
Setelah menguburkan Qiu Puren dengan layak, Sima Yong dilanda perasaan hampa. Perasaan itu menyeruak begitu saja kedalam pikirannya ketika dia mengingat, betapa perjalanan Sekte Raja Pedang itu berusaha menemukan seorang penerus sekte yang tak kunjung mereka temukan.
Sima Yong menghel nafas dan membatin,
"Sebuah sekte yang pernah berjaya pada beberapa ratus tahun yang lalu, kini pada akhirnya berakhir sudah perjalanannya di dunia ini, setelah seorang abdi setia putus nyawanya sesudah mengeksekusi teknik pedang tertinggi sekte itu"
Masih dalam perasaan sedih, Sima Yong menyingkapkan kain yang membalut Pedang Immortal Hitam. Dia ingin melihat wujud benda yang menjadi rebutan itu.
Tampak sebuah pedang hitam biasa, dia keluarkan dari bungkusan kain kasar.
"Ini adalah pedang kuno yang merupakan senjata paling berbahaya ratusan tahun yang lalu. Namun mengapa dimataku saat ini, benda hitam ini terlihat biasa-biasa saja?
Tidak ada bekas-bekas bahwa dia pernah menjadi sesuatu senjata paling di takuti di Utara sini" Sima Yong bertanya-tanya didalam hati.
Matanya lantas terkunci pada sebuah benda, lalu memperhatikan rapat-rapat buku yang terdapat di dalam gulungan kain itu.
"Apakah ini adalah Teknik Pedang Terbang legendaris itu"
Dia lalu mengambil buku itu, membolk-balik buku itu dengan saksama. Pada sampul depan buku tipis itu tertulis huruf besar-besar,
"Menguasai Dunia dengan pedang, menjadi Ahli tanpa tanding. Tiada lawan dan tiada kawan, lalu hidup akan menjadi tidak berarti lagi"
Sima Yong mengerutkan keningnya.
"Hm.. demikian dalam maksud yang ingin disampaikan penulis salinan ini"
Dia lalu membalik-balikkan salinan teknik pedang itu menelaah lembar demi lembar. Namun jago kita ini kemudian memperoleh kejutan ketika mulai membaca kata-demi kata di dalam salinan Teknik Pedang Terbang itu.
Tidak terdapat satupun kata-kata yang menjelaskan cara menggunakan pedang, apalagi mempraktekkan teknik Pedang Terbang yang konon merupakan seni pedang tertinggi dari Raja Pedang.
"Apakah Qiu Puren itu membohongiku? Buku ini tidak lebih dari sebuah buku yang isinya kumpulan puisi cinta-yang isinya menceritakan kepedihan dan kerinduan kepada seseorang yang di cintai..." semakin di balik-balik, semakin jelas, bahwa buku itu adalah ungkapan rasa rindu akan orang yang di cintai.
"Ah sudahlah. Pokok permasalahanku adalah menemukan Relikui Raja Pedang. Entah dimana harus aku pergi, tidak ada penjelasan sedikitpun dari Qiu Puren itu tentang reruntuhan Sekte Raja Pedang"
Sima Yong menghentikan sungut-sungutnya. Dia berniat membungkus kembali pedang dan salinan Teknik Pedang Terbang itu, dengan kesal secara iseng dia mengulangi kata-kata pembukaan di buku salinan tadi keras-keras karena karena kata-kata tersebut seperti tak mau hilang dari ingatannya.
"Beri aku kesempatan satu kali lagi untuk permohonan maaf,
__ADS_1
Lalu aku akan pergi ke negri yang jauh, menjauh dari dirimu. Ku tunggu dikau di dermaga..."
Sima Yong tersentak. Tampak sebuah pola terbentuk dan membentuk citra di kain kasar pembungkus Pedang Immortal Hitam itu.
"Sebuah pola teknik pedang?" mata Sima Yong menjadi berbinar. Itu adalah pola yang melukiskan gerakan pedang.
"Bagaimana mungkin? Di kain kasar ini terdapat pola yang kemudian terlihat seperti hidup" dengan semangat dia mementangkan ulang buku salinan Teknik Pedang Terbang. Sima Yong membaca keras-keras bait demi bait puisi cinta di buku itu.
Maka satu demi satu pola-pola gerakan pedang mulai terlukis, seperti citra tentang cara menggunakan Teknik Pedang Terbang. Tentu saja Sima Yong menjadi sangat gembira. Semua gerakan itu adalah Teknik yang di sebut Pedang Terbang.
"Aku harus buru-buru bersembunyi di Neraka Dunia, menghindar dari kejaran Lima Sekte super yang memburu warisan ini"
Sima Yong memeriksa membuka cincin tata ruang Qiu Puren, berharap terdapat sesuatu yang dia butuhkan. Dia saat ini sangat membutuhkan peta Wilayah Utara. Dia haru buru-buru pergi dari Hutan Pinus itu.
Sejak awal dia bukannya tidak sadar bahwa aura ahli-ahli peringkat SAGE yang selalu mondar mandir di langit diatas hutan pinus itu. Semua menebar hawa membunuh yang mengerikan.
Beruntung saat itu dia menggunakan jimat fatamorgana yang menyamarkan keberadaan dirinya dan Qiu Puren dalam beberapa saat. Namun sebagaimana jimat pada umumnya, efektivitas jimat fatamorgana itu pada akhirnya akan berakhir, sehingga dia harus bertarung atau melarikan diri, bersembunyi dari kejaran banyak ahli pengincar warisan Raja Pedang.
"Sebuah peta lengkap Wilayah Utara !" Sima Yong bersorak dalam hati. Dia meneliti dimana keberadaannya saat ini, lalu membaca keterangan-keterangan di peta itu.
"Kota kuno yang merupakan pusat peradaban Utara sini. Kota Kuno terletak di bagian paling Utara dan paling dingin. Sementara Neraka Dunia itu terletak agak ke barat Wilayah Utara, tepatnya di Pegunungan Khar Amitan.
******
Waktu baru menunjukkan thio-sie ketika kentongan keempat baru saja di bunyikan di kota-kota terdekat. Saat itu, rembulan di langit memancarkan warna biru kelabu, jauh lebih terang di banding terangnya bintang-bintang yang berwarna seperti perak.
Cahaya rembulan itu langsung bersinar menerangi gumpalan-gumpalan salju menumpuk di tanah, lalu memendarkan warna kerlap-kerlip seperti sinar mata gadis penggoda.
Sosok berjubah kelabu itu melesat dengan cepat menembus daun-daun pinus tanpa suara sama sekali. Gerakan yang demikian cepat, terlihat seperti terbang itu tidak menjejakan kakinya sedikitpun di daun-daun pinus, sehingga terkesan bahwa gerakan tu adalah gerakan terbang diam-diam.
si jubah kelabu sengaja terbang rendah, menghindari sergapan para pengintai yang menurutnya pasti telah bersembunyi di balik awan.
"suit-suit-suit" ratusan anak panah terlihat mengejar si jubah kelabu. Suara-suara bentakan terdengar dari arah belakang. Suara deru angin pukulan mengandung hawa murni Qi mengejar dari arah belakang, siap membunuh.
Akan tetapi semua harapan para pengejar jubah kelabu itu dipenuhi rasa kecewa. Pada kenyataannya si jubah kelabu bergerak demikian cepat, sehingga dalam sekejab mata dia telah berada dua lie di depan, menyisakan ratus anak panah yang jatuh berguguran ke tanah.
"Kejar dia !"
__ADS_1
"Dia menuju kearah lebih utara lagi"
Tidak lebih dari tiga kapal roh yang diatasnya berdiri ahli-ahli yang sekurang-kurang nya memiliki peringkat kultivasi Kuasi SAGE. Masing-masing kapal berisi paling tidak tiga orang SAGE. Itu adalah serombongan ahli yang tak dapat di anggap main-main.
Si jubah kelabu memperdengarkan tawanya yang mengejek, membahana di area hingga sepuluh lie.
"Hahaha... Tak ku sangka, sepuluh SAGE ini menganggap diriku demikian penting. Sampai-sampai kalian beramai-ramai berniat mengeroyokku.
Mari... Kita bertanding apakah kalian mampu mengejarku !" sosok jubah kelabu itu kembali memperdengarkan tawa nya penuh ejekan.
"Tutup mulutmu. Kematian telah didepan mata. Serahkan segera benda peninggalan Mantel Jerami kepada kami !" bentakan amarah terdengar dari kapal pengejar si jubah kelabu.
"Kejar aku jika kamu mampu" sosok jubah kelabu itu kembali dengan suara penuh hinaan. Sekali ini dia mengemposkan kekuatan lantas lenyap dari pandangan para SAGE itu.
Tiga kapal roh super cepat itu menambah kecepatannya dan melaju kearah utara, hilang di telan kegelapan malam.
"Kota kuno ! Itu adalah tujuan si jubah kelabu"
******
Sima Yong yang di panggil Jubah Kelabu itu, terbang dengan cepat. Saat ini dia telah membuka dua gerbang sekaligus dari delapan gerbang batin tersembunyi.
Gerbang keajaiban yang terletak di kakinya, membuat semua kecepatan penerbangannya menjadi amat cepat berkali lipat, sementara Gerbang penyembuhan berulang kali membantu memberikan pemulihan atas semua tenaga dan stamina ketika melakukan penerbangan dengan cepat itu.
Kapal-kapal ahli SAGE itu tadinya hanya berjarak lima lie dibelakang dia. Namun perlahan-lahan jarak itu semakin lebar. Para pengejarnya kini tertinggal lima puluh lie di belakang nya.
Semakin lama jarak itu semakin terpaut jauh, dimana Sima Yong terpisah seratus lima puluh lie jahnya dari para pengejarnya.
Sekonyong-konyong Sima Yong memutar arah. Kini dia melakukan penerbangan kearah Timur wilayah utara. Dengan membuka dua gerbang sekaligus, Sima Yong sama sekali tidak mengalami kelelahan sedikitpun.
Sementara itu para pengejarnya mencaci maki berulang kali ketika merasakan aura si jubah kelabu selalu berubah arah, sehingga mereka mulai kacau dan tidak dapat memprediksikan kemana dia-jubah kelabu itu sesungguh akan pergi.
Pengejaran para ahli SAGE itu telah terjadi selama satu minggu penuh, dimana mereka mulai dilanda perasaan amarah yang tiada berkesudahan. Hingga pada hari kedelapan, mereka kehilangan jejak si jubah kelabu. Auranya menghilang sama sekali. Yang tersisa adalah jejak tak pasti, dimana si jubah kelabu itu berputar-putar ke utara, timurm barat dan selatan.
"Apakah dia masih manusia? Tidak sedikitpun orang itu merasa kelelahan" para pengejarnya mencaci tiada henti di langit dekat Kota Kuno.
*Bersambung*
__ADS_1
Untuk membuat author lebih semangat dan tetap berkreasi melanjutkan novel ini, jangan lupa di-like, sekedar komen dan vote.
Terlebih tolong favoritkan novel ini karena Noveltoon akan menilai untuk menjadi pemasukan Author berdasarkan jumlah Favorit, komen dan like … yang tentunya juga menyemangati author. Apresiasi yang readers berikan akan menyemangati autor untuk terus berkarya di Noveltoon ini.