaran hio, hujan panah tersebut tiada kunjung habisnya. Tampak beberapa anggota pasukan kaveleri itu telah gemetar anggota tubuhnya- karena tangan mereka mulai terasa penat dan bergetar menahan tembakan panah.
“Apakah mereka itu menggunakan sihir?? Mengapa hujan panah ini tiada habis-habisnya??” bisik salah seorang tentara musuh kepada teman disampingnya. Teman nya hanya memasang wajah serius sambil memberi kode diam.
“Jika hujan panah ini masih berlangsung hingga satu bakaran hio kedepan… rasanya aku tidak akan sanggup bertahan. Mengapa aku merasa sepertinya kekuatan tembakan anak panah itu terlalu stabil, kekuatannya tidak mengendur sedikitpun??” mereka tidak tahu bahwa pasukan panah Rajawali Agung menggunakan alat panah yang disebut crossbow.
Melihat anak panah yang datang berhamburan bagaikan air hujan tiada habisnya… pria tua berambut awut-awutan itu berubah marah. Dia dengan penuh kemurkaan memberi komando…
“Aktifkan array Perisai”
Dia lalu melemparkan sesuatu slip giok kedepan dan mulutnya bergerak seperti orang membacakan doa. Sebuah teriakan penuh energi Qi terdengar membelah angkasa,
“Melindungi…!!!”
Sebuah bundaran besar dalam cahaya putih cemerlang yang berpendar seketika menyelimuti pasukan kavaleri itu. Ketika anak panah pasukan Kekaisaran Rajawali Agung kembali datang menyambar… semua anak panah itu meledak lalu rontok seperti butiran es yang jatuh ketanah di waktu musim dingin.
Pria tua yang adalah seorang ronin itu, dalam tatapan dinginnya lalu berkata,
__ADS_1
“Telah saat nya kalian menyerahkan nyawa ke tangan ronin tua ini” ronin itu melompat kedepan dalam sebuah gerakan indah nan cepat. Di tangannya ter-acung Pedang Panjang yang disebut samurai. Dia terlihat seolah-olah kelelawar yang terbang mengintimidasi dan membawa perasaan mengancam. Ronin itu berniat menghabisi nyawa semua orang di Kapal Roh didepan.
“Wush… wusshhh.. wushh….”
Menyusul Gerakan menyerbu ronin itu, tampak lima orang ahli yang mengenakan samurai meniru jejak ronin. Kelima samurai itu membuka pedang Panjang di tangan mereka, terbang kearah Kapal Roh Kekaisaran Rajawali Agung penuh ancaman. Kapal Kekaisaran Rajawali Agung berada dalam bahaya.
***
“Mereka telah mengambil Tindakan, kita harus menghalangi mereka…” Ju Lianyi memberi instruksi kepada Kapten Liao Quon untuk mengawasi Pangeran Ju Qin.
Belum sempat Ju Lianyi menanyakan saran Sima Yong, tiba-tiba semua orang merasakan gulungan angin puyuh yang hanya terjadi di tempat diaman Sima Yong berdiri.
Lalu dengan Gerakan yang amat cepat-semua orang di kapal itu ternganga menyaksikan Sima Yong-secara tidak terduga telah berdiri diatas angin berbahaya itu. Angin puyuh itu membawanya pergi dengan kecepatan yang lebih cepat dari gerakan meteor.
“Apakah dia masih manusia???” bisik Ju Lianyi didalam hati. Akan tetapi suaranya amat jelas terdengar oleh yang lain, sehingga menimbulkan bisik-bisik.
“Mari kita sambut lima praktisi didepan sana” tubuh Ju Lianyi kemudian terbang dengan cepat menyongsong datangnya lima praktisi asing itu. Tak lama kemudian sosoknya disusul dua bayangan lain yaitu Zhang Junda dan Hua Shen yang telah menyingkap Pedang yang bernyala-nyala ditangan mereka. Dua tokoh itu memang adalah ahli pedang kenamaan di Wilayah Tengah.
“Hahahaha tahan dirimu orang tua… jangan kamu terlalu terburu-buru menyerang kapal. Carilah lawan yang sepadan. Lihat.. aku berdiri dihadapanmu dan siap menandingimu” ejek Sima Yong.
Dengan mata yang melotot kearah Sima Yong, karena dirinya merasa terganggu serangan tebasan untuk membelah Kapal Roh, ronin itu mencibir,
“Cih… hanya sekedar praktisi kecil di ranah Melintas SAGE level tiga, berani-beraninya bertingkah jumawa di hadapanku” saking marahnya, sampai-sampai urat di kening ronin itu tampak membiru. Dia berbicara dengan berapi-api, bagaimana tidak... seorang praktisi ingusan dengan kultivasi dibawahnya telah membuyarkan serangan tebasan pedang panjangnya.
“Hahaha apakah kamu terlalu banyak berkultivasi sehingga tidak mengetahui hal-hal penemuan baru??? Tingkat kultivasi bukan menentukan bahwaseseorang yang akan memenangi pertempuran. Teknik, kemampuan tempur dan kekuatan ATK lah yang menentukan seseorang akan memenangkan sebuah pertempuran” ejek Sima Yong. Tubuhnya berayun-ayun seolah kebal terhadap gaya gravitasi bumi. Dia terayun indah diatas gulungan angin puyuh yang terlihat mengancam itu.
“Tidak perlu kamu banyak bicara,… biar pedang ini yang membuktikan….”
“Suiiitttt” dalam suara mencicit pedang Panjang ditangan ronin itu membelah angkasa dan bagaikan geledek angin serangan pedang Panjang itu menindas dan menebas ke dada Sima Yong.
“Suiittt… “ suara jeritan Pedang berwarna merah terlihat melompat dan meliuk-liuk ganas, balas menebas kearah angin pedang Panjang milik ronin itu.
__ADS_1
“trang…!!! Trang… trang..”
Pedang Bianfu sebuah pedang peringkat Dao dengan Gerakan mudah membuyarkan serangan tebasan ronin itu. Ronin itu kelihatan tercekat Ketika melihat Pedang Bianfu menari-nari, sementara pemiliknya tidak menggerakkan anggota tubuh sama sekali. Dia menatap bingung kearah Sima Yong yang hanya diam terayun-ayun diatas angin puyuh. Dua tangan Sima Yong membentuk silang di dada dengan postur dua jari telunjuk dan jari tengah ter-acung.
“Anak muda itu telah menguasai Teknik tertinggi di jalur Dao beladiri” bisik ronin itu takjub.
>>>>>>
Sementara itu, terdengar aba-aba dari pasukan Kavaleri Kuda Bersayap …
“Serang…..!!!!”
Bunyi kepak sayap kuda terbang berbunyi memenuhi langit diatas Lautan Embun Timur, dimana bunyi itu terdengar amat mengintimidasi. Kepak sayap 1000 kuda terbang menimbulkan bunyi seolah-olah ribuan rajawali yang siap menerkam mangsa. Pasukan kavaleri itu terlihat mengacungkan tombak sambil berteriak saling memberi semangat.
Liao Quon dari geladak Kapal Roh terlihat sangat angker. Dalam aba-aba dia memerintahkan 20 pasukan penyergap menghadang pasukan kavaleri itu.
“Gunakan Jimat peledak… jangan lupa rapalan mantranya”
“Pergiii dan Hancurkan…!!!” bentak Liao Quon.
Sepuluh Pengendali Angin itu melambaikan kedua telapak mereka yang kemudian menerbangkan 20 pasukan elit yang telah mengacungkan tombak pedang bermata dua. Dua puluh pasukan elit itu masih melayang cepat menyambut datang nya pasukan kavaleri…
“Wushhh…” 20 jimat peledak dilepaskan …
“Delberekh… meledak” desis dua puluh tentera elit Ketika tubuh mereka ditarik dan terbawa angin oleh pengendali angin.
“Duar… Duar…. Duar…!!!” dua puluh ledakan besar terdengar. Sekali lagi langit diatas Lautan Embun Timur itu dipecahkan dengan suara dentuman ledakan 20 jimat peringkat tinggi. Hujan darah terjadi disertai jeritan kesakitan, sehingga membuat langit diatas Lautan Embun Timur terlihat berwarna jingga ternoda percikan darah. Padahal hari baru saja menjelang pagi, namun pembantaian telah di mulai antara dua kelompok.
*Bersambung*
Untuk membuat author lebih semangat dan tetap berkreasi melanjutkan novel ini, jangan lupa di like, sekedar komen dan vote.
__ADS_1
Terlebih tolong favoritkan novel ini karena Noveltoon akan menilai untuk menjadi pemasukan Author berdasarkan jumlah Favorit, komen dan like … yang tentunya juga menyemangati author. Apresiasi yang readers berikan akan menyemangati autor untuk terus berkarya di Noveltoon ini.