Kisah Dewa Pedang Utara

Kisah Dewa Pedang Utara
Di Jembatan Neraka Kesembilan


__ADS_3

"Ahli selanjutnya !" ulang pria penjaga pintu Neraka Dunia.


Dia mengerling kekiri dan kekanan menunggu peserta berikutnya untuk melewati Pintu Neraka Dunia. Jelas-jela dia melihat masih terdapat enam orang lainnya yang sejak tadi telah berderet menunggu giliran memasuki Neraka Dunia. Namun orang-orang itu tidak melakukan gerakan apa-apa.


"Apakah kalian secara tiba-tiba membatalkan keinginan untuk berkultivasi di Neraka Dunia?" tanyanya dengan mulut menganga, keheranan.


Rupa-rupanya setelah melihat kejadian naas yang menimpa Ge Kuo, antrian orang-orang itu menjadi ragu-ragu untuk mengambil tindakan melewati jembatan Neraka Dunia itu. Sima Yong yang berada pada barisan paling belakang antrean itu tentu saja merasa tidak enak hati jika dia menyerobot.


"Jika kamu masih ragu-ragu mengambil keputusan, maka biarkan orang lain terlebih dahulu melewati jembatan Neraka Dunia" pria itu sengaja berbicara keras-keras dengan nada yang terdengar tidak sabar.


Buru-buru sepasang pria dan wanita yang berada di antrean paling pertama, melangkah mundur beberapa tindak kebelakang dan memberi kesempatan buat barang siapa yang ingin mengambil tempat pertama itu.


"Kami sepasang suami-isteri ini, memberikan kesempatan kepada para ahli yang berniat menggantikan tempat kami di urutan pertama memasuki Neraka Dunia"


Lalu sambil memasang wajah palsu seolah-olah pribadi yang beritikad baik dan ramah, pasangan suami isteri itu menebar senyum. Dalam hatinya mereka tersenyum mengejek, dan ingin melihat siapa manusia bodoh berikutnya yang akan mati tersambar halilintar di pintu neraka kesembilan.


Ketika sepuluh tarikan nafas telah berlalu, tak ada gerakan sedikitpun dari orang-orang yang berderet mengantre untuk niat mengambil tempat pertama, sekonyong-konyong seseorang bersuara,


"Ijinkan aku menjadi yang pertama melewati jembatan itu"


Semua orang kontan saja memutar badan dan mencari lihat, siapa orang yang demikian berani itu. Dan ternyata orang yang bersuara itu anaklah seorang anak muda tampan, berwajah cerah dengan rambut kelabu yang senada dengan warna jubah yang dia kenakan.


Diam-diam orang-orang itu membatin,


"Wajah polos anak ini tidak cocok untuk di sebut seorang buronan dunia. Kira-kira dosa apakah yang telah dia lakukan?"


"Bukankah bocah ini terlalu muda untuk menjadi seorang penjahat?"


"Apakah kamu ingin menjadi pahlawan kesiangan? Mari kita saksikan tontonan menarik !"


Sima Yong berjalan cepat-cepat mendekati pria tua penjaga pintu itu. Katanya,


"Jika tidak ada lagi yang mau menjadi peserta berikutnya, maka ijinkan aku yang muda ini menjadi yang pertama untuk melewati jembatan neraka dunia"


Pria tua itu menengadahkan wajahnya, lalu menatap wajah Sima Yong lekat-lekat.


"Begitu muda?"


Pria tua itu sebenarnya ingin bertanya lebih jauh mengenai kemampuan si pemuda. Namun detik berikutnya dia menepis keinginannya itu. Pengalaman hidupnya sekian ratus tahun telah mengajarinya satu hal. "Jangan mudah percaya dengan penampilan polos seseorang"


kembali dalam gaya acuh tak acuhnya, pria penjaga itu mulai mengajukan pertanyaan.

__ADS_1


"Sebutkan nama kamu, lalu aku akan mengecek, riwayat kejahatan kamu dan memberi rekomendasi dimana anda akan tepat memilih nanti" tangannya bersiap membuka buka di hadapannya.


Sambil membungkuk memberi hormat, anak muda itu berkata,


"Nama Sima Yong, dan aku berasal dari Wilayah Tengah, tepatnya dari Kekaisaran Rajawali Agung di Benua Penyaringan dewa ini"


Pria tua itu lantas membuka buku yang secara ajaib langsung terbuka di sebuah halaman yang berisi keterangan orang yang bernama Sima Yong itu. Pria tua penjaga pintu itu diam keterkejutan. Lalu dengan tergagap berbicara,


"K-kamu di buru dua Sekte Super?


A-apa?


Empat belas SAGE secara khusus mentargetkan kamu?"


Pria tua itu sekali lagi menatap Sima Yong lekat-lekat. Dia mau memastikan bahwa keterangan di buku tersebut cocok dengan perawakan anak muda yang berdiri di hadapannya.


Setelah sepebakaran hio pria itu menyerah pada kenyataan. Sosok di hadapannya cocok dengan gambaran yang di lukiskan di buku itu.


"B-baiklah. Neraka ke sembilan sepertinya cocok dengan kualifikasi anda.


Anda dapat mencobanya mulai dari sekarang !" pria itu merubah panggilannya menjadi "anda" dari sebelumnya "kamu". Sikapnya pun berubah menjadi jauh lebih ramah.


Semua orang ada yang menahan nafas dan akan bersyukur jika kemalangan terjadi nanti. Semua menunggu kejutan tatkala si jubah kelabu akan mati tersambar halilintar pada langkah pertama diatas jembatan.


"Duar-duar-duar !" tiga halilintar menyambar ketika si jubah kelabu memastikan langkahnya di pijakan adalah langkah ke tiga di jembatan itu.


Roman muka penuh senyum senang jelas tampak di wajah orang-orang yang tengah mengantre itu.


"Rasakan, kesombonganmu akan menghancurkanmu!" maki beberapa orang terdengar penuh nada cemburu. Memang kelompok itu bukanlah berasal dari orang-orang yang berbudi pekerti.


Mereka rata-rata adalah penjahat yang kemudian menjadi buronan. Tentu saja tidak ada seorangpun diantara mereka yang merasa senang ketika anak muda berjubah kelabu itu terlihat seperti telah mengambil hati pria penjaga pintu.


Beberapa detik yang lalu, ketika mereka melihat pria penjaga pintu berubah menjadi ramah dengan anak muda itu, detik itu juga perasaan benci langsung tumbuh dengan cepat di hati orang-orang jahat itu.


Kembali ke petir yang meledak-ledak di jembatan ...


"Duar !"


Sekali lagi halilintar menggelegar dan mengancam si jubah kelabu. Namun alangkah terkejutnya mereka ketika Pedang berwarna Merah telah terbang keluar dari ruang penyimpanan anak muda itu lalu berputar cepat menyelubungi anak muda itu. dua jari di tangan kanannya terlihat bergerak-gerak seperti memberi perintah untuk Pedang Merah itu.


Lalu dengan gerakan cepat seperti tarian setan, Pedang Merah itu melesat cepat, pergi menghadang empat halilintar lantas saling bertabrakan menimbulkan suara ledakan yang menggelegar.

__ADS_1


"Duar-duar-duar-duar !"


Pedang Merah itu bergerak menari dengan cepat mengikuti gerakan dua jari di tangan kanan si jubah kelabu.


"Slashh !" pedang mengiris kekosongan itu, sementara si jubah kelabu terlihat jumpalitan bersalto di udara.


"Gerakan yang indah !" semua oran tanpa sengaja bersuara memuji.


Dalam posisi jumpalitan itu, tangan kanan si jubah kelabu terlihat tetap bergerak memerintah tarian pedang, sementara tangan kirinya terjulur dari udara. Dia mengirimkan sebuah serangan telapak kearah kumpulan halilintar yang meletup tak ada henti-henti itu.


"Bum !" ledakan terakhir yang sangat keras terdengar, bukan hanya meninggalkan bunyi yang mengerikan, melainkan menimbulkan asap akibat kerusakan sesuatu yang timbul akibat benturan tadi.


Lalu keadaan menjadi hening. Dan diantara kabut asap itu, semua orang melihat anak muda itu melenggang santai hingga ke ujung jembatan Neraka Kesembilan.


"Dia lolos di pintu neraka ke sembilan !"


Para penonton yang tadi berharap banyak anak muda itu akan celaka, kini menjadi ternganga dalam diam.


"Apakah dia benar berusia semuda itu? Kekuatannya seolah-olah ahli yang telah berlatih sekurang-kurangnya seratus tahun!"


Diam-diam orang-orang yang awalnya bersuka cita jika si jubah kelabu mengalami kemalangan, langsung menggigil didalam hati.


"Semoga di dalam Neraka Dunia nanti, aku tidak berjumpa dengan mahluk serupa monster itu. Aku takut dia telah menghafal wajahku lalu akan mengambil tindakan karena aku telah bersikap buruk dengannya"


Ketika semua orang masih di terdiam dalam keterkejutannya, terdengar suara dari seberang jurang.


"Array di pintu Neraka Kesembilan mengalami kerusakan. Tolong panggil seorang ahli array untuk memperbaiki jembatan neraka kesembilan !"


***


Sementara itu, Sima Yong si jubah kelabu berjalan seperti biasa, menyeberangi jembatan neraka kesembilan menuju keseberang. Dia bukannya tidak tahu, bahwa di ujung jembatan, ribuan pasang mata menonton dan memperhatikan dia ketika menerobos di pintu yang disebut neraka kesembilan.


"Mulai saat ini aku harus semakin berhati-hati. Seseorang yang menerobos di pintu neraka kesembilan akan menjadi saingan ahli-ahli penghuni kawasan elit di Neraka Dunia itu".


Sima Yong berjalan mengikuti lorong-lorong bertebing dan cadas yang terasa dingin di selubungi salju. Makin lama dia semakin dalam bergerak menuju kearah isi perut terdalam di Gunung Khar Amitan.


*Bersambung*


   Untuk membuat author lebih semangat dan tetap berkreasi melanjutkan novel ini, jangan lupa di-like, sekedar komen dan vote.


   Terlebih tolong favoritkan novel ini karena Noveltoon akan menilai untuk menjadi pemasukan Author berdasarkan jumlah Favorit, komen dan like … yang tentunya juga menyemangati author. Apresiasi yang readers berikan akan menyemangati autor untuk terus berkarya di Noveltoon ini.

__ADS_1


__ADS_2