
Sima Yong teringat. Dahulu sekali ketika pertemuannya dengan Pangeran Ju Qi di satu Telaga tempat pelesiran dekat Sekte Teratai Putih, sang pangeran pernah memberikannya satu buah Jade Slip yang dapat di perlihatkan sebagai pertanda dirinya adalah kenalan Pangeran Kekaisaran Rajawali Agung itu.
Sima Yong lantas meraba cincin tara ruang nya,
Kemudian dia menunjukkan Jade Slip itu kepada SAGE yang mengerikan itu. Di angkatnya Jade Slip tinggi-tinggi dan di lemparkan kepada SAGE itu.
SAGE itu menerima Jade Slip lantas memeriksanya dengan saksama. Lima tarikan nafas berlalu, wajah SAGE itu berubah menjadi biasa kembali.
"Maafkan ketidak tahuanku Tuan Sima Yong. Anda benar adalah kenalan Pangeran Ju Qin. Slip ini tidak mungkin berbohong" SAGE itu malahan memperkenalkan dirinya.
"Namaku adalah Atid Ananada. Aku berdiri disini sebagai pengawal pribadi Paneran Ju Qin" Atid Ananada langsung membungkuk memberi hormat. Sima Ying membalas memberi hormat, sebagai tata krama.
"Biarkan aku memperkenalkan diri sekali lagi. Namaku Sima Yong" dia lalu menunjuk ke kapal roh...
"Sementara tiga orang diatas geladak kapal roh itu adalah orang-orang ku. Masing-masing bernama Ye Bing Qing, Xong Hui Yong dan Wei Park.
Mereka akan mengikutiku berkunjung ke puncak Gunung Pelahap" jelas Sima Yong.
"Mari ikut dengan ku" kata Atid yang langsung menukik, meluncur ke permukaan puncak gunung, diikuti Sima Yong dan kawan-kawannya.
Ketika mereka tiba di permukaan tanah, langsung terlihat secara nyata, perkemahan besar orang-orang yang sepertinya anggota tentara. Semua berbisik-bisik, bahkan beberapa berbicara terang-terangan.
"Dia adalah Penyihir dengan Kultivasi Kuasi Alam Melintas Immortal" Suara-suara kagum tak percaya terdengar.
"Bahkan kawan-kawannya pun merupakan ahli-ahli di ranah SAINT. Demi apapun... Mereka adalah sekelompok seniman bela diri yang sangat mengerikan"
Sima Yong dan kawan-kawannya berjalan mengikuti Atid Ananada, dan mencoba untuk bersikap wajar, seolah-olah tidak mendengar percakapan orang-orang itu.
Ketika mereka pada akhirnya bertemu dengan seorang pria muda yang mengenakan pakaian kaum bangsawan,
"Saudara Yong...
Akhirnya kita bertemu lagi" Pangeran Ju Qin memeluk hangat Sima Yong seperti kepada keluarga sendiri. Memang hubungan diantara mereka memang sangatlah dalam, apalagi Pangeran itu sangat berterima kasih ketika dia di bebaskan dari penjara kala itu.
"Lihatlah anda....
Demikian jauh anda berubah hanya dalam beberapa tahun" Ju Qin mengamati Sima Yong dalam-dalam. Berdiri disampingnya Ju Lianyi, sang guru sekalian keluarga dekatnya yang setia mendampinginya.
Orang-orang itu berdecak kagum,
"Saudara Yong kini telah menjelma menjadi Ahli Kuasi Melintas Immortal.
Sangat sedikit sekali ahli di Benua ini yang mampu bertarung dengan anda. Semoga dengan bantuan saudara Yong dan tiga SAINT ini, akan membuat kekuatan Kaum Pembebas kami memenangkan pertempuran nanti" Wajah Ju Qin tampak berseri-seri.
Setelah itu Sima Yong lantas memperkenalkan Ye Bing Qing. Karena Wei Park dan Xong Hui Yong pernah bertemu dengan pangeran ketika mereka menjalankan misi penyelematan di Lapangan Pohon Dedalu, maka dia tidak perlu lagi memperkenalkan dua SAINT itu.
Pangeran Ju Qin tak mau kalah. Dirinya memperkenalkan seorang berpenampilan asing seperti orang-orang dari Negri Timur.
"Ini adalah adik dari Kaisar Embun Timur yang bernama Pangeran Kwang Sun.
Pangeran Kwang Sun ini adalah seorang Jendral Perang yang membawahi 5.000 tentara Negri Embun Timur. Berkat bantuan Pangeran Kwang Sun, maka kami Kaum Pembebas ini memperoleh keberanian untuk berperang melawan Ju Kai itu"
Setelah bincang-bincang diantara mereka, Pangeran Ju Qin meminta waktu Sima Yong untuk berbicara berdua didalam tenda khusus. Kedua nya lantas menghilang di dalam tenda dimana Sima Yong mendengarkan pengarahan sang pangeran.
"Saudara Yong, ijinkan aku memintamu menjadi panglima perang dengan membawahi semua pasukan ahli sihir dari pasukan Kaum Pembebas, sekaligus penglima perang khusus menghadapi Ahli " kata Ju Qin.
__ADS_1
Sima Yong menyanggupi hal itu, dan setelah meminta informasi di mana keberadaan kelompok penyihir, dia lalu bergegas menuju tenda dimana kelompok itu berada.
Hari beranjak malam ketika Sima Yong tiba di tenda kelompok tentara ahli sihir itu berada. Dia bermaksud memperhatikan keadaan mereka terlebih dahulu sebelum mengadakan briefing dan persiapan pertempuran.
Ada terdapat lebih dari 200 lebih kaum tentara yang menguasai sihir, berkerumun di halaman tenda itu. Sima Yong mengamati ahli-ahli itu yang kini tengah berlatih mengendalikan api.
Seorang laki-laki Pengendali api tampak berdiri di tengah arena, dia tengah membuat kepalan tinju yang langsung di sabetnya, mengarah ke sebuah orang-orangan jerami berjarak 100 tombak dari dia berada.
Wush !
Sebuah nyala api berwarna suram melesat dari tinju di tangan pengendali api, dan langsung membuat hangus orang-orangan jerami yang menjadi objek pelatihan.
Semua orang-orang bertepuk tangan memuji-muji sang pengendali api.
"Lanjutkan. Yang lainnya dapat meju dan menunjukan ahliannya!" tentara yang lainnya menyemangati kawan-kawan mereka.
Seorang wanita muda yang sambil mengenakan pakaian tentara, terlihat memainkan air dari ember besar. Air itu lantas meluap ketika gadis itu mengangkat tangannya. Lalu dengan satu instruksi rahasia, gadis itu mengayunkan telapak nya, mengarah ke orang-orangan sawah tersebut.
Wush !
Air itu membentuk tiga pedang kristal yang dengan cepat menebas orang-orangan jerami di kejauhan sana. Kepala, tangan dan kaki orang-orangan itu terpapas kuntung seketika.
Sekali lagi tepuk tangan bergema ketika para tentara ahli sihir itu memamerkan keahlian mereka. Akan tetapi di sela-sela tepuk tangan dan sorak sorai mereka satu buah suara terdengar menyela,
"Kemampuan yang bagus sekali !"
"Akan tetapi kalian harus ingat. Didalam pertempuran apalagi peperangan besar, pihak lawan bukanlah satu orang-orangan jerami yang tidak bergerak.
Pihak lawan nanti adalah ahli-ahli perang, berkultivasi tak terduga, yang kadang-kadang malahan merupakan ahli sihir"
Semua orang lantas menengadahkan wajah, mencari lihat.. Siapakah sosok yang berbicara sedemikian jumawa itu.
Semua orang lantas melihat satu figur anak muda, mengenakan pakaian sederhana warna kelabu, dengan rambut yang diikat seadanya. Wajah anak muda itu terlihat tampan yang aneh. Matanya tajam seperti mata Elf sementara rambutnya terlihat berkilauan di timpa bintang malam hari.
"T-tuan.. Siapa anda? Apa maksud anda mengatakan teknik kami hanya berguna menghadapi benda mati?" tanya pengendali api itu dengan ragu. Sosok di depannya meskipun tidak terbaca kultivasinya, namun dia merasa orang itu adalah seorang ahli yang sangat misterius.
Meskipun Sima Yong merasa kaku karena harus mengatur orang-orang yang dia tidak kenali sama sekali, tiba-tiba terdengar pekikan suara beberapa orang,
"Tuan Yong.. Tuan Yong..ingatkah anda dengan kami ini?" Sima Yong mendongak dan melihat ada kurang lebih sepuluh pria muda yang tersenyum memanggil namanya sambil melambai tangan.
Tengah Sima Yong berpikir keras, di mana dia pernah bertemu sepuluh tentara itu, seseorang berkata keras-keras..
"Kami adalah pasukan pengendali angin. Ketika itu beberapa tahun silam kelompok kami pergi dalam satu misi bersama-sama dengan anda Tuan Yong"
Sima Yong mengubah wajahnya menjadi lebih ramah lagi. Dia menepuk jidatnya pelan-pelan. Katanya..
"Ah.. Aku ingat. Kalian adalah tentara di bawah kepemimpinan Liao Quon bukan? Bagaimana kabar kalian selama ini? Dan bagaimana kabar Liao Quon Kapten kapal kalian itu?" tanya Sima Yong.
Buru-buru salah satu anak muda itu menjawab,
"Panglima Laio Quon telah meninggalkan Kekaisaran Rajawali Agung, memilih bergabung dengan Pangeran Ju Qin.
Oleh sebab itu, kami anak buahnya mengikuti jejak Kapten kami" jawab tentara pengendali angin itu.
Sementara itu, pengendali api dan kawan-kawannya yang lain sibuk berbisik menanyakan tentang siapakah anak muda yang baru saja menegur mereka? Seseorang dari pengendali angin itu mendesis pelan
__ADS_1
"Tidak tahukah kalian dia itu adalah Sima Yong? Ahli sihir peringkat Jiwa Master Dao?
Bahkan kultivasi beladiri nya berada di ranah Kuasi Melintas Immortal?"
Tentara ahli sihir itu pada ternganga.
"Jadi dia adalah penyihir yang mematahkan serangan panah api mereka? Dan dia seorang praktisi di Setengah Langkah Melintas Immortal?" mereka ternganga. Seketika sikap semua orang berubah menjadi hangat dan menyapa Sima Yong dengan ramah dan sopan.
"Tuan Yong,
Ada angin apakah yang anda membawa anda sampai berkunjung ke tenda kami kaum penyihir ini?
Perkenalkan, namaku Lin Feng-feng pengendali api. Kebetulan aku adalah Letnan di divisi Ahli sihir ini".
Sima Yong menyelidiki Lin Feng-feng menggunakan benaknya,
"a-apa m-maksud anda Tuan Yong" Lin Feng-feng seketika mencucurkan keringat.
Lin Feng-feng merasa benaknya di sentuh dengan halus. Namun ketika dia mencoba menutup benaknya dari inspeksi itu, dia merasa tak kuasa. Kekuatan jiwa yang memeriksanya demikian super power. Proses memasuki benak orang lain seperti itu, jika dilakukan oleh ahl yang kurang kompeten, dapat mengakibatkan bahaya.
Kemungkinan pertama adalah kematian, dan kemungkinan kedua adalah menjadi kehilangan ingatan. Lin Feng-feng terduduk mandi keringat selepas Sima Yong mencabut inspeksinya di benak tentara itu. Lin Feng-feng seketika takluk setelah peragaan singkat kekuatan jiwa Tuan Yong itu.
"Aku datang ke tenda kalian, mewakili Pangeran Ju Qin yang memintaku menjadi Panglima perang sekalian membawahi semua ahli sihir di ketentaraan ini.
Aku akan melatih kali, menjelang beberapa waktu kedepan perang akan dimulai"
Sejak Sima Yong memperagakan kemampuan sihirnya dengan meraba benak Lin Feng-feng tanpa cidera sedikitpun, sejak saat itu semua tentara ahli sihir itu betul-betul tunduk dan patuh kepada dia.
Sima Yong lantas menguji satu demi satu tentara penyihir itu dan mengambil kesimpulan bahwa rata-rata kemampuan sihir mereka berasal dari turun temurun. Sehingga semua teknik sihir dan mantra-mantra juga merupakan ajaran turun temurun dalam keluarga.
Sima Yong juga menarik nafas dalam-dalam, ketika menemukan ada banyak sekali rapalan kata-kata mantra kuno yang di ucapkan dengan salah. Tentu saja kesalahan ini berpengaruh pada efek ketika sihir di terapkan.
Dia juga mengajarkan mereka untuk memburu aura dan benak ahli sihir, lalu membunuh menggunakan benak sendiri.
"Dengan teknik ini kalian dapat membunuh lawan penyihir dengan merusak jiwa mereka.
Akan tetapi sekali lagi ingat. Setiap sihir dilakukan, maka sihir itu akan berbalik meminta korban dari diri kita. Korban yang paling penting adalah ketika membunuh menggunakan kekuatan jiwa, energi kamu akan terkuras dengan cepat, lalu kamu menjadi lemah dan mudah di bunuh penyihir lainnya di pihak lawan.
Karena itu, aku melatih kalian untuk membunuh dengan bersama-sama menggabungkan kekuatan jiwa, sehingga hemat waktu dan hemat tenaga" kata Sima Yong.
Penyihir-penyihir muda itu demikian antusias berlatih kemampuan membunuh menggunakan benak di dalam peperangan. Biasanya mereka membunuh dengan menggunakan kekuatan salah satu element (api, air, angin, tanah dll) yang ada di diri mereka. Kini teknik terbaru membuat mereka sangat antusias.
Bahkan Sima Yong melengkapi tentara itu dengan rapalan mantra, yaitu empat mantra kutukan mematikan.
"Berhati-hatilah dengan mantra kutukan ini. Ketika kalian mengutuk untuk membunuh, akan ada pengorbanan dari diri kalian setelah korban mati" banyak ahli sihir yang bergidik mendengar penjelasan itu. Diam-diam mereka berjanji tidak akan menggunakan empat mantra kematian itu.
Sementara itu, ada terdapat lebih dari setengah tentara ahli-ahli sihir itu memilih profesi sebagai seorang Healer atau Penyembuh secara sihir. Lagi-lagi Sima Yong mengeluh dalam hati ketika meminta orang-orang itu melakukan penyembuhan luka secara sihir, dan banyak sekali kesalahan mantra dan pengucapan kata-kata kuno yang melenceng dari yang seharusnya.
"Aku mengajarkan kalian empat teknik dan mantra penyembuhan luka dengan cepat. Aku harap dalam dua hari kedepan, semuanya telah hafap dengan teknik ini dan tidak melakukan kesalahan ketika aku meminta kalian memperagakan penyembuhan luka pertempuran dengan cepat!"
Sima Yong menyudahi pelajaran sihirnya, dan berharap besok semua tentara itu telah lebih mahir lagi dibanding sebelumnya..
"Malam yang melelahkan.." dia menutup matanya, lalu larut didalam kultivasi.
Sementara itu diluar tenda, udara malam demikian dingin. Namun suara-suara tentara yang masih menyelesaikan pelatihan mereka, terus-menerus terdengar memecah malam
__ADS_1
*Bersambung*
Halo semua. Terima kasih sudah membaca dan menyukai Novel ini. Dan untuk membuat author lebih semangat lagi, selalu berikan like ya. Jangan lupa favoritkan dan rekomendasikan novel ini kepada yang lain... Terima kasih dan semangat membaca...