
Wajah Nyonya Hua, pemiliki kedai itu tersenyum lebar ketika dia melihat Long Yun mencoba meloloskan pedang dari sarung yang tersampir di pinggangnya.
Bedembum !
Long Yun, Ahli di ranah Alam Tanpa Batas bintang tiga itu terjatuh tanpa daya. Dia merasa tubuhnya lemas, tiada tenaga sama sekali. Long Yun dengan susah payah melirik ke arah empat adik seperguruan dari Sekte Black Dragon.
Keempat pria saudara nya itu juga telah jatuh tengkurap, dan ada yang telentang dengan mulut mengeluarkan buih berwarna putih.
Long Yun menetap geram kearah Nyonya Hua. Igin rasanya dia mencabik-cabik perempuan tua itu. Namun kenyaaannya dia harus menyerah dengan tubuh lemasnya dan napasnya yang mulia sesak.
"A-apakah kami memiliki dendam dengan anda? M-mengapa anda meracuni kami kakak beradik?" tanya Long Yun dengan napas satu-satu.
"Tentu tidak ! Tak ada dendam sedikitpun" jawab Nyonya Hua sambil tersenyum - bibirnya semakin melebar melengkung membuat seram wajah tua itu.
"L-lalu mengapa anda m-meracuni kami?"
"Aku hanya ingin membunuh orang. Terkadang ketika malam-malam kelam dan gelap seperti ini, hawa dan keinginan membunuhku bangkit. Dan tidak ada alasan untuk tidak membunuh seseorang" kembali Nyonya Hua berkata.
Nyonya Hua bahkan tidak perlu lagi berpanjang lebar dengan uraian kata-kata. Lima orang praktisi dari Sekte Black Dragon dengan cepat menghembuskan napas terakhir ketika menyentuh bahan yang mengandung racun. Racun itu memang adalah satu jenis bisa yang paling berbahaya dan jarang ada penangkalnya di dunia ini.
Bubuk yang dia taburkan di arak dan roti kukus tadi, adalah dia sendiri yang mengekstrak nya dari Raja Kalajengking di Rawa Berkabut, suatu daerah berbahaya yang penuh dengan mahluk-mahluk beracun.
Racun Raja Kalajengking Rawa Berkabut di katakan sebagai paling berbahaya, karena racun itu tidak berwarna, tidak berbau dan tidak menimbulkan cita rasa yang asing. Oleh karenanya Nyonya Hui dengan sekte rahasia nya kerap kali menggunakan Racun Raja Kalajengking didalam aksi mereka.
"Entah bagaimana aku mesti berterima kasih kepada semua Kalajengkin Rawa Berkabut sana" Nyonya Hua buru-buru memeriksa semua barang yang ada di tubuh lima orang korbannya.
Ketika pada akhirnya dia menemukan apa yang di cari, sebuah sobekan salinan peta, air muka Nyonya Hua tampak makin cerah. Rupa-rupanya apa yang dia cari pada akhirnya berhasil dia dapatkan.
"Pecahan Peta yang aku impikan !" gumam Nyonya Hua senang.
__ADS_1
"Akhirnya aku menemukan seperempat bagian petunjuk di mana keberadaan Bangau Berkaki Satu" buru-buru prempuan setengah tua itu memasukkan pecahan peta kedalam cincin tata ruangnya.
"Mari kita pergi !" titah Nyonya Hua kepada pelayan bertompel yang tadi melayani tamu-tamu itu. Namun anehnya kini wajah pelayan itu sudah tidak lagi bertompel, melainkan dia berubah menjadi seorang pemuda yang cukup menarik.
Dua orang itu sepertinya memang telah merencanakan dengan matang untuk menjebak lima praktisi dari Sekte Black Dragon tadi.
Perempuan bongkok dengan bujagnya lenyap di telan kabut malam yang muncul di Hutan Kematian, di kaki Pegunungan Pembunuh. Malam lantas berubah menjadi sepi setelah kepergian Nyonya Hua dengan bujang laki-lakiya.
Yang tertinggal dari kemeriahan gelak tawa seperti sebelumnya di kedai itu, hanyalah lima potong mayat dengan mulut berbusa putih, tergeletak di lantai.
Banyaknya lampion yang tadinya bercahaya terang menerangi Kedai perempuan bongkok itu, kini tidak lagi cemerlang dan mulai terlihat memudar seiring energi bahan bakarnya mulai menipis.
Namun meskipun remang-remang, cahaya samar-samar itu justru semakin membuat penampakan Hutan terlihat semakin menyeramkan.
Burung hantu mulai keluar dan berkukuk menyambut gelapnya malam, kelelawar mulai keluar dari goa persembunyi dan mencoba mencari-cari makanan yang dapat mereka peroleh. Ketika itu satu bayangan berwarna putih terlihat berlari dari arah lereng Pegunungan Pembunuh.
Orang itu sebenarnya bukannya berlari, karena kakinya terlihat tidak bergerak sama sekali. Ia lebih cocok di katakan tengah melayang berjarak satu jengkal diatas tanah - begitu rendah dan tiak menimbulkan jejak sama sekali.
Mungkin kalau orang awam yang melihat anak mudah berjubah putih itu, akan menjadi ketakutan seperti melihat penampakan iblis. Ia tampak melayang diatas tanah, bergerak cepat seperti gerakan daun di tiup angin.
Lalu agar tidak terlalu mencolok, ia menukik turun dan seolah berlari menuju ke arah cahaya lampion yang menyala di kaki Pegunungan Pembunuh itu.
"Adakah orang di dalam? aku ingin memesan makanan !" kata nya sopan. Hening.. sepi.. tak ada jawaban sama sekali.
Sekali lagi dalam teriakan yang lebih keras..
"Ijinkan pengelana ini untuk bertanya.
Apakah Nyonya Hua pemilik kedai ini masih menyediakan hidangan untuk pengelana di malam hari?" ia mengulangi pertanyaannya.
Merasa tidak di tanggapi apa-apa dari pemilik kedai, Sima Yong lantas mendorong pintu gerbang kedai.
__ADS_1
Sreet ! Suara bunyi pintu bambu berderik ketika ia mendorong nya.
"Mayat? Lima mayat manusia dengan mulut penuh busa"
Ia mendekati salah satu mayat, yaitu Long Yun dan memeriksa.
"Racun yang amat ganas" desisnya. Ia langsung mengambil kesimpulan kalau lima orang itu belum lama mengalami kematian.
"Tubuh mereka masih terbilang hangat dan belum kaku"
Ia lantas memeriksa hidangan diatas meja dengan menaburkan bubuk deteksi racun. Satu uap putih menyebar dan perubahan terjadi. Roti kukus itu seketika berubah warna menjadi kehitaman, sementara dari dalam kendi terlihat buih-buih yang meluap, sampai-sampai tumpah ruah keatas meja. "Racun !"
Ia lantas mengambil sumpit baru dari dapur, dan mulai duduk di meja kedai sambil mengunyah sayuran yang dingin itu.
"Hanya arak dan bapao itu yang beracun.. sayur masak ini tidak mengancung racun sama sekali. Tidak ada salahnya aku mencicipi sayuran yang terlihat menarik ini" Ia sama sekali tidak terganggu atau merasa risih dengan menyantap makanan sambil di kelilingi lima mayat manusia.
"Besok pagi-pagi aku akan mencari desa tempat tinggal Suku Jinzhi dan meminta orang untuk datang melihat disini.
Meskipun mereka telah menjadi mayat, tidak ada salahnya untuk memberi penguburan yang layak sebagai penghormatan yang terakhir.
Tidak mungkin aku memaksa diri untuk pergi ke desa Suku Jinzhi di malam selarut ini. Paling baik adalah megunjungi mereka di pagi hari sambil mencari-cari informasi apa yang terjadi dengan lima praktisi ini. Mungkin saja ada yang mengenai lima orang malang ini" batin Sima Yong.
Ia lalu menghabiskan malam di kedai yang di penuhi lima mayat anggota Sekte Black Dragon. Anak muda itu duduk bersila dalam posisi lotus, memejamkan mata, menutup hati dan pikiran, berkultivasi mencari jalan keabadian.
******
Pagi menjelang, ketika angin Selatan bertiup ramah. Semilir angin berhembus lembut menyentuh pipi dan kulit Sima Yong, demikian lembut seperti kain sutra terbaik, yang terasa merayap membelai pipinya.
Matahari masih malu-malu di ufuks timur, ketika terdengar langkah-langkah kaki berjalan amat hati-hati, sangat pelan nyaris tak terdengar - kira-kira ada sepuluh pasang kasi Praktisi beladiri yang bergerak hati-hati di Hutan Kematian.
Langkah kaki mereka makin kesini makin jelas menuju ke Kedai Nyonya Hua dimana Sima Yong masih bersemedi. Anak muda itu lantas membuka mata nya dengan waspada.
__ADS_1
Bersambung
Halo semua. Terima kasih sudah membaca dan menyukai Novel ini. Dan untuk membuat author lebih semangat lagi, selalu berikan like ya. Jangan lupa favoritkan dan rekomendasikan novel ini kepada yang lain... Terima kasih dan semangat membaca. <3