Kisah Dewa Pedang Utara

Kisah Dewa Pedang Utara
Namanya Menggetarkan Sungai Telaga


__ADS_3

Angin Pt.beliung itu membawa dua sosok anak muda. Kecepatan angin Pt. beliung itu bahkan lebih cepat dari Kapal Roh tercepat yang pernah di kendarai Pangeran Ju Qin.


"Saudara Yong ... apakah aman kita terbang seperti ini?"


Dalam sebuah tawa kecil, Sima Yong menenangkan Pangeran Ju Qin yang tidak merasa nyaman dalam penerbangan itu.


"Sepanjang anda tidak melepaskan pegangan dari tanganku, maka anda akan baik-baik saja" kata Sima Yong. Dia tergelak ketika merasa cengkeraman pangeran semakin ketat memegang tangannya.


"Jika pangeran pernah mendengar suatu teknik dari negri-negri Timur yang dikenal dengan nama Chakra atau Chakura, maka ini adalah teknik yang membuatku mampu memanfaatkan dan mengendalikan angin. Maka anda tidak perlu kuatir, aku mengendalikan angin dengan teknik itu" kata Sima Yong, diikuti anggunkan kepala pangeran.


Karena dia membawa pangeran, maka terkadang mereka berhenti di pulau-pulau kosong untuk beristirahat. Pangeran memiliki kultivasi yang tidak terlalu tinggi, oleh karena itu dia cepat merasa lelah tatkala melakukan perjalanan panjang menggunakan angin seperti yang Sima Yong lakukan.


Tidak kurang dua kali mereka beristirahat di dua pulau sebelum tiba di Kota Saebyeog. Sima Yong tidak mengeluh jika pangeran meminta berhenti. Di sela-sela waktu luang menunggu, dia selalu menyempatkan diri untuk mempelajari benda yang di sebut Relikui Feniks Gemala itu.


Menurut Patriak Mok, benda ini akan cocok dengan seseorang yang memiliki kultivasi Jiwa yang tinggi. Hanya saja pihak Klan Penakluk Hewan itu belum dapat menggali kemampuan relikui. Kelompok itu bukanlah ahli dalam teknik mengolah jiwa.


Dia mencoba berbagai cara. Salah satunya berbicara dengan Relikui itu dengan cara membenamkan benak nya kedalam benada itu. Akan tetapi kenyataan bahwa relikui itu tidak menunjukkan reaksi.


"Sayang sekali, aku lupa menanyakan cara mengakifkan relikui ini desis Sima Yong" sesal Sima Yong.


"Baiklah ... aku akan meneliti lebih jauh ketika kami berada di Kota Saebyeog nanti" bisiknya dalam hati.


Tatkala pangeran telah merasa istirahat itu cukup, dia melanjutkan terbang membawa pangeran ke Kota Saebyeog.


Besok siang hari, mereka baru tiba di Ibukota Negri Embun Timur itu. Mereka memilih hotel terbaik, untuk menunggu kelompok lainnya-Ju Lianyi dan yang lain, datang disana dengan kapal roh itu.


Merasa bahwa ada banyak waktu akan terbuang hingga kelompok militer tiba nanti, Sima Yong menyatakan keinginannya berkunjung ke Asosiasi BaoXing, ke pangeran.


Dengan tatapan berapi-api penuh semangat Pangeran mengiyakan dan menawari diri untuk menemani.


"Baiklah... aku memang memerlukan sebuah informasi dari dari Asosiasi itu. Lagipula bukankah anda masih membutuhkan jimat tebasan bukan??" kata Sima Yong.


***


Keduanya merubah penampilan agar terlihat pantas di sekeliling. Pangeran harus tidak terlihat sebagai pangeran. Pasukan dari kapalroh belum tiba jadi mereka harus bersikap seperti orang biasa.


Sima Yong mengenakan tunik panjang berwarna kelabu. Rambutnya digelung rapi diatas kepala, diikat dengan sehelai pita sutra berwarna senada. Dia terlihat seperti tuanmuda terpelajar dari sebuah Klan suci.


Sedangkan pangeran mengenakan dandanan ala sastrawan, komplit dengan mengenakan topi "Zhanjiao Futao" sebuah topi bertanduk panjang kekiri dan ke kanan khas kaum sastrawan atau LaoTze (guru adalah orang terhormat).


Keduanya berangkat mengendarai kereta yang disewa. Ketika mereka menginjakkan kaki di pelataran Asosiasi BaoXing, buru-buru penjaga membukakan pintu kereta. Semua mata menatap dua anak muda yang terlihat sangat terpelajar itu. Mata anak gadis, banyak yang mencuri-curi pandang untuk melihat mereka.


Pangeran Ju Qin semakin berjalan dengan gagah. Diam-diam dia berbisik,

__ADS_1


"Mengapa anda selalu mengenakan pakaian dengan warna yang tidak menarik seperti itu?? mungkin kedepannya aku akan memberikan anda seorang penata busana yang akan mengatur penampilan anda" nada suara pangeran terdengar kocak.


Dia memang sengaja karena dia berulang kali merasa heran dengan Sima Yong yang selalu mengenakan pakaian warna yang kurang menarik. Kelabu atau hijau polos. Bahkan orang itu tidak menyentuh daging sama sekali.


Dan Sima Yong selalu dengan tertawa berkata bahwa, warna hijau lumut dan kelabu itu menandakan dia adalah kaum terpelajar di kalangan ras jingling. Dia telah berjanji akan mengenakan pakaian seperti itu untuk menunjukkan bahwa dia adalah bagian ras jingling.


Dan mengenai daging, SIma Yong tak lelah-lelahnya menjelaskan bahwa kaum jingling tidak menyantap hidangan yang mengandung darah. Pangeran selalu memasang wajah cemberut tiap kali Sima Yong menjelaskan hal tadi.


Baru saja mendaki di undakan tangga pertama....


"Tuan muda berdua... adakah hal yang dapat aku bantu???" seorang gadis menghampiri keduanya. Wajah gadis itu cantik, akan tetapi sayang sekali. Dia terlalu tebal mengenakan riasan wajah, sehingga kecantikan aslinya terasa tertutupi oleh bedak yang tebal itu.


"Dapatkah anda mempertemukan aku dengan Patriak Ryu Baek ??? Katakan bahwa seseorang mengutus aku untuk melakukan barter informasi menggunakan pil. Katakan orang itu, yang mengutus aku adalah seseorang yang suka berjalan di kegelapan malam memanfaatkan angin"


Pangeran Ju Qin mengernyitkan dahinya. Dia tidak mengerti maksud kata-kata Sima Yong. Kalimat itu terdengar aneh. Akan tetapi dia tahu Sima Yong adalah orang dari kalangan Sungai Telaga yang tentu saja memiliki hal-hal aneh yang dia sembunyikan di lengan bajunya.


Gadis cantik yang melayani mereka itu dengan sopan membungkuk, lalu dia menarik diri. Dia masuk kedalam bangunan utama Asosiasi sementara mereka berdua melanjutkan dan melihat-lihat di lantai satu asosiasi. Namun tidak ada yang menarik hati keduanya.


Sepeminum teh kemudian, gadis itu muncul dari bagian dalam, dengan tergopoh-gopoh mencoba melangkah cepat mengikuti pria paruh baya yang tidak seorang pun tahu bahwa dia adalah Patriak Asosiasi BaoXing ini. Patriak Ryu sangat jarang sekali menampilkan diri di muka umum.


"Yang manakah dua orang tuan muda yang kamu katakan ingin bertemu aku??" Patriak Ryu Baek bertanya ke gadis itu.


Gadis itu dengan sopan membawa Patriak Ryu ke dua orang muda itu.


Patriak Ryu Baek mengernyitkan dahi dengan sedikit bingung. Dia sama sekali tidak mengenal dua pria yang terlihat terpelajar itu.


"Tuan berdua, dapatkah aku yang tua ini mengetahui nama anda berdua??"


"Nama ku Sima Yong... aku adalah seorang pengelana dari Wilayah tengah benua, datang bersama temanku ini..." jawab Sima Yong ringkas. Wajah Ryu Baek menampakkan raut tercengang. Dia terguncang....


Sima Yong adalah nama yang baru saja mengguncang Wialayah Timur dengan membuat tumbang ahli-ahli di Laut Selatan, Klan Penjinak Binatang Dongmul Jeongbogya.


Sima Yong menjadi buah bibir semua klan dan sekte di Wilayah Timur dan Laut Selatan. Nama nya masih hangat diperbincangkan di semua tempat keramaian seperti rumah makan, lembaga-lembaga penjual informasi dan lain-lain.


Bahkan dia seorang diri menyerang Klan Suci itu... dapat dibayangkan betapa tinggi kemampuan orang di hadapannya ini. Dan ternyata dia begitu muda. teramat muda. Wajahnya seperti remaja usia belasan tahun saja. Lalu Ryu Baek melirik pria tampan disamping Sima Yong. Wajah pria itu begitu agung. Dia memiliki aura bangsawan yang tak dapat dijelaskan.


Seolah mengerti dengan isi hati Ryu Baek, Sima Yong memperkenalkan pangeran.


"Temanku ini bernama Tn. Qin. Aku datang berkunjung untuk menemaninya berbelanja"


Buru-buru Patriak Ryu mempersilahkan mereka berdua memasuki ruang kerjanya yang teretak di bagian dalam. Tanpa basa-basi kedua anak muda itu pergi mengikuti Patriak Ryu


Ruang kerja Patriak Ryu terlihat rapih, dengan hiasan-hiasan bermutu tinggi. Sima Yong menduga, benda-benda itu juga pasti merupakan barang dagangan, namun dijual secara ekslusive dijual ke orang-orang kaya kaum bangsawan atau keluarga kerajaan dengan harga yang amat mahal.

__ADS_1


Setelah duduk dan merasa relaks, Patriak Ryu membuka percakapan...


"Tuan berdua... adakah yang dapat Asosiasi BaoXing kami membantu anda berdua??? Asosiasi BaoXing akan memberikan yang terbaik untuk kenyamanan anda berdua" Patriak Ryu bertindak amat hati-hati. Dua sosok dihadapannya bukanlah orang sembarangan.


Sima Yong mengeluarkan sebotol kecil yang khusus untul pil buatan alkemis. Dia membuka sedikit tutup botol. Aroma tersiar keluar dari tabung botol, membawa keharuman seisi ruangan.


Hati Ryu Baek tercekat... dia tahu itu adalah Pil Pencerahan Nirwana peringkat delapan. yang membuat jantung berdegup kencang, bertalu-talu adalah... dia menyadari benang merah sangat jelas diantara seseorang ahli dalam balutan pakaian serba hitam di malam hari dengan pemuda tampan dihadapnnya.


Akan tetapi dia tidak berani untuk berpikir mengambil kesimpulan. Ini adalah sebuah rahasia besar, yang dapat menyangkut hidup matinya dan semua keluarganya. Dia teramat takut dengan mahluk berjubah hitam itu, semua orang memang takut dengan orang itu.


Sambil tersenyum Sima Yong menyodorkan botol berisi Pil Pencerahan Nirwana Peringkat delapan itu. Dengan suara terdengar ringan dia berkata,


"Pil ini akan menjadi milik Patriak Ryu, jika mau bertukar informasi dengan ku. Kulihat malam itu ... gadis yang bersama patriak membutuhkan pil ini untuk pondasi dia menembus SAINT Bumi kelak bukan?. Ku pikir patriak pasti akan menerima pil ini dan tidak menceritakan semua kejadian hari ini di ruangan ini kepada siapapun bukan???"


Jantung Ryu Baek berdegup keras...


"Tidak berani... tidak berani. Ryu Baek tidak berani menceritakan kejadian di ruangan ini kepada siapapun" Ryu Baek buru-buru mengambil botol pil itu sambil memberi hormat. Keringat menetes dari dahinya. Saking gugupnya Ryu Baek telah mengambil pil, pada hal dia belum tahu apa yang diinginkan anak muda di depannya.


"Baiklah... aku percaya dengan Patriak Ryu"


"Dapatkah anda mengumpulkan smua informasi mengenai sebuah benda bernama Relikui Feniks Gemala?? Aku ingin mengetahui asal-usul dan semua mekanisme kerja benda itu"


Ryu Baek tertawa kering...


"Hal yang mudah... tentu saja Asosiasi BaoXing dapat mengumpulkan semua informasi tentang benda itu. Beri kami waktu satu hari saja dan semua informasi akan tersedia di depan anda Tuan Yong..."


Sima Yong terlihat puas. Sima Yong baru saja mengatakan akan mundur diri, ketika itu Pangeran Ju Qin mengingatkannya mengenai "Jimat Tebasan" yang memerlukan bahan-bahan langka.


"Satu hal lagi, dapatkah Asosiasi BaoXing menyediakan barang-barang ini?? Tentang harga, bukan hal yang menjadi masalah" Sima Yong menyerahkan selembar kertas berisi catatan bahan yang diperlukan untuk membuat jimat penebas itu.


Patriak Ryu memperhatikan catatan dengan serius. Dia berkata,


"Beberapa bahan ini memang kami miliki. Akan tetapi ada dua bahan yang tidak tersedia. Dapatkah Tuan Yong bersabar menunggu?? Aku yakin dalam waktu tiga hari semua bahan itu dapat kami kumpulkan dari berbagai Cabang Asosiasi BaoXing.


Mereka lalu sepakat untuk bertemu besok untuk mengambil informasi Relikui Feniks Gemala dan tiga hari lagi untuk mengambil barang yang di pesan itu.


Kedua anak muda itu meninggalkan Asosiasi BaoXing dan berjalan-jalan melihat-lihat di Kota Saebyeog. Sementara Patriak Ryu Baek langsung membuat perintah untuk mengumpulkan semua informasi tentang Relikui dan mengumpulkan bahan-bahan yang diperlukan Sima Yong. Dia amat berterima kasih kepada Sima Yong, yang dengan murah hati bertukar informasi menggunakan pil peringkat delapan yang harganya jauh diatas informasi tentang Relikui Feniks Gemala.


*Bersambung*


   Untuk membuat author lebih semangat dan tetap berkreasi melanjutkan novel ini, jangan lupa di like, sekedar komen dan


vote.

__ADS_1


   Terlebih tolong favoritkan novel ini karena Noveltoon akan menilai untuk menjadi pemasukan Author berdasarkan jumlah Favorit, komen dan like … yang tentunya juga menyemangati author. Apresiasi yang readers berikan akan menyemangati autor untuk terus berkarya di Noveltoon ini.


__ADS_2