Kisah Dewa Pedang Utara

Kisah Dewa Pedang Utara
Kuil Dewi Kebajikan


__ADS_3

Wanita muda itu - Ouyang Qing seketika menjadi gugup tatkala sang petapa berbalik dan menatap nya ramah. Tatapan mata itu demikian dalam, membuat diri nya merasa seperti di jebloskan kedalam jurang terdalam yang tak pernah dia bayangakan. Dengan gagap Ouyang Qing berkata.


"T-tuan Petapa yang agung.. terima kasih telah menolongku yang hina ini. Tuan demikian mulia, mau membantu perempuan hina seperti diriku" dia kembali terisak. Setelah sanggup menenangkan diri,


"D-Dapatkah aku mengetahui nama anda? Kelak jika Langit berkehendak, Ouyang Qing akan membalas budi baik tuan"


Ouyang Qing meletakkan bayinya dengan hati-hati, lalu dia mengambil gerakan berlutut dan memberi hormat kepada pria yang dia anggap petapa itu.


Pria petapa itu membangunkan Ouyang Qing dari posisi sujudnya - hanya dengan menggerakkan satu tangan dari jauh. Ouying Qing terkejut, ketika ia merasa tubunya telah melayang, lalu pelan-pelan turun ke tanah.


"Namaku adalah Yong. Anda dapat memanggilku Yong" jawab sang petapa ramah.


Ouyang Qing mengulang kembali dalam hatinya, nama petapa itu. Ia lalu berkata,


"Tuan Yong. Budi baik anda akan selalu Ouyang Qing ingat selamanya.


Kelak jika aku Ouyang Qing tidak dapat membalas kebaikan anda, aku berharap anak kecil ini kelak akan menjadi sosok yang berharga dan dia akan membalas hutang kebaikan anda.


Kalaupun kami harus mati, Ouyang Qing berjanji. Di kehidupan nanti meskipun aku menjadi binatang sekalipun, budi baik ini akan kami balas" wajahnya sendu. Dia merasa demikian hina sebagai seorang ras manusia, mau menjadikan diri sebagai budak napsu ras iblis.


"Tak perlu di pikirkan" jawab Tuan Yong.


"Sudah menjadi kewajiban sesama manusia untuk menolong siapapun yang mengalami kesusahan"


Ia lalu buru-buru mengeluarkan sesuatu benda dari cincinnya. Dan itu adalah sebuah liontin biasa, kalungnya terbuat dari besi berwarna putih. Batu perhiasan di liontin adalah sebuah benda berwarna putih susu, tidak mencolok dan tidak berkesan mewah.


Di ulurkan liontin itu kepada Ouyang Qing, katanya.


"Pakaikan liontin ini kepada bayi kamu. Aura sihir jahat dari ras iblis yang menyertainya sejak lahir, akan pudar dengan berjalannya waktu.


Lagi pula, dengan mengenakan benda ini, percayalah bayi kamu tidak akan terlacak lagi oleh kelompok ras iblis. Biar satu shaman atu papun itu, tidak akan mampu mendeteksi bayi itu" jelas Tuan Yong itu. Lanjutnya..


"Jika liontin ini dipakai dengan rutin, upayakan tidak pernah melepasnya hingga bayi ini memasuki usia lima tahun, niscaya semua aura jahat yang menimpa bayi ini - sebagai keturunan dari ras iblis akan sirna. Begitu juga dengan tanduk kecil di kepalanya" Tuan Yong tersenyum hangat kepada Ouyang Qing. Dengan lembut ia melanjutkan.


"Aku yakin sekali, kamu tidak ingin kelak anak kamu ketika besar nanti, anak tak berdoasa ini akan menjadi bahan olok-olok anak-anak lain bukan? Aku menghadiahi bayi ini dengan Liontin penghapus jejak dan penghilang kutukan"


Hening, hanya terdengar suara-suara burung bercicit diantara gemeresik dedaunan dan ranting yang jatuh ke tanah.


Air mata Ouyang Qing kembali mengalir tiada henti. Dia memang selalu tiada habis-habisnya memikirkan nasib bayi nya kelak nanti. Liontin pemberian Tuan Yong yang dia anggap seorang begawan itu adalah hal tidak terduga selanjutnya dan anugerah dari Langit. Adegan berlutut penuh ucapan terima kasih kembali terulang..

__ADS_1


******


Pagi itu burung-burung berkicau merdu di sepanjang hutan. Buah-buah Persik serasa akan matang karna musimnya, dan pria itu melangkah kan kaki keluar hutan pepohonan willow menuju ke satu kota di barat bernama Kota Bintang jatuh. Pria itu adalah sang Tuan Yong ini atau Sima Yong.


Saat ini ia berencana pergi ke Selatan sambil melihat-lihat pemandangan dalam perjalanan santainya. Selama ini ia selalu duduk diatas kapal roh atau hewan ajaib sehingga kesempatan menikmati pemandangan indah dalam perjalan, selalu terlewatkan.


"Utara dan Barat benua ini telah aku jelajahi. Selatan, Timur dan Tengah belum aku jajaki.


Selatan adalah daerah terdekat dari barat sini. Mengunjungi Atid sekaligus menjemput Phoenix ku, adalah hal pertama yang akan aku lakukan" pikirnya dengan riang.


Setelah menerobos dari ranah transisi antara SAGE dengan Alam Melintas Immortal atau biasa di sebut Kuasi Melintas Immortal (kuasi artinya semu - setengah langkah) - Konstitusinya telah berdiri kokoh di Ranah Nyata Alam Melintas Immortal (Bukan kuasi atau semu atau ranah palsu atau sebutan setengah langkah lagi).


Kini tingkat kultvasi nya menjadi tidak terbaca sama sekali - justru hal ini biasanya membuat ngeri praktisi-praktisi hebat, karena seseorang tak terbaca kultivasinya, adalah praktisi yang paling berbahaya.


Dengan tidak terbacanya tingkat kultivasinya, ia justru rasakan satu keuntungan. Kini kerap kali dia di sangka hanya seorang kaum bijaksana atau begawan biasa yang tidak memahami dunia kultivasi bela diri.


Sepanjang perjalanan dari hutan willow bagian paling barat, mendekati Kota Bintang Jatuh, ia selalu bertemu iring-iringan rakyat jelata yang mengungsi dengan membawa harta dan keluarga mereka. Wajah-wajah letih dan ketakutan memenuhi wajah para pengungsi.


Klan ras iblis merajalela dan membunuh membabi-buta, sehingga menimbulkan perpecahan diantara banyak aliran di barat sini. Perang, perampokan meraja-lela ujung-ujung nya yang paling menderita adalah rakyat biasa, kaum fana yang tidak mengerti apa-apa.


Sering juga dirinya menjumpai desa-desa kecil yang telah terbakar habis, mungkin di jarah kaum perampok yang memanfaatkan keadaan, atau kah memang desa tersebut di bakar kelompok yang bertikai.


Ia melangkah naik ke lantai dua dan memilih tempat duduk paling dekat dengan jendela.


"Tolong bawakan aku roti kukus tanpa isi, sayur tumis dan tahu masak pedas. Untuk minumannya, cukup kamu bawakan minuman teh melati terbaik kawasan barat.


Aku telah lama tidak mencicipi harumnya teh wilayah barat Benua Silver ini" katanya dengan senyum ramah.


"Baik pendeta. Hamba tahu kalau orang suci seperti anda tidak menyantap hidangan daging" kata pelayan sambil bergegas ke dapur.


Sima Yong seketika terperangah.


"Dia menyangka aku seorang pendeta agama tertentu? Pantas saja sepanjang perjalanan ini tidak seorangpun yang berniat merampok atau mengganggu ku. Yang ada banyak orang bersikap sopan dan menghormatiku" pikirnya dengan tertawa.


Mendadak ia terhenti dari lamunannya. Telinganya mendengar langkah tiga pasang kaki yang menapak anak-anak tangga menuju lantai dua tempat ia menunggu hidangannya.


"Tiga praktisi di ranah Alam Tanpa Batas?" batinnya.


Ia bahkan tidak perlu memalingkan wajah untuk melihat. Bagi ahli sekelas dirinya, dirinya hanya perlu menangkap getaran dan sinyal yang keluar dari para praktisi saat melangkah, dan dia langsung menebak tingkat kultviasi target.

__ADS_1


Tiga sosok praktisi yang baru memasuki lantai dua Pavillun Asoka melangkah tergesa-gesa dan langsung mengambil bangku paling sudut. Benaknya langsung menangkap sinyal dan menyimpulkan.


"2 orang Pria - peringkat Alam Tanpa Batas dan satu wanita - peringkat Alam Tanpa Batas" batin Sima Yong.


Meskipun penampilan ketiga orang itu terlihat seperti tiga praktisi berjenis kelamin laki-laki, namun seorang Ahli Melintas Immortal tak dapat di tipu hanya dengan penampilan luar. Dirinya memastikan kalau salah satu dari tiga praktisi itu adalah perempuan !


Tiga orang itu memesan makanan, lalu berbisik-bisik pelan - namun jago kita tetap bisa dapat mendengar perbincangan mereka.


"Kita akan menyerang mereka malam ini. Ku dengar... beberapa gadis-gadis yang diambil paksa dari klan-klan kecil, di tawan dan kurung orang-orang klan iblis itu di kuil Dewi Kebajikan, di pinggir kota" suara laki-laki terdengar.


"Lancang benar manusia terkutuk iblis itu. Mereka bahkan berani mencemarkan kuil tempat sembahyang dengan menjadikannya tempat persinggahan wanita-wanita malang yang akan mereka jadikan budak nafsu atau bahan percobaan kultivasi" praktisi perempuan itu menggebrak meja lantaran dongkol.


"Ssttt !" temannya yang satunya lagi memberi peringatan.


Tentu saja gebrakan yang menimbulkan bunyi keras itu mengundang tatapan puluhan pasang mata yang seketika mengarahkan pandangan ke meja tiga praktisi itu. Lalu dengan kikuk, mereka membuat gerakan memohon maaf dan kembali diam.


Beberapa saat kemudian..


"Ku bilang apa. Kamu terlalu emosional. Seharusnya kita bertindak ekstra hati-hati. Ingat lah ... patriak kami telah memesan agar rencana penyergapan kita ini tidak bocor" suara wibawa penuh teguran terdengar


"Nyawa kita adalah taruhannya jika saja kita bertindak lalai mempersiapkan penyergapan ini. Lama sekali kami melakukan tugas mata-mata ini, lalu disaat kita memperoleh informasi keberadaan klan iblis dengan tawanannya, anda akan membuat kekacauan hanya karena emosi?


Jaga emosimu adik paling kecil" tegur pria yang terlihat paling tua. Gadis berbusana pria itu hanya menundukkan kepada dan meminta maaf berulang kali.


Keadaan tempat makan dan rumah minum Pavillun Asoka itu kembali tenang. Semua pengunjung kembali fokus dengan makanan yang terhidang di meja, suara percakapan pengunjung dan denting sumpit kembali terdengar.


******


Malam itu terasa sunyi. Hujan yang jatuh ke bumi sejak sore tak kunjung reda. Kian lama kian bertambah deras. Butiran air yang jatuh menimpa atap-atap rumah, tampak laksana kacang tercurah dari langit, berhamburan kesana kemari.


Samar-samar terlihat tiga sosok berkelebat melompat-lompat ringan diatas bubungan rumah penduduk kota. Ringan dan gesit, layaknya alap-alap terbang dan siap-siap menerkam menyambar sesuatu.


Bulan yang dingin tiada perasaan itu terlihat naik ke langit, berupaya keras menembus hujan demi menyinari halaman kosong sepi yang tampak tidak berpenghuni. Tiga sosok bayangan itu melompat ke halaman Kuil yang bernama Kuil Dewi Kebajikan, berjalan mengendap-endap diatas genangan air hujan.


Tidak satu pun diantara tiga sosok itu yang menyadari, jauh di dalam sudut bangunan kuil sepi itu, sorot mata-mata licik menatap mereka seperti tatapan rubah tercerdik dan pandangan berbisa paling berbisa dari ular beracun.


*Bersambung*


   Halo semua. Terima kasih sudah membaca dan menyukai Novel ini.  Dan untuk membuat author lebih semangat lagi, selalu berikan like ya. Jangan lupa favoritkan dan rekomendasikan novel ini kepada yang lain... Terima kasih dan semangat membaca...

__ADS_1


__ADS_2