Kisah Dewa Pedang Utara

Kisah Dewa Pedang Utara
Kelompok Macan Hutan


__ADS_3

Di Desa Rajawali itu Wang Yong tinggal menumpang di Keluarga Du An. Setiap hari dia berkultivasi untuk memulihkan semua luka-luka baik itu luar mapun luka dalamnya. Salah satu yang disesalkan Wang Yong adalah jubah dan sepatu ajaibnya rusak Ketika pertempuran terakhir di Padang Es.


Baling-baling di jubah patah beberapa bagian, sedangkan sepatu juga mengalami hal yang tidak jauh berbeda. Namun dia masih bersyukur bahwa masih hidup. Dan dia harus secepatnya sembuh dan pergi ke Kota Azalea untuk mencari informasi semua Master dan kawan-kawannya.


Sementara itu seminggu di Desa Rajawali, Wang Yong melakukan kegiatan seperti kaum petani umumnya, sesuai kehidupan di desa itu. Tidak ada seorang pun dari tuan rumah yang mengetahui bahwa dia adalah jenius terbaik dari Kekaisaran Great Ying.


Terkadang malahan Wang Yong membantu Du An untuk pergi berburu hewan di hutan lalu Bersama-sama menjual hasil buruan ke Juragan Liu. Juragan Liu adalah orang terkaya di desa yang mana dia menerima semua hasil panen masyarakat ataupun hasil buruan. Juragan Liu sendiri meskipun adalah orang terkaya di desa itu, namun dia adalah seorang yang dermawan dan disukai semua orang.


Karena disukai dan dihormati semua orang di Desa Rajawali, maka Juragan Liu juga merupakan pimpinan desa atau yang biasa disebut dengan kepala desa. Juragan Liu adalah seorang duda yang memiliki seorang anak gadis remaja berusia 17 tahun yang juga merupakan salah satu igadis tercantik di Desa Rajawali.


Kembali ke Wang Yong, kondisi kesehatannya mulai menunjukkan perbaikan setelah berisitrahat dan rajin berkultivasi untuk mengolah Qi nya yang selalu dia edarkan ke seluruh pembuluh darah untuk membersihkan dan mengobati luka bagia dalamnya.


Setidaknya dengan beristirahat dan rajin berkultivasi pemulihan, saat ini kondisi kesehatannya membaik sekitar 70%. Tentu saja Wang Yong sangat bersuka cita, karena semakin cepat dia pulih, maka semakin cepat dia akan meninggalkan desa ini.


Siang itu Ketika Wang Yong berencana akan berpamitan kepada Du An dan nyonya, tiba-tiba mereka dikejutkan dengan bunyi derap Langkah kaki kuda memasuki desa kecil yang hanya dihuni tidak lebih dari tiga puluh kepala keluarga itu.


Wang Yong menatap Ketika kira-kira dua puluh pria berpakaian ringkas dengan golok dan pedang tersampir dipinggang mereka sambil menaiki kuda yang berlari pesat, memasuki gerbang desa dengan gaya yang sangat atraktif.


“Minggir kamu sampah…..!!!”


Seorang perampok menyabet goloknya kearah Wang Yong yang sedang berdiri dipinggir jalan. Sabetan tanpa kenal ampun itu menyambar tubuh remaja berusia empat belas tahun itu, lalu kemudian tubuh remaja itu terguling ditanah.


Perampok itu mengabaikan tubuh yang telah di sabet dengan golok itu. Bersama kelompoknya para perampok, dia memacu kudanya untuk berlari kencang menuju kediaman Juragan Liu.


“Hahahahaha….


Liu tua, cepat kamu keluar dan serahkan upeti bulanan kami. Kelompok Macan Hutan sudah tidak sabar akan janjimu”


Dengan kasar seorang pria bertubuh kekar berteriak keras sehingga memekakkan kuping yang mendengarnya. Terlihat penampilannya mengenakan busana ringkas ketat, menonjolkan tubuh berotot dan kekar. Tubuh pria itu sangat tinggi yaitu lebih tinggi jauh dibanding rata-rata orang pada jaman itu.


“Kelihatannya dia adalah pemimpin kelompok bajingan itu” pikir Wang Yong yang telah bangun dari keadaan terguling akibat menghindari bacok golok anak buah Macan Hutan tadi.

__ADS_1


Wang Yong tidak beniat untuk menampilkan kemampuan nya sebagai seorang praktisi, sehingga dia berpura-pura terguling Ketika bacokan golok itu menyabetnya.


Bacokan itu hanya sebuah golok biasa bukan senjata roh, tidak akan mampu melukai tubuhnya yang telah terlatih selama ini dengan Teknik defense (pertahanan) sehingga kulitnya disebut telah memasuki tahap yang disebut Kulit Silver (perak).


Juragan Liu atau bisa disebut sebagai kepala desa, segera tergopoh-gopoh keluar dari rumahnya diikuti pelayannya membawakan upeti untuk kawanan penjahat Macan Hutan itu.


Setelah Juragan Liu menyerahkan upeti berupa emas didalam sebuah peti kecil, pemimpin kelompok Macan Hutan yang Bernama Pan Li berkata.


“Untuk kali berikut, Kelompok Macan Hutan tidak akan menerima upeti dalam bentuk emas lagi. Kalian wajib menyetor upeti dalam bentuk Eneri Stone (Batu energi). Rasanya emas tidak terlalu berharga untuk dipakai bertransaksi di kota-kota besar kekaisaran ini”.


Dengan melongo Juragan Liu menatap Pan Li dan berkata’


“Tuan, kami semua disini hanya masyarakat biasa. Kami bukanlah dari golongan cultivator atau pejabat pemerintahan yang dapat dengan mudah memperoleh Energi Stone (Batu Energi). Rasanya kemampuan kami di Desa Rajawali ini hanya sebatas memberikan upeti berupa emas”


Juragan Liu berkata dengan memelas memohon pengertian dari Pan Li Kepala kelompok Macan Hutan itu. Akan tetapi Pan Li bersikeras menolak dan telah menetapkan, bulan depan mereka akan datang Kembali ke Desa Rajawali ini dan mengambil upeti dalam bentuk energi stone. Wajah Juragan Liu betul-betul seperti anak kecil yangakan menangis, namun Pan Li seakan tidak peduli dengan kesulitan warga desa memenuhi energi stone itu.


“Sebagai jaminan kalau kamu akan mematuhi keinginanku, dengan memberikan upeti energi stone maka aku akan membawa anak gadismu untuk menjadi sandera Kelompok Macan Hutan kami”


"Ku dengar dari kabar, anakmu adalah salah satu kecantikan di desa ini"


“Jangan….!!”


Teriak Juragan Liu mengejar kedua orang itu, namun apalah daya. Tubuhnya yang sudah renta itu hanya mendapat sebuah tendangan tepat di dadanya dan dia langsung jatuh pingsan.


Dengan buas kedua kaki tangan Pan Li menyeret seorang anak gadis keluar dari kediaman Juragan Liu. Pan Li tertawa puas.


“Tidak kusangka anak gadis si Tua Liu ini adalah gadis yang cantik. Tubuhnya benar-benar bagaikan buah segar yang telah ranum dan siap dipetik”


Tatapan mesum dan menyala-nyala itu menambah ketakutan gadis Bernama Liu Haiyun berteriak histeris. Penduduk desa yang umumnya adalah masyarakat pedesaan biasa dengan pekerjaan petani ataupun pemburu hanya dapat melihat dengan rasa kasihan didalam hati. Tidak ada yang dapat mereka lakukan selain merasa iba.


Dengan tawa mengandung rasa puas, Pan Li berniat meninggalkan desa sambil menggendong Liu Haiyun.

__ADS_1


“Katakan kepada si Tua Liu itu ketika dia tersadar, Kelompok Macan Hutan bukanlah sesuatu yang bisa dipandang sebelah mata kata-katanya. Bulan depan kami akan datang lagi dan menagih Spirit Stone, bukan lagi emas seperti sekarang”.


Ketika dia baru akan menghentakkan kaki ke kudanya untuk berlari meninggalkan Desa Rajawali, tiba-tiba didepan matanya dia melihat sendiri… dua anak buahnya tiba-tiba kelojotan sambil memegang leher nya berdarah seperti sehabis diiris sebilah pedang.


Baru saja dia akan memaki siapa yang bertindak seperti itu, teriakan-teriakan kesakitan menyusul dua temannya yang sudah mati karena leher tergorok pedang.


Semakin lama semakin banyak jeritan dari anak buahnya Ketika meregang nyawa akibat tebasan pedang, namun tidak terlihat apapun itu yang telah melakukannya.


“Tuan cultivator yang hebat,…… mohon menunjukkan diri anda. Pan Li disini memohon maaf jika kami ada sesuatu yang tidak berkenan dihati anda. Kelompok Macan Hutan akan pergi dari desa ini”


Dia menunggu, namun tidak ada apapun yang datang menampakkan diri. Sehingga dia tau, sosok berilmu sangat tinggi itu tidak ingin memunculkan diri.


“Jikalau demikian, maka Pan Li dan kelompok Macan Hutan akan pergi. Mohon belas kasihannya…”


Lalu dia pergi mengendarai kuda diikuti anak buahnya yang tersisa hanya lima orang. Padahal awal kemunculan didesa itu semuanya berjumlah dua puluh orang.


Pan Li memacu kudanya secepat mungkin. Karena takutnya dia meninggalkan anak gadis 17 tahun Bernama Liu Haiyun dan upeti dari Juragan Liu. Yang


Ada didalam pikirannya adalah pergi sejauh mungkin dari desa itu. Nampaknya ada seseorang yang memiliki kultivasi sangat tinggi bersembunyi di Desa Rajawali.


********


Wang Yong Kembali menyatukan jiwa dengan tubuh fisiknya setelah tadi dia melakukan Teknik oracle jiwa atau peramalan jiwa dengan memisahkan jiwa dari tubuh fisik. Jiwa ini yang kemudian mengeksekusi nyawa anak buak Kelompok Macan Hutan dengan menebas menggunakan Aura Niat Pedang.


Setelah menyatukan jiwa dengan tubuh fisiknya, dia menyendiri di salah satu tempat yang sepi dan tidak terlihat orang. Dengan menaiki sebilah pedang, Wang Yong terbang dan menyusul kelompok Macan Putih itu.


Jika melihat dari dekat, wajahnya diselimuti aura aneh sehingga wajah Wang Yong tidak dapat dikenali lagi seperti semula. Yang Nampak adalah seraut wajah sederhana tanpa ekspresi, dan semua aura yang memancarkan kemapuan kultivasinya hilang dibalik Topeng Giok Ungu.


Niat utama Wang Yong selain menghabisi kelompok yang selalu mengganggu keamanan sekitar, dia tidak ingin kabar tersebar terdapat seseorang praktisi berkemampuan tinggi di Desa Rajawali.


Menonjolkan diri pada saat ini, hanya akan memancing musuh-musuhnya terutama Mao Jianheeng dari ras iblis itu. Dia tahu bahwa Mao Jianheeng pasti saat ini tengah memburunya, mencari jejaknya. Praktisi pedang di ranah Alam Spirit Agung adalah terlalu jauh celahnya antara bumi dengan langit di bandingkan Alam Kondensasi Roh miliknya.

__ADS_1


Dia harus kuat sesegera mungkin. Saat ini Wang Yong merasa dia terlalu lemah jika dibandingkan dengan musuh-musuhnya.


*Bersambung*


__ADS_2