
Sima Yong memandang warna kemerahan mentari ufuk Timur yang tampak suram, sesuram suasana yang kental menyiarkan aura pembunuhan dimana-mana.
"Sudah akan dimulai" batin Sima Yong sambil menaiki Elang Roc kuno, bersiap-siap untuk melesat terbang.
Sementara itu, para tentara Kaum Pembebas berjalan mengendap-endap memotong Padang Impian Bidadari kearah barat, berusaha keras untuk tidak menimbulkan suara dari baju-baju besi zirah perang.
Tindakan diam-diam seperti itu bertujuan agar tidak menimbulkan suara-suara yang dapat membangkitkan kecurigaan pihak Kekaisaran Rajawali Agung. Pasukan Kaum Pembebas akan memulai serangan terlebih dahulu, sebelum mereka di serang.
Ketika pasukan terdepan telah melewati lebih dari setengah Padang Impian Bidadari, sekonyong-konyong terdengar aba-aba yang di teriakkan Pangeran Ju Qin keras-keras. Teriakan perintah itu lantas di teruskan masing-masing panglima perang, untuk meminta masing-masing pasukan,
"Berperanglah untuk pembebasan, berperanglah untuk Kaisar Tua Rajawali Agung, hancurkan pemerintahan Pangeran Ju Kai yang menawan Kaisar Tua" teriak Ju Qin membahana.
Seketika terdengar bunyi tambur dan genderang perang yang d tabuh keras-keras, susul-menyusul dengan suara terompet dari tanduk-tanduk yang ditiup.
Derap kaki ribuan orang berlari dengan sepatu-sepatu besi, menghentak tanah yang menimbulkan bunyi mengerikan seperti bunyi air bah meluap di sungai kering,
yang akan membuat gemetar siapapun yang mendengar merasatulang-tulang mereka akan rontok karena menggigil ketakutan.
"Membunuhlah atau kamu akan di bunuh" teriak Sima Yong keras. Tangannya teracung tinggi-tinggi dengan pedang Immortal Hitam ditangan. Dia berdiri diatas Roc raksasa yang mulai terbang menuju Barat menyambut Pasukan Kekaisaran yang juga seperti air mengalir deras kearah mereka.
Menyusul setelah suara teriakan ramai-ramai tentara Kaum Pembebas membahana di Lapangan Impian Bidadari, terdengar bunyi-bunyi lainnya yang tidak kalah mengerikan. Ribuan bunyi hentakan ladam alas kaki kuda membentur tanah, meninggalkan lubang ditanah berumput.
Ribuan pasukan Kavaleri terlihat berlari kencang diatas kuda, tombak teracung lurus kedepan, siap memanggang tubuh musuh seperti tusukan sate. Suara-suara derap langkah kaki dan hentaskan ladam di tanah membangkitkan sensasi mengerikan yang mendirikan bulu roma.
"Perang dimulai !"
Seperti tidak mau kalau dengan kelompok pasukan Invanteri dan Kavaleri Kaum Pembebas dan tentara, dari arah Timur Laut terdengar bunyi-bunyian lainnya, yaitu suara keras langkah-langkah lebar dan panjang-panjang, membuat tanah berumput Padang Impian Bidadari bergoyang-goyang seperti satu gempa bumi lokal.
Dari arah Timur Laut itu terlihat jelas lima mahluk raksasa aneh seperti pohon yang menyeret akar dan berlari cukup cepat, menuju ke arah barat.
Diatas lima pohon itu terlihat berdiri kaum Elf dari Sekte Malaikat Kelabu. Patriak Huang Chi di mahluk pohon paling depan memimpin pasukan Monster Pohon itu dengan pedang ditangan kanan. Mengikuti di belakang dia, terlihat dua Troll raksasa berlari-lari sambil memegang gada besar terbuat dari kayu tua.
Penampakan aneh lainnya disamping lima Ent dan dua Troll itu, terlihat lincah pasukan mahluk buas Magical Beast harimau melompat-lompat seperti angin, dimana beberapa anggota Klan Penjinak Binatang duduk di atasnya. Semua orang-orang itu berbicara pelan-pelan dalam bahasa magical beast, berusaha menghipnotis dan mengarahkan Magical Beast agar tidak menjadi liar.
Sembilan Roc terbang diatas rombongan itu, bertindak seperti penjaga udara yang siap mencabik-cabik siapapun dengan cakar dan kuku-kuku tajam mereka.
Pasukan udara itu dipimpin Partriak Mok.
"Membunuh atau di bunuh !" teriak Master Huang Chi sambil mengangkat pedang sihir.
"Membunuh atau di bunuh !" balas Patriak Mok keras-keras, membakar emosi kelompok dari Timur Laut itu
__ADS_1
Dada semua orang berdegup dengan keras, rasanya seperti gendang di tabuh bertalu-talu, tatkala mereka mendengar jelas, suara sorak-sorai dari arah Barat, tempat Tentara Kekaisaran berkemah,
"Bunuh...!"
Dan pada akhirnya dua pasukan besar dari arah Timur dan Barat itu saling bertabrakan. Timur Laut membentur Barat. Satu suara pecah memekakkan telinga, jeritan ngerikan terdengar di seluruh Padang Impian Bidadari.
Trang - trang - trang.
Blep - blep - blep
Tombak bertemu dengan tombak, pedang bertemu pedang, tombak membentur perisai, pedang membelah helm, semua senjata berbenturan. Suara memekakkan telinga karena benturan logam dengan logam demikian menyeramkan, seperti hiasan maut di padang rumput, yang biasanya menamipilkan pemandangan indah.
Dari arah udara dengan bunyi tak mau kalah, suara-suara burung nasar yang kelaparan terdengar berkaok-kaok, lalu meliuk dan berputar-putar gembira di udara karena mencium bau darah dan daging segar.
Sima Yong belum lagi bertempur solo. Saat itu benak berkelana kemana-mana mencari-cari aura penyihir dari pihak lawan yang akan mengutuk dan mengeluarkan mantra jahat bagi Kaum Pembebas.
"Li Feng-feng.. Sudahkan kalian menemukan penyihir di pihak lawan?" tanya Sima Yong.
"Belum terdeteksi satupun penyihir Kekaisaran" kata Li Feng-feng. Mereka berbicara menggunakan transmisi dari benak.
"Beritahu aku, ketika kalian telah menemukannya. Biarkan aku membunuh penyihir mereka" kata Sima Yong.
"Baik Tuan Yong"
Biar bagaimanapun, jumlah yang besar dari pasukan kekaisaran jelas-jelas membuat ketakutan tentara Kaum Pembebas yang saat itu mulai berdarah tertikam tombak dan teriris pedang musuh.
Dari atas Roc yang terbang rendah itu Sima Yong mengangkat tangannya, satu rapalan mantra dia ucapkan keras-keras..
"Murtaa sielu"
Wush !
Ada lebih dari seratus tentara Kekaisaran langsung roboh terkulai, ketika benak Sima Yong merusak benak seratus orang itu secara sihir. Tentara-tentara Kau Pembebas lantas bersorak-sorak ketika mendongak ketas, melihat sosok yang mengenakan zirah merah mengangkat tangan ke mereka.
"terima kasih Tuan Yong" teriak mereka mengelu-elukan Sima Yong.
Menyusul Li Feng-feng berbicara dengan transmisi, memberi tahukan mereka menemukan keberadaan tiga perapal mantra. Benak Sima Yong lantas menjalar kearah mana Li Feng-feng mengarahkan benaknya. Lalu dengan satu mantra kutukan, dia meremas remuk jiwa tiga perapal mantra musuh.
Di sisi pasukan Troll dan Ent tampak berpesta pora melakukakn pembantaian. Status mereka sebagai mahluk sihir membuat mereka kebal dengan senjata-senjata tempur umum. Hal ini tentu saja menyulitkan pasukan Kekaisaran.
Belum lagi mahluk-mahluk buas yang di kendalikan Klan Penjinak binatang. Hewan-hewan buas itu dengan leluasa meluapkan sifat brutal mereka tanpa takut-takut. Kelompok Elf dan Penjinak binatang ini, benar-benar membuat pasukan kekaisaran di sebelah Timur Laut terdesak hebat tanpa perlawanan.
__ADS_1
Lama baru pulih dari keterkejutan yang di berikan Kaum Pembebas dengan serangan mendadaknya, pelan-pelan Pasukan Kekaisaran Rajawali Agung mulai tersadar dari keterkejutannya. Mereka lalu memulai penggunaan mesin-mesin perang modern yang akan menjadi senjata pamungkas pasukan mereka.
Sebuah katapel raksasa di terlihat operasikan musuh. Lalu mesin ini memuntahkan bola-bola raksasa yang di dalamnya terkandung cairan api panas, di tembakkan bertubi-tubi ke arah Tentara Kaum Pembebas.
Tidak berhenti disitu, mesin-mesin busur raksasa mulai di putar roda-rodanya. Busur yang biasanya berukuran kecil, kini tergantikan busur raksasa sepanjang enam kaki. Kepala busur menyala-nyala mengandung api sihir.
Duar !
Duar !
Duar !
Dalam sekejab mata mesin-mesin perang itu mampu menghambat langkah dari Pasukan Kaum Pembebas, dengan muntahan cairan api panas dan ledakan panah raksasa.
Bahkan satu ledakan bola kristal api itu, ******* habis satu Ent yang tidak sempat menghindar. Mahluk pohonitu menyala dengan api membubung tinggi, mengingat tubuhnya adalah kayu tua dan telah sangat kering.
"Sihir..! Semua mesin perang itu di mantrai dengan sihir. Jika itu terus berlangsung, mak tidak terlalu lama bagi semua Troll dan Ent akan lumpuh karena serangan senjata sihir" kata Li Feng-feng menggunakan transmisi. Dia kedengaran mulai panik.
"Biarkan aku yang membunuh benak perapal mantra musuh" kata Sima Yong. Pikirannya lalu menjalar kemana-mana, meluas hingga beberapa lie ke arah barat.
Dia merasakan kehadiran seorang perapal mantra musuh yang kala itu terasa tengah memantrai bola-bola kristal api yang akan ditembakkan katapel raksasa.
"Murtaa sielu !" teriak Sima Yong meludahkan kutukan ketika menyentuh benaknya.
Seketika perapal mantra musuh jatuh lunglai tatkala jiwanya remuk di hancurkan Sima Yong. Tentara yang akan mengoperasikan katapel raksasa itu menjadi ketakutan melihat si perapal mantra mati tanpa sebab. Baru saja dia akan pergi lari, namun sesuatu yang gelap menyerbu benaknya dan menguasai dia. Dalam pengaruh sihir tentara kekaisaran itu membakar dan merusak katapel raksasa menggunakan pedang dan api.
Puas dengan pekerjaannya, benak Sima Yong berjalan-jalan kearah mesin-mesin pembunuh yang lain. Dia melakukan hal yang sama yaitu meremukkan jiwa para perapal mantra musuh disana, satu demi satu lalu menguasai tentara pengendali katapel untuk merusak mesin-mesin perang itu.
Merasa bahwa mesin-mesin tempur mereka berhasil di kuasai, dari arah Barat yaitu perkemahan kekaisaran, terlihat lima sosok ahli dalam balutan zirah perang, terbang dan menerobos pasukan Kaum Pembebas.
Lalu layaknya seperti hantu grimm reaper, lima SAINT itu menebas kesana kemari, serupa iblis memanen jiwa-jiwa tentara Kaum Pembebas dengan mudah.
"SAINT. Mereka mengerahkan lima ahli SAINT" pekik tentara-tentara Kaum Pembebas dengan panik. Pasukan Kaum Pembebas seketika kocar-kacir. Mereka lari menghindar dan menyelamatkan diri.
"Kurang ajar. Hadapi kami. Terlalu hina seorang SAINT bertempur melawan tentara di ranah Alam Spirit Agung" teriak Ju Lianyi.
Lima sosok ahli SAINT dari Kaum Pembebas lantas terlihat terbang, menyusul kemana ahli Kekaisaran itu berada.
"Hehe... Hadapi aku, bukannya berhadapan dengan tentara-tentara itu kata Ye Bing Qing meloloskan pedangnya.
*Bersambung*
__ADS_1
Halo semua. Terima kasih sudah membaca dan menyukai Novel ini. Dan untuk membuat author lebih semangat lagi, selalu berikan like ya. Jangan lupa favoritkan dan rekomendasikan novel ini kepada yang lain... Terima kasih dan semangat membaca...